
Pada detik berikutnya, pandangannya menjadi gelap.
Nirmala mengangkat tangannya dengan lemah, mencoba menyentuh pria yang dirindukannya, tetapi karena terlalu kelelahan, dia jatuh pingsan.
"Nirmala!"
Liam segera memeluk Nirmala, dan membawanya ke tempat tidur.
Dia benar-benar terlalu kelelahan, Liam bisa kembali dengan selamat, dia akhirnya merasa lega.
“Nirmala, maafkan aku.” Setelah meletakkan Nirmala di tempat tidur, Liam berbaring di samping tempat tidur, dan mencium dahi Nirmala.
Secara tidak sengaja, setelah melihat makanan yang tidak tersentuh di meja, Liam naik ke tempat tidur dan memeluk Nirmala ke dalam pelukannya dengan sedih.
Mengapa Nirmala begitu polos?
"Liam...aku sangat merindukanmu..." Nirmala bergumam setengah sadar selama beberapa saat.
Liam mendengar kata-katanya dengan jelas, membuatnya sedih dan memeluknya dengan erat. Nirmala rentan sama seperti dirinya sendiri.
Dagu Liam bersandar di atas kepala Nirmala sambil sedikit memejamkan matanya.
Akhirnya Nirmala sadarkan diri karena lapar, tapi Liam sudah tidak ada di sampingnya.
Nirmala tahu bahwa dia pasti pergi bekerja, tetapi yang mengejutkannya kali ini, semua makanan di atas meja habis dimakan seseorang.
Apakah Liam yang memakannya? Tapi makanan itu dibuat tadi malam!
Nirmala turun dari tempat tidur, berjalan ke meja makan, dan melihat pesan dari Liam.
Nirmala, masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan di perusahaan. Aku harus pergi bekerja dulu. Malam ini aku tidak makan malam di rumah. Namun, aku akan kembali sebelum jam dua belas. ——Liam.
"Ding dong-"
Begitu Nirmala selesai membaca pesan itu, bel pintu berbunyi. Nirmala berlari untuk membuka pintu, ternyata pesanan Gofood.
Tepat ketika Nirmala bertanya-tanya apakah orangnya salah antar, dia secara tidak sengaja melihat pesan di nota pemesanan, lalu berkata dengan manis kepada orang itu: "Terima kasih."
Liam sangat perhatian padanya, berpikir bahwa dia akan lapar ketika bangun, jadi dia langsung memesan makanan untuknya.
Makanan yang dipesan Liam adalah makanan kesukaannya.
Meskipun dia makan sendirian, Nirmala merasa sangat bahagia.
Setelah makan, Nirmala mulai beres-beres rumah seperti biasanya. Dia melihat ada pakaian yang diganti Liam di ember di bawah wastafel, karena kemejanya warna putih, dia berinisiatif untuk mengambil baskom dan mencucinya dengan tangan.
__ADS_1
Namun, Nirmala merasa aneh karena kemeja putih Liam sangat bersih, tidak seperti pernah dipakai, tidak hanya itu, masih ada bau parfum yang ringan di kemejanya.
Apakah Liam biasanya menggunakan parfum?
Nirmala tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya-tanya pada diri sendiri, tapi dia tidak berpikir ke arah lain sama sekali.
Dia tidak percaya Liam akan main wanita di luar. Karena kepercayaan adalah rasa hormat yang paling mendasar antara suami istri.
Setelah pulang kerja, Liam mengadakan perjamuan makan malam bersama. Dia sebagai Bos, memberi penghargaan kepada para karyawan yang selama ini telah bekerja keras dalam membuat dokumen penawaran. Perjalanan bisnis kali ini tidak hanya memenangkan proyek perluasan infrastruktur di kawasan Bandung Utara untuk Grup Pamungkas, tapi juga membuat namanya menjadi terkenal di kalangan designer.
Dia hanya bisa naik selangkah demi selangkah dengan cara ini, tidak seperti Kakaknya yang langsung berada di puncak piramida.
Liam tahu bahwa perbedaan antara dia dengan Kakaknya hanya satu, yaitu dilahirkan oleh ibu yang berbeda.
Mungkin, dia terlalu berpikiran sempit makanya berpikir demikian...
Saat jamuan berlangsung sesaat, Lukas yang juga hadir di acara makan malam bersama tiba-tiba berkata: "Bapak Manajer, mereka ingin pergi ke 'Klub Cinta' untuk bernyanyi."
“Kalau begitu pergilah! Aku akan mentraktir!” Liam tersenyum penuh pengertian, dan menjawab dengan murah hati.
Lukas sedikit terkejut, dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak jadi.
Dengan kondisi ekonomi Liam saat ini memang agak berat baginya untuk mentraktir karyawannya main di klub hiburan kelas atas seperti Klub Cinta.
