PERJODOHAN CEO JEWELERY

PERJODOHAN CEO JEWELERY
PEMANDANGAN INDAH


__ADS_3


California


Malam hari terlihat dua orang sedang sibuk membawa koper masing-masing memasuki sebuah kastil bernuansa Classic. Yesa mengikuti irama langkah Arya dari belakang.


Berjalan turun menapaki anak tangga tiba-tiba lampu menyala otomatis ketika mendeteksi tubuh manusia. Yesa tertegun sambil mengedarkan pandangan menyapu ruangan serba putih itu " Indahnya."


Arya meletakan koper dan kunci mobil dalam kamarnya, lalu melemparkan Jass yang di kenakan ketempat tidurnya. Melepaskan sepatu dan menggantinya dengan sandal rumah yang sudah di sediakan di kamar itu.


Beberapa detik kemudian dia keluar dari sana di bukanya pintu kulkas, mengambil satu minuman kaleng. Setelah itu dia berjalan lalu duduk dan bersandar di sofa sambil meneguk minumannya.


"Arya apakah ini kastil Tuan Hendra? " Yesa bertanya sambil berdiri di depannya belum mau duduk.


"Ini salah satu rumahku. Kenapa? "


Rumahnya! Tidak heran jika sikapnya arogan dan dingin seperti ini. Tapi kenapa terkadang aku melihat tatapan matanya sangat kesepian.


"Arya, orang seperti apa kamu sebenarnya? "


"Maksud mu? " Arya meneguk sedikit


minuman kalengnya.


"Aku dengar kamu sama sekali tidak pernah tertarik pada wanita."


"Apa ?" Arya terkejut setelahnya ia meletakkan minuman kalengnya di atas meja.


"Tidak, anggap saja aku tidak pernah bertanya hehe."


"Hhh" Arya mendengus. "Kamu dengar kabar itu


dari siapa? "


"Tidak, hanya saja terkadang aku melihat tatapan mata mu, seolah kamu merasa kesepian."


"Kamu benar belakangan ini aku sangat


bosan dan kesepian." Ucap Arya perlahan


dengan tatapan nanar


" Benarkah ! Ternyata orang seperti mu mempunyai rasa bosan juga ya." Ujar Yesa dengan wajah kikuk. Arya terkejut setengah mati


Kenapa dengan begitu mudah aku


membongkar rahasia ini padanya


" Apa yang kau pikirkan ?" Arya bicara lagi


"Kamu juga tidak tertarik pada wanita. Jadi

__ADS_1


aku sempat berpikir bagaimana cara menghibur mu barusan. Tapi tenang saja, aku akan berusaha melakukan yang terbaik agar kamu merasa terhibur hehe." Nyengir


" Kamu benar, Tapi .... "


Arya tidak melanjutkan kalimatnya saat melihat Yesa menampakkan wajah kikuk. Entah kenapa ia merasa terhibur dengan senyum kebodohan alami yang nampak dari bibir Yesa. Seakan mengalihkan kesedihan pada dirinya.


Sedangkan Yesa setelah menampakkan senyum bodohnya. Ia mengalihkan wajahnya mengedarkan pandangan di sekitar ruangan. Tidak perduli laki-laki di depannya masih menatapnya dengan terpana.


"Di mana kamar ku ?"


"Kamar mu ! " Arya bangun dari duduk, lalu berjalan mendekat. Mau apa dia ? Kata Yesa dalam hati. Ia berjalan mundur satu langkah saat Arya sudah berdekatan dengan tubuhnya.


"Apa yang ingin kau bicarakan ?"


"Kenapa kamu berpikir, bahwa aku sama sekali tidak tertarik dengan wanita." Arya bicara


Matilah aku. Kenapa aku bicarakan hal


konyol itu padanya tadi.


Kalimat Yesa dalam hati sambil berjalan mundur. Tapi semakin ia mundur laki-laki itu malah semakin maju mendekat.


"Orang yang memberitahumu, apa kamu pikir dia seorang yang tahu dengan isi hati ku ?"


"Mu_mungkin saja dia tahu itu."


"Apa kamu masih perawan? "


Yesa buru-buru menutup dada dengan tasnya ketakutan dan wajahnya pucat. Saat melihat Arya semakin mendekat, mengedarkan pandangan secara nafsu pada tubuhnya.


