
Keesokan Harinya. Pukul 07.00 pagi.
"Om Kaif mau kemana? Kenapa bawa koper segal sih?" Tanya Nala.
"Om harus kembali Kenegara B sayang. Jadi jangan nakal ya."Jawab Kaif sambil menyentuh wajah Nala.
"Om gak kesini lagi?"Tanya Nala, dengan raut wajah yang sendu.
"Om akan kesini kok sayang, tapi om harus mengerjakan pekerjaan om dulu."Jelas Kaif.
Nala langsung memeluk Kaid yang kini mensejajarkan tingginya denga Nala.
"Nala pasti kangen Om Kaif.."Ucap Nala.
"Om juga akan kangen Nala cantik."
Nathan hanya berdiri disamping sang mama.
"Nathan, jaga mama sama adek ya. Jika kamu membutuhkan sesuatu bisa hubungin Om."Ucap Kaif.
"Iya Om, Om baik-baik ya disana. Jangan lupain Nathan."Ucap Nathan yang lari kedalam pelukan Kaif.
"Mana bisa, Om melupakan kalian."Ucap Kaif yang sambil membawa Nathan dalam gendongannya.
"Mama Nala juga mau digendong.."Ucap Nala.
"Baiklah, Sini mama gendong Nala. Ya ampun Nala kau semakin berat saja."Ucap Aleeza.
"Mama, saja yang semakin tua. Tapi mama semakin cantik."Ucap Nala.
Cup..
Sebuah kecupan mendarat dipipi Aleeza.
"Dasar kau ini, pinter banget sih merayu orang. Siapa yang mengajarimu?" Tanya Aleeza sambil mencubit pipi cubby Nala.
"Om Kai, mama.."Jawab Nala polos.
"Lain kali kalau Om Kai mengajarimu hal aneh, Jangan didengar."Ucap Kaif. dan menurunkan Nathan dari gendongannya.
"Om berangkat ya sayang." Ucap Kaif.
Cup...
Cup...
Mengecup pipi Twins bergantian.
"Kakak, berangkat ya sayang. Jaga kesehatan, kalau ada apa-apa hubungi kakak."Ucap Kaif.
"Iya kakak, Kakak juga. Aleeza pasti sangat merindukan kakak."Ucap Aleeza sambil memeluk Kaif.
"Iya sayang.."
Cup..
Kaif mengecup kening Aleeza.
Kaif pun masuk kedalam mobil. Sambil melambaikan tangannya kepada Aleeza dan Twins. Meraka pun juga melambaikan tangan kepada Kaif.
Kakek Rama hanya melihat kepergian Kaif dari kamarnya. Dan ke3 Kakaknya masih tertidur pulas.
Tinn...Tiinn..
Langakah Aleeza dan Twins pun terhenti.
"Siapa itu mama..?"Tanya Aleeza.
"Mama tidak tau sayang.."Jawab Aleeza.
Turunlah seseorang Anak kecil seusia Twins dari sebuah mobil.
"Nala..Nathan...."Teriak Anak kecil itu.
"Kakak Ganteng.."Ucap Nala.
Nathan langsung lari kedalam manison.
Albian yang melihat putranya lari membuat hatinya sakit.
"Kenapa Nathan lari kedalam pa..?"Tanya Arsen.
Albian hanya tersenyum kecut. Dan Aleeza merasa tidak enak dengan Albian.
__ADS_1
Nala terkejut dengan melihat sang kakak lari kedalam mansion. Yang tadinya ingin lari ke dalam pelukan sang papa, Nala pun mengurungakan niatnya.
"Maaf, aku datang tidak mengabarimu dulu Al." Ucap Albian.
"Tidak apa-apa. Ayo masuk dulu." Ucap Aleeza sambil tersenyum canggung.
"Iya, Terima kasih." Ucap Albi dengan suara lirihnya.
"Ayoo!! Papa, Kakak ganteng. Masuk kedalam."Ucap Nala.
"Iya Nala."Jawab Arsen.
"Nala temani papa sama Kakak Arsen dulu ya, Mama mau bicara sama Kakak Nathan dulu."Ucap Aleeza.
"Iya mama."
Aleeza pun pergi kekamar Twins. Tapi sebelum itu Aleeza pergi kedapur, meminta maid untuk membuatkan minuman dan cemilan.
"Bik, buatkan minum dan juga bawakan cemilan ya. Soalanya ada tamu."Ucap Aleez pada salah satu maid.
"Baik Nona."Jawab maid tersebut.
