
Setelah keluar dari toilet Linda berjalan mendekati seorang laki-laki duduk di meja kafe seraya menghisap secangkir kopi di tangannya. Yang sedari tadi sengaja menunggu kedatangannya. Dia adalah adik satu-satunya sekaligus Sekretaris Linda
Laki-laki itu meletakan secangkir kopinya di atas meja saat Linda sudah duduk di depannya.
" Rendi apa kau sudah lama menunggu ku ? " Linda bicara sambil meletakan tas ransel di atas pangkuannya.
Entah karena apa di sudut lain Dery beserta Sekretarisnya masih ada di sana. Mengamati dari jauh.
" Lumayan." Rendi menjawab "Bagaimana dengan rencana mu Kak, sudah membuahkan hasil ?"
Linda mendesah jengah." Bisa di katakan begitu, tapi si brengsek itu lupa pada ku." Kesal.
" Waah yang benar saja " Rendi terkejut " Tapi bagaimana bisa dia melupakan mu. Dengar-dengar dia memutuskan hubungannya dengan wanita itu."
Linda mengangkat bahu. " Entahlaaah" Bersandar di kursinya.
" Akhirnya aku melihatnya." Rendi menatap Linda penuh makna.
" Lihat apa ? "
" Wajah cemburu mu."
" Ciih." Sekilas Linda membuang muka, lalu kembali menatap Rendi dengan tajam." Bagaimana ? Nyaman di pandang ? "
" Kau seperti orang bodoh." Rendi terkekeh.
" Terimakasih " Ujarnya sinis
" Harapan indah pada umumnya berujung kemalangan. Itu benar kan ?" Linda diam tidak menjawab." Lain kali, akan ku doakan kebahagiaan mu. Tapi aku takut malah sebaliknya Kak."
" Jadi artinya kau senang ya melihat ku menderita ?"
" Hehe.. Kau salah, tapi sebaliknya aku sangat mengagumi mu." Kagum melihat ketegaran mu demi menghadapinya hari ini." Coba katakan, sejujurnya hubungan mu dengannya dulu sudah ditahap yang seperti apa. Sampai kakak tidak bisa melupakannya begini."
" Aaah sudahlah lupakan saja, aku tidak mau mengungkit masa lalu itu." Linda mulai beranjak
" Kau mau ke mana lagi ? "
'' Aku mau istirahat."
Karena Rendi melihat Linda bangun dari duduk ia ikut bangun lalu berjalan mengikuti sang kakak di sampingnya.
" Apa kau bawa mobil. ? " tanya Linda.
" Tidak aku bawa motor."
" Bagus, kalau begitu ikut dengan ku sekarang."
" Kemana lagi ? "
" Kamu akan tahu, saat kita sudah tiba di sana."
Bibir Rendi berkedut." Kenapa kakak tidak istirahat saja di rumah ? Aku sampai kelelahan saat menyusul mu tadi."
Linda hanya diam tidak menjawab hingga menghilang di balik pintu kaca kafe bersama adiknya. Sedangkan Dery dan Dani masih tetap duduk di posisinya.
" Hmm.. Dani, aku ingin tahu, laki-laki macam apa yang di maksud dengan si brengsek itu."
" Tuan muda, apa anda perlu saya selidiki masalah ini lebih dalam ?"
Dery hanya diam tidak menjawab, artinya
ia setuju dengan saran Dani.
****
Sementara itu Arya nampak membawa istrinya menuju rumah kediaman John dengan menggunakan mobil sport hitam miliknya. Di pertengahan jalan tiba-tiba Yesa teringat salah satu cemilan daerah kesukaannya.
" Suami ku "
" Ada apa ? " Sahut Arya sambil menyetir.
" Aku mau makan tahu gejrot apa boleh ?"
Arya mengerutkan kening." Tahu gejrot makanan apa lagi ? "
" Itu salah satu nama makanan daerah kesukaan ku."
" Makanan daerah ! Di mana ? "
Jangan katakan kamu ingin mengajak ku ketempat ramai dan kotor lagi
" Aku pernah melihatnya di taman alun-alun kota. Kamu akan tahu seperti apa hidangannya saat kita sudah sampai di sana." Sahut Yesa begitu antusias.
Sudah ku duga
" Begitu rupanya, tapi istriku bukankah ayah dan ibu sudah lama menunggu kita." Sebenarnya bukan mengingatkan tapi mencari alasan agar tidak mampir ke sana.
" Aahh begitu ya, baiklah." Sahut Yesa dengan nada pelan, senyum cerianya langsung menghilang secepat kilat
Hening.
" Istriku kenapa diam, kamu marah ?" Arya bertanya lantaran istrinya ini hanya diam, sambil cemberut menatap bangunan di pinggir jalan.
" Aku tidak apa-apa " Begitu jawabnya, lalu kembali menatap kaca. Dia termangu kecewa.
Arya diam memandangnya
__ADS_1
Semasa ngidam istrimu akan meminta suatu yang aneh-aneh. Lebih baik kamu turuti saja apapun kemauannya. Jika tidak, bisa berakibat stress dan itu tidak boleh terjadi.
