PERJODOHAN CEO JEWELERY

PERJODOHAN CEO JEWELERY
MALAM HARI PART 2


__ADS_3

Di ruangan Arya


"Kenapa aku harus membantumu memilih menu makanan untuk ku setiap hari." Arya menatap heran pada benda di tangan Yesa


"Karena aku tidak tau selera mu, jadi aku mau bertanya. Aku sudah mendaftar beberapa menu


makan nanti." Meletakan bukunya diatas meja." Coba kamu pilih mana saja yang akan mendekati selera mu."


Arya meraih bukunya dengan wajah malasnya, saat selesai membaca dia menatap gadis di sampingnya penuh makna.


"Cih tidak ada satupun yang mendekati seleraku. Kamu bahkan memilih menu makanan saja harus dengan penuh perasaan. Yesa kamu lamban dan bodoh jadi selera mu seperti ini."


"Kalau begitu, bisakah Arya yang baik membantu ku membuatkan daftar menu makan yang sesuai selera mu dan juga Dery?" Antusias


Apa-apaan ini, dia sudah memanggil Adik ku dengan sebutan nama. Dia bahkan perdulikan seleranya bukankah hanya aku yang harus di perdulikannya


"Kamu jangan bertanya padaku tentang selera Adik ku. Kamu bisa tanyakan sendiri saja padanya." Arya menjawab acuh.


"Baik"


Apa dia bilang 'baik' begitu saja


Begitu arti dari sorot mata Arya bicara Si Yesa sampai merinding saat menatapnya.


Kenapa dia melihat ku dengan tatapan mengancam seperti itu.


"Baiklah, kalau begitu bisakah kamu membantuku membuatkan menu makan yang sesuai dengan selera mu saja ?" Yesa bertanya lagi.


"Kenapa harus aku ?"


"Bukankah kamu bilang aku harus berjuang selama aku disini. Aku rasa untuk menu makan pun aku harus berikan yang terbaik untukmu." Meraih buku diatas meja." Maaf jika ini sudah membuatmu tidak nyaman."


Arya hanya diam tidak menjawab


"Baiklah kalau begitu, biarkan aku sendiri saja yang akan berusaha melakukan terbaik untuk mu." Setelah mengucapkan kalimatnya Yesa angkat kaki dari kamar Arya.


"Cih, walaupun aku membuatkan menu untuknya, apa dia bisa melakukannya." Ujar Arya, setelah Yesa menghilang di balik pintu yang tertutup. "Dasar gadis bodoh."


***


 


Taman rumah yang tidak jauh dari kolam renang, terdapat seorang gadis sedang sibuk menyusun daftar menu makan yang sesuai dengan selera majikannya.


"Apa yang kamu lakukan disini? " Dery bicara setelah tiba-tiba muncul di hadapannya. Gadis itu buru-buru meraih bukunya lalu memeluknya didepan dada.


"Tidak ada."


"Bagaimana mungkin seorang gadis lucu seperti kamu, menulis dibuku itu dengan wajah yang sangat serius. Beritahu aku."


"Ini" Yesa menyodorkan bukunya " Aku sedang berusaha membuat daftar menu makan kita setiap hari. Tapi entahlah ini sesuai dengan selera kakak mu atau tidak."

__ADS_1


"Kakak ku ?"


"Iya" Yesa mengangguk


"Mmm, begitu ya " Dery duduk di samping Yesa pandangannya tertuju pada tulisan dalam buku." Menu apa ?"


"Sedari tadi aku bersusah payah membuat menu makan itu sesuai dengan selera kakak mu. Tapi aku rasa ini masih terlalu jauh dengan seleranya."


"Yesa, apakah kamu yakin daftar menu ini tidak sesuai dengan selera Kakak ku ?" Dery bertanya setelah membaca semua menu dalam bukunya


"Iya,"


"Apa kamu sudah menanyakannya pada kakak ku ?" Dery bertanya Lagi


"Iya, dan dia bilang tidak ada yang sesuai dengan seleranya." Yesa menjawab dengan nada lemah. Laki-laki itu mendesah melihat garis kecewa di wajahnya lalu meraih tangannya.


"Mulai sekarang, kalau kamu ingin meminta pendapat, temui aku dahulu."


Yesa mengerutkan kening


"Kenapa memangnya ?"


"Karna kita adalah.. teman yang ingin membunuh anjing bersama." Dery menatap Yesa tajam, seperti mengatakan Apa kau masih ingat.


Yesa sejenak berpikir lalu ia teringat dengan momen saat Dery memberitahu kisah anjing bersamanya saat beberapa hari kebelakang.


"Ahh benar juga."


Dery terkekeh tangannya terulur mengelus


"Yesa aku rasa kamu tidak perlu bersusah payah membuat menu makan itu. Aku yakin Kakak ku sangat menyukai masakanmu. Setahu ku makanan apapun yang kamu masak. Kakak ku selalu menikmatinya."


