
Hari sudah pagi kali ini Arya nampak berdiri seraya menatap punggung istrinya yang sedang sibuk memasak. Saking sibuknya gadis itu sepertinya tidak sadar dengan kedatangannya.
"Istriku kamu sedang apa?" Arya mendekat lalu meraih tubuh istrinya dari belakang, menjatuhkan kepala di bahunya.
"Aku lagi menyiapkan sarapan pagi."
"Begitu ya." Setelah bicara Arya mengecup pipi istrinya lalu turun ke leher, seolah minta disayang-sayang.
Merasai tengkuknya dicium-cium Yesa sedikit terganggu dengan aktifitas yang di lakukannya.
"Suamiku, kamu boleh duduk disana sambil menunggu. Sepertinya ini sebentar lagi akan selesai." Yesa bicara sambil mengaduk masakan di atas wajan.
"Istriku aku sudah siapkan air hangat, mari kita mandi bersama. Kamu bantu aku bersihkan punggung ku."
"Tidak mau!" Menolak mentah-mentah lalu berbalik melihat suaminya. "Suamiku, pasti kamu mau melakukan hal yang aneh-aneh lagi kan?"
"Kau! Cih."
Arya mengomel dalam hati lalu berbalik berjalan meninggalkan dapur. Sedangkan Yesa mengerutkan keningnya.
Eh reaksi apa itu. Apa dia marah?
"Ka_kamu tidak akan nakal kan?"
Arya berhenti sekaligus menoleh ke belakang." Tidak akan!" Ia bicara dengan nada dingin wajahnya cemberut.
Imutnya hihihi ....
"Ah begitu ya, baiklah." Setelah mengeluarkan kalimat barusan bibir Yesa tersenyum
Bagus, gumam Arya dalam hati.
*****
Dalam Kamar mandi
Walaupun aku sudah menikah dengan bocah dingin ini, saat ini aku masih merasa malu. Aku bingung mau lihat kemana. Gumam Yesa dalam hati seraya menggosok punggung suaminya sambil berdiri di belakang bathub.
"Istriku, sekarang giliran mu. Kemarilah." Laki-laki itu bicara sambil menatap Yesa dengan tajam.
"Apa? Ba_baiklah."
Kenapa perasaanku berubah tidak tenang begini.
Perlahan Yesa menceburkan diri kedalam bathub lalu duduk membelakangi suaminya. Sekilas senyum puas muncul di bibir Arya tiba-tiba.
"Istriku biar ku bantu bersihkan punggung mu."
"Terimakasih, tapi tidak perlu aku bisa melakukannya sendiri."
"Sudahlah, tidak apa-apa." Arya bersikeras lalu menggosok punggung istrinya, satu tangannya mulai meraba-raba dibagian dadanya. Meremasnya sambil ditekan-tekan.
"Akh sakit, jangan di tekan begitu."
"Jangan berteriak."
"Kamu menekannya terlalu kencang!"
"Istriku, selagi punggungmu di bersihkan. Sepertinya di bagian depanmu juga harus di bersihkan." Arya berbisik pelan di belakang telinganya.
"Ja-jangan, suamiku bukankah tadi bilang kamu tidak akan nakal kan." Nada bicara Yesa terdengar ketakutan
Arya tersenyum
"Istriku, aku tidak nakal sungguh, ini harus di bersihkan." Setelah bicara Arya kembali memainkan dadanya, dia pelintirkan puncaknya sambil sesekali dihisapnya.
"Hemmh "
__ADS_1
Mendengar istrinya mendesah, Arya tersenyum.
"Istriku, sepertinya di bagian ini juga ingin di bersihkan." Arya berbisik lagi, lalu menurunkan tangannya pada bagian kewanitaannya.
"Ini aku tidak mau, suamiku sungguh aku bisa melakukannya sendiri."
"Tidak apa-apa, dengan senang hati aku melakukan ini untuk mu."
Tapi sabunnya membuatku perih
Yesa menutup bibir dengan tangannya
Arya tersenyum lagi sekaligus menghentikan serangannya saat merasai tubuh istrinya sudah bergetar, nafasnya memburu seolah menanti permainan selanjutnya. Dengan segera tangannya memindahkan tubuh Yesa di atas pangkuannya. Tapi punggungnya masih membelakanginya.
"Jangan bergerak."
"Aah!"
"Istriku, aku mencintaimu."
Arya berbisik di belakang telinga istrinya, lalu menggigitnya. Rintihan demi rintihan terdengar lembut di kamar mandi.
********
Di meja makan
"Ini makanlah." Ujar Yesa setelah meletakan sajian sarapan pagi untuk suaminya di meja makan
"Terimakasih." Tersenyum
"Suamiku, selepas kita pulang dari sini, aku ingin berkunjung ke rumah Nenek. Apa boleh ?" Yesa bertanya stelah menelan makannya.
"Nenek! "
"Mmm." Yesa menganggukkan kepala "Aku ingin berkunjung ke makam ayah dan ibuku."
"Makam?"
"Begitu rupanya, istriku jika tempatnya indah, ajak aku berkunjung bersama mu."
"Sungguh, kamu ingin menemani ku?" Tanya Yesa dengan wajah gembiranya. Arya tersenyum, wajahnya mendekat.
"Istriku, Itu karena aku ingin ..... Berlibur denganmu lagi."
"Ahh, begitu ya baiklah." Sahut Yesa sambil nyengir.
Arya tersenyum sambil mengusap kepalanya tanda sayang, setelahnya dia melanjutkan kembali menikmati sarapan paginya.
