Pria Yang Merenggut Mahkotaku

Pria Yang Merenggut Mahkotaku
Demi Masa Depannya


__ADS_3

“1,2 miliar!” Liam menjawab dengan pelan.


"Kupinjam kamu 200 miliar. Bagaimana kalau kamu memulai usaha sendiri?" Yanti bertanya sambil tersenyum. Setelah beberapa saat, dia mengeluarkan dua hadiah kepada Liam, "Aku akan melunasi semua hutangmu!"


Liam mengerutkan kening ketika melihat dua benda yang diberikan Yanti.


Liam tidak mengira bahwa Yanti mengambil kembali arloji dan pena yang digadaikan saat itu.


Yanti adalah putri sulung dari Ketua Direktur Grup Panjaitan. Meskipun dia masih ada Kakak dan seorang adik tiri, tapi Ayahnya lebih sayang padanya.


Oleh karena itu, Yanti memiliki 25% dari saham Grup Panjaitan.


Seperti Grup Pamungkas, Grup Panjaitan adalah grup yang sudah IPO, tetapi karena Grup Pamungkas adalah bisnis keluarga yang telah berdiri lama dan memonopoli pasar, pendapatan tahunan Grup Pamungkas adalah sepuluh kali lipat dari Grup Panjaitan.


Meski begitu, Grup Panjaitan adalah satu-satunya perusahaan besar di Surabaya yang dapat bersaing dengan Grup Pamungkas.


“Apakah kamu benar-benar berencana untuk bekerja untuk kakakmu seumur hidup? Kakekmu tidak memedulikanmu sama sekali.” Yanti mencoba membujuknya.


Yanti tahu persis apa posisi Liam di keluarga Pamungkas.


Kakeknya bahkan tidak memperbolehkan Liam untuk lanjut studi di luar negeri bersamanya.


Mengapa Tuan Besar Mars keberatan?


Kemungkinan besar, Tuan Besar Mars tidak ingin Liam terlalu berkemampuan, takut Oliver kalah kepada adiknya.


“Liam, lima tahun yang lalu, sebenarnya, aku lanjut studi di Amerika demi masa depanmu!” Yanti mengulurkan tangannya, dengan lembut meraih tangan Liam, dan menatapnya dengan tulus.


Alis Liam berkerut, dan nadanya menjadi lebih dingin, "Aku ke sini, hanya ingin tahu tentang informasi ibuku."


Yanti terpaksa berdiri dan pergi ke kamar, kemudian keluar dengan mengambil sebuah kantong kraft di tangannya.


“Liam, aku mendapatkan informasi ini secara ilegal. Aku tahu bahwa kamu diam-diam menyelidiki penyebab sebenarnya dari kematian ibumu. Lagi pula, alasan 'mengakhiri hidup demi cinta' benar-benar tidak masuk akal, kan??" Yanti berkata dengan makna tersirat.


Dia tahu sedikit, masalah antara ibu dan ayah Liam.

__ADS_1


Hanya saja dia tidak percaya bahwa ketika ayah Liam meninggal, istri simpanannya rela mengakhiri hidupnya, sedangkan saat itu Liam masih sangat kecil!


Oh, tidak, dia seharusnya tidak memanggil ibu Liam sebagai "Istri Simpanan" secara diam-diam.


Karena, Ibu Liam bahkan tidak bisa dikatakan sebagai istri simpanan. Dia hanya mendengar rumor yang mengatakan bahwa ibu Liam menggunakan cara yang tidak mulia, lalu hamil dan melahirkan Liam.


Oleh karena itu, Liam tidak disukai di keluarga Pamungkas.


Liam mengambil kantong itu dari tangan Yanti, dan rasa tidak nyaman memaksanya untuk segera membukanya.


Tidak hanya ada foto, tetapi juga catatan tertulis, serta pena rekaman.


Liam melihat dengan teliti satu per satu, dan mendengarkan dengan teliti isi rekaman berulang kali. Akhirnya, dengan kesedihan dan kemarahan, dia meremas kantong kraft menjadi bola.


"Liam… aku sebenarnya meragukan keaslian informasi ini... jadi aku ragu untuk memberikannya padamu..." Yanti ragu-ragu.


Bola matanya menjadi sedikit merah, bibirnya bergetar, bersama dengan otot-otot yang berdetak di dahinya.


“Liam, sebenarnya, aku tidak percaya bahwa ibumu dibunuh oleh ibu kakakmu! Namun, informasi ini membuatku merasa curiga.” Yanti sedikit menurunkan matanya, berkata dengan suara lembut dan sedikit tersedak, “Kakak dan kakekmu juga seharusnya tahu tentang hal ini. Kakekmu terus melindungi ibu kakakmu, makanya kakakmu memperlakukanmu dengan begitu baik, karena dia ingin membayar hutang ibunya..."