Sekilas kalimat Dokter Reisa muncul di kepalanya.
Apa begini rasanya menjadi calon seorang ayah. Sangat menyiksa
Siang menjelang sore, dan akhirnya Arya menghentikan mobil di area parkir taman alun-alun di kota xxx. Saking bahagianya Yesa turun dari mobil lebih dulu setelah menutup pintu, ia berjalan meninggalkan suaminya.
Baru saja beberapa langkah seorang pemuda menabrak tubuhnya sampai membuat hampir terpental kebelakang.
" Maaf " Kata pemuda itu.
Yesa tersenyum." Tidak apa-apa."
" Terimakasih." Sahut pemuda itu lalu melanjutkan langkahnya.
Yesa berjalan lagi melupakan suaminya di belakang
Tiba-tiba
Arya menarik tangan Yesa berbalik. Bibirnya mendekat di telinga lalu berbisik.
" Istriku berjanjilah untuk tidak tersenyum dan menyentuh laki-laki manapun. Jika kau berani melanggarnya, malam ini tamatlah riwayat mu."
Yesa mendongak, entah kenapa jantungnya berdetak lebih kencang, sekilas pipinya merona merah."Ba-baiklah"
Ya Tuhan suasana macam apa ini. **K**enapa aku sangat malu
Arya meraih tangan Yesa dan menggenggamnya berjalan menuju taman alun-alun kota. Menyatu dengan keramaian. Setelah bertemu dengan salah satu pedagang yang di carinya. Mereka duduk di kursi taman.
" Mas, tolong buatkan aku satu porsi tahu sangat pedas."
" Baik Non." Sahut pedagang.
" Istriku apa kau sering berkunjung ke tempat yang seperti ini." Arya mengedarkan pandangannya pada segala arah di taman.
" Heumh " Yesa mengangguk." Meskipun aku lebih suka tempat sejuk dan sepi demi mendapat ketenangan. Tapi aku juga suka dengan tempat keramaian."
" Kenapa begitu ?"
" Setiap aku berkunjung ke tempat seperti
ini, suasana hati ku merasa terhibur. Suamiku coba kamu perhatikan itu." Yesa menunjuk anak kecil berlari mengejar ayahnya di atas rumput taman.
Arya menuruti kata Yesa, tertegun menatapnya. Meski jatuh bangun anak kecil itu tetap mengejar ayahnya sambil tertawa ceria. Tanpa peduli sejauh apa jarak yang harus di tempuhinya.
Hati kecilnya tersentuh. Karena semasa kecil ia tidak pernah merasakan hangatnya kasih sayang dari kedua orangtuanya. Mungkin itu sebabnya ia begitu dingin dan sangat keras kepala dulu.
" Mereka terlihat bahagia bukan." Yesa melanjutkan kalimatnya.
Arya tersenyum." Istriku, suatu saat aku ingin membawa anak kita bermain di tempat
" Sungguh ! " Menjawab cepat." Suamiku kamu harus ingat kata-kata mu itu."
Belum sempat Arya menjawab pesanan
Yesa sudah siap.
" Ini Non pesanannya." Pedagang bicara sambil menyodorkan seporsi tahunya yang sudah di hidangkan dalam piring khas daerahnya.
Yesa meraihnya " Terimakasih "
" Sama- sama Non."
" Wahh segar sekali rasanya." Puji Yesa
saat sudah mengunyah satu tusuk tahu." Suamiku, kamu mau mencobanya? Ayo cobalah ini sangat enak."
" Tidak mau ! " Arya menolak mentah-mentah.
" Suamiku apa masalahnya di coba dulu, segigit saja. Siapa tau kamu suka" Menyodorkan satu tusuk tahu pada bibir suaminya. Agar laki-laki itu mudah melahapnya.
" Cih ! Lebih baik aku mati kelaparan daripada harus mencobanya segigit." Membuang muka
" Suamiku ayolah... Buka bibir mu." Yesa tidak mau kalah.
Ingin mengigit bibirnya
Arya mengalah, bibirnya terbuka setelah menatap Yesa merayu dengan wajah manjanya. Dan akhirnya satu tusuk tahu masuk kedalam mulutnya.
Ayolah aku ingin lihat bagaimana reaksi mu
Yesa menunggu
" Bagaimana rasanya, sangat nikmat bukan."
" Nikmat dari mananya, ini sangat pedas." Geram Arya sambil mengunyah, bibirnya memerah. Keringat di wajahnya meluap-luap seperti terbakar api.
Yesa terbahak merasa puas sudah mengerjainya. Sementara Arya terlihat sudah tidak tahan lagi menahan pedas dalam mulutnya. Dia bangun dari duduk secara tiba-tiba.
" Mau kemana ?"
" Istriku kamu tunggu disini, aku mau beli minum."
" Hehe.. baiklah." Setelah menjawab Yesa memakan tahunya kembali sambil menatap punggung Arya dari kejauhan." Ingin memotretnya." Katanya dalam hati, lalu terkejut saat teringat hp dan camera digital tertinggal di rumah.
