Pria Yang Merenggut Mahkotaku

Pria Yang Merenggut Mahkotaku
Tidak Boleh Disamakan


__ADS_3

 Keluarga harusnya menjadi sebuah tempat yang hangat.


Tetapi bagi Nirmala, tidak ada kehangatan di keluarganya.


Melihat Nirmala pulang dari kota Surabaya dengan sebuah koper, Ibunya bukan hanya tidak peduli padanya, tetapi malah mencibir: "Dengan ijazahmu itu kamu masih ingin hidup di kota besar? Benar-benar tidak tahu diri!"


“Bu, aku belum lulus, aku belum memiliki ijazah, jadi sulit mencari pekerjaan!” balas Nirmala.


Ibunya masih tetap menghina: "Aku rasa kamu berhenti sekolah di tahun kedua saja. Hanya membuang-buang uang saja, bahkan jika kamu mendapatkan ijazah, itu hanya ijazah diploma, perusahaan di kota besar mana yang akan menerimamu?"


Perkataan Ibunya sangat menyayat hati. Nirmala tidak ingin berbicara dengan Ibunya lagi, membawa koper, berpura-pura tuli dan naik ke lantai atas.


Dia tahu bahwa dia seharusnya tidak kembali ke rumah!


"Apa yang kamu sombongkan? Kamu tidak sebaik Mega! Dan, jangan berharap aku dan Ayahmu membayar uang sekolahmu lagi!"


Ibunya terus menyerang Nirmala dari belakang dengan kata-katanya yang pedas.


Siapa Mega? Dia adalah sepupu Nirmala, dan juga merupakan putri dari keluarga kaya. Dia sangat di sukai ibu Nirmala. Bahkan Nirmala memiliki ilusi bahwa Mega adalah anak kandung Ibunya, sedangkan dirinya sendiri adalah anak pungutan.


Nirmala menutup pintu dengan keras, meneteskan air mata dengan penuh kesedihan, bahkan dia tidak ingin keluar untuk makan malam.


Di luar pintu, masih dapat terdengar Ibunya mengomel kepada Ayahnya: "Nirmala, kamu gadis tengik ini benar-benar tidak berguna! Coba lihat Mega, kuliah di universitas terkenal di luar negeri. Setiap semester dia mendapatkan beasiswa! Betapa glamor dirinya! Gadis tengik ini sama sekali tidak ada setengah kemampuan dari Mega!"


"Nirmala di sekolah juga memperoleh beasiswa setiap semester! Jadi, istriku, jangan katakan lagi. Lagi pula, Mega adalah sepupu Nirmala. Kakakmu menikah pada keluarga yang lebih baik darimu, dan ekonomi keluarganya juga lebih baik. Jadi bagaimana boleh membandingkan kedua anak itu?" Ayahnya sedikit tidak sabar.

__ADS_1


Tetapi Ibunya dengan penuh semangat melanjutkan: "Mengapa  tidak boleh dibandingkan? Beasiswa universitas kelas rendahan mana bisa dibandingkan dengan beasiswa universitas berkelas? Coba kamu jelaskan padaku, mereka berdua tidak hanya lahir di tahun, bulan, dan hari yang sama. Tetapi juga lahir di ruang bersalin yang sama, mengapa ada perbedaan yang begitu besar?"


Tapi perbedaan besar itu juga normal, bagaimanapun, Nirmala ini bukan...


"Istriku, sebenarnya, Nirmala bukan..."


Ayah Nirmala menyela pembicaraan istrinya.


Ibu Nirmala sangat sensitif dan merasa terkejut, apakah suaminya juga tahu tentang masalah Nirmala?


Ayah Nirmala segera beralih ke topik lain dan berkata dengan sedih: "Sebenarnya nilai Nirmala tidak buruk, tetapi pada tahun ujian masuk perguruan tinggi, demi merawatku dan membayar biaya rumah sakit, dia bekerja paruh waktu dan tidak fokus dalam belajar, makanya dia gagal masuk perguruan tinggi terkenal!”


Ibu Nirmala baru menghela nafas lega setelah mendengar perkataan suaminya, dan menjawab dengan tidak setuju: "Memang kewajibannya untuk merawatmu! Kalau tidak, aku benar-benar sia-sia telah membesarkannya selama 18 tahun!"


