Pria Yang Merenggut Mahkotaku

Pria Yang Merenggut Mahkotaku
Dia Adalah Mangsanya


__ADS_3

Melihat Nirmala terdiam, Sanny meraih tangan Nirmala dan bertanya dengan tulus, "Nirmala, kamu harus mendukungku, ya?"


"Aku..." Nirmala ragu-ragu.


"Nirmala, kamu adalah temanku! Aku harap kamu bisa mendukungku! Tolong! Nirmala, kamu harus mendukungku!" Sanny memohon.


Nirmala melembutkan hatinya dan mengangguk.


Sanny memeluk Nirmala lagi, senyumnya menjadi lebih cerah, bagaikan sinar matahari yang masuk dari jendela dan menyinari wajahnya, terasa hangat dan manis.


Ketika seseorang dalam suasana hati baik, bahkan udara di sekitarnya akan terasa hangat.


Setelah mengetahui niat Sanny, Nirmala terus menemani Sanny sampai suasana hatinya benar-benar membaik, lalu bangkit dan berkata, "Sanny, sudah waktunya aku kembali."


“Nirmala, sering kontek ya!” Sanny mengangkat tangannya dan memberi isyarat menjawab telepon di samping telinga.


Nirmala tersenyum dan mengangguk.


Sanny menatap kepergian Nirmala, senyum di wajahnya berangsur-angsur berubah menjadi senyum masam.


Dia tidak mengatakan yang hal sebenarnya pada Nirmala. Sebenarnya, terjadi sesuatu pada Satria...


Nirmala, maafkan aku, aku berbohong padamu, aku hanya tidak ingin kamu mengkhawatirkanku...


Mungkin ada semacam telepati di antara Nirmala dan Sanny, Nirmala tiba-tiba berhenti saat keluar dari villa Sanny.


Nirmala berbalik, menatap ke jendela kamar Sanny di lantai dua, dan memiliki firasat bahwa "Ini mungkin adalah perpisahan selamanya".


Apakah dia berpikir terlalu banyak?


Nirmala mengerutkan kening, berbalik dan lanjut berjalan.


Dalam perjalanan kembali, Nirmala menelepon Liam dan memberitahu bahwa dia ingin pergi mencarinya. Liam langsung menyetujui, membuat Nirmala kegirangan.


Nirmala pulang ke rumah Oliver terlebih dahulu, berencana untuk mengemasi koper dan tidak lagi tinggal di sana.


Selesai kemas, Nirmala berjalan keluar dengan membawa kopernya.

__ADS_1


"Aaaaah!"


Di kamar sebelah, tiba-tiba terdengar jeritan Oliver.


Nirmala merasa khawatir, menyeret koper, dan berjalan ke pintu kamar Oliver dengan cemas.


Pintu kamar Oliver terbuka, cahaya di dalamnya sedikit redup karena tertutup gorden.


“Kak? Kak, apakah kamu baik-baik saja? ”Nirmala bertanya dengan ragu saat berjalan masuk.


Setelah masuk kamar, dia tidak melihat Oliver, dan ketika dia akan berbalik untuk pergi, Nirmala tiba-tiba merasa ada seseorang di pintu ruang kerja.


“Kak?” Nirmala memanggil lagi.


Baru saja akan berjalan ke pintu, Oliver tiba-tiba berteriak marah: "Keluar!"


Nirmala tertegun dan berhenti di pintu kamar, tidak berani melangkah ke depan setengah langkah pun.


“K… Kak… apakah terjadi sesuatu padamu? Atau, aku minta Bibi Lias untuk datang melihatmu?” Nirmala bertanya dengan lemah.


“Kamu Nirmala?” Nada bicara Oliver sedikit melembut, tidak lagi sekasar barusan.


Nirmala menjawab dengan lembut, "Ya."


“Jangan pedulikan aku." Suara Oliver sedikit serak.


“Kak, apakah kamu terluka?” Nirmala bertanya, dan berjalan masuk.


Dalam ruang kerja, cahaya redup yang hangat, berubah menjadi dingin karena bau darah.


Oliver sedikit gemetaran, duduk dengan kaki tertekuk di depan jendela kaca, ketika gorden tebal ditarik, dia menurunkan matanya dan sedikit tak sadarkan diri, dia setengah telanjang dengan wajah kemerahan dan urat biru yang timbul dari permukaan kulit karena menahan rasa sakit.


Begitu melihat kondisi Oliver, Nirmala langsung merasa terkejut.


Darah membasahi celana Oliver, kemudian mengalir ke bawah, dan membasahi lantai.


“Kak, tunggu sebentar, aku akan mengambilkan obat!” Nirmala berbalik dan berlari ke kopernya yang ada di luar pintu, kemudian mengeluarkan sebuah kotak obat kecil.

__ADS_1


Nirmala sudah terbiasa membawa obat kemanapun dia pergi untuk berjaga-jaga.


Membawa kotak obat, Nirmala langsung berjongkok di samping Oliver.


Ada sebuah lubang di celana Oliver, dan tampak dagingnya hancur bercampur darah.


Nirmala mengeluarkan gunting dari kotak obat, dengan lembut menjepit celana, dan kemudian memotong semua kain di sekitar luka.


Dia mengobati lukanya perlahan, dan Oliver duduk tegak di sofa dengan tenang.


Oliver hanya merasa tangan Nirmala terasa dingin, sentuhan tangannya membuat dia merasa sangat nyaman.


Kegelisahan yang baru saja dia tekan melonjak lagi, dan perlahan-lahan kesadarannya menjadi kabur.


Mata gelap Oliver menatap Nirmala yang sedang fokus mengobati lukanya.


Oliver menelan ludah, hasrat yang bergejolak membuat dia sulit menahan diri.


Efek racun di tubuhnya kembali terasa, sedikit demi sedikit menelan kesadarannya.


"Keluar!"


Oliver ingin berkata selembut mungkin pada Nirmala, tetapi pada akhirnya dia terpaksa berteriak keras padanya.


Nirmala terus membalut luka Oliver tanpa mengangkat kepalanya, dan berkata dengan emosi, "Aku akan “keluar” setelah selesai membalut lukamu, ok?! Kok pahamu bisa terluka? Semua pembuluh darah di pahamu terluka parah! Jika aku tidak segera mengobati lukamu, kamu akan jatuh pingsan karena kehilangan terlalu banyak darah!"


Mungkin masih mending kalau Nirmala tidak berbicara, begitu dia berbicara, Oliver tidak mampu menahan diri lagi.


Oliver tiba-tiba membuka mata lebar-lebar, menatap Nirmala bagaikan harimau yang sedang memangsa.


Setelah membalut luka Oliver, Nirmala mengeluarkan botol porselen kecil dari kotak obat, menuangkan dua pil kecil berwarna coklat, dan menyerahkan kepada Oliver.


“Cepat makan obat ini! Ini untuk menghentikan pendarahan dan rasa sakit!” Nirmala melanjutkan.


Oliver tidak mengambil pil yang dia berikan.


Melihat Oliver mengabaikannya, Nirmala hendak berdiri, tapi Oliver malah tiba-tiba memeluk pinggangnya. Dalam sesaat, dia langsung terjatuh di tubuh Oliver.

__ADS_1


__ADS_2