Pria Yang Merenggut Mahkotaku

Pria Yang Merenggut Mahkotaku
Tentu Merindukanmu


__ADS_3

Setelah kembali dari menemani Nyonya Pamungkas, Safira melewati pintu halaman samping dan menemukan Oliver berdiri dan terdiam di depan kamar Nirmala.


Di kediaman Pamungkas, sebenarnya halaman samping ini sudah lama terlantar.


 Nirmala diatur untuk tinggal di kamar halaman yang terlantar ini karena Liam tidak disukai di keluarga ini.


Oliver yang biasanya tinggal di halaman besar sengaja pindah ke halaman yang terlantar ini untuk menemani Nirmala. Hal ini membuat Safira juga ikut terlibat dan terpaksa harus ikut pindah bersama Oliver untuk tinggal di sana.


Nirmala masih belum tidur, kamarnya masih terang benderang, lalu apa yang dilakukan Oliver di depan pintu kamar Nirmala?


Safira tidak dapat menahan diri dan berinisiatif untuk mengetuk pintu kamar, tetapi malah dihentikan oleh Oliver.


“Apa yang ingin kamu lakukan?” tanya Oliver dengan suara rendah.


Safira mengangkat dagunya lalu menjawab dengan suara lantang, “Oliver, cahaya rembulan di malam ini begitu menawan. Aku sudah bosan melakukan hal itu di ranjang, ruang tamu, maupun di dapur. Bagaimana kalau kita melakukannya di halaman kecil ini dengan ditemani cahaya rembulan?


“...” Wajah Oliver tiba-tiba menjadi muram.


Pada saat ini, lampu di kamar Nirmala sudah dimatikan.


Oliver menatap sekilas ke arah jendela, lalu menoleh dan melototi Safira.


Safira tertawa dengan penuh kemenangan.


Oliver tidak lagi menghiraukannya, berbalik dan masuk ke kamar.


Safira sengaja kembali mendesah, “Ah ...! Oliver, sakit ... pelan sedikit dong!” Kemudian, dia berjingkat dan masuk ke kamar.

__ADS_1


Sama seperti sebelumnya, mereka bertiga tinggal di tiga kamar yang berbeda di satu halaman yang sama.


Setelah di luar kamar kembali tenang, Nirmala baru mengeluarkan kepala dari selimutnya.


Hatinya sangat kacau dan sedih, jadi dia tidak ingin mendengar suara Safira.


Kamar yang gelap terasa sunyi saat ini, bahkan suara serangga di luar kamar pun telah menghilang, suasana seperti ini membuat pikirannya melayang jauh di dalam keheningan.


Nirmala melewati satu malam ini dalam kegelisahan.


Keesokan harinya.


Di kediaman Pamungkas, semua orang wajib ikut sarapan pagi bersama Tuan Besar Pamungkas.


Sebelum mulai sarapan, Tuan Besar Pamungkas menemukan bahwa Nirmala masih belum tiba, dia mengerutkan kening dan berkata, “Karena sudah tinggal di sini, maka semua orang harus mengikuti peraturan yang ada di sini juga.”


“Kakek, Nirmala sedang tidak enak badan. Aku sudah meminta pelayan untuk mengantar sarapan pagi ke kamarnya.” jawab Oliver dengan wajah serius sambil menegakkan badannya.


“...” Wajah Oliver menjadi muram dan memelototi Safira.


Nyonya Pamungkas tidak mendengar makna di balik perkataan Safira, dia hanya berkata, “Kalau Nirmala benar-benar hamil, tidak kuliah juga tidak masalah. Malahan kamu Safira, kamu juga harus berusaha memberikan cucu yang gemuk untuk keluarga Pamungkas.”


“Oliver bilang, kami akan punya anak setelah aku menyelesaikan kuliah.” ujar Safira dengan malu-malu.


Oliver hanya mendengar dengan sabar dan tidak memberikan penjelasan apa pun.


“Kalau begitu, carikan dokter untuk memeriksa Nirmala nanti.” Tuan Besar Pamungkas memerintahkan, lalu mulai memakan sarapannya.

__ADS_1


Safira sudah terbiasa dengan aturan keluarga Pamungkas. Meskipun dia selalu membuat masalah dan menentang di depan Oliver, dia tetap tidak berani berbuat seenaknya di depan Tuan Besar Pamungkas dan Nyonya Pamungkas.


Berbeda dengan Nirmala, Safira tahu untuk menyanjung kedua orang tua ini.


Namun, Safira juga mengerti akan sikap Nirmala. Hal ini karena Nirmala tidak mungkin bisa memperoleh warisan kediaman Pamungkas dan Grup Pamungkas.


Sebenarnya bagi Nirmala, orang tua di rumah bukan untuk disanjung, melainkan dihormati dengan sepenuh hati.


Pandangan Nirmala dan Safira berbeda, Nirmala sendiri sudah merasakannya sejak mereka masih bersahabat dulunya.


Di luar kamar, ada dua orang pelayan wanita sedang bergosip tentang kenapa Safira disukai oleh majikan mereka, sedangkan Nirmala begitu dibenci.


Nirmala yang mendengar perkataan ini, sama sekali tidak mengambil hati.


Pokoknya, dia dan Safira adalah dua orang yang berbeda. Dia tidak perlu mengambil hati atas apa yang digosipkan oleh pelayan rumah.


Semalam, Nirmala tidak terlalu makan dan tidak tidur sepanjang malam. Setelah terbangun di keesokan harinya, hari sudah menjelang siang.


Awalnya, Nirmala ingin keluar untuk menghirup udara segar, tapi baru saja berjalan ke depan pintu, dia langsung mendengar gosipan kedua pelayan wanita.


“Nyonya Muda Kedua benar-benar kalah jauh dari Nyonya Muda Besar!”


“Iya, benar!”


Suara kedua pelayan itu semakin menghilang. Untuk menghindari perasaan canggung, Nirmala membuka pintu setelah kedua pelayan itu sudah pergi jauh.


“Kluk kluk ... ” perut berbunyi.

__ADS_1


Nirmala memegang perutnya tanpa sadar, lalu kembali menutup pintu dan mencari makanan di kamar.


Pada saat ini, Oliver yang sudah menyelesaikan kesibukannya, dan masuk dari pintu halaman samping.


__ADS_2