
Sementara itu di jam yang sama
Dua buah motor tampak memecah
jalanan sepi di awal malam.
Di sisi kiri dan kanan hanya terdengar
suara jangkrik. Setelah melewati gerbang
utama kedua motor itu kini berhenti tepat di
depan teras rumah yang sangat mewah
Setelah memarkirkan motor mereka berjalan melewati pintu utama.
" Kakak, kenapa kau mengajak ku kesini." Rendi bertanya saat sudah di depan pintu. Para penjaga pintu membungkuk saat melihat kedatangannya.
" Sudah lima belas tahun kita
tidak kesini, siapa yang akan
percaya. Rumah ini tidak pernah berubah
sedikitpun." Linda bicara sambil
mengedarkan pandangannya pada setiap
sudut dalam rumah
Ketua pelayan terlihat menyambut
kedatangannya saat mereka sudah
memasuki rumah.
Sedikit terkejut saat melihat siapa yang datang. Karena terakhir kali ia melihat mereka masih dalam keadaan bocah berumur kurang atau lebih dari 10 tahun.
Entah karena apa sepintas ia teringat dengan Rena, seorang perempuan anggun yang sudah lama meninggal dunia. Bahkan ketulusan hatinya masih melekat dalam pikirannya.
" Selamat datang Tuan dan Nona muda."
" Terimakasih pak Mumu, di mana kakek ? " Linda bertanya
" Tuan besar sedang berada di ruang utama."
" Apa dia sedang menerima kedatangan tamu." Rendi menimpali, seperti sudah tahu kakek mereka hanya akan ada di ruangan itu, jika ia sedang kedatangan tamu istimewa dan bukan sekedar tamu biasa. Artinya hanya orang terdekatnya yang bisa memasuki ruangan itu.
" Anda benar Tuan."
" Siapa dia ? "
" Ketua Hendra dan Nyonya Sandra "
Seumur hidup aku tidak pernah menyangka setelah melewati waktu lebih dari dua puluh tahun, persaingan keluargaku dengan mereka berakhir menjadi satu keluarga. Tapi kenapa si brengsek itu melupakan ku dengan mudah
Linda bicara dalam hati.
Kesal sekali rasanya.
" Benarkah ! Kebetulan sekali. Kakak aku sangat penasaran, bagaimana reaksi mereka saat melihat kedatangan kita."
Linda hanya diam tidak menjawab
Pak Mumu terlihat menuntunnya menuju ruangan utama di rumah itu.
" Selamat malam kakek, lama tidak bertemu." Rendi menyapa saat sudah memasuki ruangan. Dom Hendra dan Sandra menoleh kearahnya secara bersamaan terkejut. Setelahnya mereka saling berpandangan satu sama lain.
" Rendi ! " Dom terkejut.
" Salam kakek." Linda tersenyum
Dom berdiri dari duduk, Rendi berjalan
mendekat dan meraih tubuh
Dom." Sudah lima belas tahun aku tidak
melihat mu kakek siapa yang
akan percaya? " Rendi menatap Dom
dengan lekat setelah melepaskan
pelukannya." Kakek tidak menua
sedikitpun." Dom terbahak
" Dasar anak nakal, justru aku merasa
kaulah yang sama sekali tidak
pernah berubah." Dom menatap Linda." Bagaimana
kabar mu? " Gadis itu berjalan mendekat Dom
memeluknya sebentar.
" Kabar ku sangat baik kakek."
" Kamu datang terlambat !" Tiba- tiba Hendra menimpali. Seperti sudah mengetahui akan kedatangannya.
" Seorang putri dari kerajaan tidak
pernah datang terlambat atau datang
terlalu cepat. Dia akan datang tepat waktu jika dia berniat paman." Hendra terbahak setelah mendengar kalimat Linda
" Linda bibi senang bertemu
dengan mu." Setelah saling berpelukan, Sandra
menarik tangan Linda duduk
di sofa
" Begitu juga dengan aku bibi, apa paman
dan bibi berpikir aku akan
melewatkan hari bahagia ini." Linda bahkan sudah tahu jika Yesa sedang mengandung penerus perusahaan Hendra
" Bagaimana kabar berandalan itu ? Kabarnya ayahmu akan mengadakan pesta dengan
sangat besar dan meriah, mengejutkan
sekali. Tapi kenapa selama ini dia
berusaha menyembunyikan mu di depan
publik." Dom bicara
" Kau kenal dia, membuat seisi dunia menjadi heboh adalah hobinya." Hendra menjawab.
