
Hanya satu panggilan telepon dari Oliver, suara sirene mobil polisi berbunyi di sepanjang jalan utama menuju rumah sakit pusat malam ini.
Mobil polisi membuka jalan untuk mobil mewah itu. Ada banyak aspek dari hal seperti itu yang dapat ditulis oleh media, dan bahkan dapat menjadi berita utama.
Ketika Oliver membuka pintu ruangan pribadi, Haris dengan cepat bangkit dari tempat duduknya dan bertanya dengan cemas, "Tuan Oliver, putriku..."
"Dia aman dan akan segera kembali. Tuan bisa menunggunya dengan sabar." kata Oliver dengan suara tenang. Dibandingkan dengan sikap dinginnya barusan, dia sedikit merasa kagum terhadap Ayah dan anak ini.
Bambang menyaksikan perubahan besar dalam sikap Tuan Muda Besarnya terhadap mereka berdua.
Hal apa yang dilakukan wanita itu? Apakah dengan “menghilang” yang membuat Tuan Muda Besarnya mengubah pandangan terhadapnya?
Setelah 1 jam berlalu……
Yanti kembali...
Haris selaku Ayah terkejut dan tercengang olehnya!
Saat Yanti muncul di ruangan pribadi, dia tampak lemas dan tidak berdaya.
Keringat di wajahnya membuat riasannya sedikit luntur, dan gaun ungu mahal di tubuhnya juga berlumuran darah.
Haris pulih dari kekhawatirannya, dan buru-buru melangkah maju. Bahkan lututnya secara tidak sengaja menabrak sudut kursi, dia pun mengabaikannya dan berjalan ke arah putrinya, lalu memegangi lengan putrinya dan bertanya dengan cemas, “Apa yang terjadi, nak......"
“Yah, aku baik-baik saja!” Yanti mengulurkan tangan untuk memegang tangan Ayahnya. Setelah menghibur Ayahnya, dia menatap Oliver dan melanjutkan perkataan dengan ekspresi bersalah, “Tuan Oliver, maafkan aku karena kelihatan tidak sopan."
__ADS_1
“Kemana kamu? Apa yang kamu lakukan, kenapa pergi begitu lama? Dan, ada apa dengan noda darah di gaunmu ini?” Haris bertanya dengan penasaran.
Yanti mengerutkan bibirnya, dia menatap Oliver yang duduk diam di sana, kemudian berkata dengan sopan, "Yah, aku baik-baik saja! Oh ya, Tuan Oliver, aku akan kembali dulu. Aku benar-benar tidak sopan dengan penampilanku sekarang."
Dibandingkan dengan panggilan "Kak Oliver", panggilannya saat ini jauh lebih sopan.
Dia adalah wanita yang sadar diri, dia dapat membaca maksud dari perkataan dan mimik wajah orang lain, juga tahu bagaimana cara mengambil tindakan.
Setelah Haris melirik putrinya dengan tidak berdaya, dia pun kembali ke tempat duduknya dan terus menemani Oliver.
Bagaimanapun, tamu VIP hari ini adalah orang kaya.
Meskipun Oliver masih tidak terlalu memperhatikan Yanti, tapi dibandingkan sebelumnya, saat ini suasana di ruangan terasa jauh lebih hangat, "Jurusan apa yang kamu pelajari?"
"Konstruksi, tapi yang dipelajari di luar negeri terlalu banyak dan kurang fokus." Meskipun yang dikatakan Yanti tidak jelas, tapi poin utamanya telah disampaikannya dengan jelas.
“Adikmu?!” Yanti mengedipkan matanya, menunjukkan ekspresi tersanjung.
Dia berpura-pura tidak tahu.
"Dia manajer utama di Royal Mars dan juga seorang arsitektur. Meskipun dia hanya punya pengalaman kerja 2 tahun, tapi kemampuan kerjanya sangat handal. Kamu dapat ikut dengannya, dan kamu pasti dapat mempelajari sesuatu! " jelas Oliver.
Yanti sangat senang, dia menghentakkan kaki dan bertepuk tangan seperti seorang gadis kecil, kemudian tersenyum manis dan berkata dengan suara lembut, "Makasih banyak, Kak Oliver!"
Oliver tidak lagi mengatakan apa-apa, dia berdiri dari kursi dan membungkuk dengan sopan, "Tuan Haris, terima kasih banyak atas jamuan malam ini, aku akan kembali dulu."
__ADS_1
“Aku akan mengantarmu!” Haris seketka tersenyum, dan dengan cepat bangkit dari kursi untuk mengantar Oliver.
Oliver mengangguk dan menolak dengan lembut, "Tidak perlu."
Setelah selesai berbicara, dia pun melangkah pergi diikuti oleh Bambang.
Yanti memperhatikan kepergian Oliver dengan senyum penuh makna tersirat.
Haris buru-buru berjalan ke sisi Yanti dan bertanya dengan tidak sabar, "Yan, ada apa denganmu?"
Yanti memandang Ayahnya dan mengangkat alisnya, "Aku sudah tahu jelas seperti apa Oliver sebelum datang ke sini."
“Apa hubungannya dengan penampilan memalukanmu sekarang?” Haris mengangkat tangannya dengan bingung, dan memegang jambang putih di depan telinganya dengan ekspresi bingung.
Yanti menatap Ayahnya sambil mendengus, lalu menjelaskan, "Aku sengaja mengatur seorang wanita hamil yang akan melahirkan dan seorang dokter kandungan untuk berpakaian sebagai tamu, dan juga beberapa pemeran tambahan untuk menunggu di hotel. Setelah menghitung waktu dengan cermat, dokter kandungan memberikan suntikan oksitosin kepada wanita hamil itu, kemudian aku, wanita hamil, dokter, dan pameran tambahan masuk ke toilet satu per satu dalam periode waktu yang sama. Karena aku pergi ke toilet begitu lama, Ayah pasti akan khawatir dan meneleponku. Aku sengaja tidak menjawab panggilan, dan Ayah pasti akan meminta bantuan Oliver. Oliver adalah pria yang cerdas, dia pasti akan pergi ke ruang pemantauan untuk melihat rekaman cctv.”
Apa yang dilihat Oliver dalam rekaman cctv adalah setelah seorang wanita keluar dari toilet, dia tiba-tiba berjongkok di lantai dengan wajah pucat. Orang-orang yang keluar dari toilet tidak berani membantu karena takut menimbulkan masalah.
Pada saat kritis, giliran dirinya keluar dari toilet.
Setelah dirinya keluar dari toilet dan melihat wanita hamil itu berjongkok di lantai dengan ekspresi menyakitkan, dia pun mengambil inisiatif untuk bertanya. Setelah mengetahui wanita hamil itu akan melahirkan, dia langsung mengeluarkan ponsel untuk menelepon dan meminta bantuan dari orang yang lewat sambil menemani wanita hamil itu.
Sampai saat dokter kandungan yang dia atur keluar dari toilet, dia langsung menghentikan dokter itu dan meminta bantuannya.
Yanti memastikan Oliver pasti akan terus melihat rekaman cctv, dan pada akhirnya Oliver akan melihat dirinya dan dokter kandungan itu membantu wanita hamil itu masuk ke mobil mewahnya dan meninggalkan hotel.
__ADS_1
Dalam pandangan Yanti, semua ini direncanakan dengan cermat olehnya, bahkan dengan hitungan waktunya.
Namun, di mata Oliver, semua ini adalah kebetulan, dan hampir tidak ada yang cacat dan mencurigakan. Setiap tindakannya menunjukkan bahwa dirinya membantu orang lain dengan antusias.