PERJODOHAN CEO JEWELERY

PERJODOHAN CEO JEWELERY
ISTRIKU SELAMAT ULANG TAHUN


__ADS_3

Yesa keluar dari kamarnya Aneh kenapa semua lampunya di padamkan begitu pikirnya sambil berjalan menapaki anak tangga. Hanya lampu anak tangga yang menyala saat ini, di samping kiri kanannya ada sinar redup yang berasal dari lampu berwarna kuning keemasan. Sehingga ia tidak kesulitan saat menuruni anak tangga meski dalam keadaan gelap sekalipun.


Beberapa langkah kemudian, ia berhenti saat mendengar suara alunan musik dari piano yang sangat indah di telinganya.


Dari mana datangnya alunan indah ini


Yesa mengedarkan pandangannya, menyapu seluruh ruangan di lantai bawah. Dan akhirnya ia menangkap sosok laki-laki yang tidak asing baginya sedang asik memainkan sebuah piano di tengah rumah ayahnya John.


"Suamiku." Ingin rasanya saat ini juga Yesa memeluk laki-laki itu karena terharu. Ia melanjutkan langkahnya hingga di lantai bawah lalu berdiri sambil menyaksikan penampilan suaminya dengan seksama.


Bagaimana mungkin laki-laki dingin sepertinya bisa membuat alunan lembut seperti ini


"Sangat nyaman bukan." Tiba-tiba suara Dery terdengar dari belakang


"Dery! Mengagetkan saja."


"Aku sudah disini dari tadi."


"Sungguh!" Dery menjawab dengan senyuman "Kenapa aku tidak sadar." Melihat Arya lagi "Dengarkanlah, menurutku alunan lembut ini tidak cocok dengan kepribadiannya."


"Siapa bilang? Kakak ku itu orang baik." Dery menyangkal


"Ck! Kau bilang begitu, karena melihat dari sisi baiknya saja kan."


"Itu tidak benar. Di tambah lagi, alunan piano Kakak ku itu bermakna."


"Bermaknah?" Yesa mengerutkan keningnya


"Alunan piano kakak ku itu mengungkapkan emosi yang tidak bisa dia ungkapkan. Saat kamu memikirkannya. Bukankah alunannya menyentuh hatimu."


Yesa tersenyum


"Kau benar alunan ini membuat hati ku terasa nyaman. Semua lelah ku terhapuskan."


Yesa terpana memandang suaminya yang masih mempersembahkan sebuah lagu untuknya. Lagu dari alunan piano yang mungkin hanya dia dan tuhan saja yang tahu maknanya. Setelah bermain dengan lagunya Arya terlihat bangun dari kursinya lalu berjalan mendekat


"Istriku, selamat ulang tahun."


"Terimakasih." Setelah menjawab Yesa tersenyum dengan indahnya yang jarang terjadi. Senyum yang menghilangkan kendali saat di pandang suaminya.


"Istriku, kamu tahu, kamu sangat cantik hari ini." Karena tidak tahan, perlahan Arya memajukan wajahnya, bibirnya menyentuh bibir Yesa. Menciumnya dengan begitu mesra membuat siapapun yang melihatnya pasti senyum-senyum sendiri.


"Bisakah kakak melakukannya nanti saat berada di kamar saja. Kesannya itu seperti meledek ku." Ujar Dery yang sudah duduk di


meja taman


Mendengar Dery bicara Arya melepaskan ciumannya lalu tersenyum dengan jahil. Sesudahnya ia berjalan sambil menggenggam tangan istrinya menuju meja perayaan yang sudah disediakan di taman.


Begitu banyaknya hidangan di meja itu, seperti cake makanan berat minuman dingin dan hangat, hingga wine serta beberapa lilin yang menerangi di bagian tengahnya.


Apa memang mungkin seperti ini ya tradisi di keluarga itu. Entahlah. Bahkan saat ini mereka terlihat merayakan ulang tahun hanya bersama keluarga saja. Jika tidak memiliki masa lalu yang kelam, mungkin saja Arya merayakan ulang tahun istriya dengan cara yang berbeda.


Alih-alih pasangan suami istri itu sedang mau duduk di kursinya John terbahak setelah mendengar Dery bicara.


"Dery, Kenapa kamu tidak menikah saja. Setelah kupikirkan umur mu sudah cukup sepertinya."


