PERNIKAHAN TERSEMBUNYI

PERNIKAHAN TERSEMBUNYI
63. Lani Dan Kaif


__ADS_3

Setelah sarapan dan mandi dirumah sakit Nathan pun diantar pulang oleh Johan.


Kini Aleeza hanya berdua saja dengan Albian dirumah sakit.


Semenjak sakit Albian menjadi lebih manja kepada Aleeza. Dan Aleeza menuruti semua kemauan sang suami manjanya itu.


"Aleeza..."Panggil Albian dengan suara lemah.


"Aku laper Al, tapi aku mau makanan rumah sakit ini. Sungguh tidak enak." Ucap Albian


"Hmmmm, tarus kau ingin makanan apa bi..?"Tanya Aleeza.


"Ehmm, makanan lestoran atau masakan kamu gitu." Jawab Albian dengan wajah melasnya.


"Kalau mau masakanku, berarti aku harus pulang dulu. Dan kamu disini sendirian gimana..?"Ucap Aleeza.


Albian pun menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tidak..!!! Kamu disini saja. Jangan kemana-mana. Temani aku.."Ucap Albian sambil memegang tangan Aleeza.


"Huuufh....." Aleeza menghela nafas dengan kasar.


BRAAAKKKK...


Aleeza dan Alabian pun terkejut dan menoleh kearah pintu.


"PAAPAAA....!!"Teriak Nala kencang dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.


Mama Abel dan kakek Robin berjalan dibelakang sang cucu.


"Nala sayang...."Ucap Albian dengan senyum diwajahnya.


Nala kini duduk disamping sang papa.


"Sayang kenapa kamu tidak mengabari mama semalam jika Albian kecelakaan. Mama sangat terkejut saat kamu tidak ada dirumah dengan Nathan. Tapi mama makin terkejut saat Johan membertahukan jika Albian mengalami kecelakaan kerja."Ucap mama Abel kepada sang menantu.


"Maafin Aleeza mama, Al sangat panik semalam jadi Al lupa memberi tahu mama dan kakek." Jawab Aleeza yang merasa bersalah dengan sang mama.


"Mama jangan marah sama Aleeza, ini salah Albi yang tidak hati-hati. Membuat kalian menjadi khawatir dan cemas sama Albian."Ucap Albian membela sang istri.


"Mama tidak marah sama Aleeza, Mama malah khawatir sama Aleeza dan Nathan yang tiba-tiba tidak ada tadi pagi tadi."Ucap Mama Abel.


"Aleeza minta maaf ya mama, kakek..."Ucap Aleeza memohon maaf kepada sang mama dan kakek Johan.


"Sudahlah, tidak apa-apa sayang. Yang terpenting kamu baik-baik saja. Terima kasih sudah jaga anak nakal ini." Ucap Kakek Johan sambil mengelus kepala Aleeza.


"Terima kasih kakek..."Ucap Aleeza sambil tersenyum.


"Papa ini pasti sakit banget ya..? Papa kenapa bisa begini."Ucap Nala yang cemas.

__ADS_1


"Hmmmm..Tapi sudah tidak sakit lagi, karena sudah ada Nala disamping papa."Jawab Albian yang berusaha menghibur sang putri.


"Kapan papa bisa pulang kerumah lagi..?"Tanya Nala.


"Papa tidak tau sayang..."Jawab Albian seadanya. Dia memang tidak tau kapan dia diperbolehkan pulang.


"Sayang Nala...."Ucap Aleeza Mengelus rambut sang putri.


"Hmmmm..."Jawab Nala yang masih fokus dengan sang papa.


"Nala sudah melihat papa, dan papa juga baik-baik saja. Sekarang Nala haris kesekolah sayang."Ucap kakek Robin.


"Tapi opa, Nala masih ingin disini opa bersama dengan papa."Ucap Nala yang tak ingin lepas dari sang papa.


Nala sangat lengket dan sayang banget sama Albian. Dia tau Albian kecelakan membuat Nala sangat sedih dan menangis sepanjang perjalanannya.


"Sayang....Papa sudah ada mama yang jagain. Nala harus sekolah kakak Nathan dan Arsen juga kesekolah. Nanti sedari sekolah sayang bisa kesini lagi."Bujuk Aleeza secara halus dan lembut kepada sang putri.


"Baiklah, Nala akan kesekolah. Asal nanti Nala boleh kesini lagi."Ucap Nala.


"Iya sayang, tentu boleh kesini lagi." Jawab Aleeza.


"Ya sudah, kakek antar Nala kesekolah dulu ya." Ucap sanga kakek Robin.


"Terima kasih kek, maaf jika merepotkan kakek." Ucap Aleeza.


"Tidak kok Al, Kakek juga harus keperusahaan."Jawab kakek Robin.


"Ya sudah, ini sudah ada mama. Aku keluar cari makanan dulu ya." Ucap Aleeza kepada sang suami.