"Aku memperingati mu ! Jika kau mendekat satu langkah lebih dekat lagi.. "


Brukk, suara dari pintu setelah terbentur tubuh Yesa membuatnya berhenti mundur. Tapi laki-laki itu malah semakin mendekat tidak perduli jika Yesa sudah tidak bisa melangkah mundur maupun bergerak lagi dari posisinya. Terkepung.


Arya tersenyum penuh kemenangan, satu tangannya menyentuh handle pintu dan wajahnya mendekat. Sedangkan Yesa terkesima, ia buru-buru mengalihkan pandangan. Agar tidak saling bertatapan dengannya.


Kenapa dia suka melihat wajahku


sedekat ini


Perlahan Arya mendekatkan bibirnya, kedua bola matanya beradu pandang, sehingga ruang bibir mereka hanya tersisa beberapa senti.


Mungkin Yesa bisa menghirup helaan nafas dari hidung Arya. Entah kenapa jantungnya serasa berhenti berdetak.


Hening


Ya Tuhan mau apa dia sebenarnya. Kenapa wajahnya semakin mendekat. Tidak ! Ini terlalu dekat.


Arya tersenyum lagi sambil melirik Yesa


memejamkan mata sekaligus menekuk wajahnya karena ketakutan. Cklek suara pintu terbuka." Ini kamar mu, aku laki- laki normal " Ujarnya datar lalu berbalik meninggalkannya

__ADS_1


"Ya Tuhan mau apa dia tadi itu?" Yesa menarik nafas lega." Mengagetkan saja ! Tapi kenapa jantungku berdegup sangat kencang? "


Yesa membuang pemikirannya yang satu itu jauh-jauh lalu memasuki kamar dan mengganti bajunya dengan baju tidur. Karena lelah dia pun langsung terlelap di atas tempat tidurnya


******


Pagi hari.


Di sebuah tempat tidur, terdapat seorang gadis cantik masih terlelap dalam mimpinya. Beberapa menit kemudian ia membuka mata saat cahaya mentari menerpa wajahnya. Pandangannya beralih pada jam di sebelah tempat tidurnya menunjukan pukul 07:10 pagi di waktu setempat.


Syukurlah gumamnya. Ia duduk dari tidurnya memakai sendal rumah lalu berjalan menuju kedua pintu kaca dan membukanya. Silaunya matahari pagi menyambut kedatangannya.


"Hah, indahnya."


Yesa tersenyum manis tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Tertegun sambil mengedarkan pandangan pada pemandangan alam semesta di sekitarnya. Setelahnya ia menghirup udara segar di pagi hari sambil merentangkan kedua tangannya di udara.


"Ya tuhan aku bersyukur padamu, karena sudah memberi ku kesempatan menikmati alam semesta yang indah ini."


Sementara itu ada seorang laki-laki berparas tampan namun dingin nampak terpana, saat menatap senyuman manis dibibir Yesa dari balkon kaca lantai dua.


Seketika Yesa tersentak dari lamunannya. Arya! sejak kapan dia berdiri di situ gumamnya dalam hati


"Selamat pagi." Yesa menyapa seraya menundukkan kepala. Untuk pertama kalinya dia memperlihatkan senyum indahnya yang jarang terjadi pada seseorang


Cantik. Sial apa yang aku pikirkan.


Pandangan Arya tidak lepas dari Yesa seolah menikmati pemandangan indah baginya


Kenapa diam Kata Yesa dalam hati pandangannya tidak lepas dari laki-laki yang masih menatapnya. Karena tidak melihat reaksi apapun ia menunduk untuk kedua kalinya. Akhirnya Arya kembali pada akal sehatnya sambil memalingkan wajah malunya. Setelahnya ia berjalan menuruni anak tangga menuju lantai bawah.


"Ehemm." Arya berdehem mengetes suaranya di tangga, menutupi salah tingkah, sambil melirik Yesa sedang berjalan mendekat. Saat tiba di lantai bawah ia duduk di sofa seperti tidak pernah melihat apapun.


''Rumahmu benar-benar terlihat indah di pagi hari " Ujar Yesa saat sudah berdiri di depannya.


"Oh ya." Sahut Arya sambil menatap layar hp di tangannya.


"Apakah hari ini kita akan ke pergi suatu tempat? "


"Ya," Arya menatap Yesa." Apa kamu mabuk


mobil ?"


"Tidak, kenapa memangnya ?"


"Kalau begitu bersiap siaplah satu jam lagi


kita berangkat." Arya bangun dari duduk.


"Begitu ya, Baiklah." Tersenyum


*

__ADS_1


*


__ADS_2