Aleeza pun segera menemui sang putra.
Tak..tak..tak..
"Kakek, mau kemana? sudah rapi begitu?"Tanya Aleeza.
"Kakek ada janji sama teman-taman lama kakek."Ucap Kakek Rama.
"Oh..jangan bawa mobil sendiri lo kek. Pakei sopir saja."Ucap Aleeza.
"Iya..Oh ya di bawa ada siapa Al?"Tanya kakek Rama.
"Ada Albi dan Arsen kek."Jawab Aleeza.
"Oh....Ya sudah, kakek berangkat dulu Al."
"Iya, hati-hati kek."
Tok..tok..tok.
"Nathan sayang..."Panggil Aleeza dari luar.
Ceklek..
"Huuufh....."Aleeza menghela napas.
"Kamu kenapa besikapa seperti itu kepada papa?"Tanya Aleeza.
"Aku tidak mau bertemu dengannya."Jawab Nathan dengan nada ketus.
"Kenapa Nathan bicara seperti itu? Mama tidak pernah mengajarkan Nathan bersikap seperti ini. Apa lagi kepada orang tua."
"Pokoknya Nathan tidak mau bertemu dengannya."Ucap Nathan dengan lantang.
"Aku tidak butuh papa. Aku juga tidak mau papa. Aku tidak mau papa yang jahat, papa yang buat mama menangis, papa juga yang buat mama dihina-hina."Batin Nathan.
"Ya sudah, mama tidak akan memaksamu untuk menemui papa. Papa kesini ingin menenui lo, dia meluangkan waktu untuk kalian. Setidaknya hargai itu sayang."Ucap Aleeza sambil mengelus punggung Nathan.
"Ya sudah, mama tinggal dulu."Ucap Aleeza.
Aleeza pun tidak lagi memaksa putranya. Dia paham dengan sifat Nathan yang paling tidak suka dipaksa.
Tak..tak..tak..
"Mama, lama banget sih. Dimana kakak ma?"Tanya Nala.
"Maaf, sayang mama membuatmu menunggu ya. Kakak mu seprtinya lagi tidak enak badan."Ucap Aleeza.
"Kakak sakit ma..?Tapi.. tadi masih baik-baik saja."Ucap Nala.
"Pasti kakak pura-pura sakit."
"Ayo kakak ganteng kita lihat kakak Nathan. Nala yakin kakak tidak sakit."Ucap Nala.
"Kenapa Nala seyakin itu?"Tanya Arsen.
"Iya dong, Kalau Kakak Nathan sakit seharusnya Nala juga sakit. Tapi lihat Nala baik-baik saja, Berarti Kakak Nathan berbohong."Jelas Nala.
"Oh..Masak sakit saja harus bersamaan sih Nala."Ucap Arsen.
"Iya lah, Kan kita kembar. Jadi kalau salah satu dari kita sakit pasti akan sakit bersamaan. Dari dulu juga seperti itu, Iya kan Mama".Ucap Nala.
__ADS_1
"Iya Sayang.."Jawab Aleeza.
Arsen dan Nala pun naik keatas untuk menemui Nathan.
"Nathan, tidak mau menemuiku ya Al. Dia marah sama aku? Aku bukan papa yang baik untuk mereka." Ucap Albi dengan suara lirih.
"Entahlah, Nathan sangat pendiam. Dia berbeda dengan Nala, Nala lebih mudah ditebak karena dia lebih terbuka. Sedangkan Nathan, dia sangat tertutup. Dia lebih dewasa dari usianya, sulit untuk menebak apa yang dia pikirkan. Dia sangat keras kepala, sifatnya mirip denganmu. Mungkin dia lebih darimu, jadi...jika kamu ingin mengambil hatinya, kamu harus bersabar menghadapinya. Dia paling benci jika dipaksa."Jelas Aleeza.
"Kau memahami Twins sangat baik Al. Sedangkan aku, aku tidak tau apapun tengtang Twins."Ucap Albian dengan wajah sendunya.
"Aleeza..."
"Ada apa.."Jawab Aleeza dengan menatap wajah Albi.
"Bagaimana kebarmu selama 5 tahun terakhir, tanpa ada aku disampingmu? Apa kau baik-baik saja? Hamil tanpa ada aku, melahirkan twins tanpa aku. Apa kau benar-benar sebenci itu kepadaku? Aku selalu bertanya-tanya apakah kau pernah merindukanku walau hanya sekali saja, apa kau merindukanku walau hanya sedetik saja."Ucap Albi dengan suara lirih dan mata berkaca-kaca.
