Pria Yang Merenggut Mahkotaku

Pria Yang Merenggut Mahkotaku
Sudah Terbiasa


__ADS_3

Sebelumnya dia tidak tahu mengapa Safira ingin memutuskan tali persahabatan dengannya, tetapi sekarang dia akhirnya memahaminya.


Seluruh desa tahu orang seperti apa Ibunya.


"Apakah kamu masih tidak mengerti apa maksudku? Maksudku sangat sederhana! Aku tidak akan membayar uang sekolahmu lagi. Kalau kamu ingin menyelesaikan sekolahmu, kamu harus mencari cara untuk membayar uang sekolah dan biaya hidupmu sendiri. Jangan kira aku tidak tahu, kamu bekerja keras dan berhemat-hemat saat kuliah. Kemana pergi uang yang sudah kamu simpan itu?" Tanya Ibunya dengan marah.


Nirmala terdiam.


Ibunya terus mengomel: "Aku rasa 80% dari uangmu itu pasti diberikan pada Si Hendra miskin itu! Belajarlah dari Safira, carilah pasangan yang kaya! Karena jenjang pendidikan rendah dan  tidak memiliki kemampuan untuk menghasilkan uang, setidaknya kamu harus mencari seorang pria yang kaya! Tapi, apa yang kamu lakukan? Apa gunanya memiliki kecantikan? Kamu sama sekali tidak berusaha untuk memikat pria kaya!"


Nirmala terdiam.


Dia tidak tahu harus menjawab apa. Pandangan hidupnya berbeda dengan Ibunya. Apa saja yang dikatakannya selalu dianggap salah oleh Ibunya.


Ayahnya duduk di samping, tidak bisa menyela sepatah kata pun.


Nirmala terdiam sesaat, meskipun matanya sedih, marah, dan penuh kebencian, tapi dia masih berkata dengan penuh ambisi: "Aku tidak akan belajar dari Safira yang hanya memilih orang kaya. Aku juga tidak akan pernah belajar dari Hendra yang benci kemiskinan dan mencintai kekayaan. Apa salahnya aku yang cuma tamatan diploma?


Sekarang aku tidak memiliki kemampuan, tapi bukan berarti selamanya aku akan begitu terus. Aku akan menghasilkan uang sendiri, setidaknya dengan begitu hatiku akan merasa tenang daripada mendapatkan uang dari orang lain!


“Nirmala, Ayah mendukungmu! Nirmala Ku akan sukses di masa depan!” Ayahnya segera mengacungkan jari jempol kepada Nirmala.


Di keluarga ini, hanya Ayahnya yang berpihak dan mendukungnya.


Setelah berbicara sampai di sini, Ibunya tidak lagi berdebat dengan Nirmala. Dia merasa tidak ada gunanya berdebat terus dengannya.


Setelah Ibunya selesai makan, dia meletakkan mangkuk dan sendok di atas meja makan, bangun dari kursi dan memerintahkan dengan tidak sabar: "Cepat cuci mangkuknya, lalu pergi ke gunung untuk mencari beberapa tumbuhan herbal."


“Baik!” Nirmala menjawab dengan suara rendah.

__ADS_1


Ibunya merasa tidak puas, dan mulai mengomel: "Kamu adalah mahasiswa, setiap kali liburan semester kamu tidak pernah pulang ke rumah. Karena sekarang kamu sudah pulang, bekerjalah dengan rajin! Setelah mendapatkan tumbuhan herbal, ingatlah untuk membaginya, kemudian cuci dan keringkan. Awalnya aku berpikir bahwa kamu bisa belajar keterampilan medis dengan Nenekmu, dan berharap kamu bisa menjadi dokter di masa depan. Tapi, siapa tahu bahwa kamu tidak bisa masuk perguruan tinggi kedokteran, dan malahan masuk ke sekolah arsitektur untuk belajar dekorasi. Aku benar-benar tidak tahu apa yang kamu pikirkan!"


Meskipun Nirmala sudah terbiasa dengan kritikan pedas Ibunya, tapi dia kadang-kadang masih saja tidak tahan dengan kata-kata Ibunya dan membantahnya.


Ayahnya selalu berperan sebagai orang baik. Tugasnya adalah meredakan konflik di antara istri dan anak perempuannya.


Setelah selesai berbicara, Ibunya pergi ke apotek di lantai bawah.


Melihat bahwa Ayahnya telah selesai makan, Nirmala bangkit dari kursi dan menundukkan kepalanya untuk membersihkan meja.


