PERNIKAHAN TERSEMBUNYI

PERNIKAHAN TERSEMBUNYI
70. Hari Pernikahan Kaif dan Lani


__ADS_3


1 minggu kemudian, hari yang Kaif tunggu akhirnya terlah tiba. Hari pernikahannya bersama Lani dan memulai kehidupan barunya bersama seseorang yang dia cintai.


Diruang make up penganting.


"Aku tidak menyangka hari ini akan begitu datang dengan cepat Al..." Ucap Lani yang sedari tegang.


"Ehmm, kamu jangan gugup Lani kamu harus rilexs. Percayalah semua akan baik-baik saja dan berjalan dengan lancar." Aleeza berusaha menenangkan hati Lani yang gundah gulana sedari tadi.


"Aku hanya tidak percaya calon sumiku adalah kakakmu Al, aku berasa ini seperti mimpi." Ucapa Lani yang jujur akan apa yang dia rasakan.


Aleeza terseyum mendengat ucapan sahabatnya itu. Aleeza bisa merasakan apa yang dia rasakan sekarang.


"Ini bukan mimpi Lan, ini nyata. Jodoh itu rahasia tuhan, kita tidak tahu jodoh kita itu siapa..? Jadi jalani saja apa yang ada sekarang, dan syukuri semua yang telah tuhan rencanakan untuk kita." Aleeza tersenyum manis kepada sahabatnya itu.


"Uhmmm, kamu benar Al.." Lani pun mulai tersenyum dan rasa gugupnya perlahan-lahan telah hilang.


"Kamu cantik sekali hari ini Lan, pantas saja kakaku jatuh cinta padamu.."Goda Aleeza kepada sahabaynya itu.


"Kau apa-apaan sih, jangan menghinaku ya. Aku tahu kau lebih cantikk dariku. Aku ini cuma wanita biasa buka dewi apalagi bidadari." Ucap Lani.


"Hahaha....."


Mendengar ucapan Lani membuat Aleeza tertawa geli, bisa-bisanya sahabatnya itu masih ngebanyol tidak jelas dihari pentingnya.


"Huuuufh...., sudah..sudah..Jangan becanda lagi, kau akan membuatku menangis terkencing-kencing Lan. Kamu sudah siap kan ini sudah waktunya aku mengantarmu kepada suamimu." Ucap Aleeza sambil tersenyum dan menyeka air mata yang ada diujung mata indahnya.


Aleeza menjadi pendaping Lani, karena Lani tidak memiliki siapapun selain Aleeza. Lani tumbuh besar dari panti asuhan, Lani tidak tahu dimana orang tuanya dan disaat hari spesialnya ini tiba-tiba dia mengingat orang tuanya.


"Andai saja aku bisa melihat kedua orang tuangku dihari ini, seharusnya yang mengantarku adalah ayahku, tapi ini...." Batin Lani


"Apa aku pantas berdiri disampingnya, aku hanya anak yang dibuang, tidak memiliki keluarga, tidak memiliki latar belakang. Apa kamu benar-benar bisa menerima anak yang dibuang dan tak diinginkan ini.? Orang tua ku saja tak menginginkanku.." Batin Lani benar-benar berkecambuk hari ini air mata yang dia tahan akhirnya terjatuh membasahi pipi mulusnya.


Sesekali Lani menyekanya. Hatinya sakit dan juga bahagia karena masih ada orang yang menerimanya dan mencintainya. Lani berusaha tegar demi orang-orang yang selalu mendukungnya. Melihat Twins yang tersenyum kepadannya, dan genggaman hangat Aleeza yang menghangakan tubuhnya dan membuatnya merasa tenang dan nyaman.

__ADS_1


Membuatnya bisa berjalan dengan tegak, meski hatinya kini sedang berkecambuk hebat. Lani berjalaj dengan tersnyum dan buliran-buliran bening terus terjatuh.


Aleeza pun merasakan kesedihan sahabatnya itu, Aleeza tahu apa yang Lani rasakan saat ini. Aleeza hanya bisa tersenyum menguatkannya.


Dan Kaif yang melihat kesedihan diwajah Lani, hatinya terasa reriris saat ini namu dia sembunyikan dibali wajah dinginnya itu.


Saat ini Lani sudah berada digenggaman Kaif dan siap-siap akan mengucapkan janji pernikahan.


Aleeza yang sudah tidak bisa menhan air matanya, kini dia menangis dipelukan suaminya.


