Pria Yang Merenggut Mahkotaku

Pria Yang Merenggut Mahkotaku
Mengundurkan Diri Secara Paksa


__ADS_3

Sekarang, Siti sudah memiliki templatenya, jadi sudah tidak sulit baginya untuk merancang satu set gambar dekorasi untuk kantor direktur dengan menggunakan template tersebut.


Saat Siti berjalan keluar dari kantor Lili dengan gembira, Nirmala masih duduk di mejanya dengan linglung.


Rasain!


Siti menatap Nirmala dengan penuh kemenangan.


Surat pengunduran diri...


Nirmala tidak mungkin menulisnya!


Tiba-tiba, Nirmala berdiri dari kursinya dan berjalan cepat ke bilik Siti. Tanpa sepatah kata pun, dia langsung mengangkat tangannya dan menampar Siti.


“Nirmala, dasar wanita gila! Kenapa memukulku?” Siti berteriak sambil memegang wajahnya.


Nirmala menatap Siti dengan marah, dan berkata dengan suara tersendat-sendat: "Siti, hari ini kamu menjebakku, dan aku akan membuatmu menderita di masa depan!"


"Hah? Aku menjebakmu?! Nirmala, jangan tidak tahu diri ya jadi orang! Kamu yang menjiplak gambar desainku, buktinya sudah jelas. Tapi kamu masih datang menuduhku, huh. Aku akan telpon polisi! Aku mau menuntutmu di pengadilan!" Siti dengan cepat meraih ponsel di atas meja, lalu berpura-pura menelepon polisi.


Semua orang tidak berani mengatakan apa-apa. Lili tahu kalau terjadi perselisihan lagi di kantor karyawan, jadi dia pun berjalan keluar dari kantor pribadinya untuk melihat apa yang sedang terjadi. Melihat Siti mengancam akan menelpon polisi, dia segera menghentikannya, "Siti, kejadian buruk yang terjadi di perusahaan tidak boleh diekspos keluar, seharusnya kamu mengerti itu."


"Saya..." Siti berhenti berbicara dan meletakkan teleponnya.


Lili berjalan ke depan Nirmala, dan berkata dengan dingin, "Nirmala, karena kamu masih belum lulus sekolah dan hanya seorang pekerja magang, jadi aku akan memberimu toleransi. Kamu langsung pergi saja, tidak perlu menulis surat pengunduran diri lagi. Mulai sekarang, kami akan menganggapmu tidak pernah bekerja di perusahaan kami!"


"Ya! Cepat pergi! Dasar tukang plagiat! Cepat pergi!" Entah siapa yang pertama kali berteriak di kantor karyawan pada saat ini.


Detik berikutnya, semua orang menunjuk Nirmala dan mengusirnya.


Nirmala memandangi wajah orang-orang ini, sakit hatinya membuatnya ingin muntah, dan rasa mual ini membuat pandangannya kabur dibanjiri air mata.


"Sana, cepat pergi!"


"Pergi!"


"Cepat keluar dari sini!"


"Ya, keluar!"


Semua orang memarahinya secara bersamaan.


Nirmala tiba-tiba merasa pusing, dia mengambil tas dan barang-barangnya, lalu keluar dengan tergesa-gesa.

__ADS_1


Dia jelas-jelas tidak menjiplak, tapi dia dicelakai oleh orang lain hingga begitu tak berdaya.


Setelah meninggalkan kantor, Nirmala berjalan ke tempat sampah dan memuntahkan makanan yang ada di dalam perutnya.


Ini adalah pertama kalinya dia melihat intrik di tempat kerja. Dan sebenarnya ini hanyalah salah satu dari sekian banyak trik yang sering dipakai.


Nirmala bersandar di dinding, tubuhnya perlahan melemas dan terduduk di lantai, pandangan matanya kosong.


Dia hanya ingin duduk di sini untuk meredakan suasana hatinya yang buruk, tetapi dia tidak menyangka bahwa belum sampai 10 menit dia sudah diusir oleh seorang penjaga keamanan yang datang.


Nirmala terpaksa bangkit dari lantai, lalu berjalan pergi dengan terhuyung-huyung seperti mayat hidup dari tempat itu.


Ingin sekali dia menangis, tapi dia tidak bisa mengeluarkan air mata lagi.


Nirmala bahkan merasa dirinya seperti tikus yang diteriaki dan dipukuli oleh semua orang.


