Pria Yang Merenggut Mahkotaku

Pria Yang Merenggut Mahkotaku
Dia Tidak Mendengar Perintahnya


__ADS_3

Hendra yang kepedasan langsung mengambil botol air mineral dari tangan Nirmala, lalu segera meminumnya.


Nirmala terpaksa mengambil botol air mineral satu lagi, dia berpura-pura ingin minum air dengan membuka penutup botol. Sebenarnya dia memuntahkan kembali air yang dia tahan di mulutnya.


Hendra hanya menghabiskan setengah dari makanannya, lalu tiba-tiba memegang bungkusan makanan dan tak bergerak.


Setelah itu, Nirmala baru meletakkan makanan di tangannya, lalu melambaikan tangannya di depan wajah Hendra.


Nirmala tahu Hendra merasa curiga. Untungnya, dia sengaja mengambil botol air mineral yang sudah disuntikkan obat.


“Hendra, beresin meja!” perintah Nirmala.


Hendra mulai membereskan meja, membuang makanan ke tong sampah.


Nirmala mengeluarkan ponsel, dia merekam Hendra dan berkata, “Apakah kamu yang menyuruh orang membunuh Daniel?”


Hendra hanya duduk kaku di tempat tanpa bersuara.


Melihat Hendra tidak bersuara, Nirmala sedikit ragu, dia mengambil kertas dan pena, memberikannya pada Hendra, lalu memerintahkan dengan cara lain, “Hendra, dengarkan baik-baik, kuperintahkan untuk menulis nama pelaku yang membunuh Daniel!”

__ADS_1


Hendra mengambil pena dan kertas dari tangan Nirmala, kemudian langsung menulis di meja, sedangkan Nirmala merekam di samping saat Hendra sedang menulis.


Dia ingin merekam bukti kriminal yang Hendra perbuat!


Ketika Hendra menulis dua huruf “Ro” di kertas, Nirmala terpikir akan nama “Rosa”. Ternyata benar, akhirnya Hendra menulis nama “Rosa” di kertas.


Kalau begitu, masalahnya sekarang adalah ... kenapa Rosa ingin membunuh Daniel?


“Kuperintahkan, tulis nama orang yang membantunya membunuh Daniel.” Nirmala kembali memerintahkan.


Hendra mulai menulis, dia menulis banyak nama, di antaranya ada nama diri sendiri dan juga nama Nirmala.


Kenapa ada nama dirinya?


Setelah keluar dari kamar mandi, Nirmala membuka aplikasi pengubah suara, lalu menelepon nomor wanita penghibur yang ada di kartu nama yang kemarin dia ambil di hotel.


Nirmala memberi tahu nama wisma, alamat dan juga nomor kamar, “Pintu kamar tidak dikunci, kamu bisa langsung masuk.”


Setelah menutup panggilan, Nirmala memberi perintah pada Hendra sebelum pergi, “Setelah aku pergi, akan ada seorang wanita yang akan kemari, kamu boleh melakukan apa pun pada wanita itu!”

__ADS_1


Selesai berkata, dia menutup pintu, lalu bersembunyi di koridor hingga dia melihat seorang wanita penghibur masuk ke kamar. Baru pada saat itulah dia menelepon polisi dan wartawan media lokal.


Ini adalah pertaruhan di antara mereka berdua, kali ini Hendra yang kalah dan dia harus menerima risiko dari kekalahan ini.


Setelah meninggalkan wisma, Nirmala tidak pergi jauh, dia menunggu di sebuat stan di lantai bawah untuk menunggu polisi datang dan menangkap Hendra.


Akhirnya, dalam waktu kurang dari lima menit, ada beberapa pria berpakaian preman bergegas masuk ke wisma. Tidak lama kemudian, wartawan lokal pun menyusul.


Awalnya, Nirmala mengira polisi hanya akan menangkap Hendra dan wanita penghibur itu, tapi tidak disangka, wisma ini benar-benar luar biasa, polisi menangkap segerombolan orang.


Namun, hal yang membuat Nirmala merasa bingung adalah dia tidak melihat Hendra di antara segerombolan orang yang ditangkap itu.


Apa yang terjadi? Suara sirine mobil polisi yang datang belakangan telah menarik perhatian warga sekitar. Nirmala juga berdiri di samping melihat orang yang ditangkap satu per satu, tapi tetap tidak menemukan sosok Hendra.


Kenapa bisa begini? Apa yang salah? Nirmala mengepal tinjunya. Jika Hendra tidak ditangkap, maka rencananya kali ini akan menjadi sia-sia.


Hingga mobil polisi dan kerumunan telah bubar, Nirmala tetap tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Apakah harus masuk untuk melihat? Tidak! Jangan-jangan ini jebakan dari Hendra. Hanya saja, saat ini Nirmala benar-benar tidak bisa menerima. Dan di saat dia sedang bersedih hati, dia tiba-tiba terkejut begitu melihat sosok seorang pria yang berdiri tidak jauh di hadapannya.


Oliver terlihat sangat tampan, setelan hitam yang dia pakai seolah menyatu dengan suasana di malam hari. Oliver melangkah cepat ke arahnya, terdapat bercak merah di tatapannya yang dingin. Dia terlihat sangat lelah, tapi tetap terlihat anggun seperti biasanya, dahinya menetaskan keringat sebesar butiran kacang.

__ADS_1


“Kak?” panggil Nirmala.


“Kenapa kamu tidak mendengar pengaturanku?” tanya Oliver dengan tegas.


__ADS_2