PERNIKAHAN TERSEMBUNYI

PERNIKAHAN TERSEMBUNYI
67. Kehidupan Albian


__ADS_3

Ting..Tong..


"Bi, kok ada yang bunyiin bel rumah kita..? Apa sudah banyak yang tau jika kita tinggal disini..?"Tanya Aleeza dengan wajah bingung.


"Hmmm, aku sudah memberitahu keluarga kita semua kok."Jawab Albian


"Ya sudah, kamu duduk aja, biar aku yang membuka pintunya."Ucap Aleeza.


"Ya sayang..."


Ceklek


Aleeza terkejut saat melihat siapa yang datang berkunjung kerumah barunya.


"Lani...Kak Kaif..."


"Kenapa terkejut begitu..? Kayak lihat setan saja." Ucap Kaif.


"Kau kenala sama Lani..?" Kaif tampak bingung dengan situasi saat ini, Kaif secara bergantian menatap keduannya.


"Kenal." Ucap Aleeza dan Lani secara bersamaan.


"Hah....!! Kok bisa, kenal dari mana..?" Kaif berusaha tenang dan menetralkan rasa keterkejutannya.


"Ayo masuk dulu kak, Lan.." Ucap Aleeza yang canggung.


Lani pun taklah canggung.


"Jadi Aleeza beneran adik dari Kaif, jadi dia anak orang kaya. Tapi kenapa selama ini dia tidak cerita apapun kepadaku."Batin Lani.


"Bagaimana keadaanmu Bi..?"Tanya Kaif.


"Sudah membaik kak." Jawab Albi dengan senyum manis dibibirnya.


"Aku buatin minum dulu ya.."Ucap Aleeza. Dan diapun segera pergi kedapur.


Dan didapur.


"Mama, diruang tamu ada siapa..?"Tanya Nala.


"Ada om Kaif dan tante Lani."Jawab Aleeza.


"Wahh..om Kaif dan tante Lani datang mama."Ucap Nala sangat senang mendengar om Kaif dan tante Lani datang.


Dia pun langsung berlari menuju ruang tamu yang diikuti oleh Aleeza dibelakang Nala.


"Tante..Om...." Teriak Nala.


"Kesayangan Om..." Kaif pun membawa Nala kepangkuannya.


"Dimana kakak Nathan sayang..?"Tanya Kaif sambil mengelus lembut wajah Nala.

__ADS_1


"Kakak lagi belajar dikamar sama Arsen om."Jawab Nala dengan wajah polosnya.


"Ini untuk Nala dan Kakak Nathan ya sayang." Ucap Lani sambil memberikan paper bagnya.


"Terima kasih tante.."Ucap Nala dengan senyum yang mengembang diwajahnya.


"Iya sama-sama."Ucap Lani.


"Ya ampun, kenapa Nala tidak cerita jika bertemu Lani. Ini benar-benar membuatku canggung."Batin Aleeza.


"Al apa tidak ada yang ingin kamu jelaskan kepadaku..?"Tanya Lani.


"Lan..maaf..." Kalimat pertama yang keluar dari bibir Aleeza.


Albian dan Kaif hanya memperhatikan keduanya.


"Ada apa sayang..? Apa kamu bertengkar dengan Lani..?" Tanya Albian.


"Tidak Bi, aku.."


Huuuuffh....


Aleeza tidak meneruskan ucapannya dia malah menghela napas secara kasar.


"Aleeza, kamu dan Lani..." Kaif saling memandangi keduanya.


"Tante Lani dan mama bersahabat om, jadi kenapa jika mama kenala sama tante." Ucap Nala yang tampak bingung dengam wajah sang mama dan sang tante.


"Sejak pertama kali Aleeza pindah kesini dulu Kak."Ucap Aleeza pelan.


"Dan jangan bilang dia tidak tau jika kau putri dari keluarga Ardana." Tebak Kaif dengan ragu-ragu.


Aleeza menjawab hanya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kenapa kamu menyembunyikan ini begitu lama dariku Al..? Apa kamu tidak percaya denganku..?" Tanya Lani.


"Bukan tidak percaya, aku lebih nyaman tanpa harus menyandang nama besar keluarga Ardana. Dan saat aku bersama denganmu aku bisa melepaskan nama besar keluargaku." Jelas Aleeza


"Apa Aleeza masih trauma..? Karena selama ini dia tidak memiliki teman yang benar-benar peduli dengannya, apa lagi sahabat. Ini pertama kali Aleeza punya sahabat. Dan itu ternyata Lani gadis bar-bar ini." Batin Kaif.


"Kenapa kamu tidak mau menyandang putri keluarga Ardana Al..? Kamu kaya, punya segala, malah memilih hidup susah selama 5 tahun, apa kamu beneran masih waras..? Harusnya kamu tinggal tiduran, menikmati hidup, dan berbelanja barang-barang brand ternama. Bukankah itu hidup impian semua orang.?"Ucap Lani dengan entengnya dan ekspresi wajah yang membuat orang ingin ketawa.