Belum ada dua menit Arya sudah kembali sambil membawa dua botol air mineral ditangannya lalu duduk di kursinya
__ADS_1
" Ini minumlah." Arya menyodorkan satu botol
mineral yang sudah di buka tutupnya.
Yesa meraihnya." Terimakasih " katanya lalu meneguknya." Suamiku apa bibir mu masih terasa panas ? Hehe... " ejeknya.
" Ciih."
" Mas ini. Aku sudah menghabiskan tahunya." Yesa menyerahkan piringnya yang sudah kosong. Pedagang meraihnya.
" Berapa harganya Mas ? "
" Sepuluh ribu saja Non." Sahut pedagang
Arya memberi istrinya selembar uang kertas
dari dalam dompet. Yesa meraihnya.
" Apa tidak ada uang kecil Non." Pedagang bertanya saat menerimanya." Sepertinya uang saya masih belum cukup untuk kembaliannya."
Yesa menggeleng." Tidak ada, kalau begitu Mas ambil saja kembaliannya."
" Tapi Non, ini..."
" Sudahlah " Memotong cepat." Tidak apa-apa, anggap saja ini rejeki untuk Mas nya."
" Kalau begitu terima kasih banyak Non." Sahut pedagang dengan rasa bersyukurnya. Ia sampai menundukkan kepala berkali-kali.
" Sama-sama."
Sesudah menjawab Yesa menampakkan senyum indahnya. Sampai pedagang tahu terpana di buatnya. Tapi saat menoleh, ia tercengang. Menerima tatapan tajam dari mata suaminya. Arya memajukan wajahnya, mendekatkan bibir di samping telinganya lalu
berbisik.
" Istriku, siapkanlah dirimu malam ini. Mandilah yang bersih, aku mau memberimu pelajaran"
Jantung Yesa berdebar kencang
" Pelajaran ! A-apa maksud nya ?"
" Menurut mu " Arya menarik bibirnya sinis.
Tamatlah riwayat ku. Begitu arti dari senyum Arya di cerna Yesa. Ia membuang muka malu. Lalu bangun dari duduk." Suamiku mari kita jalan-jalan." Ajaknya salah tingkah.
" Kemana? "
Arya menurut, menggenggam tangan istrinya sambil berjalan mengelilingi taman bunga di alun-alun kota, indah sekali rasanya.
" Suamiku aku mau pinjam hp mu apa boleh ? "
" Untuk apa ?"
" Berfoto, Ayolaaah " Merengek manja " Hp dan camera ku ketinggalan di rumah."
Arya mengeluarkan hp dalam saku belum sempat ia menyodorkan Yesa sudah lebih dulu meraihnya." He.. terimakasih."
Saat mendapat hp suaminya Yesa terkejut menatap layar kunci, di sana terpajang foto dirinya sambil tersenyum, membuatnya semakin salah tingkah. Setelahnya ia memotret apa saja di sekitarnya.
" Istriku kau jangan sembarangan memotret." Arya menutup camera hp dengan tangannya saat Yesa berani mengambil gambar pemuda berpapasan dengannya.
" Hehee... " Yesa hanya nyengir
Tidak terasa hari sudah mulai gelap suasana di taman masih ramai pengunjung dan wanita hamil ini masih enggan keluar dari taman. Setelah puas memotret ia duduk di kursi taman.
" Istriku kamu tunggu disini, aku mau beli kopi."
Yesa mengangguk. "Baiklah."
Selepas Arya pergi, Yesa menatap layar hp, menggeser-geser foto dalam galeri. Lalu tanpa sengaja ia menemukan foto lain dalam hp itu. " Siapa ini ? " katanya dalam hati sambil mengamati foto lebih lekat. " Ini aku kan ! " terkejut sekaligus tersenyum sambil menatap foto dirinya sedang terlelap di pesawat dulu kala.
Beberapa detik kemudian Arya muncul sambil membawa satu cup kopi di tangan kanannya, sementara tangan kirinya membawa sebuah jass hitam. Setelah sampai ia duduk di kursi.
" Istriku pakailah ini."
" Apa ini ? "
" Meski tidak rela, tapi aku harus memakaikannya di tubuh mu, agar kamu tidak kedinginan."
" Suamiku bukankah ini seragam Jendral, dari mana kamu mendapatkannya ?"
" Aku punya teman seorang Jendral, dia meninggalkan ini di mobil ku." Sahut Arya
setelah memakaikannya
" Aah begitu ya, pantas saja ini sangat harum " Menempelkan hidung pada Jass nya menghirup-hirup lembut
Arya melihatnya geram." Kau... "
Belum sempat Arya melanjutkan kalimatnya
Yesa menyandarkan kepala di bahunya, kedua tangannya melingkar mendekap erat pinggangnya.
" Suamiku, meskipun ini sangat harum, tapi aku lebih suka harumnya aroma tubuh mu. Kau tahu ini sangat nyaman."
Entah kenapa Arya mematung setelah mendengar kalimat itu.
Ingin menciumnya
__ADS_1
Katanya dalam hati sambil mengelus-elus rambut istrinya dengan sangat lembut