
"Aduh...panas sekali..."
Buah dadanya yang kencang terbungkus di dalam piyama pendek, gadis yang kepanasan itu tidak mengenakan pakaian dalam saat ini, bentuk tubuh dalamnya yang menonjol bahkan bisa terlihat melalui bajunya yang tipis.
Nirmala Putri membuka matanya dengan linglung, mengulurkan tangannya dengan malas, dan menekan saklar di samping tempat tidurnya berulang kali.
Kabel kipas listrik lama yang terpasang di colokan listrik memercikkan api, dan disertai dengan bau terbakar, kipas listrik itu benar-benar telah rusak.
Listrik di seluruh blok perumahan padam, sekarang bukan hanya ruangan di dalam rumahnya saja yang gelap, di luar juga gelap gulita.
Mati lampu lagi! Nirmala berkeringat deras, rok tipisnya yang basah karena keringat menempel di kulitnya, membuatnya merasa sedikit tidak nyaman.
Jendela dan pintu rumah kontrakan tertutup rapat, cuaca malam ini terasa sangat panas dan pengap.
“Benar-benar menjengkelkan! Mati lampu di malam yang begini panas!” Nirmala sambil mengeluh dan bangun dari ranjangnya, berjalan terhuyung-huyung ke pintu kaca geser balkon dan mengulurkan tangannya untuk membuka tirai jendela.
"Srrrr", dia menarik tirai jendela yang tebal itu, kemudian membuka pintu untuk membuat sirkulasi udara. Tiba-tiba, sebuah sosok hitam yang tinggi muncul di hadapannya.
Aneh? ! Nirmala tercengang.
Tepat ketika pikirannya terhenti sejenak, bayangan gelap itu telah menyelimutinya. Bayangan gelap itu berjalan terhuyung-huyung memasuki ruangan, dalam sesaat sebuah tangan besar sudah muncul di hadapannya. Hidung dan mulut Nirmala dibekap oleh tangan besar itu, dia sama sekali tidak bisa mengeluarkan suara.
Tercium bau darah yang amis...
Sentuhan dingin dari tangan besar itu membuatnya bergidik, Nirmala menahan napas dan tidak berani bertindak gegabah.
"Jangan berteriak, naik ke ranjang!"
Tubuh Nirmala yang ketakutan tidak bisa bergerak sama sekali. Pria di belakang itu sudah kehilangan kesabarannya, dia mendesak dengan suara rendah: "Cepat!"
__ADS_1
Nirmala mengangguk, dia tidak berani menentang niat gangster di belakangnya itu karena takut membuatnya marah. Kemudian dia kembali bereaksi, tetapi kakinya seperti menempel ke tanah, tidak bisa bergerak sama sekali.
Melihat kondisi ini, pria itu mengutuk, dan segera menyeret dan melemparkannya ke ranjang dengan kasar.
Ranjangnya sangat keras, Nirmala merasa tulang rusuknya seperti akan patah. Saat dia akan mengulurkan tangannya untuk menyentuh bagian tubuhnya yang sakit dan hendak menangis. Detik berikutnya, tubuh yang dingin sudah menindihnya dari atas.
Nirmala segera menahan napas.
"Apa yang kamu..."
Sebelum dia bisa menyelesaikan kata-katanya, bibir pria yang terasa panas telah membungkus kedua bibirnya, membuatnya menelan kembali kata-katanya.
Pada saat ini, Nirmala benar-benar ketakutan, sepertinya pria ini bukan datang untuk merampok uang, tetapi ingin...
Tetapi ini adalah ciuman pertamanya!
Memikirkan hal tersebut, Nirmala tidak bisa lagi menahan diri untuk tetap tenang, kepalan tangannya terus memukul dada pria itu, kakinya meronta di bawah tubuh pria itu, hatinya meraung dengan kuat supaya pria itu melepaskannya, tetapi yang keluar dari mulutnya hanya suara gumaman.
Genggaman telapak tangannya sangat kuat, Nirmala sama sekali tidak bisa bergerak. Pria itu menghisap bibirnya dengan paksa dan memerintahkan: "Sudah aku katakan, jangan bergerak. Kalau tidak, kamu harus menanggung resikonya sendiri!"
Resiko?
Nirmala tidak peduli dengan resikonya.
