PERJODOHAN CEO JEWELERY

PERJODOHAN CEO JEWELERY
MENCERITAKAN MASA LALU


__ADS_3

20 tahun yang lalu.


Saat itu Hendra terpaksa harus menikahi Manda teman dekat Sandra yang sudah merenggut kebahagiaannya. Dia selalu merasa iri dengan apa yang dimiliki Sandra.


Hendra tergoda oleh rayuan Manda demi menginginkan kehidupan mewah yang di milikinya. Wanita itu tidak perduli bahwa Hendra adalah laki-laki yang sudah berumah tangga.


Entah ada peristiwa apa sampai hari itu Sandra merelakan dirinya di madu demi nama baik dan masa depan kedua putranya.


Selang waktu beberapa bulan Manda wanita licik ini akhirnya berhasil menghasut Hendra bahkan kedua putranya sekalipun, untuk mempercayai bahwa Sandra berselingkuh dengan John sahabat karibnya hanya dikarenakan mereka sering bertemu satu sama lain.


Suatu hari di sebuah restoran ternama tengah mengadakan perayaan kecil tepat di hari kelahiran Arya putra pertama Hendra yang ke tujuh tahun.


''Aku membawakan foto kamu bersama ibumu sebagai hadiah dariku karena kamu yang minta. Simpan itu baik-baik. Hati-hati agar tidak ada yang melihat. Sebentar lagi ayah dan ibumu akan tiba." Ujar Manda setelah menyodorkan satu lembar foto pada Arya


"Mmmh." Arya mengangguk lalu menyimpan selembar foto itu di atas pangkuannya di bawah meja makan.


"Ibumu khusus memesan ini untuk merayakan hari ulang tahunmu. Kenapa tidak di makan?" Kata Manda saat melihat makanan di piring Arya yang disediakannya terlihat masih utuh


"Tapi ini udang." Sahut Arya dengan wajah takutnya


"Ya ini memang udang! Kamu pilih-pilih makanan?" Hardik Manda sambil melotot, sepertinya dia tidak tahu jika Arya alergi udang yang katanya bisa mati jika memakannya.


"Tidak" Arya menjawab sambil menggeleng membuat Manda menarik nafas dalam. Dia jengah sendiri meladeni anak yang tidak mau menuruti perintahnya. Walau sekedar akting yang terlihat saling menyayangi di depan Ayahnya.


"Kurasa ibumu dan ayahmu membesarkan anak yang separuh dirinya. Kamu bahkan tidak bisa berpura-pura memakannya."


Melihat Manda melotot yang kedua kalinya, Arya terpaksa meraih sendoknya. Menyendok sesuap nasi lalu memasukannya kedalam mulut. Bahkan saat menelan tangannya terlihat gemetar dan wajahnya membiru karena menahan rasa sakit. Seperti ada benda yang tersangkut di tenggorokannya yang membuatnya kesulitan bernafas.


Melihat Arya terbatuk-batuk, reaksi Manda hanya diam. Jangankan menolong meski sekedar bertanya kenapa juga enggan.


Tidak berapa lama suara langkah kaki terdengar sedang mendekat dan tampaklah Hendra tiba di susul dengan Sandra dan juga Dery.


"Anak ku ada apa dengan mu. Kamu baik-baik saja?" Hendra panik saat melihat wajah semakin membiru dan batuknya belum berhenti.


"Manda apa yang terjadi? Aku tidak menyuruh mu memesan udang ini." Sandra bicara setelah melirik udang diatas meja dengan wajah paniknya.


"Sandra mengapa kamu bicara seperti itu padaku, seakan kau melimpahkan semua kesalahan mu pada ku. Padahal sudah jelas tadi kamu yang menyuruh ku untuk memesan semua makanan dimeja ini bukan?" Manda memfitnah.


Belum sempat Sandra membela diri, Hendra sudah mendekat dan... Plakk sebuah tamparan mulus mendarat di pipinya.


Sementara Manda melihat Sandra di tampar seperti itu, dia tersenyum puas karena rencana jahatnya berjalan dengan mulus.


"Sudah ku duga, kamu pasti melakukan hal keji ini. Sandra apa ini rencana mu untuk menyingkirkan anakmu, demi laki-laki sialan itu?" Ujar Hendra emosi

__ADS_1


"Hendra apakah aku begitu rendah di matamu ? Ini sudah kesekian kalinya kamu menuduhku berselingkuh dengan sahabat kita di depan kedua anak ku?"


Hendra hanya diam menatap wajah Sandra murka. Pertanyaan bertubi- tubi di abaikan begitu saja.


Hening


"Apakah kamu tidak tahu betapa menderitanya aku saat ini? Aku selalu berusaha mempertahankan rumah tangga kita. Tapi kau tidak pernah mau menghargainya."


Melihat Hendra masih diam seribu bahasa Sandra tersenyum sambil menyeka peluh di ujung matanya.


"Baiklah, mungkin seharusnya aku melepaskan hubungan kita lebih awal." Sandra berbalik badan. "Hendra suatu saat kamu akan menyesali perbuatan mu. Semoga kamu dan istri baru mu itu hidup bahagia." Setelah bicara Sandra melangkahkan kakinya pergi meninggalkan meja makan.