Siapa yang menyangka karena alasan inilah Hendra dan Sandra tidak menghadiri acara amal malam itu. Ternyata mereka sudah merencanakan pertemuan dengan keluarga Dalmiro sebelumnya.
" Itu sangat menyenangkan
bagi ayah ku." Rendi menimpali." Setengah pengusaha dunia telah di undang.
__ADS_1
Sisanya akan datang tanpa di undang." Semua orang di dalam ruangan itu tertawa. Entah kenapa Linda hanya diam.
" Tapi belakangan ini ayah sedikit aneh, maksudku lebih dari biasanya. Ayah selalu mengunci diri di ruang kerja. Dia menghabiskan waktu membolak-balikan lembaran sebuah buku harian usang di tangannya. Saat ayah tidak sadar aku memperhatikannya." Linda menatap Dom dengan tatapan curiga seperti mengatakan. Ayah sedang merencanakan sesuatu. " Baiklah simpan saja rahasia mu Kakek." Linda menyelesaikan kalimatnya.
" Rahasia apa ?" Dom terkejut
" Aku tahu Kakek akan atasi hal itu." Untuk itulah aku datang kesini begitu mata Linda bicara. Ia setengah menduga bahwa keinginan Dalmiro bukan hanya sekedar menginginkan putrinya bertunangan. Apalagi saat ayahnya mulai berencana untuk membuka kedok Linda selama ini di depan publik dengan rencana pernikahannya.
" Sebelum kau datang keluarga kami sangat di hormati." Dom bicara sambil menatap Hendra dengan tajam. Agar mengalihkan topik
pembicaraan
" Benar sekali." Hendra menjawab
dengan tenang saat menerima
isyarat mata dari Dom
" Dan tidak pernah mengalami sesuatu
yang tidak di harapkan." Dom bicara lagi
menatap Hendra dengan cara yang
sama, nada suaranya terdengar sinis seperti mengiris telinga.
" Jika kau berbicara mengenai
rencana putra mu, aku sama sekali tidak
terlibat. Aku rasa putramu hanya ingin
membuat kejutan kecil untuk
keluarga mu."
" Apapun yang kau lakukan disini,
kau sudah resmi di cap sebagai penggangu ketenangan." Setelah mengucapkan kata itu bibir Dom menyeringai
" Benarkah ! " Hendra menjawab dengan
nada angkuhnya. Sandra menatap
Hendra tajam, seperti mengatakan sudah
jangan di lanjutkan lagi. Ia meraih tangan Linda
Linda tersenyum melihat wajah
Sandra dengan tatapan hangat
" Linda kamu sudah di jodohkan dengan putra bibi sejak kecil, apakah kamu senang dengan rencana pertunangan ini ?" Sandra berbicara pada intinya.
" Aku tidak tahu bibi " Linda menunduk dalam kecewa. Rendi terkekeh
" Apakah bibi tidak tahu, kalau
putra bibi sama sekali tidak ingat
pada kakak ku." Secepat kilat Linda melirik Rendi dengan sinis seperti mengatakan berhenti bicarakan omong kosong.
" Apa itu benar sayang ? " Sandra bertanya
gadis itu hanya diam tidak
menjawab." Bibi rasa dia bukan tidak ingat
pada mu, tapi..."
" Kalau begitu kau harus tetap mengikuti rencana ku." Hendra memotong cepat
" Amenisa Retrograde ! Apa itu ? " Linda terkejut
" Setelah mengelami insiden penculikan bersama mu, putra bibi menjadi trauma, dia tidak bisa mengingat sebagian peristiwa masa lalu." Sandra menjelaskan
" Jadi itu sebabnya kedua putra bibi tidak ingat pada kakak ku." Rendi bicara
" Hanya salah satu dari putra ku yang
menderita amnesia itu." Hendra menjawab
cepat." Aku merasa yakin, dia akan mengingat
mu, setelah menatap wajah mu.
Hanya saja dia memiliki sifat berbeda,
dia tidak pernah perduli pada masalah
hanya sekedar menyimpang dengan kehidupan pribadinya."
" Syukurlah " Linda menghela nafas lega." Sampai saat ini aku tidak pernah bisa melupakan kebaikannya."