Ciuman pertamanya telah dirampas, itu adalah resiko terburuknya. Hal itu membuatnya semakin meronta.
Terdengar suara langkah kaki dari luar rumah. Dengan pendengarannya yang tajam, pria itu dapat mendengar bahwa itu adalah langkah kaki lima orang. Sekarang perutnya terluka. Jika dia ditemukan oleh sekelompok orang ini, tidak hanya dia yang akan mati, kemungkinan besar semua nyawa rekan seperjuangannya juga akan hilang.
Demi menyelamatkan nyawa rekan-rekan seperjuangannya, dia hanya bisa mengorbankan gadis ini.
__ADS_1
Namun, Nirmala tidak mengerti makna yang tersirat dari mata pria itu, dia juga tidak bisa mendengar langkah kaki yang mendekat di luar pintu. Dia hanya berjuang mati-matian, gigi taringnya yang tajam menggigit bibir pria itu.
Pria itu mendesis, dan dengan lembut menjauhkan bibirnya, Nirmala segera bernafas seperti ikan yang kehilangan oksigen.
Masih belum sempat berteriak meminta tolong, detik berikutnya, pria itu berkata dengan penuh makna: "Maaf, ini akan sedikit menyakitkan." Setelah itu, sebuah telapak tangan besar yang agak kasar meluncur masuk di antara kedua kakinya yang berkeringat itu, dan terasa sebuah sentuhan yang terasa dingin. Terjadi sebuah kontras yang sangat tajam diantara sentuhan dingin tersebut dengan suhu tubuhnya yang panas, Nirmala melebarkan kelopak matanya, kedua bola matanya bergetar.
Di dalam udara yang panas dan membuat gerah itu, terdengar suara desahan dari dalam ruangan.
Suara teriakan minta tolong dari mulut Nirmala langsung berubah menjadi: "Ahhhhhhh."
Sakit, sakit.
Pria itu menatap ekspresi wajah Nirmala yang kesakitan, dia mengurangi gerakannya dan menutupi mulut Nirmala. Dia berkata dengan suara serak, "Aku akan bertanggung jawab terhadapmu." Dia memegang pinggang Nirmala dengan satu tangan dan melanjutkan gerakannya.
Orang-orang di luar rumah berjalan ke pintu pada saat ini, mendengar suara desahan dari dalam rumah, mereka menghentikan tangan mereka yang akan masuk dengan mendorong pintu, suara desahan wanita yang semakin kuat membuat mereka merasa ragu, memikirkan bahwa pria yang terluka parah tidak mungkin dapat melakukan hal semacam ini, mereka pun pergi untuk mencari di tempat lain.
Pria itu kembali rileks setelah orang di luar sana pergi, dengan setengah memejamkan matanya, dia tidak menghentikan gerakannya. Dalam kegelapan, melihat rambut Nirmala yang terurai di atas bantal, membuat hatinya tersentuh. Ini adalah kali pertamanya dia merasakan perasaan yang begitu indah dalam hidupnya!
Nirmala tahu bahwa sudah tidak ada gunanya dia meronta.
Dirinya sudah kotor, benar-benar sudah kotor, keperawanannya ternyata diberikan kepada seorang pria yang pertama kali dia temui.
Nirmala menangis kesakitan, air matanya seperti air mendidih dan membasahi bantalnya.
Cahaya bulan di luar rumah menggambarkan punggung pria itu, dengan air mata berlinang, Nirmala hanya bisa melihat bentuk wajah dan bibir pria tersebut.
Beberapa tetes keringat yang menetes dari rahang kokoh pria tersebut ke perut kecilnya terasa panas bagaikan magma.
Tepat ketika dia sudah menyesuaikan diri di dalam kegelapan dan akhirnya akan melihat wajah pria itu dengan jelas, pria itu tiba-tiba menambah kekuatannya, dan membuat Nirmala pelan-pelan kehilangan kesadarannya.
__ADS_1
Pria itu menundukkan kepalanya, melihat noda darah di ranjang, mencium air mata dari sudut mata Nirmala dengan penuh kasih sayang, dan kemudian menggantungkan sesuatu ke lehernya, kemudian berkata dengan nada yang penuh makna: "Kedepannya, aku akan menikahimu."