"Kau jangan meledek putra ku." Hendra yang menjawab kata John. "Kau tahu jika bukan karena aku, mungkin putrimu belum menikah sampai saat ini."


"Ck, jika saat itu aku tahu kau akan menikahkan putriku dengan putra mu. Mungkin aku tidak akan setuju." John tidak mau kalah sepertinya


''Sudahlah, dari pada kalian berceloteh yang tidak jelas. Lebih baik kita memulai acara makan malamnya. Yesa putriku sayang segeralah tiup lilin ini."


"Baiklah." Yesa mendekat kepala lalu setelahnya meniup lilin di atas cake. Cake yang besarnya sederhana namun mewah.


"Selamat ulang tahun sayang." Kata Sandra bersamaan dengan yang lainnya


Arya mengerutkan kening saat melihat istrinya tiba-tiba meneteskan air mata.


"Istriku, kenapa kamu menangis." Pertanyaan ini juga terlintas dalam pikiran yang lainnya.


"Aku bahagia, ini kali pertamanya aku merayakan ulang tahun bersama keluarga. Karena sebelumnya aku hanya sekedar mengingat nya saja. Dan aku selalu


pergi ke tempat yang indah bersama sahabat ku dan aku sangat merindunya."


Rena putri kita sungguh bahagia saat ini. Dia sangat cantik. Wajah dan sikap mirip sekali denganmu.


Kata John dalam hati.


"Lalu di mana sahabatmu itu Kenapa kamu tidak mengundangnya datang kemari?" John bicara


Yesa menunduk.


"Aku dengar dia sudah pulang ke kampung halamannya dan dia juga sudah menikah ayah."


"Apa kakak ipar mempunyai nomer hp Icha yang masih dapat di hubungi." Dery menimpali.


Yesa menggeleng."Aku tidak punya"


"Sayang sekali. Putri ku apakah kamu benar-benar ingin bertemu dengannya." John bertanya lagi


"Itu sangat sulit, karena aku tidak mengetahui alamatnya."


"Itu sangat mudah. Jika perlu aku bisa membantu mu menemukan alamatnya." Hendra bicara


"Sungguh! Kalau begitu aku ingin tahu alamatnya ayah." Ujar Yesa dengan antusiasnya.


"Hendra kau selalu saja melangkah lebih awal dariku." John protes


"Ayah Aku tak perduli siapapun mendapatkan alamatnya lebih dulu. Yang terpenting bagiku adalah aku ingin segera berkunjung ke rumahnya melepas rindu." Ujar Yesa dengan suara pelan.


"Istriku, apakah kau melupakan suami mu. Jangan bilang kau tidak memerlukan izin dari ku lagi." Arya buka suara.


"Hehe suamiku, maaf lain kali aku akan mengingatnya." Yesa menjawab sambil nyengir.


Lain kali? Kau bilang lain kali


"Istriku! Ikutlah dengan ku." Arya bangun dari duduk sekaligus menarik tangan Yesa agar mengikutinya.


"Bocah tengik, kau mau bawa kemana putriku. Kalian bahkan belum makan malam." John marah.


Sudah berjalan tiga langkah Arya berbalik.


"Aku rasa Ayah tidak perlu mencampuri urusanku dengan istriku."


Setelah bicara Arya kembali melangkah meninggalkan meja taman


"Dia benar seharusnya kita tidak boleh mencampuri urusan pribadinya lagi, anak kita sudah menikah." Ujar Sandra


Dery hanya terkekeh melihat kejadiannya entah kenapa sepintas ia teringat dengan Shinta saat melihatnya bersama Dika waktu di kafe siang tadi. Ada rasa yang menggelikan muncul dalam hati. Saat tersadar ia menyeringai lalu meneguk sedikit wine di gelasnya.


"Dery apa kau iri melihatnya" Melihat Dery menyeringai Hendra bicara


"Tidak!" Dery menjawab dengan tatapan dingin.


* * *


Di kamar


Setelah menikmati makan malam yang di hantarkan Pelayan. Saat ini Yesa terlihat sedang berada di teras depan kamar miliknya di lantai dua. Sambil tertegun menikmati indahnya halaman rumah John.


Di sana, ada taman berbagai macam bunga dan air mancur ditengah kolam bundar di hiasi lampu berwarna warni yang hanya akan menyala pada malam hari.


