
Sore hari yang yang diselimuti oleh awan gelap beserta angin yang menggoyangkan ranting-ranting. Petanda hujan akan turun cukup lebat.
Dirumah kediaman Kyle.
Mama Abel tengah duduk diruang tengah sambil melihat foto album keluarganya. Melihat foto itu satu demi satu, dan membuka memori masalalu dari setiap foto yang dia lihat.
"Selamat sore mama..."Ucap Aleeza berjalan mendekati mama Abel.
"Sore sayang, Syukurlah kau sudah pulang. Diluar sudah mau hujan."Ucap mama Abel. Dia pun memutup album yang ada ditangannya.
"Anak-anak dimana sayang..? Kok tidak ikut kamu pulang."Tanya mama Abel.
"Anak-anak minta menginap dirumah kakek Rama ma."Jawab Aleeza. yang terus menatap album ditangan mama Abel.
"Mama, apa yang ada ditangan mama itu..?"Tanya Aleeza.
"Oh..Ini album foto keluarga Kyle sayang."Jawab mama Abel sambil tersenyum manis.
"Album..!! Apa Aleeza boleh lihat ma...?"Tanya Aleeza.
"Tentu boleh dong sayang.."
Diluar sudah mulai turun hujan yang cukup deras, Albian dan Alvis masih berada dikantronya. Dan Kakek Rama tengah istirahat dikamarnya.
Aleeza pun melihat isi dari album itu. Dan mama Abel mencerita setiap foto yang ada didalamnya.
Dan sampailah pada sebuah foto anak lelaki remaja, disetiap fotonya tidak pernah tersenyum.
Membuat Aleeza penasaran siapa laki-laki tersebut.
"Ini siapa mama..?" Tanya Aleeza sambil menunjuk foto lelaki tersebut.
"Itu Albian Al." Ucap mama Abel dan raut wajahnya pun mulai berubah. Ada kesesihan di wajah cantiknya itu.
"Albian....!! "Ucap Aleeza dengan perasaan penuh tanda tanya.
"Hmm, Semenjak SMP dia sudah berubah, tidak lagi tersenyum dan ceria. Saat itulah aku kehilangan sosok Albi yang mama kenal. Tapi senyumnya kembali lagi disaat dia bertemu Selia, saat dia masih duduk dbangku SMA. Selia merubah sikap Albi yang dingin menjadi hangat kembali. Tapi Kakek Robin tidak menyetujui hubungan Albian. Karena kakek Robin tau siapa Selia sebenarnya. Sampai Akhirnya kakek Robin menawarkan nya untuk menjadi model ternama, dengan syarat agar dia menjauhi Albian. Disaat lulus kuliah Selia mengambil tawaran itu, dan pergi meninggalkan Albian. Disaat itu pula Albian kembali dingin dan acuh. Dia marah dengan mama dan kakek Robin."Jelas mama Abel dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Albi begitu mencintai Selia ya mama..?"
"Iya sayang, dia dibutakan oleh cinta waktu itu. Dia juga sempat dihukum oleh kakek karena wanita itu. Mama tidak menyukainya bukan karena dia gadis biasa. Tapi karena dia bukan gadis baik-baik. Dia gila harta dan kekuasaan, dia
"Albi dihukum karena apa mama..?"
"Karena dia berusaha menenui Selia dan karena dia masih berhubungan secara diam-diam dibelakang kami."Jelas mama Abel sambil menatap Aleeza.
"Taukah kamu Al, hukuman apa yang dia terima dari kakek Rama..?"Tanya mama Abel yang berusaha menahan tangis.
__ADS_1
Aleeza hanya menggeleng-gelengkan kepala.
"Dia dicambuk 20x dan dikurung di ruang bawah tanah."
Aleeza terkejut mendengar ucapan mama Abel.
"Tidak hanya itu, selama dia dikurung Albian tidak menyentuh makananya sedikitpun. Sampai akhirnya dia terjatuh pingsan."
"Dan lebih parahnya lagi mama tidak pernah ada untuknya, mama lebih banyak menghabiskan waktu diperusahan mengurus bisnis Kakek Robin. Karena itu dia tidak begitu peduli dengan mama.
Aleeza hanya mendengarkan cerita dari sang mama mertua.
"Tapi Al, pengorbanan dia untukmu jauh kebih besar dari pada saat dia mengejar Selia."Ucap mama dengan pandangan serius.
"Maksut mama..?"Tanya Aleeza yang tidak mengerti dengan ucapan sang mama Abel.
"5 tahun terakhir dia hidup dengan kacau, dia mencarimu siang malam tanpa mengenal waktu. Dia menjadi penggila kerja, dan dia selalu kembali keapartemannya disaat dia merindukanmu. Hehe..Lucu bukan..? Apa lagi dia dengan bodohnya menerima pukulan setiap pukulan Kai untuknya tanpa dia membalas."
"Apa mama..? Kakak memukul Albian..,"Tanya Aleeza.
"Iya, dihari kau pergi Kai mengamukuk dan memukul Albian. Dan dihari itu juga Albian mendapat hukuman yang ke 2xnya dari Kakek Robin. "Jelas mama Abel.
