Pria Yang Merenggut Mahkotaku

Pria Yang Merenggut Mahkotaku
Kau Adalah Wanitaku


__ADS_3

Liam menekan amarah di hati dan berjalan ke pintu dengan Nirmala di pelukannya.


Sebelum Nirmala datang, dia sudah bilang pada Yanti untuk pindah ke hotel lain.


Dia tidak menyangka Yanti tidak mendengarkan perintahnya dan malah pindah ke kamar sebelah.


“Lukas tidak datang?” tanya Nirmala penasaran begitu memasuki ruangan.


Liam tertegun sejenak sebelum menjawab: "Ada kerjaan lain di perusahaan yang perlu dia kerjakan, jadi kali ini dia tidak ikut denganku, aku hanya membawa seorang sekretaris dan dua asisten untuk membantuku."


Sebenarnya, bisnis yang dia kerjakan tidak berkaitan dengan Grup Pamungkas.


Lukas adalah karyawan Grup Pamungkas, meskipun Lukas selalu bekerja di sisinya, dia tetap adalah karyawan di sana.


Meskipun Liam selalu menganggap Lukas sebagai sahabat baik, dia tahu dengan jelas Lukas bekerja untuk siapa.


Lukas tidak tahu bahwa Liam dan Yanti membuka perusahaan sendiri.


Oleh karena itu, pekerjaan Liam kali ini bersifat pribadi.


Setelah memasuki ruangan, Nirmala melihat bahwa meja di ruang tamu ditutupi dengan dokumen, ada banyak pakaian yang tidak dicuci di pintu kamar mandi, jadi dia berinisiatif untuk mencuci pakaian Liam terlebih dahulu.


Bisa dikatakan Nirmala memang ibu rumah tangga yang baik bagi Liam.


Dan pekerjaan rumah seperti ini sama sekali tidak bisa dilakukan oleh Yanti.

__ADS_1


Setelah mencuci pakaian, dia menjemurnya di balkon. Belum sempat berbalik, tiba-tiba terasa pelukan hangat dari belakang.


Liam memeluk Nirmala, lalu mengangkat sebuah kotak hadiah besar berwarna pink.


Nirmala terkejut dan bertanya dengan rasa ingin tahu, "Apa ini?"


“Ayo dibuka,” kata Liam lembut.


Nirmala mengangguk, mengangkat tangan dan melepas tutup kotak hadiah.


Di dalamnya adalah sebuah gaun pink halus merek luar negeri dan terlihat sangat mahal.


Liam mengeluarkan gaun itu, menunduk dan berbisik dengan lembut, "Pakailah untukku."


Nafasnya yang hangat menyembur ke daun telinganya, terasa sedikit gatal dan sedikit membuat jantungnya berdegup kencang.


"Aku akan membantu menggantinya..." kata Liam lembut, meletakkan kotak hadiah, meraih tangan Nirmala dan membawanya ke kamar.


Nirmala menatap wajah tampan Liam, detak jantungnya semakin kencang, seluruh wajahnya pun memerah.


Liam tersenyum penuh pengertian, mengangkat tangan dan mengulurkan ke leher Nirmala.


Ujung jarinya secara tidak sengaja menyentuh kulitnya.


Nirmala mengangkat matanya dengan malu-malu dan melirik Liam, tapi sekilas malah wajah tampan Oliver yang muncul di benaknya.

__ADS_1


Oliver mengikat tangannya, menutup mulutnya dan mencium seluruh tubuhnya.


Perasaan itu membuat sekujur tubuhnya mati rasa dan merinding.


“Aku ganti sendiri saja!” Nirmala mundur selangkah secara refleks.


Melihat Nirmala menghindar, Liam mengira dia malu. Liam pun memegang pipi Nirmala yang sedikit panas dan tidak bisa menahan tawa, "Nirmala, kamu adalah wanitaku."


Nirmala tertegun, mengangkat matanya dan bertemu dengan tatapan Liam.


Begitu saling memandang, suasana di antara keduanya perlahan menjadi ambigu.


Tatapannya hangat dan lembut bagaikan angin musim semi.


Liam sedikit menundukkan kepala dan perlahan mendekatkan bibirnya.


Setelah membuang semua pikiran yang mengganggu di hatinya, Nirmala menutup mata dan menantikan ciuman lembut dari Liam.


Tepat ketika keduanya saling mendekat, bel pintu tiba-tiba berbunyi.


Liam segera mencium dahi Nirmala dan berkata dengan lembut, "Aku akan membuka pintu, kamu ganti dulu."


Nirmala langsung membuka matanya, dia tersipu dan kemudian membawa gaun ke kamar tidur.


Setelah memperhatikan Nirmala berjalan ke kamar tidur dan menutup pintu kamar, senyumannya pun memudar. Dia sedikit mengernyit dan berjalan untuk membuka pintu. Tanpa perlu melihat, dia sudah tahu siapa yang membunyikan bel pintu.

__ADS_1


Ternyata benar, yang datang adalah Yanti. Yanti membawa sekantong besar buah-buahan, sekantong besar makanan dan minuman, kemudian langsung masuk ke dalam ruangan tanpa persetujuan Liam.


Dia tersenyum dan berkata, "Pak Liam, aku membeli banyak makanan dan ingin membagikannya dengan Nyonya."


__ADS_2