
Kediaman Arya.
Hari masih malam. Tepatnya di dalam kamar Ada sepasang suami istri sedang berbincang setelah aktifitas di atas tempat tidurnya selesai.
" Suamiku ''
" Hemh "
Yesa mendongakkan wajah." Aku melihat ada satu luka di punggungmu. Apakah itu karena melawan preman, waktu dulu demi menolong ku? "
Arya mengangguk.
" Kenapa kamu tidak melawan ? Padahal
kamu pandai dalam beberapa olahraga."
Arya tersenyum tangannya terulur membelai rambut istrinya dengan lembut." Karena dalam olahraga kita belajar bukan untuk menghajar yang lainnya. Tapi darimana kamu tahu aku suka olahraga ? "
" Aku tahu dari album lama mu, aku lihat kamu berhasil memenangkan beberapa
piala penghargaan. Dan Aku juga tahu kamu mendapatkan penghargaan dalam beberapa pelajaran, aku bangga sekali. Ternyata suamiku
lebih pandai di luar dugaan ku "
Arya tersenyum hambar. " Menurut ku itu
bukanlah sesuatu yang harus di banggakan "
" Kenapa memangnya ? "
Arya tidak menjawab, dia malah pura-pura tidur.
Yesa mengguncang bahu suaminya demi membuatnya terbangun tapi tidak gagal.
" Suamiku, kau menyebalkan sekali " Yesa menarik selimut dengan wajah kesal. Meraih tubuh sekaligus melingkarkan tangan kanan pada pinggang suaminya. Selang beberapa menit ia terlelap dalam mimpinya.
Arya membuka mata, tangannya terulur
membelai wajah istrinya dengan lembut
lalu bicara
" Karena waktu itu, ibu tidak ada
bersama ku. Lantas pada siapa aku membanggakan diri "
Setelahnya tangan Arya menarik kepala Yesa ke dalam dekapannya, menempelkan hidung di atas ubun-ubunya lalu terlelap dalam mimpinya.
****
Setelah acara amal selesai Dery memutuskan
mau menginap di Hotel milik ayahnya. Kali ini dia sedang berjalan menuju kamarnya.Tapi saat berbelok tidak sengaja dia melihat wanita yang sudah tidak asing lagi baginya.
Wanita itu baru saja keluar dari kamarnya. Tapi penampilannya berbeda dari sebelumnya. Wanita itu juga tidak menyadari ada sesosok laki-laki mengamati secara diam-diam dari jarak jauh.
Entah apa yang di pikirkan, dia rela mengikuti jejak langkahnya. Saat wanita itu sudah memasuki lift, Ia juga memasuki lift tapi dengan lift yang berbeda. Sebuah lift yang hanya bisa di gunakan untuk keluarga Hendra saja. Setelah menekan tombol, pintu lift tertutup rapat lalu menurun menuju lantai dasar.
Wanita itu sudah keluar, dan laki-laki itu masih membuntutinya sampai di tempat area parkir khusus kendaraan beroda dua.
Betapa terkejutnya Dery saat menatap wanita itu berjalan mendekati sebuah motor sport berwarna merah, sambil mengikat rambut panjangnya menjunjung tinggi keatas. Dipakainya Jaket kulit wanita berwarna hitam, yang baru saja ia keluarkan dalam tas selempangnya.
Kini penampilan pakaikan wanita itu menjadi senada dengan celana Jeans dan sepatu hitam yang di gunakannya. Dipakainya Helm berwarna hitam. Tanpa menunggu lama wanita itu menghidupkan mesin motor dan siap memecah jalanan.
Jadi seperti ini penampilan aslinya. Tidak heran jika dia selalu berhasil menghindari para awak media
Bibir Dery tersenyum seraya berjalan menuju kamarnya yang di tuju. Dalam sekejap wanita itu sudah berhasil membuatnya semakin menarik perhatiannya.
Ia juga bertekad ingin mengenalnya lebih
dalam. Dan tanpa dia sadari wanita itu
juga berhasil membuatnya melupakan
__ADS_1
seorang wanita yang dulu pernah mencampakkannya.
******
Pagi itu Arya sudah berdiri di depan cermin seraya merapikan diri untuk bersiap-siap pergi
ke kantor.
Berbeda dengan Yesa, sepertinya dia baru saja membuka mata dan masih terbaring di atas tempat tidur.
Entah kenapa akhir-akhir ini dia lebih sering telat bangun. Ada rasa malas pada dirinya. Tidak seperti sebelumnya, selalu gigih terhadap perannya sebagai istri yang baik.
" Suamiku " Yesa memanggil masih dalam
keadaan terbaring di tempatnya.
" Istriku, kau sudah bangun " Arya bicara
sambil mengancingkan kemeja.
