Pria Yang Merenggut Mahkotaku

Pria Yang Merenggut Mahkotaku
Berjumpa Untuk Terakhir Kali


__ADS_3

Sedangkan setiap pengawal di sampingnya berwajah seram, bagaikan ingin memutilasinya.


“Tidak ingin makan, bukan? Kalau begitu, tutup saja Klub Cinta!” Nirmala menyeringai.


Fernando tidak menyangka bahwa hanya dalam waktu satu malam Nirmala telah mendapatkan kepercayaan sepenuhnya dari Tuan Wilson.


Tuan Wilson bukan orang yang bisa diprovokasi! Demi Klub Cinta, Fernando terpaksa mengambil obat tersebut dan langsung memakannya.


Nirmala menunggu sesaat, reaksi obat di tubuh Fernando baru bereaksi.


Fernando tiba-tiba tidak bergerak, tatapan matanya terlihat sayu. Nirmala melambaikan tangannya di depan wajah Fernando.


“Hei Fernando, apakah kamu mengenalku?” tanya Nirmala dengan pelan.


Fernando tidak bereaksi sedikit pun.


“Fernando, putar ke kanan, menghadap ke dinding dan pasang kuda-kuda.” perintah Oliver.


Fernando mengikuti perintah, berbalik, menghadap ke dinding, kedua tangannya mengepal dan diletakkan di kedua sisi, lalu menekuk siku dan tak bergerak sedikit pun.


 Nirmala sangat terkejut ketika melihatnya.


 Ini adalah ... efek dari “Obat Hipnotis”?


 Kalau dipakai pada Hendra, bukankah tidak bisa memperoleh bukti apa pun. Nirmala tiba-tiba duduk di sofa dengan wajah frustasi.


Sebenarnya, obat yang dia inginkan adalah obat yang bisa memberikan efek agar Hendra berkata jujur, dengan begitu dia bisa merekam dan memperoleh bukti yang berguna.


Tapi kelihatannya, itu sama sekali tidak mungkin.


Oliver menatap Nirmala lalu bertanya, “Kenapa? Masih belum merasa lega?”

__ADS_1


Nirmala hanya mengerucutkan bibirnya dan tidak berkata sepatah kata pun.


Oliver pun melanjutkan, “Kalau kamu masih belum merasa lega, aku akan memerintahkannya untuk menampar diri sendiri!”


“Sudah! Tidak perlu!” jawab Nirmala dengan wajah dingin.


Nirmala mengampuninya karena Fernando bersikap lumayan baik padanya saat dia bekerja di Klub Cinta, dia hanya membiarkan Fernando memasang kuda-kuda selama satu malam di sana.


“Apakah kamu ingin keluar untuk menghirup udara segar?” tanya Oliver.


Nirmala mengangguk, bangkit dan keluar dari kantor Fernando.


Kemudian, Oliver memberikan isyarat kepada pengawal di sampingnya. Sang pengawal segera mengetahui maksud Oliver, kemudian mengikuti Nirmala untuk melindunginya.


Setelah Nirmala pergi, Oliver bangkit dari sofa, berjalan ke hadapan Fernando, lalu bertanya, “Fernando, siapa bos di belakangmu?”


“...”


Oliver menggunakan cara lain lalu memerintahkan, “Bawa aku untuk bertemu orang yang meracik obat!”


Fernando mengangguk dengan patuh.


Nirmala pergi ke panggung nyanyi dan duduk di kursi VIP, tangannya memegang obat yang diberikan Fernando, dan mulai memikirkan sesuatu.


Waktu yang dia miliki sudah tidak banyak, kampus akan liburan semester dalam beberapa hari lagi, dan semester depan Hendra dan Rosa akan pergi ke luar negeri.


Atau ... bagaimana kalau mencoba obat ini pada Hendra? Dia tidak ingin Daniel mati demi dirinya tanpa suatu kejelasan.


Nirmala memutuskan dalam hati, dia tiba-tiba bangkit dari kursi, dan saat itu dia baru menyadari ada seorang pengawal berada di sampingnya.


“Aku sudah ingin pulang, kamu tidak perlu mengikutiku lagi!” kata Nirmala.

__ADS_1


Sang pengawal tidak menjawab dan hanya mengangguk.


Melihat pengawal itu tidak menjawab, Nirmala pun pergi.


Setelah dia tiba di apartemen Royal dengan selamat, pengawal itu baru meninggalkannya.


Begitu masuk rumah, Nirmala langsung mengemas bagasi.


Dia ingin kembali ke Surabaya untuk mencari Hendra!


Dia memesan sebuah taksi, mengantarnya dari Bandung ke Surabaya dalam satu malam.


Setelah sampai di Surabaya, Nirmala tinggal di hotel di sekitar kampus. Di kamar hotel ada kartu nama untuk memanggil wanita penghibur, Nirmala mengambil satu buah dan menyimpannya ke tas, kemudian memulai rencananya.


Keesokan harinya, Nirmala sengaja menunggu Hendra di pintu masuk gedung belajar.


Selesai belajar, Hendra keluar dari pintu dan sangat terkejut begitu melihat Nirmala.


Nirmala berjalan ke arah Hendra dan menyapanya sambil tersenyum, “Hendra, ada yang ingin aku bicarakan, bolehkah kita ngobrol sebentar?”


“Apa yang ingin kamu bicarakan?” jawab Hendra dengan wajah muram.


Nirmala melihat ke sekeliling, lalu bertanya dengan suara rendah. “Bagaimana kalau kita mencari tempat lain untuk membicarakannya?”


“Baik!” Hendra langsung setuju.


Nirmala menatap Hendra sambil tersenyum.


Hendra membawa Nirmala ke belakang lapangan kampus, karena tempat ini tidak berada di jalan utama, jadi hanya ada mahasiswa yang hobi main basket yang ada di sana.


Nirmala berjalan mendekati Hendra, dan berpura-pura kasihan lalu berkata dengan lembut, “Hendra, yang kamu katakan benar, aku tidak layak menjadi pacarmu! Saat itu kamu selingkuh, kamu tidak ingin menyakitiku, makanya kamu tidak memberitahuku. Aku tahu semua yang kamu lakukan adalah demi kebaikanku. Kamu begitu berprestasi, aku mencarimu hanya ingin berjumpa denganmu untuk terakhir kalinya.”

__ADS_1


__ADS_2