"5 tahun aku hidup dalam kerinduan dan rasa sakit hati yang tak berujung Bi."Batin Aleeza.
"Apa aku harus menjawab itu semua Bi?"Tanya Aleeza.
"Iya..Aku ingin tau semua tentangmu selam kita tidak bersama."Jawab Albi.
Albi memegang tangan Aleeza.
"Kau tau 5 tahun ini aku hidup seperti apa? Apa kamu tau saat kamu meninggalkanku beta hancurnya aku Al? Aku tidak pernah baik tanpa kamu disampingku. Bahkan 1 hari yang aku lalui terasa sangat panjang Al. Menahan rindu yang begitu lama membuatku tersiksa Aleeza. Aku tau aku bodoh, aku salah, aku tidak berguna. dan Aku memang seorang bajingan. Tapi tidak bisakah kamu memberiku aku kesempatan sekali lagi."Ucap Albi yang mulai terisak sangat sedih.
Aleeza menatap tidak percaya seorang Albian bisa menunjukan sisi yang lemah seperti ini. Menangis seperti seorang anak kecil yang ditinggal sang ibu.
Tanpa tersadar Aleeza memeluk Albian yang tengah memunduk menangis didepannya.
"Jangan seperti ini Bi, kau seorang ayah menangis seperti ini. Dimana harga dirimu yang bertampang songong itu?"Ucap Aleeza sambil menepuk-nepuk punggung Albia.
Albi yang meangis seketika terhenti. Karena tiba-tiba Aleeza memeluknya.
"Aleeza memeluku, berarti dia masih peduli denganku."Batin Albian.
"Kakak Nathan Jahat....!! Nala benci kakak"Ucap Nala yang teriak begintu kencang.
Membuat Aleeza terkejut dan melepaskan pelukannya.
"Ada apa dengan anak-anak?"Tanya Aleeza.
"Tidak tau, kita lihat saja dulu."Ucap Albian sambil mengusap air matanya.
Merekapun segera keatas, untuk melihat anak-anak yang sedang berada dikamar Nathan.
Saat Aleeza sudah diatas. Nala sudah berada dalam gendongan Kai dan Nathan berada dalam pangkuan Rafka. Sedangkan Arsen berdiri disamping Ken.
"Ada apa ini kak?"Tanya Aleeza.
"Nathan sama Nala bertengkar Al" Jawab Kai yang sambil menenangkan Nala.
"Bertengakar....? Apa yang membuat kalian bertengkar?"Tanya Aleeza.
"Tidak biasanya mereka bertengar sampai seperti ini."Batin Aleeza.
"Nathan..Nala..Apakah kalian bisa memberi tau mama?"Tanya Aleeza.
"Kakak membentakku mama, Nala cuma tanya kenapa kakak membenci papa? Tapi kakak bilang dia tidak punya papa. Terus menyuruh Nala untuk tinggal sama papa saja jangan tinggal sama mama. Kakak bilang begitu sama Nala. Hikkss..hikks... Nala sayang sama mama dan papa tapi Nala tidak mau jauh dari mama. Nala mau sama mama dan papa. Tapi .. Kakak malah- "Ucap Nala sambil nangis tersedu-sedu. sampai akhirnya Nala pingsan dalam gendongan Kai.
Aleeza pun panik karena Nala yang tiba-tiba pingsan.
"Nala...."Teriak Kai, Albi dan Aleeza.
Nathan pun terkejut melihat Nala yang pingsan.
"Kak...Nala kenapa kak..?"Tanya Aleeza yang mulai menangis.
Membuat semua orang menjadi panik dan tidak tau harus apa.
"Bawa ke rumah sakit saja."Ucap Albia.
Kai pun langsung turun dan berlari
"Pakek mobilku saja Kai, biar cepat."Ucap Albian.
Kai, Aleeza dan Arsen pun masuk kedalam mobil Albian.
Sedangkan Nathan, Ken dan Rafka menggunakan mobil milik Kai.
Mereka semua menuju rumah sakit.
Nathan shock melihat Nala yang pingsan. pandangan Nathan menjadi kosong seketika. Ken yang melihat Nathan terdiam langsung memeluknya.
__ADS_1
"Sudah, jangan menyalahkan diri sendiri. Ini bukan salah Nathan ok. Nala pasti baik-baik saja. Nathan harus berdoan untuk Nala. "Ucap Ken.
Ucapan sang Om membuat Nathan tersadar seketika. Tapi tubuh Nathan tersus bergemetar sedari tadi.