
Apartemen Sandra
"Kamu berhasil menemukannya."
Sandra bertanya sambil menatap sebuah foto imas bibi Yesa beserta nomer teleponnya dari informasi yang sudah di laporkan asistennya
"Benar nyonya, saya hanya menemukan nomer telponnya, tidak ada tempat tinggal tetap jadi saya tidak bisa mendapatkan alamatnya." Asisten melapor lagi sambil berdiri di samping Sandra.
"Hanya mendapatkan nomer teleponnya juga tidak apa-apa." Sahut Sandra merasa sudah cukup dengan laporan itu
"Ketika saya mencari informasinya, tampaknya dia punya masalah keuangan Nyonya." Asisten pribadi bicara lagi.
"Itu bagus, jika dia butuh uang, kita akan mudah mendapatkan informasi tentang gadis itu."
"Nyonya Apakah anda mau menghubunginya langsung?"
"Ya" Sesudah menjawab Sandra mengetikan beberapa nomer di handphonenya
Nomer yang anda tuju tidak terdaftar
"Aku rasa dia sudah mengubah nomer teleponnya." Sandra diam, kedua alisnya mengerut seraya berpikir
Lebih baik aku menemui John secara langsung
Barus saja dia mau beranjak nada dering handphonenya berbunyi.
"John!"
"Sandra, apa kabarmu? Aku dengar kabar dari Hendra kau sudah kembali dari A.merika, apa bisa kita bertemu?" Sahut John di seberang
"Kabar ku baik sekali, ya aku baru tiba dari kemarin, John kau benar kita harus bertemu. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Baiklah, aku menunggumu."
"Baik, aku segara kesana sampai bertemu
di rumahmu.''
Panggilan terputus
Sandra bangkit dari duduk melangkahkan kaki menuju mobilnya, asisten pribadi mengikuti langkahnya dari belakang. Setelah Sandra duduk di kursi belakang asisten pribadi melajukan mobilnya memecah jalanan.
******
Kediaman john
Ron, sudah terlihat berdiri di depan teras rumah untuk menyambut kedatangan tamunya.
"Selamat datang Nyonya Sandra." Ron bicara setelah Sandar turun dari mobilnya.
"Terimakasih."
__ADS_1
"Nyonya Sandra, Tuan John sudah menunggu anda di dalam, silahkan Nyonya saya akan menghantarkan anda." Ron mempersilahkan Sandra masuk dengan sopan.
"Baik, Terimakasih."
Ron menuntunnya dari depan Sandra mengikuti langkahnya dari belakang sampai di tempat tujuan. Saat sudah masuk dia di sambut dengan sosok laki-laki yang sedang duduk sambil menghisap secangkir teh hangat di tangannya.
Ron mempersilahkan duduk tamunya. Setelah Sandra duduk dia berdiri di samping John.
"Selamat datang, apakah makanan di Amerika cocok untuk mu? Kau terlihat lebih cantik." Setelah bicara John meletakan tehnya di atas meja.
"Ya, terimakasih aku tersanjung. John ku dengar kau baru saja menyelesaikan bisinis mu di Eropa. Bagaimana kabarmu? Bagaimana kabar Diamond Group?"
Sekilas info, Diamond Group adalah perusahaan Sandra yang dititipkan pada John sebelum dia angkat dari negri ini.
"Sama seperti kabarmu sekarang, Hendra merasa senang, dia meneleponku berulang kali untuk menyuruhku menelpon mu. Omong-omong berapa hari kau disini? "
"Aku datang kesini untuk kembali.'' Sandra menjawab singkat namun mengesankan yang membuat John tercengang mendengarnya.
"Apa kau tidak ingat apa yang kau katakan saat kau mau pergi ke Amerika?"
"John, aku tau apa yang kau khawatirkan."
"Dan kau tetap kembali." John memotong
Sandra menunduk.
"Aku kembali karena aku merindukan kedua anak ku, dan rindu keluarga ku."
Degh, mata Sandra terbelalak.
"Aku tidak perduli apa yang kau katakan. Aku akan tetap kembali dan aku yakin apa yang kau khawatirkan tidak akan terjadi."
Melihat wajah Sandra di penuhi dengan kegelisahan John kembali meraih secangkir tehnya di atas meja.
"Apa yang aku khawatirkan adalah kedua anak mu tidak ingin menerima mu kembali." Setelah bicara John menyesap sedikit teh hangatnya beberapa kali.
"John sudah saatnya kedua anak ku mengetahui kebenarannya. Selebihnya aku datang kemari karena ingin menyampaikan sesuatu. Ini tentang Rena sebenarnya dia sedang mengandung anakmu waktu itu."