Mengapa?


Dia telah menyelidiki sekian lama, dan setiap kali sudah mendekati kebenaran, petunjuk akan selalu terputus tiba-tiba. Dan kali ini, informasi yang diberikan Yanti adalah bukti yang dicarinya sekian lama.


Apakah Bibi benar-benar membunuh Ibunya?


Apakah Kakek dan Kakak benar-benar tahu tentang masalah ini?


Tidak masalah jika dia tidak disukai di keluarga Pamungkas, tetapi kematian Ibunya selama ini tidak ada sebuah kejelasan!


Melihat penampilan putus asa Liam, Yanti bangkit dari kursinya dengan sedih, dan duduk di pangkuan Liam.


Dia memeluk leher Liam, menundukkan kepalanya, dan  mencium bibir Liam secara tak terduga, dan bertanya dengan lemah, "Liam, apakah kamu ingin membalas dendam ibumu??"


Ibunya tidak berhutang pada keluarga Pamungkas, kan?

__ADS_1


Sebagai seorang dokter militer, ibunya berada di sisi ayahnya sepanjang tahun.


Ibunya melakukan pengorbanan besar demi cinta, tapi akhirnya apa yang didapatkannya?


Oliver dan ibunya menikmati kehidupan yang makmur dan kekayaan seumur hidup, Oliver memiliki relasi luas di kalangan militer, dan langsung mengambil alih Grup Pamungkas begitu pensiun dari kemiliteran.


Lalu bagaimana dengan Ibu dan dirinya?


Yanti meraih tangan Liam, dan berkata dengan yakin, "Jika kamu ingin membalas dendam, aku akan selalu berdiri di sisimu dan terus mendukungmu. Sekalipun mengorbankan nyawaku, aku juga rela. Aku ingin menjadi wanita di belakangmu!"


Liam sedikit mengangkat matanya dan menatap mata Yanti, bayangannya tercermin dengan jelas di kedua bola matanya.


Yanti terus mencoba menenangkan suasana hati Liam, dan kemudian melanjutkan, "Liam, kamu adalah seorang yang berbakat, mengapa harus bekerja di bawah perintah orang lain? Ayo kita bekerja sama untuk mendapatkan proyek Konstruksi Departemen Angkatan Udara Magetan. Aku dengar, dari pemerintah mengalokasikan dana total 2 triliun untuk membangun pangkalan militer."


“Ternyata kamu mengincar proyek yang sedang dipersiapkan oleh Grup Pamungkas.” Liam sedikit mengernyit.


Meskipun Grup Pamungkas adalah perusahaan swasta, tapi sebelumnya adalah perusahaan milik negara, sehingga selalu ada kerja sama proyek dengan pemerintah.


Grup Pamungkas sangat yakin bisa memenangkan proyek tersebut, jika tidak, saat itu Pamannya tidak akan memperebutkan posisi manajer umum Royal Mars dengannya.


Yanti menyandarkan tubuhnya dengan lembut di lengan Liam.


Ada aroma parfum yang tidak bisa dia lupakan. Dia sudah mencium aroma ini saat berusia 18 tahun.


Lima tahun telah berlalu, tubuhnya masih memiliki aroma yang dirindukannya.


“Liam, biarkan aku menjadi kekasihmu? Aku tahu, kamu terjerat antara aku dan istrimu. Aku tidak ingin membuatmu tersiksa, tapi aku selalu mencintaimu! Aku tidak bisa menerima pria lain selain kamu! Aku sudah memikirkannya dengan matang, aku tidak memintamu memberiku status apapun, aku hanya ingin tinggal bersamamu seperti saat ini. Baik itu di tempat kerja atau secara emosional, maupun secara fisik, aku benar-benar ingin menjadi wanita yang selalu mendukungmu!" Yanti menyatakan perasaannya.


 Liam memandang Yanti dengan terkejut, dia tidak tahu bahwa dia akan begitu perhatian.


Jika itu Nirmala, akankah Nirmala menerimanya?


“Apakah kamu bersedia menerima Nirmala?” Liam masih sedikit tidak percaya.


Yanti mengatup bibirnya, memandang Liam dengan sangat serius, dan mengangguk, “Yah! Dia adalah istrimu. Kamu bersedia menerimanya. Mengapa aku tidak bersedia? Aku mencintaimu dan tentu saja orang yang kamu cintai.”

__ADS_1


Liam, aku mencintaimu dan mencintaimu selamanya. Hatiku, tubuhku, dan semuanya adalah milikmu! Aku hanya setia padamu! Liam jadilahi rajaku! Nirmala ratumu, dan aku bersedia menjadi selirmu! Liam, terimalah diriku malam ini, ya?"


__ADS_2