Pria Yang Merenggut Mahkotaku

Pria Yang Merenggut Mahkotaku
Telanjang di Depan Oliver


__ADS_3

Oliver yang menemukan bahwa pintu halaman terbuka mengira telah terjadi sesuatu pada Nirmala. Dia sangat panik dan mempercepat langkahnya.


“Nirmala ... ” panggil Oliver dengan suara panik, lalu mendorong pintu kamar Nirmala.


“Krek ....”


Nirmala baru melepas baju tidurnya dan belum sempat mengganti pakaian. Suara di belakang membuatnya terkejut, dia segera membalikkan badan dan bertatapan dengan Oliver.


Rambut panjang Nirmala mengkilap, terurai dari lehernya yang putih hingga ke lekuk pinggulnya yang indah.


Oliver terpana seketika.


Nirmala segera bersembunyi di belakang tiang dan menarik tirai untuk menutupi tubuhnya, lalu berkata dengan marah, “Kak! Tolong keluar dulu!”


Oliver kembali sadar, dia segera berbalik dan menutup pintu kamar. Dia menutup kedua matanya dan menarik napas dalam-dalam, berusaha untuk menenangkan diri.


Nirmala yang bersembunyi di belakang tiang menepuk kepalanya sendiri, menyalahkan diri sendiri karena tidak mengunci pintu kamar. ‘Kakak ... dia juga tidak mengetuk pintu?’


Nirmala merasa kesal, dia segera mengganti baju dan cuci muka, kemudian mengikat rambutnya dan membuka pintu kamar.


Oliver berdiri membelakangi Nirmala, sosoknya yang ramping dengan setelan jas terlihat sangat elegan.


Mendengar suara di belakang, Oliver berbalik dan bertatapan dengan Nirmala.


Keduanya pun terdiam dan memiliki pikiran masing-masing.

__ADS_1


Nirmala berkata terlebih dulu, “Kak, kamu mencariku?”


Oliver kembali sadar dan mengangguk.


“Kak, ada apa mencariku ...”


“Klukk .... ” Belum sempat menyelesaikan perkataannya, perut Nirmala kembali berbunyi.


Oliver tersenyum penuh pengertian, dia berjalan selangkah ke depan lalu menggandeng lengan Nirmala dan membawanya keluar dari pintu halaman samping.


“Kak, aku bisa jalan sendiri!” Nirmala merasa sedikit canggung, lalu melepaskan tangan Oliver dan menjaga jarak darinya.


Mungkin karena kejadian saat itu telah membuatnya trauma. Setiap kali Oliver mendekati dirinya, dia pasti bergidik.


Nirmala bergidik lalu mundur selangkah tanpa sadar.


Kemudian, Oliver berbalik dan berjalan ke depan dengan tenang.


Nirmala tidak tahu apa yang ingin Oliver lakukan, tapi dia tetap mendengar perintah Oliver dan mengikutinya.


Nirmala mengikuti Oliver melewati galeri panjang, paviliun, pepohonan hijau, dan akhirnya sampai di sebuah pondok.


Di depan pintu pondok dikunci dengan sebuah gembok.


Oliver mengeluarkan sebuah pisau saku, ketika dia ingin membuka gembok itu, Nirmala segera menghentikannya, “Kak, apa yang kamu lakukan?”

__ADS_1


“Ini adalah dapur, coba kamu pikirkan, apa yang ingin kulakukan?” Oliver tersenyum


Nirmala memastikan dengan linglung, “Da ... dapur?”


Kaya sekali keluarga mereka, bahkan memiliki dapur di tengah taman.


Saat Nirmala masih dalam keadaan linglung, Oliver sudah membuka gembok dan masuk ke dapur untuk mencari makanan.


Pada saat yang sama, Nirmala akhirnya mengerti kenapa masakan keluarga Pamungkas begitu lezat. Ternyata mereka memasak dengan menggunakan api unggun.


Kompor di sini menggunakan kayu bakar seperti zaman dahulu.


Namun selain rak, dapur masak serta sebarisan botol gas yang tersusun rapi, di dalamnya juga terpasang AC, kulkas, mesin pencuci piring dan peralatan dapur modern lainnya.


Oliver langsung membuka penutup kukusan, dan mengambil makanan untuk Nirmala.


Nirmala mencium aroma kue dan berteriak riang, “Kue bolu?”


“Kelihatannya kamu pernah makan, kukira kamu tidak pernah memakan kue ini.” Oliver mengambil sedikit kue bolu dan memasukkan ke mulutnya.


Nirmala menelan air liur karena sudah sangat lapar sekarang, dia segera mengambil piring kue di tangan Oliver dan langsung memasukkannya ke dalam mulutnya dan mulai memakan kuenya.


“Saat kecil, nenekku pernah membuat kue ini.” Nirmala sambil makan dan menjelaskan.


Oliver tersenyum penuh pengertian, “Sepertinya nenekmu serba bisa.”

__ADS_1


“Tentu saja!” Keahlian nenekku adalah medis dan memasak! Semua pengetahuan yang kuperoleh selain dari sekolah, sebagian besar diajarkan oleh nenekku! Kadang kala juga sangat berguna saat diperlukan.” Nirmala berkata sambil tersenyum.


Begitu berbicara tentang neneknya, wajah Nirmala selalu penuh dengan senyum kebanggaan.


__ADS_2