Yesa tersenyum " Kamu mau kemana ? "
" Aku akan segera pergi ke kantor "
" Begitu ya " Yesa diam sejenak senyum cerah di bibirnya sudah menghilang. Entah kenapa ada rasa tidak rela saat mendengar kata itu." Suamiku, bisa kemari sebentar ? "
" Ada apa ? " Arya bertanya dalam pantulan cermin
" Kemarilah." Yesa menepuk bantal.
meminta Arya agar tidur di sampingnya." Aku hanya ingin memeluk mu sebentar saja."
Arya tersenyum sambil berjalan, lalu
duduk di bibir tempat tidur." Istriku. Apa
kau sedang menggoda ku ? "
ingin memelukmu sebentar saja."
" Benarkah? " Arya menggoda dengan senyumannya.
" Tentu saja ! Kalau tidak mau ya sudah " Yesa
membuang muka. Sebal.
Arya mengerutkan kening, merasa ada yang janggal dalam hatinya. " Istriku, ada apa denganmu apa kamu tidak enak badan ? "
Yesa hanya diam tidak menjawab bibirnya cemberut.
Dan akhirnya Arya mengalah. Ia berbaring
di samping istrinya. Gadis itu langsung menoleh meraih tubuhnya, menyandarkan pipi kiri di atas dada suaminya yang harum ini. Bahagia sekali rasanya.
" Suamiku." Yesa mendongakkan wajah.
" Hemh "
" Apa kamu marah ? "
" Tidak " Jawab Arya singkat tangannya terulur membelai rambut istrinya dengan lembut sambil menatap wajahnya dalam-dalam." Istriku, kenapa wajahmu pucat begini. Kamu sedang datang bulan ? "
Yesa menggeleng
" Kamu pusing ? "
Masih menggeleng
" Kamu lelah ? "
Menggeleng lagi.
__ADS_1
" Istriku. Sebenarnya apa yang di rasakan mu ?" Arya meraih dagu Yesa." Wajahmu tidak pernah seperti ini sebelumnya" Panik setelah mengamati wajah istrinya lebih dalam.
" Aku tidak apa-apa." Sahut Yesa pelan.
" Benarkah ? "
" Sungguh aku tidak apa-apa. aku hanya ingin memelukmu sebentar saja. Tidak tahu kenapa, rasanya aku sedih jika tidak memelukmu seperti sekarang ini." Jelas Yesa panjang lebar.
Arya mengerutkan kening." Istriku, tidak
biasanya tubuh mu lemah seperti ini? "
" Sudahlah, aku tidak apa-apa." Yesa melepaskan pelukannya. Agar Arya
bangun dari tidurnya.
" Apa kau serius ? "
Hening
Aku tidak ingin kamu bekerja hari ini. Aku hanya inginkan kamu di sini menemaniku sepanjang waktu. Tapi aku tidak ingin mengatakannya
Kata Yesa dalam hati wajahnya merenung entah karena apa dia bergumam begitu. Mungkin dia hanya ingin suaminya mengerti keinginannya tanpa di minta.
" Iya aku yakin." Yesa duduk dari tidurnya. Memakai sendal rumah menatap wajah Arya lalu tersenyum." Suamiku ini sudah siang
kamu harus sarapan dan pergi ke kantor." Lanjutnya lalu berjalan menuju lantai
bawah.
Tinggallah Arya kebingungan sendiri dengan ribuan tanda tanya di kepalanya. Ia masih duduk di pinggir tempat tidur berpikir keras sambil menatap punggung Yesa yang sudah berjalan meninggalkannya.
Setelah Arya selesai merapikan diri. Kali ini dia berjalan menuruni anak tangga menuju meja makan. Disana sudah ada Yesa sedang sibuk menyajikan sarapan pagi lalu ia duduk di depannya
" Ini makanlah " Yesa meletakan sajian
sarapan pagi pada suaminya.
" Terimakasih."
Arya melahap sarapan paginya. Memerhatikan wajah istrinya lebih dalam. Lantaran gadis itu hanya diam dan wajahnya terlihat murung di matanya.
Aku yakin dia menyembunyikan sesuatu dari ku.
Setelah selesai dengan sarapan paginya.
Arya bangkit dari duduk. Yesa juga bangkit dari duduk berjalan menemani suaminya hingga di depan teras rumah.
" Istriku, aku berangkat "
Yesa tersenyum tangannya meraih dasi yang terlihat miring di kerah kemeja suaminya. Dia merapikannya " Hati-hati."
Arya mencium keningnya. " Jaga dirimu baik-baik."
Yesa mengangguk
Arya memasuki mobilnya. Setelah duduk di balik kemudi ia menoleh pada istrinya. Gadis itu hanya melambaikan tangannya. Ada bening kaca yang terlihat di matanya dengan jelas. Seperti menahan air mata yang nyaris terjatuh.
" Selamat jalan "
Arya hanya tersenyum lalu melajukan
mobilnya dan siap memecah jalanan.
Dipertengahan jalan, Arya melakukan panggilan melalui audio connectivity di mobilnya.
" Pak Wan. Awasi istriku dan berikan
aku laporan tentang kegiatan istriku
dalam waktu setiap jam."
" Baik tuan muda."
__ADS_1
Arya menutup panggilannya.