
Safira mengantar Nirmala ke gerbang, lalu berbalik dan berlari untuk memayungi Oliver.
"Oliver, aku sangat merindukanmu! Kamu juga merindukanku, kan?" Safira berlari dan meraih tangan Oliver dengan penuh kasih sayang dan antusias.
Nirmala sudah memasuki rumah saat ini, Oliver juga tanpa basa-basi mendorong Safira, lalu berjalan lurus ke depan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Safira mengerucutkan bibir dan mengikuti Oliver dengan marah.
Saat makan malam, Bibi Lias memasak satu meja penuh hidangan sesuai pesanan Oliver, tentu saja semuanya makanan kesukaan Nirmala.
Melihat hidangan mewah di meja, Safira sangat marah.
Nirmala juga memperhatikan hidangan di meja dan menemukan sesuatu yang disengaja, satu mangkuk besar sup ayam kapas matsutake yang paling dibenci Safira.
Tetapi pada saat ini, Safira sengaja mengambil dua sendok sup ayam kapas matsutake untuk diri sendiri dan memasukkannya ke dalam mangkuk kecil, lalu berkata manja pada Oliver: "Oliver, ini matsuke dan ayam kapas diangkut melalui pesawat, kamu telah bekerja keras demi merawat kesehatanku."
Oliver tidak mengatakan sepatah kata pun, dan hanya makan dengan tenang.
Nirmala memegang mangkuk nasi, dan berkata sambil tersenyum, "Kakak ipar, kamu sungguh bahagia."
“Tentu saja, Kakakmu sangat menyayangiku!” Safira mengangkat alisnya dengan penuh kemenangan.
Bibi Lias ingin sekali membantah, tetapi dia malu untuk mengatakan hal sebenarnya.
Hidangan di meja ini, sengaja dimasak untuk Nirmala, jadi sama sekali tidak ada hubungan dengan Safira.
Namun, jika berkata terus terang, maka akan membuat Nona Nirmala dan Tuan Muda Besar merasa malu.
Sebenarnya, Nirmala hanya merasa bahwa hidangan ini terlalu mewah dan boros, mereka hanya berempat, jadi tidak perlu memasak sebanyak ini.
Setelah makan malam, Nirmala membantu Bibi Lias mencuci piring, tetapi Bibi Lias menolak.
Ketika Safira melihat Oliver telah kembali ke kamar, dia segera mengubah sikap dan mengajari Nirmala: "Nirmala, kamu adalah Nyonya Muda Kedua, pekerjaan rumah ini biarkan saja para pelayan melakukannya, kamu tidak perlu ikut campur. Jika tidak, untuk apa Oliver menggaji mereka, bukankah itu hanya membuang-buang uang saja."
Setelah mendengar kata-kata Safira, Bibi Lias merasa sangat tidak nyaman.
Nirmala mengabaikan kata-kata Safira, dia terus membantu Bibi Lias, dan menghibur: "Bibi Lias, tidak apa-apa. Pinggangmu kan lagi sakit dua hari ini. Ada begitu banyak piring dan sendok malam ini. Aku akan membantumu memasukkannya ke mesin pencuci piring. Tidak apa-apa, kamu tidak usah peduli."
__ADS_1
“Oh, Bibi Lias, pinggangmu sakit-sakitan, kan?! Kalau begitu, besok aku akan menyuruh Oliver mencari pelayan lain untuk membantumu.” Safira menyindir dengan kata-kata pedas.
Bibi Lias sengaja melototi Safira, lalu menoleh ke Nirmala dan berkata dengan lembut, "Nona Besar, nanti aku akan membuatkan camilan untukmu. Camilan enak yang kubawa dari kampung."
“Boleh, untung tadi aku tidak makan terlalu kenyang! Jadi aku bisa makan enak lagi sekarang!" Nirmala menjawab sambil tersenyum, dan kemudian membantu Bibi Lias merapikan piring dan mengobrol dengan Bibi Lias di dapur.
Keduanya mengabaikan Safira, membiarkan dia mengomel sendirian seperti orang tidak waras.
Safira menatap punggung Nirmala dengan marah, dan tidak bisa menahan diri untuk mengutuk Nirmala di hatinya, memang sepatutnya dia tidak menjadi menantu keluarga orang kaya, dia taunya hanya menyanjung pelayan rendahan.
Setelah mengutuk Nirmala di dalam hati, Safira berjalan ke atas tangga sambil menggoyang-goyang pinggulnya.
Setelah naik ke lantai atas, dan tidak mendapati Oliver di kamar, Safira kemudian pergi ke ruangan gym. Dia mendapati Oliver sedang memegang senapan angin, dan menembak sepuluh putaran berturut-turut, sembilan di antaranya tepat di sasaran.