Hikkss....Hiikkss.....


"Sudah, sayang jangan menangis lagi, Lani sudah bahagia bersama Kakak Kaif. Aku yakin kakak mampu membuat Lani tersenyum bahagia dengan keluaraga yang akan Lani bina bersama kakak."Ucap Albi menenangkan sang istri.


Aleeza tidak menjawab hanya mengeratkan pelukannya saja. Albi terus mengelus punggung sang istri dan mengecup kening Aleeza berkali-kali.


Cup..


Cup..


Cup..


Dan tak jauh dari mereka


"Kakak, mama kenapa menangis..?" Tanya Nala kepada Nathan.


"Diamlah, kau masih kecil tak akan tahu masalah orang dewasa."Ucap Nathan yang terus menatap sang mama.


"Huuuft...." Nathan menghela napas panjang.


Setelah ikrar, kini saatnya pengantin itu mendapat selamat dari para tamu undangan. Aleeza tidak bisa lama-lama disana, karena tiba-tiba dia merasa pusing. Mungkin karena kelamaan menangis membuat kepalanya terasa sakit.


"Apa ini masih lama Kaif..?" Tanya Lani yang mulai lelah.


"Masih, kenapa..? Kamu lelah..?"Tanya Kaif.

__ADS_1


"Ya, aku lelah dan lapar. Sedari tadi aku belum makan Kaif." Ucap Lani yang memelas kepada Kaif.


Memang benar adanya dia belum memakan apapun sedari tadi. Sehingga sekarang ini dia merasa lemas tak bertenanga.


"Kenapa kau bodoh sekali, kau tidak makan apapun tapi hanya diam saja. Kau punya mulut untuk bicara kan Lani Ardana.." Kaif terkejut dengan ucapan sang istri sehingga dia kesal dengan Lani yang tidak bisa menjaga tubuhnya sendiri.


"Kau..!! Kau memarahiku. Ka-"


Ucapan Lani tertopotong seketika Kaif menggendongnya ala bridal Style dia terkejut dengan apa yang Kaif lakukan saat ini.


Didepan para tamu dia malah berbuat hal seperti ini, Lani malu sekali,.dia terus bersembunyi didada bidang sang suami.


Kaif membawa Lani pergi begutu saja. Dan semua mata menatap kepada pasangan pengantin baru itu.



"Makanlah, jangan sampai kau jatuh sakit dimalam pertama kita. Itu tidak akan lucu jika kau sakit." Ucap Kaif dengan wajah datarnya tanpa ada rasa canggung apalagi malu.


UKKH....UKKHM...


"Lelaki satu ini, mengatakan malam pertama seperti mengatakan kalau hari ini harus rapat."Batin Lani


"Kau kenapa..? Baru duduk sudah batuk..?"Tanya Kaif yang mengkhawatirkan keadaan Lani.


"Tidak apa-apa, kamu juga belum makan kan..?"Lani berusaha mengalihkan perhatian Kaif.


"Belum, aku temani kamu makan, setelah ini aku harus kembali kepesta resepsi kita. Jika kamu lelah kami bisa tinggal disini. Dan jangan kemana-mana tunggu aku kembali." Kata-kata Kaif benar-benar membuat Lani merinding sendiri, bahkan Lani tak berani menatap wajah sang suami saat ini.


Lani hanya terus menunduk menatap makanan yang ada didepannya yang semula terlihat enak sekarang terasa hambar, Lani takut sendiri malam ini terasa panajang dia tidak tahu bagaimana harus melewati malam yang panjang ini.


"Aku selesai, ingat jangan kemana-mana. Aku harus menyambut tamu-tamuku." Ucap Kaif dan dia pun pergi dari kamar itu.


"Huuufftt.... Kenapa kamar ini pengap sekali..? Aku butuh udara..." Lani berjalan menuju balkok untuk menghirup udara segara, wajahny sangat merona dan detak jantungnya sangat cepat. Dia gelis dan takut.


"Bagaimana ini..? Tidak mungkin dia akan melakukan malam ini kan...? Aduh aku tidak siap. Bagaimana dong..? Apa aku tidur saja..? Dia tidak mungkin macam-macam saat aku tidur kan..?"

__ADS_1


Yah seperti itulah keresahan Lani saat ini. Mondar mandir dibalkon. Tubuh panas dingin dan jantung berdebar. Seolah-olah dia akan diterkam oleh singa kelaparan. Dan tidak bisa melihat hari esok lagi.


__ADS_2