
"Ibu memang sangat galak tetapi aku tahu dalam hatinya sangat lembut, karena itu bila bertemu dengannya jangan diambil hati sikapnya."
"Ibu hanya ingin menjaga agar aku tidak disakiti hatinya, dan hidup lebih baik dari dirinya di masa depan kehidupanku juga bisa sukses dan menikah dengan orang yang sangat mencintaiku."
"Bagi aku ibu harta tidak ternilai harganya namun terpaksa kami harus berpisah, karena karir yang harus aku kejar agar hidup kami lebih baik dan ibu juga tidak mau tinggal bersama disini karena lebih menyukai suasana pedesaan juga berat meninggalkan makam ayah."
Rose menitikkan air mata mengenang ibunya, "Untung di sana ada adik angkat yang ibu asuh sejak kecil, yang bisa membantu menjaga ibu."
"Dulu ibu menemukan dia menangis di jalan karena ditinggalkan oleh orangtuanya, bahkan bertahun-tahun kita mencari tidak menemukan akhirnya kami menyerah dan dia sudah menjadi seperti adik kandung sendiri."
"Tetapi keinginan ibu dia bisa bertemu orang tuanya meskipun ibu juga berat berpisah, karena sudah seperti anak sendiri tetapi ibu sadar suatu saat ibu akan meninggalkan kami."
"Kalau tidak ada kami mungkin ibu sudah menyusul ayah, sewaktu ayah pergi meninggalkan kami untuk selamanya."
__ADS_1
"Kami lah kekuatan dia bertahan agar tidak sedih ditinggal ayah, karena itu sebisa mungkin kami selalu bersamanya."
"Meskipun kami terpisah jarak tetapi tiap hari komunikasi video call melepas rindu, jadi seakan kami dekat aku sangat merindukan ibu."
Simon menghapus air mata Rose dari pipinya, "Aku tidak izinkan istriku bersedih apalagi menangis, aku akan berusaha sekuat tenaga membahagiakan dirimu."
"Kita akan membujuk beliau dan aku yakin bila ada cucu pasti dia mau ikut kita, kita harus bekerja keras untuk itu ", goda Simon.
Rose tersenyum mengerti Simon sedang menghiburnya, "Sudahlah ayo kita pergi aku akan mencuci muka dulu".
Baru kali ini Simon melihat sisi rapuh Rose, biasa di kantor Rose sangat dingin dan ceria bahkan angkuh tidak terlihat sisi rapuh dalam dirinya.
Simon tersentuh mendengar Rose yang di besarkan dengan penuh kasih sayang, beda dengan dirinya yang tidak dianggap keluarga sehingga dia hidup dalam jalan yang salah sampai akhirnya bertemu Albert.
__ADS_1
Rose sudah siap dengan baju pergi kasual dan make up tipis yang membuatnya makin cantik dan segar, atasan kaus dan celana jins sangat cocok bagi dirinya.
Simon menggandeng keluar dan mereka menuju restoran untuk makan siang, Simon sangat bahagia mempunyai istri secantik Rose.
Rose keluar dari mobil duluan sambil menunggu Simon memarkirkan mobil, dia memesan makanan untuk mereka berdua dan es campur karena udara sangat panas dan dia ingin minum segar sedang Simon dia pesankan es teh manis.
Simon sampai di meja mereka dan tersenyum melihat istrinya menikmati es campur dengan lahap, tanpa menjaga image kebanyakan perempuan yang diajak nya makan cuma salad karena takut gemuk.
"Sayang apa kau tidak mau membaginya denganku?" godanya.
Rose tersipu" Setahu diriku suamiku tidak terlalu suka es campur dan minuman manis".
"Melihatmu makan membuatku ingin merasakan bagaimana rasanya menikmati es bersamamu", katanya.
__ADS_1
"Bagaimana perutmu masih muat dengan kau habiskan sendirian semangkuk besar ", Simon menggeleng tidak percaya melihat rose makan banyak tapi tubuhnya tetap langsing.