" Lalu bagaimana dengan Yesa, apa dia sudah mengetahui tentang peristiwa ibunya yang sesungguhnya terjadi ? " Dom bicara lagi
" Dia masih belum tahu, kami dan John membutuhkan waktu yang sangat tepat untuk menjelaskan tentang masalah Rena lebih rinci. Aku tidak ingin melihat putri ku pingsan lagi karena syok." Sandra menjawab
" Cepat atau lambat kita harus memberitahunya "
Entah kenapa, setelah mendengar kalimat dari Dom, semua orang di sekelilingnya hanya diam tanpa suara.
***
Setelah puas bermain di taman alun-alun kota. Kali ini mobil sport hitam milik Arya sudah terparkir mulus di depan pintu masuk utama kediaman John.
Pasangan suami istri ini turun dari mobil dan berjalan memasuki rumah, para penjaga pintu membungkuk setelah melihatnya datang. Pak Ketut terlihat menyambut kedatangannya.
" Selamat datang Tuan dan Nona muda."
" Di mana Ayah ? " Arya bertanya
" Tuan besar sedang berada di ruang keluarga."
" Baik, terimakasih "
Pasangan suami istri ini berjalan menuju ruangan itu. John terlihat bangun dari duduk setelah melihatnya datang.
" Putri ku, kamu sudah datang." Yesa berjalan mendekat, John memeluk tubuhnya sebentar." Ayah sudah lama menunggu mu dari tadi." Setelah bicara John meraih tangan Yesa duduk di sofa.
" Maaf Ayah, aku.. "
" Itu bukan masalah. " John memotong, bibirnya nampak tersenyum." Suami mu sudah memberitahu ayah. Putri ku selamat atas kehamilan pertama mu, ayah sangat bahagia mendengarnya."
" Terimakasih ayah."
" Dan putra ku, apa kau tahu? sejak aku mendengar putriku sedang mengandung, aku sudah merencanakan acara syukuran kecil di taman demi menyambut hari bahagia ini."
'' Terimakasih ayah, tapi omong-omong dimana ayah dan ibu ku ?"
" Kedua orang tua mu sedang keluar, sebentar lagi mereka akan datang.'' John menatap Yesa." Putriku, kamu pasti sudah merasa lelah, sebaiknya kamu dan suami mu istirahat dulu di kamar mu." Yesa mengangguk
" Baiklah, tapi... "
" Jangan khawatir, aku akan memberitahu mu jika ayah dan ibu mertua mu sudah tiba."
" Baik kalau begitu, kami tinggal dulu ayah."
Setelah berpamitan Arya dan Yesa bangun dari duduk dan berjalan menaiki anak tangga menuju kamar di lantai dua dan setelah melepaskan alas kaki, mereka merebahkan diri di atas tempat tidur.
__ADS_1
" Istriku, apa kamu lelah ? " Arya bicara sambil memiringkan tubuhnya, tangannya membelai pipi Yesa dengan lembut
" Lumayan, hanya saja kaki ku terasa sedikit pegal."
" Benarkah ! " Arya duduk dari posisinya." Kalau begitu biarkan aku memijat kaki mu."
" Tidak perlu, ini hanya pegal sedikit saja, aku masih bisa menahannya."
Arya tidak mengubris kalimat Yesa, ia mengangkat kaki Yesa di atas pangkuannya, kedua tangannya terulur memijat kaki Yesa dengan sentuhan lembut
Ya Tuhan aku tidak pernah menyangka
Laki-laki dingin seperti ini bisa membuatku terasa nyaman sepanjang hari
" Suamiku, terima kasih " Yesa bicara setelah kedua kakinya sudah merasa sedikit lebih baik. Laki-laki itu hanya menjawab dengan senyuman." Kamu memang sangat ahli dalam memijat. Tapi dari mana kamu belajar tentang memijat seperti ini ? "
" Dulu setiap aku berkunjung ke rumah Kakek, tidak tahu kenapa Kakek selalu meminta ku memijat kakinya. Jadi aku sudah terbiasa dengan hal ini."
" Begitu ya, tapi aku belum pernah melihat Kakek dan Nenek mu sebelumnya."
" Kamu tidak akan pernah bisa melihatnya."
