PERJODOHAN CEO JEWELERY

PERJODOHAN CEO JEWELERY
BAGAIMANA APA INI COCOK


__ADS_3

Kediaman Arya


Yesa nampak sibuk memasak, di sekitar dapur masak tersebut ada Ketua Pelayan dan beberapa Pelayan menemaninya sambil berdiri yang tidak jauh dengan dirinya.


"Nona muda, apakah anda perlu bantuan kami." Kata Pak Wan ketua pelayan


"Terimakasih, tapi tidak perlu aku bisa melakukannya sendiri."


"Tapi Nona ... "


"Sudahlah Pak, saya tidak apa, ini sebentar lagi akan selesai." Yesa bersikeras, membuat Pak Wan dan para Pelayan lainya hanya diam sambil melihat Nona mudanya sibuk sendiri.


"Ah, benar, sudah lama aku ingin menanyakan hal ini. Kenapa setiap ada suamiku dan Adik ipar ku kalian tidak ada di sini? Ada dimana kalian, bukankah seharusnya kalian melayaninya kan." Yesa bicara lagi.


"Tuan Muda memerintahkan kami


menyelesaikan semua tugas kami sebelum Tuan muda kembali. Dan selama adanya Tuan muda di rumah ini, kami tidak diperbolehkan masuk Nona." Jelas Pak Wan.


Begitu ya, sudah ku duga. Bagaimana mungkin rumah seluas ini hanya di tinggali dua orang manusia. Aku sempat mengira Kakak beradik itu robot.


"Apakah termasuk memasak?" Yesa masih penasaran.


"Benar Nona, selama ini Tuan muda memasak sendiri. Tanpa perlu bantuan kami."


Begitulah kenyataannya, semenjak kedua Tuan mudanya sudah beranjak dewasa mereka selalu memasak sendiri, terkadang mereka makan di restauran mewah.


Secara pribadi Arya merapikan kamarnya sendiri tanpa bantuan orang lain, karena tidak menyukai semua barangnya di sentuh tanpa izin. Begitu pula dengan pola makannya, dia sendiri yang mengaturnya.


Tapi, meski begitu, Hendra memerintahkan Pak Wan secara khusus untuk membersihkan kamar Tuan Mudanya saat tidak ada di rumah tanpa di ketahui.


Dan sebelum menikah, hanya Yesa yang di izinkan melayani apapun semua kebutuhan Tuan mudanya. Begitu gigih dan hebat bukan, bagaimana bisa ia melakukan semua tugas yang tertulis untuknya demi menghadapi kerasnya Tuan muda yang dingin itu sendirian.


"Begitu ya, lalu selama ada mereka ada disini, di mana keberadaan kalian?" Yesa bertanya lagi.


"Tuan muda sudah menyediakan tempat tinggal khusus untuk kami di belakang rumah ini Nona."


"Begitu ya" Yesa mengangguk "Pantas saja, saat kali pertama aku kesini, aku tidak pernah melihat kalian."


Setelah selesai dengan urusan masaknya, saat ini Yesa sudah duduk di meja makan sambil menikmati makan siangnya. Ketua dan para Pelayan masih menunggunya di samping meja makan.


"Selamat ulang tahun sayang!" Suara Sandra yang tiba-tiba terdengar entah dari mana datangnya, gadis itu langsung menoleh setelah mendengarnya.


"Ibu, terimakasih."


"Selamat datang Nyonya besar " Ketua Pelayan dan Para pelayan menundukkan kepala setelah melihatnya datang.


"Siang, terimakasih" Sandra tersenyum manis. Sementara Pak Wan dan para Pelayan yang lain langsung mundur meninggalkan ruang makan.


"Indahnya, Arya pintar juga ya mendesain rumah ini. Kamu tahu? Ini kali pertamanya ibu datang kemari loh." Ujar Sandra sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sudut rumah lalu duduk di samping menantunya


"Benarkah?"


"Bagaimana dengan anak ibu, dia baik kan sama kamu?" Sandra bicara sambil membelai rambut menantunya dengan lembut


"Tentu, dia baik kok bu." Tersenyum


"Syukurlah, ya sudah lebih baik sekarang kamu cepat habiskan makanannya. Habis itu, kamu ikut ibu ke rumah ayahmu John. Disana ibu akan merias kamu dan membantu kamu memakai gaun pesta yang sudah ibu pesan khusus buat kamu."


"Gaun? Memangnya nanti malam ada acara apa ibu?"


Sandra mengerutkan keningnya


"Suami kamu dan kita sekeluarga ingin merayakan ulang tahun mu di rumah ayahmu nanti malam sayang. Apa suami mu tidak bilang pada mu?"


"Merayakan ulang tahunku! Sungguh?"


