
Esok pagi saat Nenek Yesa dan suaminya yang sudah menikmati sarapan bersama. Arya duduk dikursi teras depan rumah sambil bermain handphone di tangannya.
"Ini minumlah." Kata Yesa sambil meletakan secangkir kopi di atas meja. Lalu duduk di kursi sebelahnya lagi.
"Terimakasih." Arya meraih secangkir kopinya lalu menghisapnya.
"Suamiku, apa kamu mau pergi ke suatu
tempat bersamaku ? "
'"kemana?"
"Ayolah."
Arya meletakkan kembali kopinya di atas meja, lalu Yesa menarik lengannya. Membawa suaminya berjalan mengelilingi pedesaan. Setelahnya ia berjalan menuju air terjun yang terletak di pegunungan. Di samping kiri dan kanan terdapat rimbunan pohon pinus yang sangat tinggi.
Beberapa saat kemudian pasangan suami itu berhenti di bawah pohon pinus, yang di bawahnya terdapat kursi panjang terbuat dari kayu yang menghadap ke sumber air terjun pegunungan. Sangat indah dan sejuk sekali rasanya untuk di jadikan tempat peristirahatan.
''Suamiku, apa kamu haus?"
"Lumayan."
"Kalau begitu tunggu aku disini sebentar, aku akan belikan minuman untukmu dulu."
"Baiklah, istriku cepatlah kemari aku duduk disini menunggu mu."
"Iya."
Arya tersenyum melihat istrinya yang sudah berjalan meninggalkannya. Saat angin bukit menerpa wajahnya, laki-laki itu merentangkan kedua tangannya sambil menghirup udara segar disana. Suasana air terjun yang sangat indah begitu alami. Mampu membuat Arya merasa nyaman, dalam sekejap semua rasa lelahnya tersingkirkan. Beberapa saat kemudian, Yesa terlihat setengah berlari di kejauhan buru-buru menghampirinya.
"Ini, minumlah."
Yesa menyodorkan sebotol air mineral padanya. Laki-laki itu tersenyum saat menerimanya.
"Terimakasih" Katanya, gadis itu hanya menjawabnya dengan senyuman. Dia buka penutup botolnya lalu meneguknya perlahan. Setelahnya ia menghela nafasnya. "Istriku, kamu benar, saat ini kita sungguh ada di pedesaan. Udaranya bersih dan pemandangannya indah. Selain itu ... Ini menyenangkan karena suasananya begitu tenang. Aku lelah beberapa hari ini. Jadi ini adalah rihat yang baik bagiku." Meneguk air mineralnya lagi sambil menatap derasnya air terjun.
"Begitu ya, syukurlah jika kamu merasa tenang disini." Yesa tersenyum "Eh, suamiku apa kamu
mendengar sesuatu?"
"Ya, aku mendengarnya, istriku apa mungkin ada anak kucing di gunung ini?"
"Anak kucing! Entahlah, tapi ku rasa itu bukan suara kucing. Kenapa memangnya?"
Kenapa wajahnya tiba-tiba berubah begitu
"Aku takut anak kucing.'' Jawab Arya singkat
"Wahh ini tidak bisa percaya. Suamiku apa kamu yakin takut dengan seekor anak kucing yang manis dan lucu?"
"Hemm"
"Masa sih? Aku masih tidak percaya."
"Istriku, apa kamu pernah digigit kucing? Jika tidak pernah, kamu tidak berhak berkomentar. Waktu itu aku mendekatinya karena dia manis dan lucu. Tapi telunjuk ku malah digigit, itu sebabnya anak kucing itu sangat berbahaya " Kata Arya seraya mengangkat telunjuk yang pernah di gigit kucing dulu kala.
"Ahh begitu rupanya, suamiku jadi kamu pernah digigit disana yah."
"Ciih, karena itu istriku, kamu terlihat manis dan lucu. Tapi sesungguhnya kamu sangat berbahaya."
"Imutnya... Ternyata bocah dingin yang super gagah sepertimu, takut dengan anak kucing juga ya hihi."
"Istriku! Kau."
__ADS_1
Dalam sekejap seluruh badan Yesa bergetar, saat bibir Arya sudah mengunci bibirnya. Bibir Arya yang lembut...
***
"Suamiku, kenapa kamu tidak menjawab panggilannya?" Yesa bertanya saat mendengar handphone suaminya berbunyi.
