
“Aku memintamu untuk membantuku mencari tahu apa latar belakang 'Wilson'. Sudah dapat?” Yanto duduk di balik jeruji besi dengan tangan terlipat, dan bertanya dengan marah.
Yanti menggerakkan tangannya dan menjawab dengan suara marah, "Kamu saja tidak berhasil mencari tahu siapa dia sebenarnya. Kemana kamu menyuruhku memeriksanya? Selain itu, kamu lahir dan tumbuh dewasa di Bandung. Masa tidak mampu membereskan orang luar kota!"
Kakaknya dulunya adalah raja di klub malam mana pun. Selalu saja dirinya yang menggertak orang lain. Mengapa kali ini gilirannya digertak?
Banyak hal-hal buruk yang dilakukan Yanto di luar yang tidak berani diberitahu kepada keluarganya.
Jika dia memberitahu adiknya bahwa kali ini dia berkelahi dengan orang lain demi memperebutkan seorang wanita panggung di klub malam dan tidak menang, mau taruh di mana mukanya!?
“Ish! Jangan banyak bicara! Cepat pikirkan cara bersama Ayah untuk membebaskanku lebih awal! Aku tidak ingin ditahan di tempat kumuh ini selama 15 hari!” Yanto berkata kesal.
Yanti mengerucutkan bibirnya, berbalik dan pergi mencari kedua petugas polisi yang bertugas di sana. Dia diam-diam mengeluarkan dua bungkus rokok kelas atas dari tasnya dan memasukkannya ke laci meja kedua petugas polisi itu, berharap mereka akan menjaga Kakaknya dengan baik.
Namun, kedua petugas polisi itu sangat menaati peraturan, mereka mengeluarkan rokok tersebut dan mengembalikannya kepada Yanti.
“Nona Yanti, kamu kembali dulu! Keberadaan Anda di sini hanya akan mempengaruhi penanganan kasus kami!” bujuk salah satu anggota polisi itu.
Yanti tersenyum canggung, terpaksa memasukkan rokok kembali ke dalam tasnya, dan berjalan pergi dengan sepatu hak tingginya.
Setelah kembali ke rumah, Yanti mendengar Ayahnya mengeluh bahwa atasan kepolisian sama sekali tidak mau menerima hadiah yang ia berikan.
Karena atasan menolak untuk menerima hadiah, maka bawahan juga tidak berani menerimanya.
Hal ini memperjelas bahwa seseorang ingin Yanto tetap di penjara selama lebih dari 10 hari.
Yanti bingung, dan tidak bisa menebak latar belakang "Tuan Wilson" itu sama sekali. Mungkinkah dia putra seorang pejabat tinggi?!
Dia hanya bisa menebak seperti itu, jika tidak, dia merasa tidak ada siapa lagi yang bisa diprovokasi oleh Kakak tak bergunanya itu.
Tapi mereka tidak bisa membiarkan Yanto ditahan begitu saja di pusat penahanan. Lagi pula, masih banyak urusan resmi di Grup Panjaitan yang menunggu ditangani Kakaknya.
Setelah berpikir di dalam hati, akhirnya Yanti terpikir seseorang di kota Bandung ini yang mampu membebaskan Kakaknya dari pusat penahanan.
__ADS_1
Hari berikutnya.
Sebelum matahari terbit, Yanti sudah berdiri di dekat pintu kantor Oliver di Gedung Grup Pamungkas.
Liam melakukan perjalanan bisnis dengan Lukas beberapa hari ini. Karena Liam tampaknya masih tidak cukup percaya padanya, maka Liam tidak membawanya dalam perjalanan bisnis kali ini, dan ditinggal di Royal Mars.
Yanti memutuskan untuk memanfaatkan kesempatan ini untuk menjalin hubungan dengan Oliver.
Bergelut di antara dua bersaudara itu, dia benar-benar merasa kewalahan.
Kediaman Oliver sangat rahasia, dia menggunakan uang untuk meminta seseorang memeriksanya sepanjang malam, tetapi dia tidak menemukannya.