Melihat Nirmala tidak bahagia di rumah, Ayahnya pun berkata: "Nirmala! Atau, liburan semester ini, kamu bisa pergi bekerja di kota tempat kakakmu! Bersama kakakmu, setidaknya Ayah bisa merasa lebih tenang!"


“Ayah, apakah aku benar-benar begitu terpuruk seperti yang dikatakan ibu?” Nirmala bertanya dengan sedih, “Mengapa Ibu selalu tidak puas denganku?”


Saat SMA kelas tiga, untuk merawat Ayahnya, dia menyia-nyiakan studinya, akibatnya dia gagal masuk universitas kedokteran yang diinginkan Ibunya. Setelah lulus dari SMA, dia berpacaran dan terus diomelin oleh Ibunya.


"Yah, aku mengerti." Nirmala meredakan suasana hatinya yang buruk dan menjawab dengan senyum berseri-seri, "Terima kasih, Ayah."


Dia berharap alasan mengapa Ibunya begitu keras padanya adalah benar-benar seperti apa yang dikatakan Ayahnya.


Safira mengirim seseorang untuk menyelidiki Nirmala. Setelah mengetahui bahwa dia dipecat dan gagal mencari pekerjaan, kemudian putus dengan Hendra dan kembali ke kampung halamannya. Barulah hatinya merasa sedikit tenang.


Selanjutnya, Safira masih harus mencari cara agar para pemimpin sekolah mengeluarkan Nirmala dari sekolahnya.


Karena, dengan demikian, Nirmala tidak akan pernah muncul lagi di kota Surabaya dan posisinya sebagai Nyonya besar keluarga Pamungkas akan kokoh.


Safira merasa sangat senang ketika memikirkan hal ini.


Sudah hampir dua bulan, villa di kampung halamannya harusnya sudah selesai dibangun!

__ADS_1


Safira berpesan kepada kepala pengurus rumahnya, Yusuf dan memintanya untuk mengatur semuanya agar dia bisa tampil glamor saat pulang ke kampung halamannya.


Hari ini, desanya kelihatan sangat ramai, bukan hanya karena langit yang cerah, tetapi juga karena sebuah mobil BMW merah yang bernilai miliaran rupiah perlahan-lahan melaju memasuki jalan di desa itu.


Semua orang berdiri di pinggir jalan, mata semua orang berbinar, mengerumuni BMW yang indah ini, seolah-olah seperti melihat harta karun.


Safira awalnya ingin membeli Lamborghini merah senilai puluhan miliar, tetapi Yodha menolak, dan mengatakan bahwa Lamborghini tidak cocok untuk mengemudi di jalan tanah yang tidak rata di pedesaan.


Dalam keputusasaan, Safira menurunkan kelasnya dan memilih mobil BMW ini yang menurutnya biasa-biasa saja.


Ketika BMW merah milik Safira melewati pintu apotek Nirmala, Ibunya membawa Nirmala keluar dari toko dan berdiri di sisi jalan untuk menonton.


Setelah hampir dua bulan, Nirmala melihat Safira lagi, dan melihatnya duduk di belakang kursi pengemudi, menurunkan jendela mobil dan menyapa orang-orang desa.


Safira memakai riasan tebal dan memakai cincin berlian yang mempesona di tangan kanannya, gaunnya lebih indah dan keren dari sebelumnya, dan bibir merahnya yang cerah membuat kulitnya tampak lebih putih.


Pada awalnya, Nirmala mengira terjadi sesuatu pada Safira, tetapi sekarang tampaknya, seperti yang dikatakan Ibunya, dia menikah dengan pria kaya.


Menikah dengan pria kaya selalu menjadi impian Safira.


Impian Safira telah menjadi kenyataan!


Nirmala mengerutkan bibirnya, melirik Ibunya yang cemburu, kemudian menggelengkan kepalanya dan kembali ke toko.


Ayahnya duduk di depan meja kasir dan sedang mencatat pemasukan di buku akuntansinya. Melihat Nirmala masuk, dia bertanya dengan tidak berdaya: "Nirmala, apakah kamu kagum padanya?"


"Tentu saja aku kagum, aku bukan orang suci. Namun, aku berharap di masa depan, aku bisa menjadi desainer interior yang hebat, dan kemudian mengendarai mobil yang aku beli dengan penghasilanku, itu baru benar-benar glamor!" Wajah Nirmala tersenyum dan penuh pengharapan pada masa depan.


Dia berbicara sambil mengambil keranjang bambu di lantai dan meletakkan di punggungnya.

__ADS_1


__ADS_2