"Aku sudah mengetahuinya Sandra, bahkan aku sudah mendapatkan informasinya baru-baru ini. Manda wanita licik itu beraninya dia menyewa laki-laki itu untuk membunuh putra ku bersamaan dengan wanita yang ku cintai. Mereka sudah meninggal, aku bahkan sudah berkunjung ke makamnya."
"Benarkah!" Sandra terkejut." Tapi aku sangat yakin anakmu dia masih hidup. Aku rasa saudaranya ada yang membesarkannya."
"Lalu, jika itu benar apakah kau mengetahui
keberadaan putra ku?" John bertanya dengan tatapan kosong.
"Aku sudah mendapatkan nomer telepon saudaranya. Tapi dia tidak dapat di hubungi. Meski aku masih belum yakin, dia adalah Yesa menantuku, tapi aku lihat gadis itu memakai liontin yang kita desain dua puluh tahun yang lalu. Apa menurutmu dia putri mu?"
"Yesa!" John terkejut. "Jadi maksud mu, anak seorang putri?"
"Benar, tapi itu belum pasti. Aku berpendapat seperti ini karena aku melihat dia memakai liontinnya. John kau mengerti kan maksud ku?"
__ADS_1
John diam belum menjawab.
Hening sesaat,
Tiba-tiba John teringat dengan kejadian hari itu. Hari dimana ia berpapasan dengan Yesa saat di pemakaman. Teringat liontin menggantung di lehernya sama persis dengan miliknya.
"Sandra apa menurutmu Hendra sudah lama mengetahui masalah ini?"
"Aku tidak yakin." Sandra terlihat ragu menjawab
"Bocah tengik itu ternyata mempermainkan ku selama ini. Aku yakin dia sudah merencanakan ini sebelumnya, aku harus menemuinya." John berapi-api
"John, aku rasa lebih baik kita menemui gadis itu secara langsung, itu yang di sarankan Hendra padaku."
"Sandra, kau benar lebih baik kita bawa gadis itu kemari, aku ingin memastikannya sendiri. Ron!"
"Ya Tuan" Dengan sigap Ron menjawab cepat.
"Kau pergilah ke rumah bocah itu, dan bawalah gadis itu kemari. Katakan padanya aku ingin bertemu dengannya secara langsung."
"Baik Tuan"
Ron menundukkan kepalanya lalu bergegas pergi menuju kediaman Arya
"John, biarkanlah aku membantumu." Kata Sandra ketika menatap John hanya diam tak bergeming.
******
Kediaman Arya
Siang itu Yesa terlihat sedang sibuk membersihkan kamar Arya yang sekarang ini sudah menjadi kamarnya. Saat sedang merapikan buku yang sedikit keluar dari raknya. Dia cekikikan sendiri sambil mengingat kejadian onar waktu itu.
"Nona muda biarkan saya bantu anda." Kata salah satu pelayan dari beberapa pelayan yang lainnya yang sudah di tugaskan Hendra untuk mengurus rumahnya mulai hari ini.
"Terimakasih, tapi tidak perlu aku bisa melakukannya sendiri. Lebih baik kamu kerjakan tugasmu yang lainnya saja ya. Membersihkan ruang tamu misalnya." Setelah bicara Yesa tersenyum manis, dia memang begitu, merasa tidak nyaman jika kamar pribadinya dibersihkan orang lain.
''Baik Nona." Pelayan menurut lalu berjalan meninggalkan kamar melakukan tugas yang lainnya.
Beberapa menit kemudian tidak sengaja Yesa menemukan satu buah album yang nampak terlihat sudah sangat lama. Karena penasaran dia membuka lembarannya satu-persatu, tawa muncul di bibirnya saat melihat foto suaminya yang masih berusia lima tahunan.
Tatapannya beralih pada sebuah foto yang membuat kedua bola matanya nyaris tidak berkedip saat melihatnya. Dia merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dalam foto itu ada wajah ibunya bersama yang lainya di tengah perayaan ulang tahun ayah mertuanya itu.
"Ibu." Yesa bicara sambil mengamati fotonya dengan seksama."Kenapa ibuku ada disini?''
Semakin lama dia semakin tidak percaya, karena disetiap lembaran yang dia buka berikutnya, wajah ibunya selalu ada. Karena penasaran ia meraih handphonenya mau bertanya pada suaminya. Tapi, baru saja ia mau menelpon suaminya, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar dari luar kamar.
"Siapa?"
Yesa menutup kembali album fotonya lalu berjalan, meraih handle pintu. Saat terbuka tampaklah seorang laki-laki berjas hitam di lengkapi dengan kaca mata hitam yang bertengger di wajahnya berdiri didepan pintu.
"Salam Nona." Ron membungkukkan badannya
__ADS_1