
Keesokan harinya...
"Nathan ayo om antar kesekolah sayang." Ucap Kai lantang.
"Iya Om.." Jawan Nathan yang tak ada semangat.
"Kenapa lemas begitu? Yang semangat dong."
"Nathan, kepikiran Nala om."
"Nala, baik-baik saja. Jadi kamu harus semangat tidak boleh letoy begini."Ucapa Kai sambil menggonda Nathan.
"Hmmmm...." Ucap Nathan yang sambil berjalan masuk kedalam mobil Kai.
Kai mengantar Nathan kesekolah, setelah itu dia pergi kekantornya.
Dan dirumah sakit tempat Nala dirawat.
Keluarga Kyel datang menjenguknya dan juga kakek Rama yang sudah ada di rumah sakit dari semalam.
"Kakek pulang saja, biar Al yang menjaga Nala disini..." Ucap Aleeza yang memohon kepada sang kakek.
" Iya Rama, lagian kamu sudah dari semalam disini. Nanti Albi setelah dari kantor juga akan kesini." Ucap Kakek Robin.
"Al tidak mau kakek kenapa-napa. Kakek harus istirhat, benar apa kata Kakek Robin. Albian akan kesini kok nemenin Nala." Jelas Aleeza.
"Baiklah, kakek pulang. Tapi ingat jika ada apa-apa hubungi kakek segera." Ucap Kakek Rama.
"Iya kakek."Jawab Aleeza.
Dikantor Kai
"Gimana Ken..?" Tanya Kai dengan wajah seriusnya.
" Dia dalam setahun ini banyak bertemu dengan laki-laki sih, dan semua itu laki-laki yang memiliki pekerjaan yang lumayan bagus......."Jawab Ken dan terus menjelaskan hasil dari penyelidikannya.
"Sudah aku duga, nih cewek berani bermain api denganku, mari kita lihat sejauh mana dia bermain trik denganki."Ucap Kai dengan senyum liciknya.
Sedangkan diperusahan Albia.
"Aku ingin bertemu putraku.."Ucapa Selia.
" Putramu...?? Haha..selama ini kau sudah mengabaikankanya Sel, dan sekrang mau ingin bertemu dengannya. Kau memang tidak tahu malu ya."Ucap Albi dengan senyum sinisnya.
"Aku selama ini sibuk bekerja bi, bukannya kamu tidak mau menafkaiku..Jika bukan karena kamu apa mungkin aku mau meninggalkan putraku?"
"Alasanmu terlalu kuno Selia, kau sama sekali tidak memikirkan putramu. Yang ada diotakmu itu hanya uang dan uang saja. Lebih baik kau pergi sekarang juga atau kau ingin diseret keluar?."
Selia yang mendengar ucapan Albi sangat kesal dan membuatnya sangat marah. Dan tanpa bicara Selia pun pergi dari kantor Albi dengan wajah kesalnya.
" Aku dari dulu buta, karena bisa jatuh cinta pada wanita seperti dia. Mengabaikan Aleeza yang begitu baik demi wanita gila yang satu ini. Albian kenapa kau bodoh sekali. Aaaaaaaahhhh!! Aku harus membuat Aleeza kembali kepadaku." Ucap Albian penuh dengan penyesalan.
...****************...
Pukul 11 siang.
Albi Pergi menjemput anaknya. Albi sudah ada di depan pintu gerbang.
"Daddyy......" Teriak Arsen yang sambil lari menuju kearah Daddy nya.
Dibelakang Arsen ada Nathan yang berjalan pelan karena suasana hatinya yang tidak baik. Melihat Arsen yang memeluk sang Daddy semakin membuat hati Nathan tidak karu-karuan.
"Huuuuuft....." Nathan hanya bisa menghela nafasnya.
"Nathan.....!!" Panggil Albi dengan suara lirihnya.
Langkah kaki Nathan pun terhenti seketika.
"Nathan mau ya pulang sama papa.." Ucap Albi dengan tatapan sendunya.
