
Masih dikediaman Kyle.
Tok..tok..tok.
"Masuk!!"
Ceklek...
"Tuan Albi, Anda dipanggil tuan besar untuk segera turun. Dan menemui tuan besar, diruang tamu." Ucap Jerry.
"Iya, aku akan segera turun. Memangnya ada apa Jer?" Tanya Albi.
"Ada Tuan Rama dan keluarga dibawah tuan."Jawab Jerry sopan dan menunduk kepala.
"Kakek Rama sekeluarga datang kemari? Kenapa kau tidak bilang sedari tadi Jer."Ucap Albi dengan nada sedikit meninggi.
"Maaf, tuan. Saya lupa tidak memberi tahu tuan."Jawab Jerry yang merasa bersala.
"Kau jaga Arsen. Aku akan turun kebawah."Ucap Albian.
"Pasti itu Aleeza, dia sudah pulang. Dan dia sekarang ada disini."Batin Albi sambil menuruni anak tangga dengam terburu-buru.
"Om Jerry.." Panggil Arsen
"Iya tuan muda.."Jawab Jerry.
"Siapa yang datang? Kenapa terburu-buru begitu?" Tanya Arsen.
"Oh ada keluarga Om Kai dibawah, Tuan muda."
"Om Kai..!! Berarti juga ada sikembar dong Om?"Tanya Arsen dengan wajah yang gembira.
"Iya Tuan muda." Jawab Jerry.
...****************...
Tak..tak..tak..
Semua orang melihat kearah asal suara langhan kaki. Seseorang yang tengah berdiri mematung yang tidak jauh dari ruang keluarga. Tatapan tajam yang langsung mengarah kepada Aleeza yang tengah duduk bersama Kaif. Namun wanita itu malah mengalihkan pandangnnya dari pria tersebut.
"PAPA....!!"Teriak Nala yang berlari memeluk kaki Albian.
Sontak membuat Aleeza terkejut dan menahan airmatanya.
Nathan yang semula duduk dipangkun sang Nenek. Tiba-tiba berlari kedalam pelukan Aleeza. Membuat Aleeza terkejut, dengan tingkah sang putra.
Albian hanya mematung mendengar seorang anak perempuan yang berlari menggilnya papa dan juga memeluk kakinya. Albi hanya saling bertukar pandang dengan sang mama dan kakeknya. Albi tidak tau harus apa dan bagaimana. Karena dia memang tidak tau apa-apa.
Mama Abel pun menghampiri Albi.
"Dia putrimu Bi, Anak kamu dengan Aleeza."Ucap mama Abel.
Albi sangat terkejut mendengar ucapan sang mama. Matanya pun mulai berkaca-kaca.
"Anak Albi sama Aleeza.."Ucap Albi dengan suara yang bergetar.
Sang mama hanya mengangguk. Albi menatap Aleeza berharap sebuah penjelasan bisa keluar dari bibir Aleeza. Namun Aleeza tidak melihatnya sama sekali.
Albi langsung mensejajarkan tubuhnya dengan Nala. Menatap lekat wajah Nala, Albi pun mengelus wajah mungil yang didepannya itu.
Nala menatap Albi dengan senyuaman manisnya.
Albi yang mendapat senyuman dari sang purtri mambuatnya tidak bisa menahan Air matanya.
Grep..
Albi memeluk Nala.
"Putri Papa yang cantik..Papa minta maaf ya sayang. Papa tidak perernah ada untuk kalian. Bahkan disaat kalian membutuhkan papa."Ucap Albi lirih.
"5 tahun aku tidak bisa menemukan mereka, 5 tahun mereka besar tanpa aku, 5 tahun kehidupan seperti apa yang mereka lewati aku tidak tau apapun tentang mereka."Batin Albian. Albi sungguh merasa sesak, sesak sekali. Hatinya seperti dihujani rubuan anak panah. Dia merasa menjadi suami sekalius orang tua yang gagal.
"Papa jangan nangis, siapa bilang papa tidak pernah ada untuk kami? Mama bilang papa selalu ada untuk kami, papa selalu ada dihati kami." Ucap Nala dengan wajah polos dan senyum imutnya.
__ADS_1
"Aleeza bilang begitu, Bagaimana bisa dia mengatakan itu? Dia mendidik anak kita sangat baik."Baik.
Sontak membuat semua orang kembali terharu dengan ucapan gadis kecil itu.
Albi melepaska pelukannya dan menggendong Nala.
"Iyakah? Mama bilang seperti itu..?"Tanya Albi.
"Iya papa, Nala tidak bohong. Jika papa tidak percaya tanya saja sama kakak Nathan."Jawab Nala.
"Papa percaya sama Nala, Karena Nala Anak yang baik."Ucap Albi.
"Kakak Nathan..." Panggil Nala.
Namun Nathan tidak menjawab panggilan Nala.
Nathan menyembunyikan wajahnya diperut Aleeza.
"Heyy!! Nathan. Sayang kamu kenapa..? Lihat itu ada papa. Apa kamu tidak ingin menyapa papamu?"Tanya Aleeza seraya mengelus kepala Natha. Aleeza merasa bajunya menjadi basah. Dia tau saat ini Nathan sedang menangis.
Nathan hanya menggelengkan kepala.
