Pria Yang Merenggut Mahkotaku

Pria Yang Merenggut Mahkotaku
Menantikan Kedatangan Nirmala


__ADS_3

Alangkah senangnya Safira ketika memikirkan hal ini.


Nirmala mengerutkan kening dan tidak mengatakan apa-apa.


Safira tahu diri, dan tidak berkata lagi, dia mengambil kunci mobil dari Oliver, dan membawa Nirmala pergi.


Oliver akhirnya menyadari bahwa karena kejadian ini, hubungan dia dengan Nirmala sudah mencapai titik terburuk.


Nirmala pasti mengira dia adalah pria kotor! Barusan dari tatapan mata Nirmala, Oliver dapat merasakan Nirmala merasa jijik padanya.


Tidak lama setelah Safira dan Nirmala pergi, Wilson pun kembali.


Melihat wajah Oliver yang jelek, Wilson berinisiatif membawa Oliver ke ke laboratoriumnya.


Oliver tidak bermaksud memberitahu Wilson tentang lukanya, tetapi sebagai dokter pribadinya, bagaimana mungkin Wilson tidak tahu.


Wilson membersihkan dan membalut ulang luka di paha Oliver. Setelah menemukan bahwa darah pada kasa lama berwarna hitam, ia mengambil darah kasa lama untuk melakukan tes.


Setelah beberapa saat...


"Bagaimana kamu bisa terkena racun 'Rumput Perangsang'?" Wilson bertanya dengan heran ketika dia melihat darah di tabung reaksi menjadi biru.


Oliver sedikit mengernyit dan tetap diam.


Wilson meletakkan tabung reaksi di rak, dan kemudian berkata: "Rumput Perangsang adalah tumbuhan beracun yang aku temukan di dua buku catatan medis nenek Nirmala. Rumput ini dikeringkan di bawah sinar matahari. Setelah digiling menjadi bubuk, dapat dibakar seperti kayu cendana. Asapnya tidak berwarna dan tidak berbau. Jika dihirup oleh mamalia jantan, akan merangsang keinginan untuk kawin. Jika darah tidak dikeluarkan tepat pada waktunya, pembuluh darah akan melebar, dan pecah. ****** pria yang terkena racun ini akan membunuh sel telur dalam tubuh wanita, sehingga mencapai efek kontrasepsi. Orang yang terkena racun ini darahnya akan menjadi hitam. Dan ketika darahnya diteteskan ke air garam, akan menjadi warna biru. Rumput ini bisa digunakan untuk santet."

__ADS_1


“Apa katamu?” Mata Oliver melebar karena terkejut.


Jika tumbuhan beracun ini ada di kedua buku catatan medis nenek Nirmala, berarti Nirmala seharusnya juga mengenalnya...


Berarti, Nirmala berhenti melawannya saat itu karena dia ingin menyelamatkannya!


Memikirkan hal ini, Oliver merasa beruntung, untungnya dia tidak berhasil menidurinya, jika tidak pasti akan merusak kesehatan tubuh Nirmala.


“Ini yang dipakai Nyonya Muda Besar untuk bersenang-senang denganmu?” Wilson mengangkat alisnya dan bertanya dengan cara bercanda.


Oliver tidak menjawab, juga tidak menyangkal.


Wilson mengerutkan kening, kemudian berkata dengan khawatir: "Sepertinya racun semacam ini telah memasuki pasar. Apakah kamu tidak ingin menyelidiki? Akan sangat merepotkan, jika ada orang yang kehilangan nyawa gara-gara racun semacam ini."


“Baik, aku sudah tahu.” Oliver berkata sambil memikirkan sesuatu.


Tapi, ini juga mungkin hanya kebetulan.


Safira mengantar Nirmala ke stasiun kereta api.


Sebelum turun dari mobil, Nirmala masih dengan sopan mengucapkan "terima kasih" kepada Safira, lalu menyeret kopernya ke stasiun.


Sebenarnya, saat ini Safira ingin sekali menginjak pedal gas dan menabrak Nirmala.


Di mata Safira, Nirmala hanya layak untuk pria macam Hendra, dia sama sekali tidak layak menikahi Liam, yang berasal dari keluarga Pamungkas.

__ADS_1


——————————


Tidak tahu lewat berapa lama, kereta akhirnya tiba di stasiun tujuan.


Nirmala menyeret koper, mengikuti kerumunan, dan turun dari kereta.


Ini adalah kota Malang, surga kuliner nusantara.


Liam memarkir mobil di sisi jalan, bersandar di bagian depan mobil dengan baju putih, menarik perhatian banyak wanita.


Begitu Nirmala berjalan keluar dari pintu kedatangan, tatapan Liam langsung tertuju padanya.


Setelah melihat Nirmala, Liam langsung tersenyum dan berjalan ke arahnya.


"Liam, aku sangat merindukanmu..." Nirmala mengingat hari-hari buruk tanpa Liam. Hidungnya terasa masam, air mata langsung memenuhi matanya.


Hanya dalam pelukannya, Nirmala baru bisa merasakan kedamaian dan kehangatan.


Liam memeluk Nirmala dengan penuh kasih. Ketika merasa tubuh Nirmala sedikit gemetaran, Liam segera mengangkat tangan dan memegang pipi Nirmala dengan lembut.


“Kok menangis sayang? Siapa yang menyakitimu?” Liam bertanya dengan lembut.


Nirmala menggelengkan kepala, menatap mata Liam, dan tersenyum: "Tidak ada yang menyakitiku, aku hanya merindukanmu!"


“Aku juga merindukanmu.” Liam menatap mata Nirmala dan menjawab dengan tulus, lalu mencium kening Nirmala, dan menghibur, “Apakah kamu lapar? Aku akan membawamu makan makanan terbaik di kota ini!”

__ADS_1


“Um, um!” Nirmala mengangguk senang.


__ADS_2