
Rose dan Simon sudah bersiap meluncur ke restoran Jepang yang di sepakati , buat pertemuan bisnis 30 menit lagi. Mereka tidak ingin terlambat dan menunjukkan bahwa tidak on time jadi berangkat lebih awal dari jadwal pertemuan mereka.
Rose membaca lagi draf kontrak yang mau mereka perbincangkan, Simon masih asyik menyetir dan mendengarkan music. Rose melirik suaminya itu diam-diam, bekas lukanya setelah di rawat mulai menghilang dan sekarang sisa samar aja.
Ya Rose memang menerima Simon apa adanya, namun karena banyak yang diam-diam suka bilang gosip tentang luka Simon. Dia tidak mau suaminya di hina jadi dia mengajak Simon kepada kenalan Albert dokter legendaris, yang bisa menutup luka apapun yang tidak sanggup di kerjakan dokter manapun dengan sempurna.
Tidak lama lagi luka Simon hilang sepenuhnya dengan salep khusus dokter itu, tidak sia-sia membujuk suaminya yang cuek itu dan selalu arogan mirip bos mereka Albert.
"Sudah cukup memandang suamimu yang tampan ini? ", kata Simon sambil menaikkan alisnya.
" Narsis.. ", Rose tertawa geli.
__ADS_1
Simon sudah banyak berubah di banding awal mereka menikah , rupanya sikap Rose ceria mampu menulari Simon yang cukup serius dan jarang tertawa.
Sekarang Simon suka menggoda dan sering tertawa dengan bercandaan lucu, membuat suasana rumah mereka semakin hidup andai saja ada anak betapa lengkap hidup mereka.. pikir Rose.
Rose perlahan menghela nafas panjang .. ini pilihan hidupnya dia tidak boleh egois, menginginkan semua nya sekaligus. Bukannya dia menerima Simon dan mengerti Simon tidak menginginkan anak darinya sekarang, jadi dia harus merasa cukup dengan hidupnya sekarang.
Nanti dia berkunjung ke rumah Betty saja untuk melihat anaknya, memikirkan bayi yang lucu sudah membuat hatinya senang dan tidak memikirkan anak dari Simon lagi.
Simon melirik Rose yang menghela nafas dan menebak pikiran istrinya itu, lalu menggenggam jemari tangannya sambil tangan satu memegang setir Rose menatapnya tersenyum manis.
Biasa asisten Simon yang menemani Simon untuk meeting, namun karena berhalangan dan lagi cuti sehingga Simon meminta Rose yang menemaninya.
__ADS_1
Tidak lama perwakilan Jepang mulai memasuki restoran, dan asisten mereka nampak bersebelahan dengan bos dari Jepang lagi membahas sesuatu.
Simon merasa mengenal asisten dari perusahaan Jepang itu tetapi sekilas karena tidak melihat wajahnya yang sedang menghadap samping dan Simon mengingat dimana mereka bertemu.
Ketika mereka berhadapan perempuan itu terkejut melihat Simon namun segera mengendalikan dirinya agar profesional.. Simon melihatnya rahangnya nampak mengeras dan tangannya terkepal mengingat hal di masa lalu.
Rose yang melihat hal tersebut mengetahui ada hal yang aneh sehingga mereka terjebak dalam keheningan dan suaminya nampak penuh amarah sehingga Rose perlahan mencubit paha Simon.
"Selamat sore.. saya Rose asisten dari bapak Simon mewakili perusahan Albert.Corp," kata Rose memecah suasana hening dan Simon segera mengulurkan tangan kepada bos dari Jepang.
"Saya Simon silahkan duduk.. ", kata Simon yang sudah mengendalikan dirinya.
__ADS_1
" Saya Akechi.. dan ini asisten saya Melinda.. ", balasnya menjabat tangan Simon dan Rose.
Lalu mereka duduk dan Rose segera memesan makanan dan minuman buat mereka kepada pelayan yang sedang menunggu di sisi meja mereka.