Halaman rumah seperti ini begitu nyaman di pandang mata. Dan tidak jauh dari taman, di depannya ada lapangan Golf yang biasa di gunakan John bermain golf pada waktu senggangnya.


Saat Yesa menghirup udara panjang, tiba-tiba Arya memeluknya dari belakang, pipinya bersentuhan.


"Suamiku, Sejak kapan kamu tiba disini?" Yesa melihat suaminya lalu mengelus kepalanya sebentar. Seperti mengelus anak kucing yang maunya disayang-sayang.


"Aku tiba disini dari dua jam yang lalu."


"Benarkah? Kenapa tidak bilang padaku."


"Itu karena, aku inginkan hatimu tersentuh tiga kali lipat." Arya bicara lembut di dekat telinga kiri istrinya.


"Tapi tetap saja kamu harus memberitahuku. Kau tahu." Yesa melihat wajah suaminya lagi "Aku merindukan mu dua kali lebih darimu." Tersenyum


Sekilas Arya membuang muka malu, setelahnya dia melihat Yesa dengan tajam.


"Aku tidak bisa kalah kali ini, aku sungguh merindukanmu, Istriku, Jangan pergi tanpa memberitahuku mulai hari ini, jika kamu ingin pergi, Ayo kita pergi bersama mulai sekarang."


"Sekarang! Bagaimana dengan ayah ku?" Yesa kikuk,


"Kenapa ...? Apakah kita akan pindah, dan tinggal bersama ayah disini?'' Arya malah meledeknya.


Yesa mengerutkan keningnya bingung


"Kenapa kita tinggal bersama ayahku? Padahal kita kan sudah menikah. Jadi suamiku besok kita pulang ke rumah saja ya."


"Apakah kamu tidak ingin mampir ke rumah ayahku?" Arya meledek lagi.


"Apakah itu penting di bicarakan sekarang?" Yesa mulai curiga.


"Baiklah, kita bicarakan hal lainnya. Istriku kau tahu, aku tidak ingin anak perempuan."


"Kenapa memangnya?" Arya tersenyum jahil.


"Istriku, jika itu perempuan. Mungkin ayah dan ibu ku akan lebih menyayangi anak perempuan kita."


"Kau cemburu pada anakmu? Eh tunggu sebentar. Apakah aku bilang, aku mau melahirkan anak perempuan untuk mu? Dasar cabul."

__ADS_1


"Huh..." Arya mendesah sambil menjatuhkan dagunya di bahu Yesa." Istriku, sungguh aku tidak cabul. Ayah ingin segera kita melahirkan cucu untuknya."


Yesa menoleh sebentar "Cucu?"


Arya mengangguk


"Benar juga, itu hal yang wajar yang di inginkan seorang Ayah jika anaknya sudah menikah kan." Arya mengangguk "Suamiku, omong-omong kamu inginkan anak berapa dari ku?"


''Aku ingin mempunyai empat anak."


"Apa? empat!" Yesa terkejut "Apa itu tidak terlalu banyak?"


"Kenapa? Menurut ku, itu cukup, tidak banyak dan tidak sedikit."


''Begitu ya, baiklah."


Setelah Yesa menjawab Arya tersenyum dengan nakal.


"Istriku, Jika kamu sudah setuju mau melahirkan empat anak. Bukankah sebaiknya kita mencicilnya mulai dari sekarang."


Ini lagi kenapa aku selalu masuk kedalam perangkapnya


Kalimat Yesa dalam hati sambil berbalik badan, melihat suaminya lalu mundur dua langkah.


"Su-suamiku, ini sudah malam, aku ingin mengganti gaun ku dengan baju tidur."


Melihat Yesa melangkah Arya langsung menggendong tubuhnya. Lalu dia lempar dengan pelan di atas tempat tidur. Menjatuhkan diri di atasnya, lalu dikecup bibirnya sesekali dia goyangkan lidahnya, menari-nari.



Lidahnya bergeser menelusuri telinganya lalu turun ke leher, dia kecup dengan keras sampai meninggalkan warna merah. Sambil tangannya menyusup dibawah, menurunkan pakaian dalamnya. Sesudahnya dia melepaskan ikat pinggangnya.


Saat ini lututnya sudah bertumpu di kedua belah paha istrinya, jemarinya menggenggam erat tangannya. Dan secepat kilat dia menghentakkan tubuhnya.


