
Pukul 18.00 malam.
Di kediaman keluarga Ardana.
"Mama..." Panggil Nala.
"Ada apa sayangku?" Tanya Aleeza sambil menyisir rambut Nala.
"Kita mau kemana sih mama?"Tanya Nala.
"Ada deh..!! Sudah selesai. Uuh Anak siapa sih ini cantik sekali?" Ucap Aleeza gemaz.
"Anaknya Mama Aleeza yang super cantik dong."Jawan Nala tersenyum lebar.
"Mama...." Panggil Nathan.
"Ada apa sayang"Tanya Aleeza.
"Ayo!! Kakek sama Om sudah menunggu dibawa lo ma. Mama sama adik lama banget." Jawab Nathan.
"Iya..iya..sayang. Ayo kita turun."Ucap Aleeza sambil menggandeng tangan Twins.
Tak..tak..tak..
"Sudah siap Al" Tanya Kaif.
"Iya, Kak. Sudah!! Ayo berangkat."Jawab Aleeza.
Merekapun berangkat kekediaman keluarga Kyle. Wajah Aleeza sangat puncat tampak jelas jika dia sedang sangat gugup tangannya sangat dingin.
"Mama, Wajah mama kenapa pucat sekali? Apa mama sedang sakit?" Tanya Nala kepada sang mama dengan wajah yang cemas. Tangan mungilnya menggengam tangan sang mama. Betapa terkejutny Nala saat mersakan tangan sang mam begitu dingin.
"Tangan mama dingin sekali, kita tidak usah pergi ma. Kita kerumah sakit saja ya."Ucap Nala yang mulai bekaca-kaca.
Nathan sedari tadi menatap wajah sang mama.
"Mama tidak apa-apa sayang, mama hanya sedikit gugup saja. Nala tidak usah terlalu khawatir sama mama. Mama baik-baik saja"Ucap Aleeza yang berusaha tersenyum, sambil memeluk Twins.
"Aleeza, kamu harus kuat Al. Jangan lemah demi Twins. Mereka pantas bahagia Aleeza."Batin Aleeza sambil mengecup kening Twis bergantian.
Rama dan Kakak-kakaknya bisa memgerti seberapa beratnya ini bagi sang Adik.
Tak lama kemudian mereka akhirnya telah sampai disebuah Mansion yang besar dan mewah.
"Waahh!! Besar sekali mama, ini lebih besar dan luas dari mansion Opa Rama."Ucap Nala yang terkagum - kagum dengan bangunan yang ada dihadapannya.
Nathan ya seperti biasa dia tidak ada ekspresi apapu.
Si Nala tidak tau saja Mansion keluarga Ardana dinegara B taklah besar dan luas dari mansion keluarga Kyle.
Aleeza hanya tersenyum melihat wajah Nala yang sangat berbinar-binar karena melihat keindahan dan kemewahan keluarga Kyle.
"Nanti Om akan buatkan Nala mansion yang lebih besar dan lebih luas dari ini sayang."Ucap Kai yang merasa tersinggung dengan ucapan Nala yang lebih mengangumi mansion Albian dari pada mansion Ardan.
"Jangan kekanak-kanakan deh kak."Tegur Aleeza.
"Bener juga ucapan Kai, Nanti aku haru bangun Mansion yang lebih dari kediaman Kyle. Pasti Twins akan senang."Batin Kaif.
"Sudah-sudah, ayo sayang turun."Ucap Opa Rama.
"Baik Opa"Jawab Twins kompak.
Tak..tak..Tak..
"Selamat malam, Tuan Arda."Sapa para bodyguard yang sedang berjaga.
Dan salah satu bodyguard masuk kedalam untuk melaporkan kedatangan keluarga Arda.
Diruang Tengah.
"Tuan, Nyonya.." Ucap Bodyguard.
"Ada apa"Tanya Robin sambil membaca buku.
"Ada Kelurga Ardana didepan Tuan."Ucap Bodyguard tersebut dengan sopan dan menunduk.
Robin dan Mama Abel terkejut mendengar ucap Bodyguard itu.