Tampan sekali!
Dia benar-benar seorang prajurit yang memiliki keahlian menembak yang bagus.
Safira bertepuk tangan karena merasa kagum, dan berjalan mendekati Oliver.
“Oliver, aku kan rindu sama kamu!” Safira menggigit bibir merahnya, meniru suara Nirmala, dan berkata dengan genit.
“Bicaralah padaku dengan suara aslimu.” Oliver mengerutkan kening dengan tidak senang.
Safira menjawab dengan tidak setuju: "Ini suara asliku kok!"
“Safira, jangan coba-coba menantang kesabaranku!” Oliver memarahi.
Safira tersenyum penuh kemenangan: "Oliver, jangan marah dong! Jika kamu membuatku tidak bahagia, aku mungkin akan tidak sengaja mengatakan di depan Liam bahwa sebenarnya orang yang kamu sukai adalah Nirmala!"
“Heh, kamu bisa mencoba dan lihat apakah Liam akan mempercayaimu atau tidak.” Oliver mencibir dengan tenang.
Safira mendekati Oliver, berjinjit dan mengangkat tangannya untuk memeluk lehernya, lalu sengaja menabrakkan dadanya.
"Oliver, kenapa kamu begitu keras kepala? Lagi pula, Nirmala sudah menjadi adik iparmu. Kalian berdua sudah tidak mungkin. Dan aku, aku tidak hanya memiliki wajah yang persis seperti Nirmala, aku bahkan lebih cantik darinya. Kenapa kamu tidak coba denganku saja?" Safira berkata dengan suara genit.
Oliver sedikit mengernyit, dan ketika dia hendak mendorong Safira menjauh, suara Nirmala tiba-tiba datang dari luar pintu.
__ADS_1
"Kak, apakah kalian berdua ada di ruang gym? Bibi Lias membuat camilan kesukaan Kakak, dan memintaku membawanya kemari." Nirmala mencari mereka sambil bertanya.
Melihat ini, Safira tiba-tiba merobek ujung rok dan kerah bajunya, lalu menarik tali bra-nya, dan memperlihatkan dadanya yang indah.
"Kamu--" Baru saja Oliver mengucapkan kata pertama, Nirmala mendengar suara di dalam ruangan, dan berjalan masuk dengan membawa camilan.
Safira mengambil kesempatan untuk melompat ke tubuh Oliver, kakinya menempel di pinggang kuat Oliver, kedua tangannya memeluk lehernya erat-erat, dan dengan sengaja mengerang nikmat.
Ketika Nirmala melihat adegan ini, dia tersipu malu, dan segera meletakkan piring yang dia bawa di atas lemari kecil, lalu menutupi matanya, dan berkata, "Um... aku taruh cemilannya di sini ya. Kalian... lanjutkan saja..."
Sejak kecil, selain menonton adegan ciuman artis-artis di TV, ini adalah pertama kalinya dia melihat adegan panas di kehidupan nyata.
Selesai berbicara, dia berbalik dan lari.
Pada saat ini, Oliver tampak sedikit tercengang melihat penampilan Nirmala, wajahnya yang tersipu malu benar-benar sangat lucu.
Melihat kembali ke wanita di depannya, selain genit, dia juga penuh dengan kelicikan.
"Dia telah pergi, kamu juga sudah boleh turun dari tubuhku," kata Oliver dengan tenang.
Safira menatap Oliver dengan kaget.
Tubuhnya melekat erat padanya, namun, bawahnya tidak bereaksi sedikitpun!
Safira menggigit bibirnya dengan marah, lalu melompat dari tubuhnya.
“Kamu tidak mengejarnya? Tidak menjelaskan padanya?” Safira bertanya balik.
Oliver mendengus dingin, "Apa yang perlu aku jelaskan padanya? Sebaliknya kamu, kalau lagi butuh melepas hasrat, aku bisa mencarikan beberapa pria untuk melayanimu!"
"Kamu--" Safira menggertakkan giginya dengan marah.
Oliver jelas sengaja memberi penekanan padanya.
"Minggir kau!" Mata Oliver menyipit, lalu mengusirnya.
Safira tidak berdaya dan hanya bisa menghujat dalam hati: "Tidak masalah kau tidak menerimaku! Kau juga tidak bisa mendapatkan Nirmala! Dibandingkan denganku, kurasa kau-lah orang yang paling menderita, kan?! Wanita yang kau cintai, sekarang adalah adik iparmu! Setiap hari kau berjumpa dengannya tapi tidak dapat mengungkapkan perasaan cintamu! Sungguh senang aku melihat kau menderita!”
__ADS_1