"Ah'' Yesa mendesah sambil mengalungkan tangannya di leher suaminya


"Istriku, berikan aku penerus Jewelery. Aku sudah tidak sabar ingin mendengar tangisan bayi di malam hari."


''Suamiku, kita minta pada yang maha kuasa, agar kita cepat di berikan momongan yang cantik sepertiku dan tampan sepertimu." Setelah bicara Yesa mencubit hidung suaminya.


Arya tersenyum, lalu dia kecup bibirnya yang tipis. Tangannya beralih menarik bahu Yesa agar meringkuk, memunggunginya di tempat tidur. Lalu secepat kilat dia hentakkan tubuhnya.


"Aah" Kedua tangan Yesa mencengkram bantal disampingnya. "Suamiku, jika aku sudah mendapatkan alamat Icha. Aku ingin segara menemuinya. Apa boleh?"


"Istriku, jika tempatnya indah ajak aku berkunjung bersama mu."


Setelah bicara Arya mendorong bahu Yesa agar tengkurap. Masih memunggunginya.


"Ah!" Sambil mendesah Yesa mengigit jemarinya. "Tentu, suamiku, apa kau pernah memancing ikan sambil berkemah?"


"Itu pertanyaan bagus, sudah lama aku tidak melakukannya. Terakhir kali aku pergi memancing bersama ayah ku saat berusia tujuh tahun. Jadi aku setuju."


"Sungguh!"


"Benar, istriku anggap saja itu salah satu hadiah ulang tahun dari ku."


Setelah bicara Arya duduk dari tengkurap lalu menarik tangan Yesa agar menduduki pangkuannya. Dengan perlahan dia goyangkan pahanya sambil dicium bibirnya, lalu turun ke leher. Sesekali dia gigit bahunya karena gemas.


Setelah puas dengan posisinya dia mendorong bibir Yesa dengan bibirnya sampai terlentang. Mengunci tangannya di atas kepala, lalu dia hisap dadanya.


"Aah!" Mendesah lagi karena nikmat. "Tunggu! Suamiku apa kau melupakan hadiah ulang tahun untuk ku."


Arya belum menggubris malah kembali menghentakkan tubuhnya, keringat di sekitar wajahnya pun bercucuran.


Sementara Yesa hanya mampu mencengkram jemari suaminya. Saking menahan nikmat, wajahnya terlihat mau meledak.


Dan akhirnya hentakkan cinta berhasil mencapai puncak. Selang beberapa menit Arya menyeret tubuhnya terlentang di atas tempat tidur.


Setelah aktifitas di atas ranjang selesai, Arya meraih tubuh istrinya lalu mengecup keningnya. Tangannya terulur membelai rambutnya dengan usapan lembut.


"Istriku apa kamu tidak melihat ada sesuatu di samping mu."


Yesa menoleh. Ada satu buah kotak berwarna biru yang tinggal di tarik pitanya langsung terbuka. Karena penasaran dia buru-buru meraih benda itu. Tidak perduli jika gaun yang pakainya sudah melorot entah kemana.


"Suamiku, apa isinya."


Melihat Arya hanya diam Yesa menarik pitanya, saat terbuka disambut dengan camera digital berwarna pink. Sungguh ini kali pertama baginya tersenyum dengan gembira. Reaksi yang sama saat orang menemukan harta karun yang tersembunyi di dasar bumi ini.


"Suamiku! Terimakasih aku tidak menyangka kamu begitu perhatian padaku. Kau tahu, ini adalah benda yang paling aku impikan saat aku masih kecil. Ini sangat lucu dan warnanya pink lagi aku suka." Setelah bicara Yesa memajukan wajahnya lalu mengecup bibir suaminya karena bahagia.


Yesa mungkin tidak tahu jika hati suaminya sedang berbunga-bunga. Merasa bangga karena sudah memberi hadiah yang paling tepat untuknya.


Melihat ekspresinya yang lucu seperti ini. Sungguh membuat ku ingin mengulanginya lagi. Sangat berbahaya jika aku terus melihatnya.


"Istriku, tidurlah ini sudah malam, besok setelah aku mendapatkan alamat sahabatmu, kita langsung pergi kesana."


Laki-laki itu menarik kepalanya lalu dia jatuhnya di dadanya. Mengelus rambutnya dengan usapan lembut


"Istriku, selamat malam, aku mencintaimu."


