PERJODOHAN CEO JEWELERY

PERJODOHAN CEO JEWELERY
ARYA KESAL


__ADS_3

Malam hari di California saat waktu makan malam tiba.


"Ini makanlah" Yesa meletakan sajian makan malam di depan Arya.


"Ini terlihat sangat baik." Ujar Arya setelah menatap kagum pada makanan di piringnya.


"Sungguh !"


Arya mengangguk


"Aku rasa ini adalah hasil jeri payah mu yang terbaik dan berhasil mendekati selera ku " Arya meraih sendoknya lalu menyantap makan malamnya


Yesa tersenyum


" Begitu ya. Kau tahu? Ini adalah kabar yang menggembirakan bagiku. Terimakasih." Kata Yesa sambil nyengir."Arya tidak sengaja aku melihat banyak minuman (wine) di ruangan tv tadi." Ia bicara lagi.


"Apa kau mau minum ?"


"Tidak, pernahkah kamu melihat tanganku bergetar seperti saat ini." Kata Yesa sambil mengepal kedua tangannya yang sudah gemetar. Ia memang aneh begitu jika melihat sesuatu yang sangat mengejutkan baginya.


Bibir Arya berkedut."Ciih. Kamu sangat aneh."


"Aku tahu." Sahut Yesa singkat.


Suasana hening kembali. Entah kenapa Yesa tidak henti-hentinya menatap wajah Arya


Apa dia sudah merasa baik-baik saja


"Berhenti menatap ku" Setelah sadar di perhatikan Arya bicara.


Huh ! Bagiamana dia bisa tahu aku sedang menatapnya


"Arya, bolehkah aku menanyakan sebuah


pertanyaan yang canggung pada mu ?" Yesa bertanya. Laki-laki itu terlihat menghentikan suapan makannya. Meletakan sendoknya.


"Pertanyaan apa itu ? Apa pertanyaan yang seperti ini. Kenapa sikap ku berlebihan pada ibu ku waktu di harmoni tadi ?"


Yesa mengangguk saja


Ya Tuhan ! Apakah dia bisa membaca pikiran ku


"Aku melakukannya demi melindungi Ibu ku." Arya bicara dengan nada lemah." Ada lagi ?"


"Apakah kamu... " Yesa terlihat ragu mengatakannya. Apakah kamu merindukan ibu mu. Entah kenapa pertanyaan ini begitu sulit ia lontarkan. Membuat laki-laki itu menatap Yesa penuh makna." Sudahlah lupakan saja." Ia tidak melanjutkan kalimat yang sesungguhnya.


"Kau boleh menghinaku, tapi kau tidak boleh menghina ibuku." Sahut Arya dingin, setelahnya ia meraih sendoknya, melanjutkan makannya.


Yesa menggeleng dengan cepat.


"Tidak ! Bagaimana mungkin aku melakukan itu pada ibu mu."


"Di waktu mendatang kau tidak boleh mengungkit lagi tentang ibu ku"


Kesedihan Arya terpancar dari sinar matanya saat menatap nanar pada sebuah foto yang terpajang rapih di depan dinding berwarna putih itu.


Tatapan itu lagi. Apakah dia...

__ADS_1


Yesa menoleh menatap foto itu


"Jadi kau merindukan ibu mu ya." Yesa menebak asal. Entah kenapa laki-laki itu langsung meletakkan sendoknya di atas piring. Terkejut


"Kau !" Suara Arya terdengar sangat mengejutkan


Brukk


"Aaah ! Sakit sekali." Yesa tersentak tubuhnya terpelanting dari kursinya. Dengan cepat Arya bangkit dari duduk lalu berjalan mendekat, tangannya terulur meraih tubuh Yesa agar duduk dari posisinya tanpa sadar.


"Kamu tidak apa-apa ?" Arya bertanya


Yesa menggeleng "Aku tidak apa-apa" Arya hanya diam sambil menatapnya dengan tajam


Apa-apaan ini aku tidak terbiasa dengan


tatapan lembutnya itu


Kalimat Yesa dalam hati dan nyaris menutup wajah dengan kedua telapak tangannya karena merasa malu


"Su_sungguh aku tidak apa-apa." Yesa bicara lagi dengan salah tingkah


"Bodoh ! Kamu bisa saja terluka." Arya bicara sambil membantu Yesa agar berdiri dari duduk


"Itu salah mu. Kenapa kau berteriak padaku tadi ? padahal aku hanya bercanda." Ujar Yesa datar wajahnya semakin merona


"Kenapa wajahmu memerah ? Kamu pasti punya pemikiran yang kotor." Arya bertanya sambil menampakkan senyum menggodanya.