"Nathan sudah dijemput sama om Ken." Jawab Nathan dengan wajah datarnya.
"Papa sudah bilang sama om Ken, jika papa yang akan jemput Nathan hari ini."Ucap Albi.
"Ayo, Nathan kita pulang bersama Daddy.." Ucap Arsen penuh semangat.
Dan tanpa ekspresi Nathan pun mau ikut dengan Albia.
__ADS_1
Namun sepanjang perjalanan Nathan hanya terdiam saja. Meski Arsen mengajaknya berbicara dia hanya mendengarkan tanpa ada sahutan dari Nathan.
"Papa antar kamu pulang ya.." Kalimat pertama yang keluar dari Albi.
"Tidak!! Aku ingin kerumah sakit saja."Jawab Nathan yang tanpa melihat wajah sang papa.
"Baiklah kita kerumah sakit..."
Tak lama kemudia merekapun sampai dirumah sakit.
Ceklek..
"Selamat siang semuanya.." Ucap Albi
"Siang..." Jawab semua orang yang berada didalam kamar Nala.
"Papa...."Ucap Nala sambil teriak.
Albi pun menghampiri Nala dan membawa Nala kedalam pelukanya.
"Gimana keadaan Nala sayang..?" Tanya Albi penuh perhatian.
"Nala sudah sehat kok papa, apa lagi ada papa sama mama. Nala makin cepat sembuhnya."Jawab Nala dengan senyum semringah.
"Nala.... " Panggil Arsen.
"Iya kakak Arsen..."Jawab Nala.
"Kapan Nala bisa bersekolah lagi? Arsen kangen sama Nala."
"Tidak tau kak."
"Nanti kalau Nala sudah sebuh pasti sekolah lagi kok sayang." Ucap Aleeza.
" Iya tante, semoga Nala lekas sembuh ya tan. Biar bisa sekolah lagi."Ucap Arsen yang sambil memegang tangan Nala.
Sedangkan Nathan hanya milihat dari mejauhan saja. Ada rasa cemburu dihatinya, melihat kedekatan sang adik Nala dan Arsen begitu dekat dengan Albi. Sedangkan dirinya tidak bisa sedekat itu kepada sang papa.
Robin yang melihat tatap cemburu dimata Nathan langsung membawa Nathan kedalam pangkuanya.
"Cicit opa kenapa diam saja dari tadi..?"Tanta Robin sambil menganggkat tubuh Nathan kedalam pangkuannya.
"Sayang, juga mau digendong sama papa ya..?" Tanya Opa Robin berbisik ditelinga Nathan.
Nathan yang mendengar bisikab sang opa langsung terdiam.
"Nathan, Arsen. Ayo makan siang dulu, kalian pasti sangat lapar. Ini sudah waktunya makan siang." Ucap sang nenek Abel.
"Iya Nenek.."Ucap Arsen sambil berlari kepada sang Nenek.
Nathan langsung turun dari pangkuan sang Opa.
"Nenek suapin Arsen ya..." Ucap Arsen dengan suara manja.
"Iya, Nenek suapain kamu sayang, Nathan mau nenek suapin juga..?" Tanya Abel kepada Nathan.
"Tidak Nek, Nathan makan sendiri saja."Jawab Nathan.
Nala masih tidak mau berbicara dengan Nathan. Nala masih kesal dengan sikap dingin Nathan kepada sang papa.
Aleeza paham betul dengan sikap Nathan, dia tau jika putranya itu sedang kesal dan butuh perhatiannya. Aleeza langsung berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Nathan.
"Sini mama suapin Nathan ya sayang.." Ucap Aleeza dan mengambil kotak makanan dari tangan Nathan.
Nathan hanya terdiam saja dan menatap sang mama. Tidak ada yang mengerti dirinya selain sang mama.
