PERJODOHAN CEO JEWELERY

PERJODOHAN CEO JEWELERY
MENIKAHLAH DENGAN YESA


__ADS_3

Aku juga tidak tahu bagaimana perasaanku


padamu. Tapi sekarang aku mengerti.


Selama di pesawat, Arya terus melamun sambil memikirkan kalimat panjang yang sudah keluar dari bibirnya tadi malam.


Ia masih tidak menyangka bagaimana mungkin Yesa sangat menyebalkan baginya tapi sudah membuatnya mampu melontarkan kata seperti itu padanya. Apalagi saat teringat gadis itu terpelanting dari kursinya tadi malam.


Kenapa aku merasa panik saat dia dalam bahaya. Seharusnya aku tidak perduli padanya. Tapi kenapa aku malah menolongnya. Sial apa yang baru saja aku pikirkan


Arya menggeleng pandangannya beralih pada gadis yang nampak tertidur di bahunya. Tangannya terulur merapikan rambut Yesa ke belakang telinga agar tidak menghalangi mata indahnya.


Entahlah, apa aku menyukaimu


Tiba-tiba Arya mengarahkan tangannya pada wajah Yesa entah dalam keadaan sadar atau tidak, ia ingin sekali mencubit hidung gadis itu. Tapi berhenti saat Yesa menggeliat dan wajahnya berpaling. Laki-laki itu tersenyum sambil menarik kepala Yesa secara perlahan dan merebahkan kembali di bahunya. Setelahnya ia mengulurkan tangannya membelai rambut Yesa dengan sangat lembut.


Manis sekali wajah tidurmu


Beberapa jam kemudian pesawat mendarat mulus di bandara. Kini dua sosok manusia itu sedang berjalan menuju mobil yang sudah di siapkan Dani


" Ahh beratnya " keluh Yesa saat mendorong barang bawaannya


Arya tidak perduli, dia hanya menatap Yesa


dengan teliti. Seperti mengintimidasi tubuhnya." Kamu pasti tidak bisa meminta bantuan ku untuk membawa barang bawaan mu kan? "


Yesa menggeleng. "Tidak ! Mana berani aku meminta itu darimu."


"Bodoh ! Yesa kamu memang benar benar kikuk." Arya memaki dengan wajah datarnya


"Hehe kamu sangat berhak menganggap ku begitu "


Arya tersenyum hambar." Kamu bahkan tidak tersinggung lagi ya ? "


Yesa hanya nyengir.


"Ciih serahkan barang mu padaku, "


"Hehe terimakasih " Yesa terlihat bahagia


****


Saat itu mereka baru saja tiba dari bandara. Arya mendapati sebuah mobil hitam terparkir mulus di depan rumahnya. Tapi mobil itu bukan mobil yang setiap hari dia lihat di rumahnya.


Arya menarik bibirnya sinis saat melihat plat nomer polisi yang menempel di depan mobil.


Tampaknya dia sudah mengenali mobil itu. Arya memasuki rumahnya Yesa mengikuti langkahnya dari belakang. Saat tiba di ruang tamu Arya mendapati sosok laki-laki tua seperti sedang menunggu kedatangannya.


"Ayah." Arya menyapa


"Tuan Hendra " Yesa membungkukkan badannya.


"Kalian duduklah " Hendra bicara


Arya dan juga Yesa mengambil posisi duduk bersebelahan dan berhadapan dengan Hendra. Sekretaris Dani meletakan surat putih dia atas meja, mereka semua menatap benda itu.


"Arya Apa kamu sudah melihatnya." Sorot mata Arya langsung tertuju pada berkas di atas meja" Aku yakin kamu pasti sudah melihatnya "

__ADS_1


"Ya itu adalah perintah terakhir ku. Aku tidak mungkin bisa menolak perintah yang sangat resmi darimu Ayah." Arya menjelaskan tatapannya dingin


Perintah resmi ! Apa itu ?


Gumam Yesa dalam hati sambil menatap


Tuan Mudanya dengan penuh tanda tanya


"Itu artinya kamu sudah siap bila jabatan mu di angkat oleh ku." Hendra bicara lagi


Brakk.


Tiba-tiba Arya mengebrak meja kesal.


Kenapa ? Kenapa kamu marah. Yesa bicara


dalam hati tersentak. Kenyataannya Arya


tidak ingin menerima jabatannya di angkat oleh Hendra.


"Ayah lihat aku." Arya menyuruh


"Kenapa ? Apa aku harus menurut padamu dan aku harus mendengarkan mu sekarang ?" Hendra bicara dengan nada tegas. Keras kepala.


"Aku harap ayah melakukan itu." Nada suara


Arya terdengar lemah. Entah karena ada masalah apa sampai membuat ia hampir meneteskan air mata setelah menerima sorot mata tajam Hendra." Saat aku mendengar kabar itu dari Dani. Hal pertama yang aku pikirkan adalah aku harus pergi menemui dan menjelaskan masalah ini. Jadi lihat aku tolong dengarkan apa yang aku katakan Ayah."


"Mendengar mu ?" Dengan cepat Hendra


menjawab." Aku tidak bisa mempercayaimu


"Aku tidak pernah menginginkannya. Kenapa selama ini ayah selalu berpikir aku begitu mudah untuk menerima jabatan itu. Sebenarnya apa yang harus aku lakukan agar kau percaya padaku ayah." Arya tidak mau menyerah


"Menikahlah dengan Yesa." Dengan santainya Hendra bicara. Tidak perduli jika Arya dan Yesa terkejut setengah mati saat mendengarnya


"Apa ? Barusan Ayah berkata Apa ?'' Sejujurnya Arya kurang percaya dengan kalimat Hendra barusan.