"Benarkah" Menjawab cepat bola matanya berbinar senang." Tapi bagaimana mungkin dia


menikmatinya. Dia bahkan hampir tidak menelan masakan ku tadi. Dan kau juga tahu itu."


"Seleranya memang tidak muda di tebak. Tapi percayalah pada bakat mu dan aku sangat yakin kamu mampu memenuhi apapun yang di butuhkan Kakak ku."


"Begitu ya terima kasih "


Karena melihat gadis itu menampakkan senyum indahnya, Dery terpaku melihat semangatnya yang terpancar dari sinar wajahnya.


"Yesa, namamu sangat simple, siapa yang memberimu Nama? "


"Kata Nenek, mendiang Ayah berkata bahwa ibuku yang memberi aku Nama."


"Tentang kamu kehilangan kedua orang tua mu, aku mendengar dari Sekretaris Dani."


Yesa terkekeh.


"Meskipun begitu aku masih bersyukur, karena masih mempunyai Nenek yang selalu ada bersama ku. Kau tahu karena Nenek aku berdiri di tempat ini."

__ADS_1


"Apa kamu sama sekali merasa tidak sedih ?"


"Memang, terkadang aku merasa sangat sedih. Apalagi saat teringat Ayah dan Ibuku


sudah meninggal. Tapi aku masih bersyukur setidaknya aku masih memiliki Nenek yang sudah rela menjaga dan merawatku dengan penuh kasih sayang. Kau tahu, dialah sumber kebahagiaanku. Tanpa Nenek mungkin aku tidak akan pernah tahu arti kehidupan di dunia ini."


"Begitu ya."


"Emmh." Yesa mengangguk saja


Kamu memang wanita hebat. *K*amu bahkan berani mengahadapi dinginnya Kakak ku demi melindungi Nenek mu.Tidak tahu kenapa aku ingin membantumu secara perlahan. Agar kamu tahu bagaimana rasanya mencintai dan menemukan kebahagiaan mu bersama Kakak ku


"Kalau begitu mulai saat ini aku akan selalu


menjaga dan melindungi mu." Yesa tersenyum dengan manis


"Terima kasih Dery" Si Dery hanya senyum sambil mengelus kepalanya


Kenapa dia suka sekali mengelus kepala ku seperti ini


***


Di kediaman Hendra Saputra, terdapat sesosok laki-laki cukup tua sedang duduk di sofa sambil meneguk secangkir teh hangat di tangannya. Setelah menyesapnya beberapa kali, ia meletakan kembali gelas cangkirnya dia atas meja.


"Sekarang aku menyadari bahwa kesehatan adalah hal yang paling penting. Pastikan kau jangan sakit. Dan makanlah makanan yang sehat." Ujar Hendra pada Dani


"Baik, terimakasih Tuan Besar, Anda selalu


memperhatikan saya." Dani menjawab dengan nada sopan.


"Aku sangat ingin memastikan kamu selalu dalam keadaan sehat. Berkatmu, kedua putra ku menjadi lebih baik sesuai dengan yang ku harapkan''


"Tuan Besar, tugas apa lagi yang harus saya


lakukan dan sampai kapan Tuan akan menyembunyikan rasa ingin bertemu dengan kedua putra Anda."


"Aku tidak tahu, semua ini salahku. Jika saja aku lebih percaya pada Istriku terdahulu, mungkin saat ini, keluarga kecil ku masih utuh. Jadi itu wajar jika mereka tidak ingin bertemu denganku."


"Tuan Besar, apa mereka masih tidak tahu dengan fakta yang sesungguhnya dan saya rasa Tuan Muda Arya sangat enggan bertemu dengan Nyonya besar di Amerika."


"Orang berhati dingin lama-lama pasti mencair setelah mereka bertemu dengan orang berhati hangat. "


"Anda benar Tuan Besar, saya rasa Nona Yesa merupakan gadis yang tepat untuk Tuan muda, saya sudah memerintahkan beberapa pengawal untuk mengawasi kediaman Tuan Muda sesuai dengan permintaan Anda. Dan ini adalah hasil beberapa laporan pengawal hari ini. "


Sekretaris Dani bicara sambil menyerahkan amplop coklat berisi foto Yesa dengan Arya akhir-akhir ini, bibir Hendra tersenyum saat menatapnya.


"Sepertinya hati Tuan Muda sedikit demi sedikit sudah mulai mencair Tuan Besar." Ujar Dani sambil tersenyum


"Dia memang benar-benar gadis baik hatinya. Pastikan mereka selalu terjaga. Aku tidak ingin mendengar laporan yang tidak berguna lagi seperti malam itu."


Malam itu adalah malam dimana Arya terluka demi menolong Yesa dari sampah masyarakat. Dani bahkan sudah membuang sampah itu di tempatnya.

__ADS_1


Sekretaris Dani menundukkan kepalanya


"Baik Tuan Besar, saya mengerti."


__ADS_2