
“Dengan kata lain, kamu tidak mendapatkan catatan tentang penggunaan 'santet' yang ditulis Nenekmu?” Wilson sedikit mengernyit, menatap Nirmala dengan rasa ingin tahu.
Nirmala menatap mata Wilson dengan bingung, dan tidak tahu apa yang dia maksud.
Melihat bahwa Nirmala benar-benar tidak tahu, Wilson menjelaskan, "Dalam catatan medis Nenekmu, ada kasus di mana Nenekmu menyelamatkan seorang pasien yang terkena santet, jenis santet apa yang dipakai, dan cara menangkalnya. Di catatan, Nenekmu mengatakan bahwa dia telah menulisnya di catatan “Penangkalan Santet”.
“Pengkalan Santet?!” Nirmala sedikit terkejut, mencoba mengingat kembali kenangan bersama Neneknya.
Jika bukan karena Wilson mengingatkan, dia mungkin sudah melupakan hal ini.
"Iya, Nenekku pernah menulis catatan seperti itu saat aku masih kecil. Tapi, dia tidak pernah mengajarku, jadi aku sedikitpun tidak mengerti..." Nirmala berkata sambil menggaruk-garuk kepalanya, “Aku sudah tidak ingat di mana Nenekku menyimpan catatan itu, mungkin saja sudah dibakar! Nenekku mengatakan santet itu sangat berbahaya.”
“Benar? Ada baiknya juga kalau sudah dibakar.” Kata Wilson.
“Ya.” Nirmala mengangguk setuju.
Wilson tersenyum penuh pengertian, dan menghibur Nirmala: "Keterampilan medis Nenekmu sudah mendapatkan penerus."
“Iya, arwah Nenekku pasti akan sangat senang.” Nirmala tersenyum.
Wilson menyeringai: "Kapan-kapan kalau ada waktu, bawa aku ziarah ke makam Nenekmu."
“Baik.” Nirmala mengangguk.
“Kamu pandai memasak?” Wilson bertanya lagi.
Nirmala mengangguk.
“Keterampilan memasakmu juga diajarkan oleh Nenekmu?” Wilson mengangkat alisnya.
“Nenek dan Ibuku sama-sama pernah mengajariku, tapi Nenekku lebih banyak! Tapi, masakan yang dibuat Liam lebih enak!” Nirmala mulai memuji suaminya lagi.
Wilson tidak mau mendengarkan pujian Nirmala tentang Liam, dia berkata tanpa sungkan: "Kalau begitu, bisa buatkan oseng mercon untukku!"
“Kamu ingin makan oseng mercon?” Nirmala memandang Wilson dengan tidak percaya.
“Makanan yang begitu lezat, kamu tidak mungkin tidak bisa, kan?”
"Baiklah! Tentu saja aku bisa! Hanya saja... ini sudah malam..." Nirmala ingin menolak, karena perlu bahan yang banyak dan memakan waktu.
Wilson tidak ingin tahu, dia malah menagih hutang budi: "Waktu itu, saat kamu tak sadarkan diri, aku yang menyelamatkanmu, obat yang kugunakan lumayan mahal lho."
Sebenarnya, waktu itu untuk menyelamatkan Nirmala hanya memerlukan seorang pria saja.
Tapi masalahnya adalah Oliver tidak ingin menodai Nirmala, jadi Wilson terpaksa memakai ramuan obat khusus untuk menyelamatkannya.
__ADS_1
Sekarang, setelah dipikir-pikir, Wilson merasa sayang karena memakai obat yang begitu mahal.
“Jika aku mulai membuatnya sekarang, hari ini juga tidak sempat!” Nirmala tersenyum kering.
Wilson mengangkat alis: "Siapa bilang aku makan malam ini, aku mau kamu mulai membuatnya sekarang, dan besok pagi aku bisa menjadikannya sebagai sarapan."
“Untuk sarapan?!” Nirmala terkejut.
Pria ini sungguh...
Lupakan saja, dia masih tidak ingin berdebat dengannya.
“Bahan-bahan di kulkas Oliver sangat lengkap. Coba kamu cari-cari, pasti ada bahan yang kamu inginkan.” Wilson mengingatkan dengan ramah.
Nirmala telah mendengar arti lain dari kata-kata pria ini, Wilson ingin mengusirnya keluar.
“Baik!” Melihat pria ini pernah menyelamatkannya, Nirmala tidak ingin mempermasalahkan.
Nirmala berbalik dan pergi.
