
Kasus Daniel pada malam itu tidak diberitakan sama sekali, hal ini benar-benar aneh dan mencurigakan.
Oliver berkata bahwa polisi pasti akan mengungkap pelakunya. Nirmala mengerti kenapa pihak kampus memblokir kejadian berdarah ini, tapi yang diinginkan Nirmala adalah hasilnya, apakah polisi sudah menangkap Hendra sehingga arwah Daniel bisa pergi dengan tenang.
Nirmala sudah tidak tahan karena menunggu terlalu lama sendirian di kediaman Pamungkas. Dia segera membawa ponsel dan dompet lalu keluar rumah.
Di pintu gerbang kampus, seperti biasanya masih ramai dengan orang yang lalu lalang, seakan-akan tidak terjadi apa pun di sana.
Hari ini adalah hari Jumat, Nirmala mengetuk pintu asrama tempat tinggal Daniel dan Hendra sebelumnya.
Mendengar suara ketuk pintu yang tiba-tiba, terdengar suara omelan yang kesal dari dalam, “Siapa! Pagi-pagi begini sudah ketuk pintu!”
“Ini aku, Nirmala!” teriak Nirmala.
Tidak lewat beberapa lama, pintu asrama pun terbuka. Orang yang membuka pintu adalah Aziel.
__ADS_1
Aziel terkejut ketika melihat Nirmala, Carlos juga ikut kemari dan bertanya dengan penasaran, “Nirmala, kenapa kamu datang ke sini?”
“Aku ... ”
“Jangan katakan kalau kamu datang mencari Hendra.” Aziel menyela kata-kata Nirmala.
Carlos menambahkan, “Nirmala, apakah kamu masih belum melupakan pria bajingan itu? Dia sudah tidak tinggal di sini.”
“Kalau begitu, di mana Daniel sekarang?” Nirmala bertanya dengan lemah. Dia merasa reaksi mereka terhadapnya terasa aneh.
Aziel berbicara sembarangan, Carlos pun segera menutup mulut Aziel, lalu berkata sambil tertawa, “Jangan dengarkan perkataan Aziel, Daniel hanya mengambil cuti dan pulang ke rumah.”
“Apakah kalian tidak tahu bahwa dia telah ....” Nirmala berhenti berkata, dari reaksi Aziel dan Carlos, dia merasa bahwa mereka berdua kemungkinan tidak tahu kejadian pada Daniel, maka dia pun segera mengubah topik pembicaraan, “Kenapa dia mengambil cuti?”
“Huh ... untuk masalah ini, biar kuberitahu padamu saja!” Aziel melepas tangan Carlos yang menutup mulutnya lalu berkata tak henti-henti, “Hari itu Daniel ulang tahun, kami minum banyak bir dan mabuk. Nomor ponselmu ganti setelah kamu putus dengan Hendra, jadi kami tidak bisa menghubungimu. Daniel mengungkit tentang dirimu pada hari itu, dia merasa Hendra benar-benar tidak tahu menghargaimu. Hendra yang mendengar perkataan Daniel pun merasa kesal dan membicarakan berbagai macam keburukanmu. Hendra mengatakan kalau kamu adalah wanita ******, putus kuliah, menipu mas kawin pria lain dan tidak jadi nikah. Daniel marah besar, lalu keduanya pun berkelahi, Hendra dipukuli hingga masuk rumah sakit. Setelah itu, Hendra mengandalkan kekasihnya yang memiliki latar belakang hebat pun melapor polisi dan menangkap Daniel. Orang tua Daniel membayar banyak uang dan akhirnya berhasil menebus Daniel keluar dari penjara, tapi kampus malah mengeluarkannya.”
__ADS_1
“Kapan terjadi hal seperti itu?” tanya Nirmala dengan suara tercekat.
Carlos segera menjawab, “Kira-kira sudah beberapa bulan yang lalu.”
Nirmala teringat, waktu itu adalah saat di mana dirinya sedang membayar utang orang tuanya.
Saat itu dia memang putus kuliah dan pergi kencan buta dengan banyak pria, tapi dirinya tidak seburuk yang dikatakan Hendra. Hendra sengaja memutar balikkan fakta dan merusak reputasinya, apa tujuannya?
Nirmala benar-benar tidak berani percaya, kenapa dirinya bisa menyukai pria bajingan seperti itu!
“Kami juga tidak percaya kalau Hendra adalah pria sebrengsek itu, setelah Daniel dikeluarkan dari kampus, kami sudah tidak berhubungan dengan Hendra lagi!” lanjut Carlos.
Aziel menambahkan, “Kami tidak ingin berteman dengan orang seperti dia! Sebenarnya hal itu hanyalah masalah kecil gara-gara mabuk. Daniel sendiri juga sudah meminta maaf pada Hendra dengan tulus dan membayar biaya rumah sakit serta biaya kuliah selama satu semester untuk Hendra. Tapi Hendra malah mendengar perkataan kekasihnya, mengambil laporan pemeriksaan kecacatan dari rumah sakit forensik lalu mengadukannya ke pengadilan dan meminta bayar ganti rugi dalam jumlah besar kepada orang tua Daniel. Hendra benar-benar brengsek!”
“Kurasa dia sudah gila demi mendapatkan uang!” Carlos memarahi.
__ADS_1