
Oliver menjawab dengan serius, “Karena harus menghafal rumus matematika, jadi tidak diperbolehkan makan malam.”
“Haha,” Nirmala tidak dapat menahan diri dan tertawa.
Melihat suasana hati Nirmala membaik, Oliver juga merasa senang.
Nirmala tertawa, lalu menemukan bahwa Oliver sedang tertegun menatapnya dan menggandeng tangannya, dia segera berhenti tertawa dan melepaskan tangannya dari tangan Oliver.
Oliver menyadari dan mengambil inisiatif untuk melepaskan tangan Nirmala. Kemudian dia melanjutkan, “Liam sedang sibuk belakangan ini dan tidak bisa menemanimu, jadi kamu harus menjaga dirimu baik-baik.”
“Iya!” Nirmala mengangguk.
“Biar aku mengantarmu kembali ke kamar.” lanjut Oliver.
Nirmala buru-buru menggelengkan kepala, “Tidak perlu! Kakak pergi sibuk saja, aku bisa kembali sendirian.”
“Terserah.” Oliver tidak memaksa.
“Sampai jumpa, Kak!” Nirmala tersenyum, melambaikan tangan, berbalik dan pergi.
Oliver menarik napas dalam-dalam lalu pergi dengan arah yang berlawanan dengan Nirmala.
__ADS_1
Oliver menoleh dan melihat sosok Nirmala berangsur menghilang dari galeri panjang.
Oliver tidak akan pulang ke Bandung karena Nirmala masih tinggal di sini. Apalagi, Bambang berada di perusahaan, jadi dia tidak perlu khawatir.
Oliver berencana pergi mencari rekan militer dulunya, tapi masih belum sempat keluar rumah, dia langsung dipanggil oleh Handoko untuk berjumpa dengan Tuan Besar Pamungkas.
Tuan Besar Pamungkas sedang main catur sendirian di bawah paviliun.
Begitu tiba, Tuan Besar Pamungkas langsung bertanya pada Oliver tanpa menatapnya, “Oliver, kamu merasa atas dasar apa aku mewarisi kediaman Pamungkas dan Grup Pamungkas dari tangan kakek buyutmu?”
“Tentu saja atas dasar status kakek sebagai anak sulung keluarga Pamungkas.” Oliver langsung menjawab tanpa berpikir panjang.
“Apakah kakek bermaksud agar aku mewaspadai Liam?” Oliver menjawab dengan wajah tidak senang.
Tuan Besar Pamungkas meletakkan catur di tangannya, “Liam sudah menemukan partner kerja dan mendirikan perusahaan sendiri.”
“Ini hal yang bagus.” Oliver tertawa dengan tenang.
Tuan Besar Pamungkas mengernyit dan bertanya, “Apakah Grup Pamungkas memiliki keyakinan memenangkan proyek Konstruksi Departemen Angkatan Udara Magetan?”
“Pemerintah yang memberikan proyek itu kepada Grup Pamungkas, kenapa Kakek tidak yakin?” Oliver tiba-tiba menjadi waspada.
__ADS_1
Tuan Besar Pamungkas memegang janggutnya, lalu menjawab dengan dingin, “Liam sedang berencana merampas proyek itu secara perlahan.”
“Tidak mungkin, paman juga bertanggung jawab atas proyek itu.” Oliver merasa curiga, dia merasa sepertinya akan ada hal buruk yang akan segera terjadi.
“Oliver, aku hanya ingin memberitahumu, ambisi Liam tidak datang dalam satu dua hari. Dia selalu berambisi, hanya saja kamu tidak tahu. Aku tidak menyukai Liam, itu bukan karena dia anak di luar nikah, tapi karena hatinya sesat. Berbeda dengan dirimu yang dipenuhi hawa kebenaran, Liam sama seperti ibunya ....” Tuan Besar Pamungkas berhenti berkata, dia menyadari bahwa dirinya hampir saja mengatakan hal-hal yang tidak seharusnya dikatakan.
Oliver terkejut dan memicingkan matanya, “Kakek tahu kebenaran tentang kematian ayahku?”
“Apakah kamu diam-diam menyelidiki?” Tuan Besar Pamungkas terkejut dan bertanya balik.
Oliver mengernyit, lalu mengakui, “Wilson yang memberitahuku. Ayahku mungkin terkena santet, makanya lukanya tidak sembuh-sembuh. Dan kemungkinan besar orang yang mencelakainya adalah ibunya Liam.”
“Ibunya Liam sebenarnya memiliki latar belakang yang bersih, dulu dia demi membuktikan dirinya tidak bersalah, dia rela bunuh diri dan pergi mengikuti ayahmu. Mengenai apakah dia yang mencelakai ayahmu, tidak ada bukti sama sekali! Ibumu tidak mengetahui hal ini, jadi aku berharap kamu harus menjaga rahasia ini. Jangan memberitahu siapa pun kalau tidak memiliki bukti.” pesan Tuan Besar Pamungkas.
Oliver menganggukkan kepala dan tidak berkata lagi.
“Mengenai Liam, aku telah memberitahumu kalau dia sudah beraksi. Kamu juga jangan hanya tinggal diam saja.” lanjut Tuan Besar Pamungkas.
Oliver mengatup bibirnya erat-erat, mengenai masalah adiknya, dia tidak ingin membicarakannya.
Karena percaya dengan kata-kata Oliver, Nirmala tinggal di kediaman Pamungkas dengan tenang sambil membaca berita tentang kota Surabaya di ponselnya.
__ADS_1