"Dihukum apa lagi sama kakek ma..?"
"Cambuk..!!"Jawab mama Abel dengan santainya.
"Hmm..Tapi waktu itu jumlahnya lebih banyak."
"Berapa kali memangnya ma..?"
"30x cambukan, dan itu setiap hari. Sampai Akhirnya Albian jatuh sakit. Kakek Robin benar-benar mengabaikan Albian, dia bahkan tidak menjenguk Albian saat cucu kesayangannya itu terbaring dirumah sakit. Mama juga marah dengan kakek robin karen dia mengabaikan Albian. Albian sudah terpuruk karena kehilanganmu. Dia setiap hari menangia seperti orang gila, mencarimu tanpa lelah."Ucap mama Albel yang sudah tidak bisa membendung air matanya.
"Mama.."Ucap Aleeza pun memeluk sang mama.
"Maafin Aleeza ya mama, waktu itu Aleeza pergi tanpa bicara apapun kepada mama."Ucap Aleeza
"Kamu tidak salah Al, mama yang salah. Anak mama yang banyak salah kepadamu. Tapi mama jauh lebih bersalah atas apa yang menimpamu."Ucap mama Abel.
Aleeza pun melepaskan pelukannya. Dan menghapus sisa air mata dipipi sang mama mertua.
Tiba-tiba didepan sudah terdengar suara yang cukup akrab ditelingan. Siapa lagi kalau bukan Albian.
"Selamat sore mama..Aleeza.."Ucap Albia yang baru saja sampai dirumah dengan keadaan basa kuyub.
"Sore sayang, Albi kenapa kamu basah kuyub begitu sayang..?"Tanya mama Abel yang khawatir.
"Dia buru-buru mau pulang ma, jadi tadi dia menerjang hujan menuju parkiran."Ucap Alvis.
__ADS_1
"Hmm!! Sudah mandi dulu sana. Nanti masuk kalian masuk angin loh."Ucap sang mama.
"Iya mama.."Ucap Albi dan Alvis bersamaan.
Albian dan Alvis pun masuk kekamarnya masing-masing.
"Mama.. Aleeza buatin teh jahe untuk mereka dulu ya, mama mau juga tidak..?"Ucap Aleeza
"Ehmm boleh sayang. Mama kekamar dulunya.."
"Iya mama.."Jawab Aleeza.
Dia pun segera pergi kedapur dan membuah Teh Jahe hangat ditemani beberapa maid keluarga Kyle. Tak butuh waktu lama teh jahe pun sudah selesai dibuat.
"Bibik mira antar teh jahe ini kekamar kakek, mama, dan Kak Alvis."Perintah Aleeza.
"Baik Nona Aleeza."Ucap bibik mira dengan sopan.
Sedangkan Aleeza membawakan teh jahe untuk Albian.
Aleeza pun menuju kekamar Albian tepanya kamar dia dan Albian.
Ceklek..
Aleeza berjalan masuk kedalam kamarnya terlihat jelas foto pernikahan mereka yang terpajang diatas ranjang dengan ukuran yang sangat besar.
Aleeza menaruh tehnya diatas meja, dia mengira jika Albian masih dikamar mandi. Kakinya pun melangka keruang ganti. Seketika dia dekejutkan dengan Albian yang bertelanjang dada. Bukannya berteriak Aleez justru menangis melihat Albia.
Albian yang mendengar isak tangis Aleeza membuatnya terkejut.
"Aleeza, kamu kenapa menangis Aleeza..?"Tanya Albi yang panik mendekati Aleeza.
Aleeza semakin menangis..
"Hikks..Hiikks...Apa ini sakit...?"Tanya Aleeza yang menangis memegang bekas luka cambuk didada bidang sang suami.
Albi menatap tangan Aleeza yang mengelus luka didadanya. Dia menatap mata Aleeza yang terus mengeluarkan air mata begitu dalam.
Albi menggengam tangan Aleeza.
"Jangan menangis, ini tidak sakit kok. Buktinya aku baik-baik saja kan."Ucap Albi yang berusaha tersenyum.
"Jangan membohongiku, kenapa sampai berbekas jika ini tidak sakit..?"Ucap Aleeza mendongakan wajahnya menatap Albian.
"Ini tidak seberapa sayang, diandingkan dengan kamu, luka yang aku goresakan untukmu, 5 tahun tanpaku, pengorbananmu untuk putra dan putriku. Aku tidak akan bisa dan tidak mungkin bisa membalas semua itu, apa lagi menebusnya tidak akan bisa. Meski aku memberi nyawaku untukmu itu tidak akan bisa membayar semua luka dan pengorbananmu."Jelas Albian lirih menciumi tangan Aleeza.
Aleeza memeluk Albian, dia melihat dengan jelas luka-luka ditubuh Albian.
__ADS_1
5 tahun yang mereka lewati sungguh bukan waktu yang sebentar dan 5 tahun mereka hidup menderita, menderita membohongi hati dan perasaan mereka sendiri.