Namun, pria selalu memiliki harga diri yang tinggi!
Semua orang dapat melihat bahwa Yanti menyukai Liam, hanya saja Yanti biasanya menangani hubungan dengan rekan kerja di perusahaan dengan baik, jadi semua orang tidak berkata apa-apa.
Setelah makan malam, Liam membayar tagihan di resepsionis hotel, Yanti berjalan mendekat dan menyerahkan kartu VIP "Klub Cinta" kepadanya.
Liam melirik Yanti, dia tidak mengambil kartunya, tapi Yanti memaksa memasukkan kartu itu ke tangannya.
“Kakakku member VIP di 'Klub Cinta', kebetulan malam ini dia mendapatkan penggunaan kamar KTV gratis sampai jam 12 malam.” Yanti menjelaskan sambil tersenyum, “Apa lagi, aku yang mendesak semua orang untuk pergi bernyanyi..."
Liam mengerutkan kening dan menerima kartu VIP yang diberikan Yanti.
Sejak kapan dia harus menggunakan cara seperti ini untuk menghemat uang?
Liam menertawakan dirinya sendiri, dia hanya bisa menerima kenyataan ini sekarang.
Ada belasan orang memasuki gerbang "Klub Cinta", lorong yang megah, sisi kanan lorong adalah pentas nyanyi, untuk menuju kamar KTV, harus melewati sini.
Tiba-tiba, suara nyanyian yang lembut masuk ke telinganya, suara yang familiar ini membuat Liam tertegun. Dia mengikuti arah datangnya suara dan melihat sosok putih yang cantik.
Mereka yang berjalan di sebelahnya, melihat Liam berhenti juga ikut berhenti. Pada saat ini, seorang rekan pria yang akrab dengan tempat ini mengikuti pandangan Liam, memperkenalkan sambil tersenyum: “Nama panggung wanita yang bernyanyi itu adalah 'Suzzana', karena suara nyanyiannya sangat manis, popularitasnya di sini sangat tinggi. Dengar-dengar kemarin ada dua pemuda kaya yang memperebutkannya.”
__ADS_1
Liam mengerutkan kening tanpa sadar.
Gadis di atas panggung itu mengenakan topeng berbulu putih, mengenakan gaun putih dan menyanyikan lagu bahasa Inggris dengan suara lembut.
Mungkin, orang lain tidak bisa mengetahui wajah asli gadis di atas panggung itu.
Namun, Liam bisa langsung mengetahui wajah aslinya.
Suzzana? Nama panggung?
Dia adalah Nirmala-nya!
Mengapa Nirmala bernyanyi di klub malam ini?
Meski hanya bernyanyi, tapi...
Liam menarik kembali pandangannya, wajahnya menjadi muram, kemudian terus berjalan ke depan dengan acuh tak acuh.
Melihat ekspresi wajah Liam barusan, Yanti dapat merasakan bahwa Liam sangat peduli dengan penyanyi wanita itu.
Seorang wanita yang bernyanyi dan menjual diri di klub malam, Liam pasti tidak akan menyukainya, pasti dirinya terlalu banyak berpikir!
Yanti meyakinkan dirinya.
Semua orang bernyanyi setelah memasuki kamar KTV, tetapi Liam malah duduk di sofa di sudut ruangan yang gelap dan sedang memikirkan urusannya sendiri.
Jika dugaannya benar, Nirmala pasti bekerja paruh waktu disini untuk melunasi hutangnya.
Pada siang hari, dia mendesain di sebuah perusahaan kecil, dan di malam hari dia bernyanyi di klub malam.
Apakah Nirmala begitu tidak percaya pada kemampuannya?
Apakah Nirmala merasa bahwa dirinya tidak mampu menghidupinya, dan memutuskan untuk bekerja di tempat seperti ini?
Semua jenis emosi bergejolak di hatinya, membuat Liam tiba-tiba merasa kesal.
Nirmala saat ini adalah satu-satunya dukungan spiritualnya, tetapi sekarang dia bahkan tidak percaya pada kemampuannya, jadi apa gunanya kerja kerasnya selama ini?
Mungkin, dia terlalu mendominan.
Sebenarnya, dia sama sekali tidak ingin Nirmala pergi bekerja.
Dia merasa bahwa dirinya adalah seorang pria, jadi dia harus menghasilkan uang untuk menghidupi keluarganya, dan wanita hanya perlu tinggal di rumah.
Melihat Liam sendirian di sudut, Yanti berjalan dengan membawa dua gelas bir dan duduk di sampingnya.
__ADS_1
“Liam, ayo minum!” Yanti berkata lembut, “Aku berharap kamu memiliki karir yang lebih baik di masa depan.”