Setelah bicara Arya mendekatkan wajah di kepalanya lalu tertidur.


*****


Pagi hari.


Perlahan Yesa membuka matanya, terkejut karena suaminya sudah menghilang. Melihat jam dinding ia buru-buru membuka selimutnya


Lalu berlari menuju kamar mandi. Sial bagaimana aku bisa bangun sesiang ini. Katanya lalu menceburkan diri ke dalam bath up berbusa yang sudah di sediakan Pelayan tadi pagi.


Setelah selesai dengan urusan mandinya Yesa memakai baju yang sudah di sediakan Sandra untuknya. Baju itu terlihat sangat sederhana namun istimewa. Semua pakaiannya berasal dari produk terkenal di dunia seperti Chanel Gucci Dior Nina Ricci atau apalah merknya.


Entah berapa harganya hanya dengan satu buah baju. Mungkin saja Yesa bisa membeli satu rumah di kampung halaman. Sayangnya ia tidak tahu menahu soal itu.


Saat ini Yesa sudah berdiri di depan meja rias, sambil memakai pelembab dan lip gloss berwarna pink saja lalu menyisir rambutnya dengan asal-asalan. Setelahnya ia berjalan menuju pintu.


"Selamat pagi Nona Muda." Pelayan menyambut sambil membungkuk saat melihat Nona Mudanya baru keluar dari kamar


Yesa tersenyum.


"Pagi, ada apa? Kenapa Pak Ketut menunggu ku di depan pintu."


"Saya di perintahkan Tuan besar untuk melayani anda Nona muda."


"Begitu ya, terimakasih." Yesa berjalan menuruni anak tangga Pak Ketut mengikuti langkahnya dari belakang menuju meja makan.


''Kakak ipar, bagaimana bisa kau


bangun tidur sesiang ini." Dery bicara saat melihat Yesa sudah duduk di depannya.


Yesa hanya nyengir, tidak mungkin kan dia menjawab alasannya tadi malam.


"Dimana yang lainnya?"


"Kakak sudah pergi pagi sekali karena ada urusan yang mendesak, Ayah dan ibuku sudah pulang ke rumah semalam. Dan ayah mu sedari tadi dia sedang asik bermain Golf."


"Bermain Golf, lalu bagaimana dengan mu. Kenapa kau dan ayah ku tidak pergi ke kantor hari ini?" Yesa bicara sambil mengunyah roti sandwich nya.


"Entahlah, mungkin ayahmu ingin menikmati liburnya saat ini." Setelah bicara Dery bangun dari duduk.


"Mau kemana?"


"Aku ingin menemani ayah mu bermain Golf, kau mau ikut?"


"Oke, kau duluan saja, nanti aku menyusul mu. Aku ingin mengambil camera ku dulu di kamar."


Setelah melihat Dery berjalan Yesa meneguk cepat segelas susu coklat di tangannya


"Mohon biarkan saya yang melakukannya Nona muda, Saya akan ambilkan camera nya segera


di kamar anda." Pak Ketut menawarkan diri.


"Baiklah, kalau begitu terimakasih."


"Anda jangan sungkan Nona."


Yesa kembali melahap sarapan paginya, sementara Pak Ketut berjalan ke kamarnya lalu muncul lagi sambil memegang camera nya.


"Nona muda, ini camera anda." Pak Ketut menyodorkannya dengan sopan


"Baik, terimakasih" Yesa tersenyum saat meraihnya.


"Sama-sama Nona muda."


Yesa bangun dari duduk lalu berjalan keluar rumah meninggalkan meja makan. Pak Ketut mengikuti langkahnya dari belakang. Sesampainya di luar, ia memanjakan matanya melihat pemandangan bunga yang indah serta air mancur di pagi hari.


Yesa memotret apa saja yang dilihatnya, dari burung kakak Tua sedang yang menghindap di pohon, aneka ragam bunga dan air mancur sambil berjalan.


Tidak lupa dia memotret Dery dan John yang sedang asik bermain golf John dari kejauhan. Ah, Pak Ketut juga diam-diam dipotretnya sambil berjalan mundur.


"Bagus, hihi." Saking asiknya memotret, ia terkejut setengah mati karena menabrak kuda yang berwarna coklat di belakangnya.


