Pria Yang Merenggut Mahkotaku

Pria Yang Merenggut Mahkotaku
Sengaja Jual Mahal


__ADS_3

“Kamu sendirian, aku tidak tenang.” Liam tidak menyadari bahwa Oliver telah menjawab telepon.


Nirmala masih bersikeras, "Ini kan kampus, cukup aman kok. Tenang saja, kamu pergi sibuk dulu, jangan khawatirkan aku!"


“Nirmala, apakah kamu marah padaku?” tanya Liam sambil mengerutkan kening.


Nirmala tampak bingung, "Tidak."


“Jika tidak, kenapa kamu tidak mendengar pengaturanku,” kata Liam dengan serius.


Nirmala terkejut, terpaksa menjawab dengan suara rendah "Kalau begitu aku akan mendengarkan pengaturanmu."


Setelah Liam memandang Nirmala, dia menemukan bahwa ponselnya sudah terhubung dengan Oliver.


“Halo, Kak!” sapa Liam.


Kemudian, Nirmala menutup mulutnya dan berhenti mengucapkan sepatah kata pun.


“Ada apa mencariku?” tanya Oliver dengan acuh tak acuh.


Liam menjawab, "Aku ingin merepotkan Kakak untuk mengirim seorang sopir ke pintu gerbang Universita Airlangga, dan mengantar Nirmala pulang. Malam ini aku masih ada kerjaan di perusahaan, jadi harus segera kembali ke Bandung."


“Baik, aku akan mengirim sopir untuk menjemput Nirmala pulang,” jawab Oliver.


Liam sedikit tersenyum, "Terima kasih, Kak!"

__ADS_1


Setelah menutup telepon, Liam melihat bahwa Nirmala masih tidak senang, jadi dia mengangkat tangannya dan membelai kepalanya lalu mencium alisnya.


“Sudah! Nirmala-ku, jangan sedih! Selesai sibuk, aku akan menemanimu lagi!” bujuk Liam dengan lembut.


Nirmala mengangguk sambil tersenyum.


Setelah mengeluarkan kopernya dari mobil Liam, Nirmala berdiri di gerbang Universitas Airlangga dan melihat Liam pergi.


Meskipun liburan semester sudah dekat, gerbang Universitas Airlangga masih ramai dengan mahasiswa.


Nirmala menyeret kopernya dan duduk di kursi kayu panjang di depan taman bunga.


Namun, baru duduk sebentar, dia mendengar suara yang sudah lama tidak didengarnya.


Mendengar panggilan itu, Nirmala mengangkat kepalanya dan mengikuti arah suara itu.


Dia melihat seorang anak muda berkacamata, bercelana pendek, dan berbaju biru muda berjalan ke arahnya.


Cuaca Surabaya sangat bagus, dia ingat bahwa kemeja bergaris yang dipakai anak muda itu adalah hadiah ulang tahun yang dia beli dengan menghabiskan uang sebanyak dua juta.


Tak disangka, setelah mereka putus, dia masih begitu bermuka tebal, dan memakai baju yang dia belikan.


Begitu melihat Hendra, Nirmala secara refleks bangkit dari bangku, menyeret kopernya, dan ingin pergi, tetapi malah dihalangi Hendra.


"Kenapa? Apakah kamu sengaja jual mahal? Sengaja menungguku di sini, lalu ingin pergi begitu melihatku. Kamu sedang mengujiku?” Hendra berlagak sombong, dan melirik Nirmala dari atas ke bawah.

__ADS_1


Nirmala mengenakan gaun sifon sutra berwarna pink yang diberikan Liam kemarin. Meskipun dia masih mengenakan sepatu datar warna putih, kuncir kuda dan poni miring di dahinya terlihat lucu dan imut, dia terlihat sangat energik dan berseri.


Mungkin karena itu adalah gaun yang dipilih Liam, selera berpakaiannya telah meningkat pesat dibandingkan sebelumnya.


Selain itu, yang paling penting adalah Hendra tahu bahwa gaun sifon sutra yang dipakai Nirmala adalah edisi terbatas.


Karena, pacarnya yang kaya, Rosa, juga ingin membelinya, tetapi sudah habis, dan mengeluh kepadanya.


“Kamu masih saja tidak tahu malu.” Nirmala mencibir, berencana mengambil jalan memutar dan pergi.


Hendra tiba-tiba menjadi kesal, mengulurkan tangan dan meraih pergelangan tangan Nirmala. Dia menarik ke arahnya, dan bertanya dengan marah, "Kamu yang tidak tahu malu! Kenapa? Mau mengandalkan pakaian cantik dan pamer di depanku? Nirmala, aku tahu kamu masih menyukaiku. Tapi, aku ingin memberi tahumu, jangan harap aku akan menerimamu lagi!"


“Tolong, lepaskan tanganmu.” kata Nirmala sambil menarik napas dalam-dalam.


Dia tidak berencana menjelaskan, karena dia merasa tidak perlu.


Dahulu, dia merasa bahwa Hendra adalah cinta pertamanya, tetapi sekarang, dia sebenarnya bukan siapa-siapa lagi di hatinya. Nirmala menyukainya karena dia melihat bayangan Yohanes pada dirinya.


“Nirmala, nada apa yang kamu gunakan untuk berbicara denganku!” Hendra tidak tahan dengan kata-kata dingin Nirmala, dan tiba-tiba merasa tidak senang.


Nirmala yang dulu bisa dikatakan sepenuhnya patuh padanya, dia bekerja dan belajar dengan giat, dan memberikan semua uangnya kepadanya.


Bahkan tiga teman sekamarnya iri padanya karena mendapatkan pacar yang begitu lembut dan perhatian.


Tapi sekarang, Nirmala berbicara dengan tidak segan padanya.

__ADS_1


__ADS_2