****
"Jalan yang lurus, suamiku kenapa kamu
sangat sulit berjalan lurus?"
Saat ini Yesa sedang menutup kedua mata Arya dengan kedua telapak tangannya. Dia ingin memberikan kejutan pada suaminya.
"Dasar cerewet, aku tidak bisa berjalan lurus jika dalam keadaan gelap." Arya ngomel sambil melangkahkan kakinya dengan pelan.
"Suamiku, percayalah pada ku dan jalanlah yang lurus."
"Istriku, kenapa kamu harus menutup mataku?"
"Ssst.. suamiku sayang.. Diamlah, ini hanya sebentar saja." Yesa berbisik lembut di dekat telinga suaminya, membuat seluruh badannya merinding, mengundang gairahnya yang mulai bergejolak.
"Istriku, Kau! Berhenti membalas perkataan ku. Apa kamu lupa dengan akibatnya. Jika kamu memperlakukan ku seperti ini?" Habis kamu. Katanya dalam hati sambil satu tangannya menutup telinga yang sudah memerah.
"Aku tidak tahu hihi.."
__ADS_1
"Istriku, aku sudah tahu semua tempat yang ada di vila ini. Jadi ini bukanlah kejutan yang..." kalimatnya terpotong saat Yesa sudah melepaskan kedua tangannya.
"Suamiku, kamu suka ini?"
Yesa bicara sambil mempertontonkan hasil jepretan dan rekaman video dalam handphonenya melalui televisi. Di sana terdapat editan foto dan video suaminya sewaktu pertama kali ia memberinya hp, sewaktu pernikahan, hingga ia berada di vilanya.
"Istriku, sejak kapan kamu membuat hal ini?" Arya memeluk tubuh istrinya dari belakang, dagunya menempel di bahunya, pipinya bersentuhan.
"Aku hampir tidak bisa bernafas saat mengerjakannya. Suamiku bagaimana, apa kamu suka?"
"Cih, aku terlihat seperti fotogenik." Arya menghina dengan senyuman, padahalmah hatinya berbunga-bunga.
Yesa menolehkan wajahnya hidungnya nyaris bersentuhan.
"Suamiku, kamu tidak pernah mengatakan sesuatu, seperti kamu terharu atau terkesan, saat melihat apa yang sudah aku lakukan "
"Ciih..!" Arya membuang muka malu." Romantis
bukanlah tipe ku."
"Aa begitu ya."
Gadis itu menunduk kecewa setelah mendengar kalimat barusan. Seperti mengatakan. Ternyata di mata mu semua usahaku ini tidak ada artinya ya.
Melihat wajah istrinya termenung, Arya tersenyum dengan nakal yang menggoda iman.
"Istriku saat ini bukankah sebaiknya kita membuat film yang sangat romantis?"
"Apa ? Jangan melakukan itu." Kata Yesa
setelah menatap senyum nakalnya, sambil kakinya berjalan mundur mendekati pintu kamar.
"Melakukan apa?" Arya berjalan maju dan berusaha mendekatkan wajahnya. Tapi semakin dia maju gadis itu semakin mundur.
"Suamiku, bukankah ini sudah waktunya kita pulang?"
"Tidak apa-apa, kita bisa bermain dengan cepat " Arya bersikeras
"Hah? Bermain apa?"
"Menurut mu." menarik ujung bibir penuh makna seperti mengatakan Pikirkan sendiri. Dengan sepintas Yesa kembali teringat dengan adegan panasnya di waktu pagi yang menyenangkan tempo hari.
"Huh!" Menutup mulut dengan tangannya. Tidak ! gumamnya dalam hati. "Suamiku, permisi aku ingin keluar." Ujarnya ketakutan tangannya merayap di belakang berusaha mencari handle pintu. Tapi sialnya Arya menarik lengannya dan langsung mengunci pintu. Gairahnya mulai bergelora.
"Istriku, sekarang ini kita ada dikamar." Karena sudah tidak tahan, dia langsung mendorong tengkuk Yesa dengan bibirnya sampai menabrak dinding.
Bruuk
"Ah sakit ! Suamiku apa yang kau inginkan." Yesa meronta kesakitan
Arya, tidak menggubris tangan kirinya menahan tubuh istrinya agar tidak berpindah. Sedangkan tangan kanannya membuka kancing kemeja hitamnya satu persatu dan setelahnya ia melepaskan ikat pinggangnya. Matanya beralih pada pakaian istrinya. Dia tarik ujung roknya sampai batas pinggang. Lalu dengan segera dia selipkan pakaian dalamnya.
"Huh! Suamiku, kau mau melakukan apa Lepaskan tangan mu."
Ya Tuhan dia tidak akan melakukan itu disini kan.
Arya tidak menggubrisnya lagi, lalu tangannya menarik pinggang Yesa sampai mendekat di pahanya
"Jangan bergerak."
Gadis itu menurut, membungkukkan badannya, tangannya berpegangan pada dinding lalu secepat kilat Arya menghentakkan tubuhnya.
"Ah!"
" Istriku aku mencintaimu." Arya berbisik di belakang telinga Yesa dengan suara lembut
Ah!
__ADS_1
Dan akhirnya kedua telapak tangan gadis itu hanya mampu menahan bobot suaminya di depan dinding Rintihan demi rintihan terdengar hingga beberapa menit kedepan.
Setelahnya, bulan madu pasangan suami istri inipun berakhir. Kali ini Arya terlihat melajukan mobilnya kembali memecah jalanan hingga tiba di kediaman Neneknya.