"Aku sibuk menyetir, jadi aku malas menjawabnya."
"Aahh begitu ya. Suamiku kau tahu, Ini adalah kali pertamanya, aku berkunjung kembali ke makam ayah dan ibuku, tapi kenapa aku merasa cemas ya."
"Istriku, apa sebelumnya kamu tidak tahu tentang ayah dan ibumu?" Arya penasaran
"Aku hanya tahu bahwa ayahku pernah bekerja di club malam, dan ibuku adalah seorang pemandu lagu, tapi...bibi ku pernah bilang padaku waktu aku kecil. Katanya ibuku pergi meninggalkan ku karena sudah tidak tahan lagi menahan amarah ayahku yang sering mabuk. Bahkan bibi pernah bilang kalau ayahku sering memukul kepala ibuku dengan botol minumannya."
''Begitu rupanya." Arya menjawab singkat, tanpa berpikir aneh, apalagi merasa malu dengan asal-usul dari keluarga istrinya.
Baru mau bicara lagi, Arya kehilangan kendali saat melihat mobil yang berusaha menyelinap untuk melewati mobilnya. Ia sempat melirik plat nomer mobil yang ada di depannya melaju dengan kencang.
Apa itu John. Tidak mungkin! Untuk apa dia datang kemari
Mobil Arya terus melaju melewati jalan bukit di pinggir pedesaan. Di sisi kiri dan dan kanan, terdapat pegunungan yang membatasi jalanan.
Beberapa puluh menit kemudian mobil itu berhenti di bawah pohon beringin yang tinggi. Di tempat itu Arya mendapati sebuah mobil yang tengah terparkir mulus bersebelahan dengannya. Arya membuka kaca mobilnya dan mengedarkan pandangannya ke Arah mobil yang ada di sampingnya.
Mobil yang tadi
Yesa dan suaminya turun dari mobil itu sembari membawa dua buah buket bunga di tangannya.
"Suamiku, mari"
Yesa dan Arya berjalan dengan santai menuju pemakaman yang cukup jauh dari tempat parkir. Setelah di pertengahan jalan dia berpapasan dengan dua sosok laki-laki berpenampilan formal. Siapa mereka. Batin Yesa sambil melirik.
"Suamiku, apa mereka akan melakukan penghargaan di gunung, rapi sekali penampilannya. Jass hitam dan kaca mata hitamnya itu mencolok sekali ckckck."
Arya tidak memperdulikannya karena malas membahas orang apalagi penampilannya. Jangankan berkomentar melirik saja enggan.
"Entahlah, Nenek bilang Ayah mengejar ibu pergi dari pedesaan ini. Siapa ibuku? Bagaimana mereka bisa bertemu, hingga melahirkan ku? Bagaimana mereka bisa meninggal dalam kecelakaan? Nenek ku bilang dia tidak tahu. Saat Ayah mau mengejar ibu, dia meninggalkan ku pada Nenek, namun anehnya tidak berapa lama Ayah dan Ibu di kabarkan meninggal dunia. Aku tidak mengerti."
"Istriku, ayahmu seorang pelayan di club malam, dan ibumu bekerja sebagai pemandu lagu. Apa penduduk sekitar sini mengenal mereka?"
"Entahlah, Nenek bilang dia yakin pasti ada, tapi sayangnya Nenek tidak bisa menghubungi mereka."
"Begitu rupanya"
"Tapi, ibuku orang yang baik, dan sangat perhatian, sayang kita sudah sampai. Eh, apa ini?" Yesa terkejut karena melihat salah satu makam orangtuanya sudah bersih.
Arya mengerutkan keningnya
"Ada apa?"
"Ini makamnya, tapi sudah ada yang membersihkannya."
"Istriku, disana juga sudah ada buket bunga."
"Benar juga, kelihatannya orang itu baru tiba disini lalu pergi. Tapi aku lihat tidak ada yang datang."
"Istriku. Jika itu masih baru..." Sesaat Arya mengingat dua sosok laki-laki yang di bicarakan istrinya tadi.
Apa mereka akan melakukan penghargaan di gunung rapi sekali penampilannya, jass hitam dan kaca matanya itu mencolok sekali.
Kalimat Yesa muncul di kepalanya.
"Istriku, tetaplah disini, tunggu aku."