"Berikanlah aku bukti yang jelas dan jangan membantah perintahku. Kamu menikahlah dengan Yesa. Dengan begitu aku akan percaya padamu." Hendra bicara lagi


Ternyata Ayah sudah merencanakan semua ini dari awal. Sial kenapa aku tidak menyadarinya.


Arya tidak tahu harus menjawab apa. Mimik wajahnya tidak dapat di artikan antara kesal marah campur senang. Sedangkan Yesa hanya diam tanpa suara membisu. Hendra menatap gadis itu.


"Yesa setelah kontrakmu berakhir. Apa kamu ingin menjadi pengangguran ?" Yesa menggeleng.


"Tidak. Saya ingin kuliah dan mencari pekerjaan paruh waktu."


"Daripada memiliki pekerjaan sampingan. Bagaimana jika menjadi istri dari anak ku " Hendra menyarakan dengan nada angkuhnya


"Maksud Anda Tuan ?"


"Aku tidak ingin memintamu secara paksa, jadi kamu putuskan sekarang." Demi meraih tujuan Hendra mengancam gadis ini dengan sorot matanya


Hening


Ya Tuhan apakah semua orang dari kalangan ini selalu berbuat sesuka hati pada orang seperti aku. Tapi bagaimana dengannya. Kenapa diam. Apa dia setuju menikah dengan ku.

__ADS_1


Gumam Yesa dalam hati. Tangannya yang terkepal sudah berkeringat dingin.


"Aku bersedia Ayah." Malah Arya yang menjawab memecah keheningan."Aku akan memenuhi keinginan mu.'' Lanjutnya, seraya buru-buru membuang muka malu sebelum Hendra menyadari rona di wajahnya.


Sudut bibir Hendra tersenyum samar. Dia merasa sudah berhasil dengan tujuannya selama ini. Sedangkan Yesa hanya diam sambil berpikir


Huh ! Apa dia sudah gila. Kenapa dia setuju menikah denganku. Aku ingin pingsan saja rasanya


"Bagaimana dengan mu Yesa. Apakah kamu ingin memenuhi keinginan ku ?" Nada suara Hendra terkesan sangat mengerikan


Yesa terkejut lagi menerima ancaman Hendra dengan sorot mata yang sama dan saking polosnya ia berkata. "Baik Tuan, saya akan memenuhi keinginan Anda."


Jika aku menolak sekalipun dia akan tetap memaksa ku bukan. Ya Tuhan kenapa hidup ku sial begini


"Bagus, Dani setelah kontrak tiga bulan itu berakhir. Kau urus hal ini."


"Baik Tuan Besar" Sekretaris Dani menundukkan kepalanya


Hendra bangkit dari duduk dengan refleks Arya dan juga Yesa bangkit dari duduknya mereka membungkukkan badan padanya.


"Terimakasih Ayah." Ujar Arya tulus, ini kali pertamanya Hendra mendengar putranya melontarkan kata itu. Saking bahagianya Hendra hampir meneteskan air mata.


Sepertinya gadis ini yang sudah membuatmu melontarkan kata tulus itu padaku. Ayah terharu mendengarnya.


"Terimakasih Tuan." Yesa bicara


"Kalian tidak perlu sungkan." Sahut Hendra setelahnya ia berjalan meninggalkan rumah. Sekretaris Dani membungkuk sopan pada Tuan Mudanya sebelum mengikuti langkah Hendra dari belakang.


Setelah Hendra menghilang di luar pintu


utama. Yesa menatap wajah Arya dengan penuh tanda tanya. Kenapa dia setuju menikah dengan ku begitu arti matanya tersirat


"Ada apa ? Apa kau ingin bertanya, kenapa aku bersedia menikah denganmu ?" Dengan cepat Yesa menganggukkan kepalanya


"Bagaimana kamu bisa tahu ?"


"Aku tidak bisa menolak perintah resmi dari ayahku. Apa itu sudah cukup ?" Arya bertanya lagi tatapannya tidak lepas dari Yesa


"Ahh begitu rupanya. Aku kira kamu suka


padaku hehe." Jawab Yesa sambil nyengir


Entah karena apa Arya mengepalkan tangannya geram, merasa harga dirinya sudah di anggap rendah oleh gadis di depannya.


"Yesa Apa kau menganggap masalah ini adalah suatu hal yang biasa bagimu ?" Yesa mengangkat bahunya.


"Entahlah kenapa memangnya ?''


"Dasar bodoh !" Setelah bicara Arya melangkahkan kaki dari ruangan itu, menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai atas, Yesa mengikuti langkahnya dari belakang


Sudah lama Ayah mengikat mu demi merencanakan pernikahan ini. Tapi kamu tidak tahu itu Dasar bodoh


"Hei ! kenapa kamu marah ?"


"Tutup mulutmu !"


"Ah baiklah."

__ADS_1


Mengahadapi orang yang seperti ini. Rasanya aku ingin mati saja.


Yesa menggeleng, pusing sendiri menghadapi sikap Tuan Mudanya yang selalu berubah-ubah.


__ADS_2