Aleeza membawa Nathan kedalam pangkuannya. Dan menyuapi Nathan dengan sabar. Walau dirinya lelah merawat Nala. Aleeza paham betul, jika dirinya harus bisa membagi waktu untuk putra dan putrinya. Meskipun Nathan tidak banyak menuntut, lebih pengertian dan lagi lebih dewasa dari pada Nala. Tapi Nathan tetap seorang anak yang masih usianya 5 tahun. Dia bisa cemburu, marah, kesal dan sedih. Walau pun jarang sekali Nathan memerlihatkan itu semua, tapi Aleeza cukup bisa memahami sifat Nathan itu.
Albi hanya melihat intraksi Nathan dan Aleeza dari kejauhan.
"Papa kenapa...?" Tanya Nala dengan suara kecil
"Tidak apa-apa sayang.." Jawab Albi dengan senyum yang dipaksakan.
"Papa, belum baikan sama Kakak. Kakak masih jahatin papa ya..?" Tanya Nala dengan tatapan polosnya.
"Tidak bukan begitu, Kakak Nala tidak pernah jahatin papa kok. Kakak Nathan tadi pulang sama papa.." Jelas Albi.
__ADS_1
" Ohh...!! Berarti papa dan kakak sudah baikan dong ..?
"Iya...."Jawab Albi dengan singkat .
"Terus
"Mama, Nala pinjam ponsel mama ya.."Ucap Nala
"Iya sayang..."Jawab Aleeza.
Nala pun mengambil ponsel sang mama yang berada diatas Nakas.
"Papa mau lihat foto Nala dan kakak Nathan masih kecil dulu tidak..?" Tanya Nala.
"Mau sayang..." Jawab Albi senang.
Nala pun memberi tahu foto masa kecil mereka kepada Albi yang sudah melewati masa kecil Twins.
"Ini Kakak Nathan ya sayang?" Tanya Albi.
"Iya Ini kakak Nathan papa, Lucu kan pa..? Tapi tidak kayak sekarang. Dia menyebalkan."Jawab Nala yang tampak kesal.
Albi hanya tersenyum melihat wajah kesal Nala
Nala mencerita kisah disetiap fotonya. Dan Albi mendengarkan cerita sang putri dengan seksama. Melihat foto-fotonya bersama sang kakak membuat Nala mengingat kembali betapa Nathan menyayanginya selama ini, Nathan yang selalu melindunginya, Nathan yang selalu membuat Nala tersenyum dan selalu membuat Nala merasa nyaman. Rasa emosi dan kesalnya perlahan melnghilang kepada Nathan. Nala menatap Nathan dengan mata berkaca-kaca.
"Harusnya aku tidak marah dengan kakak, harusnya aku lebih memahami kakak. Selama ini kakak banyak mengalah denganku. Kenapa aku tidak bisa mengalah dengannya walau hanya sekali saja." Batin Nala.
"Nala, putri papa cantik sekali ya.."Ucap Albi memecah lamunan Nala.
"Iya dong, kan anaknya mama Aleeza harus cantik, imut dan muaaniss lah." Jawab Nala.
'Iya..iya..deh.." Ucap Albi.
"Kakak Nathan...." Panggil Nala.
Nathan yang mendengar panggilan sang adik langsung melihat kearah Nala.
"Hmm.. Iya, Ada apa...?" Tanya Nathan yang terbatah-batah.
"Nala kangen Kakak, apa kakak tidak kangen Nala..?"Tanya Nala yang sambil merentangkan tanggannya yang artinya dia ingin di peluk.
Aleeza tersenyum melihat perubahan Nala.
Dan menggendong Nathan menuju Nala.
Nala pun turun dari pangkuan sang papa, dan memeluk Nathan. Begitupun sebaliknya Nathan membalas pelukan Nala.
"Maafin kakak ya, sudah buat Nala sakit.." Ucap Nathan dengan suara pelan.
"Nala juga minta maaf, udah makasain kakak. Nala janji gak akan maksa kakak lagi. Nala sayang kakak. Selamanya Nala sayang kakak."Ucap Nala dengan suara pelan juga.
__ADS_1
"Kakak juga sangat sayang Nala..."
Albi dan Aleeza yang melihat keduanya akur kembali merasa terharu bahkan kakek robin dan mama Abel pun ikut terharu.