Sementara Hendra hanya diam tak bergeming sambil menatap punggung Sandra dari belakang tanpa adaya sedikitpun penyesalan karena terlalu murka. Diam adalah yang terbaik daripada melampiaskan amarahanya.


"Ibu, jangan pergi."


Baru saja Sandra mau keluar melewati pintu restauran, Dery datang memeluk kaki kanannya. Dia tidak mau ibunya pergi meninggalkannya.


Melihat anaknya menangis sambil memohon Sandra berjongkok mensejajari wajahnya dengan wajah putranya.


"Dery, dengar mulai saat ini aku bukan ibumu lagi. Manda adalah ibumu dan Kakakmu yang sesungguhnya. Ibu mohon kamu dan kakak mu jagalah diri baik-baik."


Dan akhirnya Sandra berhasil melepaskan diri dari putranya. Meninggalkan restauran mewah itu tanpa berpaling lagi.


"Saat wanita licik itu menjebak ibuku, saat itu juga ibuku meninggalkan aku dan adik ku. Itu sebabnya hari ini sama sekali tidak berarti bagiku."


Arya bicara setelah selesai menceritakan masa lalunya itu pada Yesa sambil duduk diatas pasir pantai ibu kota.


"Lalu apakah ayah mengetahui bahwa ibu sudah di jebaknya."


"Ayah mengetahuinya setelah ibu ku menikah lagi dengan Robin desainer ternama di Amerika " Sahut Arya dengan nada lemah.


"Begitu ya" Yesa mengangguk "Lalu mengapa


kamu tidak ingin membantu ibu tentang masalah yang di bicarakannya di restauran tadi? Aku sempat berpikir, suamiku pasti kamu mau membantunya."


"Alasannya, karena Ibuku ingin merilis liontin itu sebagai kenangan cinta di masa lalunya." Sahut Arya dengan acuh.


"Suamiku, jadi itu artinya ibu masih belum bisa melupakan ayah bukan?"


Arya mengangkat bahunya


"Entahlah, yang aku tahu ibu sangat mencintai desainer itu. Ibu inginkan aku membantunya agar merilis kisah dibalik liontinnya secara terang-terangan pada dunia ini."

__ADS_1


Yesa menatap Arya


"Aku rasa sepertinya kamu salah paham. Jadi maksud mu liontin itu... "


"Aku tidak ingin membahasnya lagi. Kamu harus tahu, demi popularitas. Ibu sampai rela tidak ingin mengakui aku dan adik ku adalah putra kandungnya pada semua orang didunia."


"Begitu ya, pantas saja waktu di Amerika itu..."


Kamu boleh menghinaku tapi tidak boleh menghina ibuku.


Sekilas Yesa mengingat kalimat Arya saat di Amerika


"Suamiku sekarang aku paham. Alasan kamu ingin melindungi ibu. Pantas, jika sikap mu dingin sekali."


"Istriku, semua yang di katakan ibu padaku, kamu jangan pedulikan apapun yang sudah di katakannya dan jangan di ambil hati." Arya bicara sambil menatap ombak di malam hari.


"Ayah ibu dan Dery, awalnya aku tidak menyangka kamu masih mempunyai keluarga. Kamu begitu hebat dan sempurna. Aku kira kamu jatuh dari langit."


"Apa ?" Arya terkejut.


"Kenapa hubungan di antara kalian begitu tegang? Hanya dengan melihat dan mendengar sekilas aku juga sudah tahu."


"Diamlah, Istriku kamu tidak tahu apa-apa."


"Suamiku, seharusnya kamu bersikap baik pada ibumu sekarang, atau suatu saat kamu akan menyesal."


"Istriku, aku memperingati mu untuk diam." Arya bicara dengan nada tinggi.


Yesa menarik nafas pelan.


"Jangan marah, seharusnya kamu mendengarkan perkataan orang lain. Aku yakin semua itu pasti ada alasannya. Kamu juga harus belajar memahami orang lain."


"Istriku, cukup. Aku tidak mau mengatakan apapun lagi saat ini."


Hening


Melihat kedua bola mata Arya nyaris meneteskan air mata. Yesa menarik tubuh Arya perlahan ke dalam dekapannya, lalu memberi tepukan beberapa kali di punggungnya. Menguatkan.


"Suamiku, hari ini, hari kamu dilahirkan, adalah hari yang sangat berharga. Terimakasih karena kamu telah lahir di dunia ini."


Nenek pelukan kasih sayang lembut yang kamu berikan padaku di hari ulang tahunku. Rasanya ingin sekali aku berikan semuanya pada suamiku. Tolong buatlah suamiku ini nyaman.


"Istriku aku mencintaimu."

__ADS_1


Tiba-tiba seluruh tubuh Yesa gemetar saat bibir suaminya menyentuh bibirnya dengan lembut. Di iringi dengan suasana pantai yang berombak serta angin di malam hari, membuat suasana hatinya semakin nyaman. Bibir Arya yang lembut...


__ADS_2