"Mama, apa Nathan marah dengan Albi ya ma?" Tanya Albi yang mulai takut jika Nathan membencinya.
"Kakak Nathan.."Panggil Nala.
"Papa turunin Nala"
"Iya sayang.."
Albipun menurunkan Nala. Dan Nala langsung berlari kepada Nathan.
Tampak jelas wajah Albi sangat pucat dia takut putranya membenci dirinya.
"Tenanglah Bi, mereka butuh waktu untuk menerimamu. Sayang." Ucap Mama Abel.
"Kakak Nathan kenapa menangis? Kakak tidak senang bertemu papa? Papa sudah ada disini kenapa kakak malah tidak mau menyapa papa..?"Ucap Nala yang berusaha membujuk Nathan.
...****************...
Semua orang menoleh keasal suara.
"Kakak Ganteng..."Jawab Nala.
"Nathan kenapa, Nala?" Tanya Arsen.
"Kakak tidak apa-apa."Jawab Nala tersenyum.
"Nathan mau pulang."Ucap Nathan dengan posisi yang masih sama.
Membuat Albi terkejut dan Albi pun berjalan mendekati Nathan. Albi pun mengelus punggu Nathan.
"Nathan.. Marah sama papa?"Tanya Albi lembut.
"Pulang ma.."Ucap Nathan lagi.
Aleeza tau betul jika Nathan masih belum bisa menerima Albi.
"Baiklah, mari kita pulang."Ucap Aleeza.
Arsen bingung dengan ucapan sang papa. Karena panggilan sang papa tadi kepada Nathan.
"Yah..Kok sudah mau pulang sih Kak. Sudah ketemu papa susah-susah, malah sekarang ngajak pulang."Ucap Nala yang kecewa dengan sikap Nathan.
"Nala..Sayang lain kali kita kan masih bisa main mesini lagi. Kasian Kakak Nathan nya sudah mau pulang."Ucap Kai.
"Huhh!! Nala masih mau sama papa, Om.."Ucap Nala dengan wajahnya yang mulai sendu.
Membuat Aleeza bingung harus bagimana.
"Nala mau menginap disini tah, tidur sama papa."Ucap Albi.
"Mau papa, tapi harus sama Kakak dan Mama." Jawab Nala.
__ADS_1
"Papa, kenapa Nala memanggil papa dengan sebutan papa juga."Tanya Arsen yang mulai penasaran.
"Karena Nala dan Nathan, Anak papamu juga." Ucap Kai.
"Kak.."Ucap Aleeza yang menatap Kai dengan kesal.
"Apa Aleeeza? memang benerkan Twins anak Albian."Ucap Kai.
"Beneran pa, Twins anak papa?"Tanya Arsen.
"Iya sayang, bukannya kau menginginkan adik sekarang Nala juga adikmu."Jawab Albi.
"Jadi Arsen sudah punya adik kayak Nathan ya pa..?"
"Iya sayang.."
"Gw gak mau keponakan gw bergaul sama anak dari wanita ular itu."Batin Kai.
"Ayo kita pulang, Ini juga sudah malam."Ucap Kai.
"Sini biar aku yang menggendong Nathan."Ucap Kaif.
"Iya Kak..."
Kaif menggending Nathan. Nathan benar-benar tidak mau melihat wajah Albian. Dia menyembunyiakan wajahnya dileher Kaif.
"Mama, Kakek.. Aleeza pamit pulang ya. Maaf atas sikap Nathan yang ma, Kek."Ucap Aleeza.
"Iya sayang, masalah Nathan mama bisa ngerti kok sayang."Jawab Mama Abel.
"Aleeza sering-sering bawa twins main kesini ya."Ucap kakek Robin.
"Iya Kek."Jawab Aleeza.
"Aleeza masih marah denganku. 5 tahun Al, tidak bisakah kau beri aku kesempatan 1x lagi. Aku sangat merindukanmu. Merindukan kebersaan kita." Batin Albian.
"Papa..Nala pulang dulu ya.."Ucap Nala.
"Iya sayang.."Ucap Albi.
Cup..
Cup..
Cup.
Albi menciumi setiap inci wajah Nala.
"Ayo Nala sayang.."Ucap Kai.
Kai pun menggendong Nala.
Malam ini tidak ada tegur sapa antara Albi dan Aleeza. Mama abel yang melihat hanya bisa berharap semoga hubungan sang putra segerah membaik dan bisa kembali seperti dulu.
"Taattaa, Papa.. Nene cantik..Opa...Kakak Ganteng. Nala pulang dulu."Ucap Nala sambil melambailan tangan mungilnya serta juga memebri kiss bye.
...****************...
Keluarga Ardana sudah pulang.
Diperjalanan pulang.
Nala tampak marah dengan Nathan.
"Mama..Nala mau tidur sama mama ya."Ucap Nala.
"Iya sayang.."
"Nathan mau tidur sama om Kaif ya."Ucap Nathan.
"Iya, boleh. Asal jangan ngompol."Ucap Kaif.
"Nathan tidak pernah ngompol kok om."Ucap Nathan yang tidak terima dengan ucapan Kaif
__ADS_1
"Pinter.."Ucap Kaif sambil mengacak-acak rambut Natha.