"Bagaimana bisa ada kuda disini." Yesa bicara sambil mengelus dada


'Nona Muda, kuda itu salah satu binatang peliharaan kesayangan Tuan besar." Pak Ketut menjawab dengan sopan.


"Salah satu! Memangnya ada berapa banyak yang di pelihara ayah di sini?" Sambil bicara ia mengusap pipi kudanya dengan lembut.


"Nona Muda, jika anda ingin tahu. Saya bisa mengantar anda menuju kandangnya. Anda akan tahu setelah anda melihatnya disana."Ujar Ketut

__ADS_1


"Baiklah tolong antar aku kesana."


"Dengan senang hati Nona"


Selama di perjalanan


"Pak Ketut sudah berapa lama anda


bekerja di sini."


"Hampir setengah hidup saya Nona, sudah beberapa puluh tahun saya bekerja disini."


''Ternyata begitu ya, lalu apakah anda mengenal ibu ku?"


"Tentu Nona, wajah dan mata ada mirip sekali dengan ibu anda. Beliau sangat cantik baik ramah dan juga sopan. Sama seperti anda "


"Benarkah, aku tidak percaya."


Entah kenapa Pak Ketut tiba-tiba menghentikan langkahnya.


"Nona Muda, tidak pernahkah Anda bertanya-tanya dari manakah ibu Anda mempelajari itu." Ketut bicara sambil melihat camera


"Belajar apa?"


"Ibu anda seorang Fotografer."


Yesa mengerutkan keningnya.


"Hah? Apa maksudnya. Bukankah ibuku seorang desainer perhiasan?"


"Saya berani bertaruh Nona, ibu anda seorang fotografer terkenal sebelum beliau mempelajari desaine perhiasan dari Nyonya besar Sandra." Setelah bicara Pak Ketut kembali melanjutkan langkahnya.


"Begitu ya, jika bukan karna anda memberitahu ku, mungkin seumur hidup. Aku tidak akan pernah tahu tentang hal ini."


"Sepertinya Tuan besar ingin memberitahu anda di waktu yang sangat tepat."


Ternyata masih ada beberapa sisi lain dari kehidupan ibuku yang belum terungkap


"Nona Muda, kita sudah sampai " Pak Ketut bicara sambil mempersilahkan masuk dengan sopan.


Betapa terkejutnya Yesa, saat melihat beberapa kuda yang berjejer rapih di setiap kandangnya. Lalu berlari menghampiri kuda yang berwarna putih.


"Cantik sekali kuda ini." Ujar Yesa seraya mengusap kepala kudanya dengan lembut.


"Nona Muda, apakah anda tahu, kuda itu adalah kuda kesayangan ibu anda saat beliau masih hidup." Ujar Ketut


"Benarkah, aku sudah tidak sabar ingin menungganginya. Ah, lupakan aku tidak bisa. Seumur hidup aku belum pernah berkuda."


"Istriku, apa yang kau lakukan?" Yesa menoleh ke arah suaminya. "Sedari tadi aku kemana-mana, ternyata kau ada disini."


"Suamiku, bukankah kamu sudah pergi ke kantor tadi pagi. Kenapa bisa ada disini?"


"Istriku, bukankah kamu yang bilang sendiri tadi malam. Kalau kamu ingin berkunjung ke rumah sahabat mu hari ini."


''Benar juga, tapi apa kamu sudah mendapatkan alamatnya?"


Arya menjawab dengan senyuman.


Dengan refleks Yesa memeluk tubuh suaminya karena bahagia


"Suamiku terimakasih." Arya tersenyum lagi


"Istriku, kau belum menjawab pertanyaanku. Untuk apa datang kesini? Apa kau ingin berkuda?"


Yesa melepaskan pelukannya.


"Ya, tapi aku tidak bisa"


Arya tersenyum,


"Istriku, biarkan aku yang membantu mu."


Setelah bicara Arya memakai helm berkudanya, tidak lupa ia juga memasangkan helm di kepala istrinya lalu menaiki kuda putih itu.


"Naiklah" Kata Arya sambil mengulurkan tangannya


"Tidak mau, aku takut." Jawab Yesa


"Naiklah, cepat."


"Tidak suamiku, aku tidak mau."


"Pak Ketut tolong bantu istriku naik kemari."


Pak Ketut menunduk." Baik tuan muda, Nona muda biarkan saya bantu anda, tolong anda ikuti aba-aba dari saya."