__ADS_1
Robin dan Mama Abel segera pergi kedepan.
Diruang Tamu.
"Tuan Arda sialhakan duduk dulu, teman saya masih memanggil tuan Robin dan Nyonya Abel."Ucap Bodyguard tersebut dengan sopan dan hormat.
"Aku tidak salah lihat kan, itu Nona Aleeza. Dan siapa 2 bocah itu ya?"Batin bodyguard tersebut.
Rama dan yang lainnya pun duduk. Sedangkan Nala terus memperhatikan ruang tamu yang begitu besar dan luasitu.
Tak lama kemudian Robin dan Mama Abel datang. Betapa terkejutnya meresa saat melihat Aleeza ada ditengah-tengah keluarga Ardana.
"Aleeza..."Ucap Kakek Robin dan Mama Abel bersamaan. Mereka tertegun air mata mama Abel sudah tidak bisa ditahan lagi.
"Mama, Kakek Robin.."Ucap Aleza seketika berdiri dari duduknya.
Dan Mama Abel langsung memeluk Aleeza dan mengelus surai Aleeza.
Pemandangan yang mengharukan bagi kedua keluarga besar tersebut.
"Kau kemana saja? Kenapa tidak memberikan kabar apapun kepada Mama? Semarah itukah kamu sama mama Al?" Ucap mama Abel dengan air mata yang terus mengalir.
Sedangkan Twins yang melihat hanya menatap kebingungan.
"Maafin Aleeza ma, Aleeza tidak pernah marah sedikitpun kepada mama."Ucap Aleeza.
Mama Abel melepaskan pelukannya. Kini dia mengusap lembut wajah Aleeza. Tatapan rindu dan sayang semua terpanacar diraut wajah sang ibu mertua.
Seketika mata Robin tetuju kepada kedua anak yang tengah duduk mania disamping Kaif.
"Siapa mereka? Kenapa wajah anak laki-laki itu mengingatkanku kepada Albi kecil? Apa mungkin mereka adalah..."Batin Robin.
"Aleeza...."Panggil Kakek Robin.
"Iya Kakek.."Ucap Aleeza yang sambil menyeka air matanya.
"Kedua Anak itu siapa Al?" Tanya Robin dengan suara yang begetar.
Seketika Mama Abel mulai memerhatikan ke 2 anak yang terus mentap Aleeza itu.
"Wajah kedua anak itu mirip Albi kecil. Apa lagi anak laki-laki itu? Wajah nya benar-bener seperti putraku"Batin Mama Abel
Aleeza menatap Twins. Dan menghampiri Twins.
"Mama..."Ucap Twins dengan suara pelan.
"Tidak apa-apa, sayang. Jangan takut!! Kemari beri salam sama Nenek dan Opa."Ucap Aleeza berbisik kepada Twins.
Membuat Twins semakain bingung.
Aleeza pun menggandeng tangan twins, berjalan mendekati Kakek Robin dan Mama Abel.
"Kakek, Mama....."Ucapa Aleeza yang berusaha mengumpulkan keberaniannya.
"Iya Al, Mereka..."Ucap Abel yang wajahnya mulai pucat dan ada perasaan yang tidak bisa diartikan.
"Mereka Anak Aleeza, Kek, Ma. Malaikat kecil yang selalu membuat Aleeza senang, obat dari segala rasa sepiku, rasa sakitku, dan mereka dunianya Aleeza."Ucap Aleeza seraya mengelus kelapa Twins dengan lembut.
Mendengar ucapan Aleeza membuat Kakek Robin yang sedari tadi menahan air matanya. Kini sudah tidak bisa terbendung lagi.
Begitupula dengan Abel seketi Air matanya pun kembali mengalir deras.
Robin langsung memeluk Twins dengan sangat erat.
"Cicitkku, Ini Opa kalian sayang. Maafin Opa yang sudah membuat kalian dan mama kalian menderita diluar sana." Ucap Robin dengan suara yang lirih.
Abel terus mengelus kepala Twins dengan lembut.