Wilson menatap Nirmala pergi, lalu tersenyum, merasa cukup menarik membully gadis ini.
Ketika Nirmala turun ke dapur, Bibi Lias sudah membersihkan dapur dan bersiap untuk tidur. Melihat Nirmala datang ke dapur lagi, dia pikir Nirmala masih lapar, dan bertanya, "Nona Besar, apa kamu lapar? Mau kubuatkan segelas susu hangat?"
Bibi Lias merasa kasihan padanya, dan kemudian berkata: "Kalau begitu dokter Wilson mau makan apa, aku akan membantumu membuatnya!"
"Tidak, tidak! Tidak perlu Bibi Lias! Aku akan memasak sendiri. Bibi Lias, pergi tidurlah! Jangan khawatir, dapur akan aku bersihkan setelah kupakai!" Nirmala segera melambaikan tangan dan menolak niat baik Bibi Lias dengan lembut.
Bibi Lias tidak memaksakan diri lagi, dia hanya melepas celemeknya dan menyerahkannya kepada Nirmala, lalu berkata dengan ramah: "Kamu pakai ini, jangan sampai pakaianmu kotor. Ingatlah untuk tidur lebih awal selesai masak!"
“Baik!” Nirmala mengambil celemek dan mengangguk patuh.
Setelah Bibi Lias beristirahat, Nirmala sendirian di dapur.
Bukankan dokter Wilson mengatakan kulkas Kakak sangat lengkap...
Ternyata benar!
Semua bahan yang dibutuhkan untuk membuat oseng mercon dapat ditemukan di kulkas. Daging sapi, serai, daun jeruk, daun salam, cabe rawit, asam Jawa, gula merah, dll.
Sekarang bahan-bahan sudah lengkap, Nirmala mulai mencari peralatan masak.
Setelah semuanya lengkap, Nirmala mulai sibuk memasak di dapur.
Daging sapi yang dikeluarkan dari kulkas harus dicairkan dan direbus cukup lama.
__ADS_1
Oleh karena itu, Nirmala terpaksa menunggu di meja dapur. Dan tanpa sadar, sudah tengah malam.
Di belakang dapur adalah kebun sayur yang dikelola sendiri oleh Bibi Lias, dan akan ada serangga yang masuk dari jendela di malam hari.
Nirmala mendengarkan kicau burung dan serangga di luar jendela, lalu tertidur.
Oliver kembali dari luar, dan ketika dia naik ke atas, dia harus melewati pintu dapur. Melihat lampu di dapur masih menyala, dia mengira Bibi Lias masih sibuk. Setelah melihat ke dapur, dia menemukan Nirmala tidur tengkurap di atas meja. Di kompor ada sesuatu yang dimasak, aroma daging yang direbus tercium di hidungnya.
Oliver segera mematikan api, lalu menggendong Nirmala dari depan.
Ini sudah sangat larut, dia harus tidur di kamar.
Nirmala tidur sangat nyenyak, sama sekali tidak menyadari bahwa dia digendong seseorang.
Oliver berjalan dengan langkah ringan, karena takut membangunkannya.
Bagi Oliver, Nirmala adalah segalanya, dia berharap alangkah baiknya kalau saat ini waktu bisa berhenti untuk selamanya.
Tapi bagaimanapun juga, waktu tidak akan menunggu siapa pun.
Oliver membawa Nirmala ke kamar dan meletakkannya dengan lembut di ranjang besar.
Ketika dia mengambil selimut, Nirmala tiba-tiba mengulurkan tangan dan memeluk lehernya.
"Liam... Liam... Aku sangat merindukanmu!" Nirmala terus bergumam.
Oliver melihat dengan seksama, dan menyadari bahwa Nirmala masih memejamkan mata, dan ada senyum manis di sudut mulutnya.
Dia sangat cantik, tapi dia bukan wanitanya.
Bahkan, dia tidak bisa masuk ke alam mimpinya.
Sejak kecil, dia selalu menjadi orang yang paling superior di depan Liam.
Namun sekarang, dia merasa bahwa dialah yang paling lemah di depan Liam.
Untuk pertama kalinya, dia begitu iri, bahkan cemburu pada Liam.
Oliver berpikir, kenapa dirinya bukan Liam?
Dia bahkan rela mengorbankan umurnya untuk bertukar identitas dengan Liam, jika bisa...
Sayangnya, dia ditakdirkan untuk menatap wanita yang dicintainya berada di pelukan adiknya tanpa bisa berbuat apa-apa.
Nirmala, aku mencintaimu!
__ADS_1