Saat sampai di rumah, seperti biasa, Nirmala membersihkan rumah dengan santai seperti tidak ada yang terjadi.


Namun, hari ini dia lebih rajin dari biasanya.


Suasana hatinya sangat buruk, dan dia hanya bisa menggunakan cara ini untuk melampiaskan kesedihan di hatinya dan ketidakberdayaannya.


Setelah selesai memasak makan malam, Nirmala duduk di kursi sambil mengerutkan kening untuk menunggu Kakak dan Kakak iparnya pulang kerja.


Tetapi ketika waktunya hampir tiba, hanya Kakaknya yang pulang.


Nicholas menggerutu dan menjawab, "Dia lembur malam ini."


Setelah itu, Kakaknya masuk dan mengganti sandalnya, kemudian menatap Nirmala dengan penuh makna yang tersirat dan berkata, "Nir, ikut aku pulang ke kampung besok."


Nirmala merasa terkejut mendengar perkataan Kakaknya.


"Apa terjadi sesuatu?"


"Terjadi masalah besar di rumah!"


"Masalah besar? Masalah besar apa? Apa Ayah..."


"Tidak ada hubungannya dengan Ayah."


"Lalu?"


"Kamu!"

__ADS_1


"Aku?"


Tadi malam, dia masih bertanya-tanya mengapa masalah besar di rumah berhubungan dengan dirinya. Keesokan harinya, Nirmala sudah ikut Nicholas dalam perjalanan kembali ke kampung halamannya.


Di dalam kereta, Nirmala masih bertanya kepada Kakaknya  masalah apa yang terjadi di rumah yang katanya ada hubungannya dengan dirinya. Tapi Nicholas hanya mengangkat bahunya dan mengatakan dia tidak tahu apa-apa.


Semuanya hanya bisa diketahui setelah dia sampai di rumah.


"Ayah, Ibu, Kakak dan aku sudah pulang."


Setelah Nirmala dan Nicholas kembali ke rumah dengan koper mereka, Ibunya hanya berkata, "Kalau begitu cepat pergi masak, sepupumu Mega juga akan datang nanti."


“Oh!” Nirmala menjawab dengan datar. Saat ini, dia melihat Paman dan Bibinya berjalan dari teras rumah.


“Eh, Nirmala dan Nicholas sudah pulang ya.” Paman dan Bibinya hampir berkata serempak.


Nirmala dan Nicholas juga menyapa keduanya.


Apa ada pesta di rumah hari ini? Paman dan Bibinya yang sudah lama tidak kontak dengan mereka juga datang ke rumah!


Nirmala memasak sambil memikirkan hal ini.


Ketika dia menyiapkan makanan dan meletakkan mangkuk di atas meja, Mega berjalan masuk dari teras rumah dengan tas di punggungnya dan koper.


"Ayah, Ibu, Bibi, Paman, aku sudah pulang!"


Mendengar suara manis Mega, orang pertama yang selalu bergegas menyambutnya adalah Ibunya Nirmala.


Mega hanya lahir beberapa menit lebih dulu dari Nirmala, sebagai sepupunya, dia sangat dimanjakan oleh kedua belah keluarga.


Melihat Ibunya begitu menyayangi dan memanjakan Mega, hati Nirmala merasa sedih dan kecewa.


Sebenarnya, siapa pun yang melihatnya juga akan merasa kecewa!


Ibunya lebih menyayangi sepupunya daripada dirinya.


Nirmala menarik napas dalam-dalam dan berusaha untuk tetap tersenyum, karena Paman dan Bibinya ada di sana.


Setelah sekian lama tidak berkumpul, kali ini, semua anggota keluarga sudah hadir di sini.


Nirmala yang sudah lelah karena baru saja kembali ke rumah, masih harus membuat semeja penuh hidangan. Pada saat ini, seluruh anggota keluarga berkumpul di meja untuk makan malam. Orang yang paling lelah adalah Nirmala, tetapi dia hanya bisa melihat Ibunya terus mengambilkan sayuran ke mangkuk Mega.


Semua hidangan di atas meja adalah makanan kesukaan Mega, Nirmala membuatnya sesuai dengan permintaan Ibunya.

__ADS_1


Nirmala merasa sedih melihat sikap ibunya yang begitu menyayangi sepupunya.


Sejak kecil, cinta yang Ibunya berikan kepada sepupunya tidak pernah berkurang, melainkan semakin bertambah dari hari ke hari.


__ADS_2