" Kenapa memangnya? "
" Kakek dan Nenek ku sudah lama meninggalkan
dunia ini." Arya bicara dengan nada lemah
Entah kenapa Yesa hanya diam saat melihat
tatapan sedih dari mata suaminya.
Arya menatap Yesa " Bagaimana, apa kaki mu sudah merasa lebih baik sekarang ?"
" Kaki ku sudah terasa nyaman, terimakasih." Yesa bicara sambil memutarkan pergelangan kakinya." Suamiku, bagaimana dengan mu? Apa kamu lelah ?"
" Aku tidak lelah, istriku sebaiknya kamu
mandi dulu, sebentar lagi ayah dan ibu
akan datang."
" Baik suamiku ayo kita mandi bersama." Sahut Yesa antusias
Arya memenuhi keinginan istrinya, berjalan menuju kamar mandi. Setelah selesai dengan urusan mandinya, mereka berjalan menuju ruang pakaian masing-masing. Entah kenapa setelah melihat Yesa keluar dari ruangan itu, Arya meminta Yesa duduk di depan meja rias.
" Istriku, biar ku bantu merapikan rambut mu."
Yesa mengangguk saja
Setelah selesai menyirsir rambut itu,
tiba-tiba Arya meraih benda berwarna
hitam putih dalam laci meja rias.
" Indah sekali ! Suamiku dari mana kamu mendapatkan bando itu ?" Yesa bertanya dalam pantulan cermin
" Aku membeli benda ini di taman alun-alun tadi."
" Benarkah ! "
" Istriku, kamu terlihat lebih cantik saat memakai benda ini." Arya bicara setelah mengenakan bando di atas rambut poni istrinya, gadis itu menampakkan senyum indahnya
" Terimakasih."
Tidak sia-sia aku membeli benda ini
Ternyata dia lebih cantik di luar dugaan ku
" Istriku, aku mencintai mu " Arya mendekatkan
wajah dan bibirnya menyentuh bibir Yesa, sebuah ciuman yang sangat lembut.
Suara ketukan pintu terdengar dari luar kamar
" Masuklah." Arya bicara
Suara pintu terbuka, tampaklah seorang ketua pelayan berdiri lalu membungkukkan badannya.
" Maaf Tuan muda, Ketua Hendra dan Nyonya besar Sandra sudah tiba, mereka sedang menunggu kedatangan anda."
" Baik, terima kasih pak Ketut."
" Sama-sama Tuan muda.'' Setelah menundukkan kepala, pak Ketut menutup pintunya kembali
" Istriku, sebaiknya kita temui ayah dan ibu dulu di bawah "
" Baiklah."
_
Adegan bonus
Saat sore menjelang malam, setelah Arya membeli satu cup kopi. Tidak sengaja ia melirik sebuah benda terpajang rapih di atas meja pedagang hiasan rambut wanita.
Cantik. Arya terpana, karena
penasaran ia meraih benda itu
'' Benda apa ini ? "
" Itu perhiasan rambut seorang wanita Tuan muda." Sahut pedagang laki-laki dengan nada sopan
" Benarkah ! " Arya bicara tanpa menatap wajah pedagang " Tapi bagaimana cara menggunakan benda ini." ia mengerutkan kening pada benda itu
Pedagang sedikit terbelalak, saat mendengar
kalimat barusan
Horang kaya memang sulit di mengerti
Begitu gumam pedagang dalam hati, ia meraih
benda lain sebagai contoh untuk memperagakan cara memakainya di atas patung kepala wanita.
" Tuan anda dapat menggunakan benda ini pada rambut wanita anda dengan cara seperti ini."
" Begitu ya, mudah sekali ternyata ! kalau begitu aku ingin benda ini, berapa harganya ? "
" Hanya lima belas ribu saja tuan."
Arya mengeluarkan selembar uang
dalam dompet." Ini " Pedagang meraih uang itu, belum sempat ia menyerahkan uang
kembalian. Arya sudah berbalik dan berjalan meninggalkannya.
" Ini kembaliannya tuan " Pedagang setengah berteriak
" Simpan saja untuk mu "
" Terima kasih banyak tuan "
Ada apa dengan ku, kenapa aku sangat tertarik pada benda ini. Bahkan aku sudah rela membuang harga diri demi menyentuhnya
Sial ! kenapa aku baru menyadarinya sekarang
Sambil berjalan menatap benda itu
__ADS_1
pikiran Arya kembali pada akal sehatnya