Untuk membuat dirinya kelihatan tak berdaya, Yanti hanya memakai riasan tipis hari ini, dia bahkan tidak memakai sepatu hak tinggi dan berjongkok di dekat pintu kantor Oliver.
Dia berharap triknya bisa bermanfaat!
Sebenarnya, dirinya kewalahan karena berjongkok terlalu lama dan kakinya mulai mati rasa.
Tepat ketika dia hampir tidak bisa bertahan, suara kedatangan lift memberinya harapan.
Ketika Yanti melihat Oliver berjalan ke arahnya bersama Bambang, dia segera berdiri, namun matanya terasa gelap seketika, membuatnya pusing, tidak dapat menemukan arah dan terhuyung-huyung.
Kakinya sendiri tidak lagi dikendalikan oleh otaknya, tapi dia masih mengambil kesempatan ini untuk secara sadar melemparkan tubuhnya ke Oliver.
Setelah jatuh ke tubuh pria di depannya itu, Yanti segera memeluknya, sambil berkata dengan sedih dan sedikit manja, "Kak Oliver, kamu harus menyelamatkan Kakakku yang tak berguna itu!"
“Nona Yanti, jika ada sesuatu, katakan baik-baik!” Sebuah suara pria yang berumur tiba-tiba terdengar di telinganya.
Yanti membuka matanya dengan seksama, saat melihat pria yang ia peluk adalah Bambang, wajahnya langsung pucat ketakutan.
Dari sudut matanya, dia melihat Oliver sedang membuka pintu kantor.
Yanti buru-buru mendorong Bambang, dan setelah berdiri stabil, dia memelototi Bambang dengan marah, dan segera berjalan mengikuti Oliver.
__ADS_1
"Kak Oliver, entah siapa yang Kakakku singgung. Dia sekarang berada di pusat penahanan untuk 15 hari! Perusahaan Ayahku tidak bisa menjalankan bisnisnya tanpa Kakakku! Kak Oliver, bisakah kamu membantuku?" Yanti berjalan dan berhenti di depan Oliver, mengulurkan tangannya, kemudian dengan lembut menggenggam manset jas Oliver, dan menggerak-gerakkannya dengan manja.
Dia menurunkan bibirnya, matanya menunduk sedih, dan mengendus, tampak kelihatan tak berdaya.
Oliver mengangkat tangannya, dan dengan mudah melepaskan tangan Yanti, dia duduk kembali di kursi bosnya, dan memerintahkan Bambang, yang baru saja masuk untuk "Memulangkan tamu".
Bambang mengangguk, melangkah maju, berjalan ke arah Yanti, dan menyapanya, "Nona Yanti, silakan sebelah sini!"
“Kak Oliver, tolong!” Yanti menggigit bibir bawahnya dan mencoba mengeluarkan air mata.
Melihat penampilan Yanti yang menyedihkan, Bambang merasa simpati dan menoleh untuk melirik Oliver.
Awalnya Yanti berpikir Oliver akan mengasihani dirinya. Bambang bahkan berpikir Oliver akan mengucapkan perkataan baik.
Alhasil……
Oliver memurungkan wajahnya dan berkata dengan dingin, "Keluar dari sini!"
Kata-katanya benar-benar mengejutkan Yanti.
Apakah dirinya tidak kelihatan seperti sedang menangis?
Atau apakah karena wajahnya tidak cukup sedih?
Ada apa dengan Oliver?
Apakah dia tidak tahu cara mengasihani wanita?
Hati Yanti penuh dengan keraguan dan kejengkelan, tapi dia tidak punya tempat untuk melampiaskan, dia hanya bisa menelan semuanya ke dalam perut.
Bambang sudah mengerti apa maksud dari Oliver, dia segera berkata tanpa ampun, "Nona Yanti, silakan kembali!"
Yanti merasa dirinya telah mencapai titik buntu, tapi dia tidak bisa pergi dengan tangan kosong, entah dari mana datangnya keberaniannya, dia langsung berjalan menuju jendela.
__ADS_1
Bambang ketakutan, dia bergegas memeluk Yanti dari belakang tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Tapi tangan Bambang malah memeluk tepat di dada Yanti.