__ADS_1
''Sayang, kamu mau kemana?"
Arya diam lalu enyerahkan buket bunga pada istrinya. Kemudian dia berlari mengejar dua laki-laki tadi. Sambil membawa beberapa pertanyaan. Siapa mereka. Dari mana asalnya. Apa hubungannya dengan kedua mendiang mertuaku?
Sambil berpikir Arya masih terus berusaha mengejar laki-laki itu, hingga tiba di tempat parkir mobilnya. Namun sayangnya mobil itu sudah melaju, meski begitu ia masih tetap berusaha mengejarnya dari belakang.
"Hah! Sial." Hardiknya. "Aku kehilangan mereka, aku tidak tahu siapa mereka, tapi aku yakin bahwa yang meletakan buket bunga itu adalah John." Lanjutnya pandangannya tidak lepas dari mobil yang maju semakin lama semakin jauh itu.
Setelahnya Arya memutuskan kembali ke makam mertuanya menyusul istrinya.
*****
Flash back off
Prankkk , kira kira seperti itulah suara berasal pecahan gelas yang di lemparkan ke bawah oleh sosok laki-laki setelah usai mendapatkan informasi dari Sekretarisnya. Dan siapa lagi kalau bukan John.
Sorot matanya yang merah, melambangkan amarah yang besar bagaikan lava membakar dirinya. Setelah mendengar informasinya, John memerintahkan sekretarisnya yang bernama Ron untuk membawanya berkunjung ke pemakaman.
"Jalan lebih cepat."
Perintah John pada sekretarisnya, ketika melihat mobil Arya yang menghalangi jalannya.
"Baik tuan."
Dalam sekejap mobilnya berhasil melintasi mobil yang ada di hadapannya. Beberapa saat kemudian, mobilnya berhenti di sebuah pemakaman yang ada di pedesaan. John dan sekretarisnya turun dari mobil memasuki pemakaman seraya membawa sebuah buket bunga di tangannya.
"Semuanya sudah selesai Tuan."
"Bayar jasa mereka sekarang dan minta mereka untuk merawat makam ini."
"Baik Tuan."
Sekretaris itu membungkuk dan melangkahkan kaki meninggalkannya. Sementara John meletakan buket bunga di atas makam yang di lapisi batu nisan. Lalu berjongkok di sampingnya.
"Apa kabarmu baik? Aku membawa kabar buruk untukmu."
Setelah usai dengan urusan berziarahnya John memutuskan pergi dari tempat pemakaman itu.
***
Setelah pulang dari pemakaman, mobil Arya terhenti di pelataran rumah Neneknya. Baru saja Yesa turun dari mobilnya. Seseorang tengah memanggilnya dari belakang.
"Yesa!"
Yesa menoleh ke arah suara tersebut, di sana ada sosok laki-laki yang umurnya tidak jauh dengannya. Saat ia berbalik laki-laki itu setengah berlari, buru-buru menghampirinya.
"Dudi." Gadis itu pun berlari buru-buru menghampirinya, saat berhadapan ia merangkul bahunya, seakan tidak percaya dengan sosok yang di lihatnya. "Apa yang terjadi? Bagaimana kau bisa ada disini? Bukannya kau bilang, waktu itu kamu pergi ke luar kota kan?"
"Apa yang terjadi? Bagaimana bisa kau tidak menghubungiku? Kamu tidak membaca surat ku?" Dudi berbalik bertanya-tanya "Aku mengkhawatirkan mu!"
"Cih," Arya menghina dengan senyumannya.
"Maafkan aku! Aku bisa menjelaskannya nanti. Ah, syukurlah, aku tidak percaya ini benar-benar kamu." Yesa bicara sambil menepuk bahu sahabatnya.
Brukk, Arya menendang pintu mobil berjalan menuju rumah Nenek.
"Hei ! Su......"
"Aku panas, kamu bisa memberitahuku di dalam." Sahut Arya tanpa menoleh istrinya
Dudi mengerutkan kening.
"Siapa dia? Dan kenapa kamu bisa turun dari mobil itu?''
__ADS_1
"Dudi, sebaiknya kita masuk ke dalam saja. Aku bisa menjelaskannya di dalam nanti."
Yesa menarik tangannya, Dudi mengikuti langkahnya dari belakang, hingga memasuki rumah neneknya.