"Cucuku, Nenek macam apa aku ini? Membiarkan keturunanku hidup diluar bertahun-tahun."Batin Aber hatinya tersa sesak sekali.
Twins yang ketakutan hanya bisa diam tanpa mengeluarkan celotehannya.
Aleeza yang milihat Twins dan keluarga Kyle sangat terharu ada rasa lega dihatinya. Seolah-olah beban selama 5 tahun sudah terlepas begitu saja.
"Mama...."Teriak Nala.
__ADS_1
Sontak membuat Robin melepaskan pelukannya.
Aleeza langsung menghapiri Twins.
"Ada apa sayang."Tanya Aleeza yang sesekali air matanya terjatuh.
Nala langsung memeluk Aleeza.
"Kenapa sayang?"Tanya Aleeza.
Robin hanya bisa menatap cicitnya saja. Hatinya seketika sakit.
"Apa mereka membenci ku? Wajar mereka membenciku, aku bukan Opa yang baik. Saat mereka membutuhkan aku. Tapi aku tidak ada untuk mereka."Batin Rama.
"Nala, takut mama. Mama jangan tinggalin Nala, Nala mau sama mama. Selamanya mau sama mama."Ucap Nala yang semakin erat memeluk Aleeza.
"Kenapa sayang berbicara begitu? Mama tidak kemana-mana. Mama akan selalu bersana Nala dan Kak Nathan. Selamanya kita akan selalu bersama." Ucap Aleeza yang berusa menengkan Nala.
Aleeza merasa baju dibahunya basa.
"Sepertinya Nala menangis. Dia pasti ketakuran karena tiba-tiba dipeluk oleh kakek Robin." Batin Aleez.
Robin dan Abel yang melihat Nala, Merasa bersalah dengan Twins.
Kini Aleeza sedang menggendong Nala. Karena Nala sedang metakutan.
"Nala, bukankah kamu ingin bertemu papa?"Tanya Aleeza lembut. Namun Nala hanya terdiam saja.
"Duduk sini dek"Ucap Kaif.
"Iya Kak."
Kini Aleeza duduk samping Kaif.
"Tidak apa-apa Robin, mereka hanya terkejut. Ini juga salah kami karena tidak memberitahukan lebih dulu kepada Twins."Jelas Rama.
"Iya Rama. Aku mengertiku. Terima kasih sudah membawa mereka kemari"Ucap Robin dengan wajah sendu.
"Tadi itu yang meluk kalian Opa Robin, kakeknya papa. Dan perempuan yang tadi memekuk mama, itu adalah mamanya papa. Neneknya kalian sayang."Jelas Aleeza permahan kepada Twins.
Twins menatap Robin dan Abel secara bergantian.
"Apa boleh Nenek memeluk kalian?"Ucap Mama Abel dengan wajah sendu.
"Ayolah, sayang. Nenek ingin memeluk kalian tuh."Ucap Aleeza.
Nala mulai turun dari pangkuan Aleeza. Dan Nathan mengandeng tangan Nala.
"Tidak apa-apa dek. Cuma peluk saja kok"Ucap Nathan.
Mereka akhirnya pun memeluk mama Abel.
"Cucu nenek yang cantik, ganteng."Ucap Abel penuh haru.
Cup..
Cup..
Cup..
Cup..
Abel menciumi setiap inci wajah Twins.
"Nenek.."Panggil Nala.
"Iya sayang, ada apa cantik?" Tanya Nala.
"Papa diamana? Apa papa tidak mau bertemu kita?"Tanya Nala dengan wajah polosnya.
"Kenapa bicaranya begitu sayang, Papa pasti senang bertemu kalian."Ucap Abel. sambil memeluk kembalo Twins.
"Jerry..." Panggil Robin kepada salah satu bodyguardnya.
"Iya, Tuan."Jawab Jeryy dengan sopan.
"Kau tidak memanggil Albian?"Tanya Robin
"Maaf, Tuan saya lupa tidak memberitahun Tuan Albian."Jawab Jerry.
__ADS_1
"Cepat kau panggil Albia."Perintah Robin.
"Baik Tuan besar."