"Benar sayang" Sandra tersenyum dengan hangat "Sekarang, kamu cepatlah habiskan dulu makannya nanti keburu dingin."


"Baiklah."

__ADS_1


******


Grand Indonesia terdapat dua sosok laki-laki yang sedang berjalan kaki menuju sebuah tempat yang cocok untuk memilih hadiah yang mau di berikan pada istri tercintanya.


"Kakak hadiah apa yang sebenarnya ingin kau berikan pada kakak ipar? Jika itu perhiasan kenapa tidak pergi ke galery kita saja." Dery bicara sambil mengerutkan keningnya heran, ini kali pertamanya ia dan kakaknya pergi ke pusat perbelanjaan.


"Untuk apa aku memberinya perhiasan. Aku sudah memberi istriku banyak perhiasan. Tidak ada satupun yang di pakainya. Kecuali cincin pernikahan kita dan liontin peninggalan ibunya itu."


Setelah menjawab Arya sudah memasuki tempat yang mau ia tuju, di susul dengan Dery.


"Selamat datang Tuan Muda" Manager laki-laki toko menyambut saat melihatnya datang.


Kedua Tuan Muda itu hanya tersenyum lalu memasukan satu tangannya di saku celana.


"Berikan aku camera digital yang cocok untuk seorang gadis." Arya bicara


"Tentu tuan, silahkan anda lihat disini." Manager itu memperlihatkan etalase di depannya dengan sopan.


Arya mendekat mengedarkan pandangannya ke arah etalase. Ada banyak model dan beberapa warna camera digital di sana


"Tolong berikan aku yang itu.'' Arya bicara sambil menunjuk camera digital berwarna pink


"Tentu, berikan itu pada tamu kita." Perintah Manager pada pelayan wanita yang berdiri di depan etalase. Pelayan itu meraih camera tersebut di dalam lalu menaruhnya di atas etalase


"Tuan muda, kalau boleh saya sarankan, camera ini akan membuat impian gadis anda menjadi kenyataan." Jelas Manager


"Dery bagaimana menurutmu apa itu cocok untuk istriku." Arya bertanya sambil mengamati camera digital lebih dalam.


"Itu sangat cantik dan juga bagus, aku rasa Kakak ipar sangat menyukainya."


"Apa kau yakin?"


"Tentu aku sangat yakin."


"Baiklah kalau begitu, aku ambil


yang itu." Jelas Arya pada Manager yang masih berdiri disamping nya.


agar istri anda terkesan." Ujar Manager


"Baik, terimakasih."


Setelah urusannya selesai, Arya dan Dery terlihat melajukan mobilnya menuju kafe mewah yang letaknya tidak jauh dari pusat perbelanjaan. Saat ini mereka sudah duduk di kursi meja kafe.


"Dery bukankah itu mantan wanita mu." Arya bicara sambil mengedikan wajahnya ke meja di depan.


Dery menoleh ke belakang, menangkap wajah seorang wanita cantik yang berambut panjang. Wanita tersebut terlihat sedang asik mengobrol dengan laki-laki di meja yang sama.


"Tapi, siapa laki-laki di sebelahnya, apakah dia tunangannya?" Arya bicara lagi


"Kau benar, dia Dika tunangannya." Setelah bicara Dery menundukkan pandangan, mengepal satu tangannya geram l.


"Cih, kenapa wajahmu berubah begitu. Apa kau masih mengharapnya? Kelihatannya kau kesal sekali."


Dery hanya diam belum menjawab


"Aku rasa laki-laki itu tidak keras kepala, karena mau bertunangan dengan mantan wanita mu. Tapi, apa kau pernah berpikir mereka akan ... Berakhir dengan suka cita?"


Dery menatap Arya sambil senyum


"Aku mengerti maksudmu. Menurutmu akulah yang dulu merelakan mereka berhubungan adalah pikiran yang tidak logis bukan?"


"Ada petuah kuno. Masa depan harus di perjuangkan dan kita berdua tahu itu, tapi sayangnya petuah itu tidak cocok untuk mu." Kata Arya setelah meneguk sedikit minuman dinginnya.


"Sudahlah Kak upakan saja." Kata Dery ketus


"Dery, jika dulu kamu tidak relakan dia untuk laki-laki itu menurutmu... Kau dan dia sekarang akan seperti apa? Dery kau dan aku bersaudara bukannya aku tidak memahami perasaanmu dan bukan berarti aku berpihak padanya hanya saja ... " Arya berhenti saat melihat wajah adiknya yang tiba-tiba menunduk lagi. "Lupakan, meski sekarang aku bicara begini. Ku rasa tidak ada manfaatnya bagimu."


Dery langsung mengangkat wajahnya.

__ADS_1


"Tentu, kau benar Kak, ayo kita pulang Kakak ipar pasti sedang menunggu kedatangan mu."