"Itu menurutmu saja, yang dikepalamu kan hanya ada uang, uang, dan uang."Ucap Kaif.


"Bukan menurutku saja, menurutmu juga begitu kan. Jika bukan uang kau tidak akan gila kerja."Jawab Lani.


Dan jawaban Lani membuat Kaif kehabisan kata-kata.


Aleeza hanya tersenyum melihat keduannya.


"Kakak...Lani, jangan pulang dulu ya, kita makan malam bersama."Ucap Aleeza.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan tinggal lebih lama disini. Aku juga kangen lama tidak berbincang denganmu Al."Ucap Lani.


Kaif hanya menganggukkan kepalanya sambil berjalan menggendong Nala menuju kamar twins dan di ikuti oleh Albian.


...***************...


3 bulan kemudian setelah pertemuan itu.


Kehidupan Albian perlahan-lahan mulai membaik. Hubungannya dengan Aleeza pun semakin hangat, tapi tidak dengan hubungannya dan sang putra. Seperti masih jalan ditempat, Nathan lebih dingin dari nya, lebih kerasa kepala darinya, dan Nathan lebih pintar dari sang papa. Bisa dibilang Nathan jauh lebih pintar dari anak seusianya.



Dan yang bisa membuatnya tersenyum sehangat itu hanya 2 orang saja, sang mama dan Nala yang bisa membuat Nathan berubah. Nathan sangat menyanyangi mama dan adiknya. Semenjak ia tahu, jika papanya memiliki anak dan tidak memperdulikan sang mama, Nathan semakin kecewa kepada sang papa. Meski Aleeza sudah menjelaskan beribu-ribu kali, Nathan tetap tidak mendengarkannya. Karena Luka dihatinya jauh lebih besar dan sakit.


5 Tahun hidup tanpa seorang ayah, 5 tahun menanggung hinaan, 5 tahun dia dipaksa keadaan untuk menjadi anak yang lebih dewasa dari usiannya, 5 tahun Nathan selalu menghibur Nala dengan kata-kata manis, agar Nala bisa tenang dan tersenyum, Dan 5 tahun itu pula Nathan menyembunyikan, kekecewaannya, sakit hatinya, benci, amarah, dan dendamnya.


Tapi sekarang Nathan masih berjuang dengan keadaannya, berjuang tidak membenci sang papa. Nathan sadar jika papa bodohnya mudah untuk dihasut, papa bodohnya juga menderita, tidak kalah lebih menderita dari pada dirinya. Tapi itu bukan alasan utama Nathan untuk bisa membuang semua rasa bencinya, rasa yang bergejolak selama 5 tahun yang dia alami, alasanya untuk bisa menerima papanya adalah Aleeza dan Nala.


Jika kedua orang yang terpenting ini bahagaia, maka sudah cukup baginya. Sifat dan sikap Nathan memang lebih cenderung sama seperti sang om yaitu KAIF mereka sangat sama persis, hobi, sifat, sikap, kedewaasaan, dan tanggung jawab. Melihat sifat Nathat sekarang seperti melihat Kaif kecil.


"Papa, Nala ingin mainan baru, boleh tidak pah..?" Tanya Nala yang sambil bersandar didada Nathan.


"Jangan beli barang yang tidak berguna, beli itu barang yang bisa buat kamu pintar sedikit."Ucap Nathan tiba-tiba.


"Mainan itu berguna tau, kamu saja yang sok jadii orang tua. Padahal usianya pun sama."Jawab Nala tak terima.


"Aku memang lebih tua darimu, jadi jangan membantah."Ucap Nathan lagi.


"Papa...Lihat kakak selalu ngatain aku, aku tidak mau seperti kakak."Rengekan Nala membuat Albian dan Aleeza tersenyum.


Merlihat perbedaan dari keduannya yang begitu jauh, padahal kembar tapi sikap dan sifatnya beda.


"Sudah...sudah jangan ribut sayang, Nala tidak usah seperti kakak cukup jadi diri sendiri saja." Ucap Aleeza sambil mengelus surai Nala.


Albian hanya bisa tersenyum melihat tingkah anak-anaknya. Dia bisa memahami perbedaan kedua anaknya itu.


"Dasar tukang ngadu." Guman Nathan.


"Ya mama.."Ucap Nala sambil memeluk sang mama.


"Mama, Nala kapan ya punya adek..? Nala ingin punya adek kayak teman Nala."Ucap Nala yang tiba-tiba mengadu perihal keinginannya.


Sontak membuat Aleeza menjadi malu tidak tau harus jawab apa.


"Ya nanti papa buatin adik" Ucap Albian sambil tersenyum penuh arti kepada sang istri, secara refleks Aleezapun membuang mukanya yang sudah memerah seperti kepiting rebus.


Nathan hanya menatap malas sang papa.


"Beneran ya papa.." Nala yang mendengar itu sangat senang dan berharap akan benar-benar memiliki adik.


"Iya sayang.."

__ADS_1


__ADS_2