" Hmmm, Tapi jangan lama-lama ya Al."Ucap Albian yang sejujurnya tidak ingin Aleeza tinggal walau hanya sebentar saja.


"Iya, tidak akan lama kok."Jawab Aleeza.


"Mama, Aleeza titip bayi besar yang satu ini ya mam. "Ucap Aleeza dengan nada suara mengejek sang suami. Sesekali dia pun melirik sang suami.


"Iya sayang, kamu harus hati-hati ya Al.."Ucap mama Abel sambil menahan tawannya.


"Hmm, iya mam."Ucap Aleeza.


Dia pun keluar dari kamar sang suami dan mencari makanan diluar untuk sang suami.


...****************...


DiAparteman Kaif.


"Aku ini model terkenal kenapa kau malah menjadikan ku babu." Ucap Lani kesal.


"Hah..!! Jika kau terkenal, aku pasti akan tau. Tapi aku saja tidak tau jika kau adalah model."Ucap Kaif sambil membenarkan dasinya.

__ADS_1


"Kau emangnya pengamat dunia model, bisa tau semua model terkenal didunia..?"Ucap Lani.


"Hmm, Aku tidak perlu repot-repot menjadi pengamat. Aku duduk santai saja mereka akan datang menghampiriku dengan sendirinya."Ucapa Kaif bangga dengan ketampannya sendiri.


"Cih...Mereka buta mau datang kepadamu. Om-om pedo sepertimu apa bagusnya, cuma mengandalkan uang dan kekeuasaan saja."Ucap Lani.


"Kau yang buta, tidak bisa melihat sebuah berlian yang ada didepan matamu."Balas Kaif.


"Haha, Berlian...? Kau terlalu memandang tinggi dirimu sendiri om-om tua."Ucap Lani yang memandang remeh Kaif.


Kaif yang mendengar ucapan Lani merasa sangat kesal dan emosi. Dia mengepalkan tangannya dengan kuat dan matanya menatap tajam ke arah Lani.


BRAAKK...


Kaif mendorong tubuh Lani hingga terhimpit ketembok.


"Kau mau apa Kaif...?"Tanya Lani yang mulai ketakutan.


Kaif mengdengatkan wajahnya kewajah Lani, hingga Lani bisa merasakan hembusan nafas Kaif.


"Aku mau membuktikan apa aku masih om-om tua yang ada dalam otak udangmu ini." Ucap Kaif sambil menunjuk kepala Lani.


Jantung Lani berdegup sangat kencang seperti seseorang yang sedang ikut lomba lari maraton saja. Wajahnya pun mulai memerah seperti kepiting rebus. Lani tidak berani menatap Kaif dia memejamkan matannya.


"Imut juga gadis kecil ini saat dia ketakutan seperti ini, Saat dia marah-marah seperti seekor singa, sedangkan saat ketakitan kau seperti seekor kelinci imut, dan manis."Batin Kaif.


Pandangan Kaif jatuh kepada bibir tipis yang merah merona tersebut perlahan-lahan Kaif mulai terhipnotis dengan bibir mungil Lani dan akhirnya...


CUP....


Bibir Kaif menempel dibibir Lani. Lani sangat terkejut mendapat serangan mendadak dari Kaif. Lani langsung membuka matanya, matanya membulat sempurna saat ada sesuatu yang kenyal menepel dibibir tipisnya.


Lani memukul-mukul dada bidang Kaif bahkan mendorong bada Kaif, namun apalah daya badan kekar itu tidak bergeser sedikitpun. Justri kini Kaif mengunci kedua tangan Lani dengan bibir yang masih menempel dibibir Lani.


Bukan sedekar ciuman biasa saja, tapi kini berubah menjadi ******* yang lembut.


Mmmpph.....Mmmphhh


Kaif terus ******* semakin dalam, dia bahkan menggit bibir Lani agar bisa menerobas masuk dan membeli lidah Lani. Dan Lani pun mulai tidak berontak dan terbuai dengan ciuman Kaif. Bahkan Lani mulai membalas ciuman Kaif, membuat Kaif senyum penuh kemenangan.


Drrtt....Drrtt...Drrrt....


"Sial!! Siapa sih ganggu waktuku saja, Awas jika buka sesuatu yang penting. Akan ku hilangkan kepalamu saat ini juga."Batin Kaif mengumpat tampa tahu siapa yang menghubunginya.


Melepaskan ciumannya.


Kaif mengambil ponsel didalam sakunya.


"Aleeza...."Gumam Kaif.

__ADS_1


Lani bisa bernafas lega saat Kaif sudah melepaskannya, tapi dia juga ada perasaan kecewa dihatinya saat tiba-tiba Kaif pergi begitu saja saat setelah dia menerima telpon. Yang tidak dia ketahui itu dari siapa.


"Ck...!! Habis manis sepah dibuang. Kenapa juga hati gw harus sakit melihatnya pergi begitu saja."Gumam Lani kesal menatap kepergian Kaif begitu saja.


__ADS_2