Selama beberapa hari tinggal di rumah, Nirmala terus-menerus menerima penghinaan dari Ibunya.


Betapapun rajinnya dia di rumah, mencuci pakaian dan memasak, serta membantu mengurus apotek di rumah, Ibunya selalu tidak puas terhadap dirinya.


Saat makan malam hari itu, Ibu Nirmala tiba-tiba mengungkit masalah Safira.


“Nirmala! Aku ingat Safira dan kamu adalah teman sekelas di perguruan tinggi bukan?!” Ibu Nirmala berkata dengan memasukkan sayur ke mulutnya, “Kudengar Safira mendapatkan seorang pacar yang sangat kaya di kota Surabaya.” Pacarnya memberinya uang saku sebanyak ratusan juta setiap bulannya! Sekarang, Safira tidak hanya membeli rumah tiga lantai dengan bagian luar rumah untuk kakek-neneknya, tetapi juga membangun villa empat lantai di desa kita. Aku mendengar bahwa ada kebun bunga di depan dan kolam serta kebun sayur di belakang villanya!"


Mata Nirmala memerah karena merasa kagum.


Nirmala tertegun saat makan, sepertinya dia teringat sesuatu, tapi kemudian dia melanjutkan makan seolah-olah tidak ada sesuatu yang terjadi.

__ADS_1


Dia tahu bahwa Safira memiliki tunangan dan akan menikah, tetapi dia tidak menyangka tunangan Safira begitu kaya, sampai memberi Safira uang saku ratusan juta setiap bulannya.


"Aku bilang padamu Nirmala! Kecantikanmu tidak kalah dengan Safira, tapi mengapa kamu tidak pandai memilih pasangan? Apa bagusnya si Hendra itu? Apa karena dia satu-satunya sarjana di desa kita yang kuliah di Universitas di kota Surabaya? Keluarganya sangat miskin, uang kuliahnya itu berasal dari sumbangan orang-orang desa. Sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan pacar Safira. Aku benar-benar tidak tahu apa yang membuatmu jatuh cinta pada si Hendra itu, dan kamu masih berpikiran untuk menikahinya setelah lulus, membantunya merawat orang tuanya dan kakek-neneknya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu!" Ibu Nirmala mulai mengomel lagi.


Begitu mendengar nama Hendra, Nirmala tiba-tiba kesal dan meletakkan piring ke atas meja dengan kuat, mengejutkan Ayah dan Ibunya.


“Aku telah putus dengannya, sekarang kamu puas?!” Nirmala berteriak dengan air mata di matanya karena sedih.


Amarah Ibunya tiba-tiba naik dan memarahinya: "Kau gadis tengik! Meraung apa kamu? Tidak ada sopan santun sama sekali! Kamu putus dengan pacarmu, apa hubungannya denganku? Berani sekali kamu meraung di depanku?"


“Istriku, sudahlah, jangan katakan lagi!” Ayahnya menghela nafas dan membujuk.


Sebenarnya, dibandingkan dengan keluarga Hendra, keluarga Nirmala tidak jauh lebih baik.


Ibunya menjalankan bisnis apotek di lantai satu yang luasnya hanya puluhan meter persegi saja. Kaki Ayahnya tidak kuat, jadi hanya bisa duduk di depan meja konter untuk menjadi kasir.


Selain itu, karena penyakit kaki Ayahnya, keluarganya memiliki hutang pada beberapa kerabat dan teman dekat mereka.


Sedangkan kakaknya...


Meskipun bekerja di luar, tapi masih harus mengambil uang dari rumah setiap bulannya.


Setelah berbicara sampai di sini, Ibunya kembali tenang, dan nada suaranya sedikit mengecil. Kemudian melirik Nirmala dan berkata: "Bukankah kamu berteman baik dengan Safira? Pergi dan berbicara padanya, biarkan dia membantu membayar uang sekolahmu agar kamu bisa menyelesaikan kuliah."


“Bu, apa yang kamu bicarakan?” Nirmala langsung merasa kesal.

__ADS_1


__ADS_2