"Baiklah."


Yesa memasukan camera kedalam saku rompi panjangnya lalu mengikuti aba-aba dari Pak Ketut, sementara Arya menarik tangannya dan akhirnya ia terduduk didepan suaminya.


"Istriku, pegangan yang erat."


Yesa mengangguk.


Tidak berapa lama Arya membawa kudanya dengan perlahan mengelilingi taman dan lapangan Golf seluas lapangan bola internasional. Disisi kiri kanannya terdapat pohon cemara yang memagari jalanan sejuk sekali rasanya.


"Istriku, apa kau suka dengan pemandangan disini, sangat indah bukan." Arya bicara setelah


menghentikan kudanya di depan danau.


Danau itu adalah danau buatan yang didirikan John dan Hendra. Meski danau tersebut tidak seluas


samudra di lautan, tapi besarnya cukup luas. Di kelilingi pohon-pohon yang tertata dengan rapi, layaknya danau sungguhan. Begitu indah dan sangat nyaman untuk di pandang.


"Kamu benar, ini sangat indah. suamiku, apa kamu sering datang kemari?"


"Saat aku masih kecil, aku sering


kemari bersama ayah ku sambil memancing ikan bersama." Setelah bicara Arya memeluk sekaligus


menjatuhkan dagunya di bahu Yesa pipinya bersentuhan.


Crekk, tanpa aba-aba Yesa memotret wajah suaminya diam-diam.


"Istriku, apakah tempat tinggal sahabatmu lebih indah dari ini?"


"Aku tidak tau, tapi aku pernah mendengar cerita dari Icha. Katanya di tengah-tengah hutan ada danau. Dia juga bilang ayahnya sudah menyediakan tempat khusus untuk berkemah di sekitar sana. Jadi suamiku ayo kita pergi kesana, aku sudah tidak sabar ingin berkunjung kesana."


"Tapi, apa kamu menjamin disana tempatnya bersih dan tidak kotor."


Yesa menoleh sambil tersenyum


"Tentu, suamiku, kamu tenang saja aku akan selalu berusaha melakukan yang terbaik untukmu, aku yakin tempat itu tidak akan mengecewakanmu."


"Istriku setelah ku pikirkan. Kenapa kita tidak memancing ikan dan berkemah disini saja."


"Benar juga, mari kita melakukannya setelah kita berkunjung dari rumah Icha. Bagiamana?"


"Bagus istriku karena kamu sudah berucap. Jadi, kamu tidak boleh menariknya kembali."


"Tentu, aku tidak akan menarik ucapan ku."


Arya tersenyum lalu bibirnya menyentuh bibir Yesa dengan sangat lembut.


Setelah urusan berkudanya selesai pasangan suami istri itu berjalan mendekati John dan Dery yang sedang asik bermain Golf.


"Ayah aku mohon pamit, beberapa saat lagi aku akan pergi segera bersama istriku berkunjung ke rumah sahabatnya."


John belum menggubris karena sibuk mengayunkan stick woodnya lalu melakukan pukulan drive. Dan bola golf melayang di udara lalu mendarat mulus di putting green hampir mendekati pin.


"Wahh ayah hebat." Yesa memuji


"Putriku, apa kamu ingin mencobanya?" John bicara


"Aku mau, tapi lain kali saja ayah,


saat ini aku ingin segera pergi ke rumah sahabatku lebih dulu."


Dery tersenyum.


"Sepertinya Kakak sudah


memiliki alamatnya. Darimana Kakak medapatkannya? "


"Tentu saja dari ayahmu, itu sangatlah mudah baginya. Selalu mudah mendapatkan apapun yang di inginkannya. Tidak jauh berbeda dengan kelakuan mu Arya, sikap mu mirip sekali dengan Ayah mu." John menjawab sambil menaruh stick wood dan menggantinya dengan stick iron.


Arya terkekeh.


"Ternyata ayah begitu perhatian padaku."


" Baiklah, Ayah kami mohon pamit, jaga kesehatan mu dengan baik." Setelah bicara Yesa mencium


tangan ayahnya dengan lembut.


"Baiklah kalau begitu" John melihat Arya sebentar "Kau jagalah putriku baik-baik."


Arya tersenyum penuh makna


" Ayah, tenang saja, aku pasti akan melindungi istriku dengan baik."

__ADS_1


__ADS_2