"Wajahku tidak memerah." Yesa menjawab


cepat." Mungkin saja ini karena aku tidak pernah melihat tatapan indah mu padaku."


"Benar, selama ini kamu selalu menatap ku dengan tatapan dingin. Tapi setidaknya ini peristiwa baik bagiku."


"Peristiwa baik apa ?"


"Bukan apa-apa, setidaknya kita ada kemajuan"


"Kemajuan. Benarkah" Arya sedikit terkejut


"Benar ! Apa kamu tidak tahu? Dulu kamu selalu bicara dengan wajah masam dan menatap ku dingin, seolah ingin membunuh ku. Tapi sekarang kamu bisa bicara dengan begitu banyak pada ku. Kau tahu ? aku gembira sekali " Setelah bicara Yesa menampakkan senyum indahnya.


"Bodoh!" Arya tersenyum. Ini adalah kali pertamanya dia menampakan senyum indahnya pada seorang wanita. Tida heran jika Yesa tertegun saat menatapnya.


Indah sekali. Ya Tuhan kenapa jantung ku berdegup sangat kencang


"Kamu beristirahatlah lebih awal." Arya meraih sendoknya." Besok pagi kita sudah harus berangkat dengan penerbangan pertama."


"Baiklah." Yesa bicara dengan nada lemah


Setelah bicara mereka melanjutkan makan malamnya.



****


Pemandangan ombak malam hari di pantai california yang mampu membuat siapa saja pasti akan terpesona saat melihatnya. Tiupan angin menerpa dua wajah manusia yang sedang duduk bersantai di catug header tepat di pinggir kolam renang. Sekilas Arya menampakan senyum indahnya lagi setelah menghirup udara malam di sana.

__ADS_1


Alangkah baiknya jika dia selalu tersenyum


"Kenapa kamu menatapku lagi ?" Arya bicara


"Tidak, hanya saja suasananya begitu tenang, Arya bagaimana menurutmu jika kita membicarakan tentang apa yang kamu lakukan ketika liburan sekolah menengah mu dulu."


"Liburan sekolah ?"


"Benar, aku masih ingat waktu itu Aku pergi berlibur ke dunia fantasi dengan sahabat ku. Bagaimana denganmu ?"


"Aku ke Eropa" Sahut Arya singkat


"Eropa !" Yesa tercengang."Dasar orang kaya."


"Huhh" Arya mendengus


"Kenapa kau mendengus ?"


"Dasar norak !"


"Apa katamu ?" Yesa mengerutkan kening


"Bodoh." Arya menjawab cepat, entah kenapa ia menatap wajah Yesa dengan tajam." Yesa bila di lihat dengan seksama, wajah mu tidak begitu buruk, kamu juga bukan orang yang selalu menarik perhatian."


"Kau mau bertengkar denganku ? Wajah ku buruk atau tidak itu bukan urusan mu.'' Ujar Yesa kesal


"Tapi saat aku melihat kerja kerasmu, kamu begitu hebat dan gigih menarik sekali. Semula aku tidak tahu kenapa ayah ku membanggakan mu dan kenapa adik ku begitu sangat memuji mu. Terlebih lagi.. Aku juga tidak tahu bagaimana perasaan ku padamu. Tapi sekarang aku mengerti."


"Mengerti apa ?"' Tanya Yesa sambil nyengir


Sial ! Sebenarnya apa yang baru saja aku katakan


Arya membuang muka sekaligus kembali


pada akal sehatnya.


"Lupakan saja apa yang ku katakan tadi."


"Kenapa ? Padahal aku sangat ingin tahu jawaban mu"


Arya diam tidak menjawab dan wajahnya


terlihat sedang kesal sekali


"Mau kemana ?" Yesa bicara saat melihat


Arya bangun dari duduk


"Ini sudah larut aku mau tidur." Sahut Arya dingin


"Hei tunggu beritahu aku dulu jawaban mu."


"Tidak akan !" Hardik Arya sambil berjalan


Aneh kenapa dia marah


Sambil menatap punggung Arya pertanyaan itu melintas di kepala Yesa. Setelahnya ia menarik nafas panjang lalu merentangkan kedua tangan di udara sambil menatap langit yang di penuhi dengan bintang di malam hari

__ADS_1


"Indahnya! ayah, ibu aku merindukanmu, semoga kalian bahagia di atas sana"


__ADS_2