Arya melihat jam tangannya.


"Aku hampir lupa, kita harus pulang segera."


Karena melihat Arya bangun Dery ikut bangun daru duduknya, lalu pergi meninggalkan mejanya. Sementara orang yang di belakang punggungnya terkejut saat melihat sosoknya.


"Shinta bukankah itu Dery?" Shinta menoleh kebelakang sebentar lalu berbalik lagi melihat Dika." Sepertinya dia sudah melihat kita


sejak awal." Sambung Dika "Apa kau tidak ingin mengejarnya?"


Shinta hanya diam sambil meremas jemarinya di meja.


"Shinta apa rencana mu selanjutnya? Mungkin dia sudah tidak memperdulikannya dan itu artinya kita perlu memikirkan strategi. Kamu tidak bisa menghindar lagi."


"Aku tidak akan menghindar juga tidak akan menyerah. Semakin dia mempersulit ku. Aku harus lebih tegar."


"Lalu dengan cara apa agar dia kembali pada mu? Dia adalah orang yang kuat di dunia perhiasan lagi pula, dia adalah putra dari pemilik Jewelery Group"


''Memangnya kenapa?" Shinta menjawab cepat "Tetap saja dia manusia."


"Pikiranmu terlalu naif, tetap saja dia akan mudah mencari wanita lain untuknya dan dia juga bisa menjatuhkan mu."


"Kau membuat ku pusing saja. Bukankah kau baru saja mendukungku. Sekarang malah


menakuti ku dengan kata kata mu. Pokoknya aku tidak akan menyerah." Ujar Shinta kesal


"Aku bukan menakuti mu, aku hanya ingin tahu tindakan konkrit kamu." Setelah bicara Dika meneguk sedikit minumannya.


"Tindakan ku adalah .. " Shinta diam sejenak sambil berpikir


"Ckckckck " Dika meledek Shinta karena tidak tahu apa yang harus di lakukannya.


"Kenapa kau menggeleng?" Shinta kesal


''Kau temui dia langsung bagaimana menurut mu? Menurut ku ide ini tidak begitu buruk "


"Baiklah, aku akan mengatur jadwal ku demi menemuinya secara langsung."


"Sungguh, kata itu sudah kau ucap, tidak boleh di tarik kembali dan tidak ada yang perlu kau takuti. Terlebih lagi Dery masih mencintaimu aku yakin dia akan mengerti mu. Shinta aku berpihak pada mu."


"Baik terimakasih."


Jika boleh memilih lebih baik kau yang ada di sisiku Dika bukan laki-laki itu. Kau selalu membuat hatiku stabil sedangkan dia selalu membuat ku terluka.


Kau dan aku tumbuh bersama seharusnya kau yang aku cintai. Tapi kenapa aku mendorong diri menghadapi pertarungan ini dan membenturkan diri di kehidupannya.


********


Sore menjelang malam Sandra dan Yesa tiba di rumah John, tanpa menunggu lama Sandra mengajak menantunya itu segera ke kamar yang sudah di sediakan John sejak tadi pagi sepertinya. Sandra meminta Yesa segera mandi, setelah selesai Sandra membantu Yesa memakaikan gaun pesta cantik berwarna pink. Dan kini Yesa sudah duduk di depan meja rias


"Rambut mu, indah lurus dan berkilau." Ujar Sandra saat menyisir menantu tersayangnya.


Yesa tersenyum melihat ibu mertuanya dari pantulan cermin


"Ibu apakah suami ku pergi ke kantor? Padahal dia bilang akan cuti hari ini."


"Sepertinya tidak, ibu rasa dia membawa Dery pergi ke suatu tempat." Sandra bicara sambil mengepang rambut Yesa di belakang. "Suami mu kekanak-kanakan, kadang ia egois dan keras kepala. Ibu berharap, semoga kamu memahami sikapnya ya sayang."


"Ibu benar, terkadang suamiku marah tanpa alasan yang jelas hehe..."


Sandra tersenyum lalu duduk di samping Yesa.


"Kulitmu begitu halus. Bila di rias pasti sangat cantik. Ibu akan mendandani mu sampai cantik agar mereka kagum melihat kecantikan mu." Yesa senyum sambil menganggukkan kepala.


Setelah selesai merias wajah menantunya, Sandra keluar dari kamar karena mau mempersiapkan diri. Tinggallah Yesa sendiri di kamarnya. Ia bangun dari duduk lalu berdiam diri di depan cermin. Seakan tidak percaya dengan penampilannya saat itu.


"Gaun ini begitu cantik dan sederhana, warnanya pink, aku suka. Bagaimana ibu bisa tahu warna kesukaan ku.'' Sambil senyum-senyum sendiri Yesa menatap diri di depan cermin.

__ADS_1



__ADS_2