Pria Yang Merenggut Mahkotaku

Pria Yang Merenggut Mahkotaku
Salah Paham


__ADS_3

Sampai lift berbunyi dan terbuka, Nirmala baru menyadari bahwa ini adalah lantai paling atas dan merupakan tempat kantor Direktur.


“Aku lapar, pergi dan buatkan aku makan malam.” Oliver memerintahkan dengan pelan saat keluar dari lift.


Nirmala menatap Oliver dengan tak percaya.


“Kok tidak makan di rumah saja? Kenapa harus di kantor?” Nirmala bertanya dengan bingung.


Oliver menjawab dengan santai, "Sopirnya ada urusan dan mengambil izin untuk pulang. Aku lelah dan tidak ingin membawa mobil sendiri."


Maksudnya adalah dia tidak berencana untuk kembali ke rumah malam ini?


Bibir Nirmala sedikit berkedut, dia mengangkat kepala, dan menatap wajah tampan Oliver, kemudian melanjutkan, "Kalau begitu... aku akan naik taksi saja."


"..." Oliver tetap diam, mengabaikan kata-kata Nirmala, dan langsung berjalan memasuki kantor.


Lantai dua kantornya sangat lengkap, dia bisa tidur disini dan tidak perlu pulang, tapi Nirmala tidak bisa!


Nirmala benar-benar ingin pulang sendirian, tetapi tiba-tiba memikirkan sesuatu.


Meskipun dia bisa pulang dengan naik taksi malam ini, tapi bagaimana dia datang ke kantor besok pagi? Tempat kediaman Oliver jauh dari pusat kota, biasanya jarang ada taksi yang lewat di sana!


Setelah berpikir beberapa saat, Nirmala terpaksa mengikuti Oliver masuk ke kantornya.


Seperti sebelumnya, Nirmala memasak di lantai dua, dan Oliver membaca buku dengan tenang di lantai bawah.


Setelah makanan siap, Nirmala meminta Oliver untuk naik ke atas.


Tidak ada Safira, tidak ada Bibi Lias, tidak ada Wilson, dan tidak ada Liam di sini. Suasana berduaan seperti ini benar-benar sangat menyenangkan.


Tapi, Oliver tidak tahu bahwa Nirmala merasa canggung.


Sambil makan, Nirmala mengirim pesan untuk Liam dan memberitahu apa yang terjadi padanya hari ini.


Tidak tahu sejak kapan, dia hanya melaporkan kabar baik saja.


Dia akan menceritakan semua hal yang menyenangkan kepada Liam, dan menyimpan semua hal yang buruk di hatinya.


Di sisi lain, di kamar hotel, Liam berdiri di depan wastafel dengan rambut basah, membaca pesan yang dikirim Nirmala sambil tersenyum.


Dia tahu segalanya tentang Nirmala, tetapi dia sendiri tidak pernah menceritakan apa yang dilakukannya di sana.


Yang dia lakukan...


Bagaimana dia bisa menceritakannya?


Meletakkan ponsel, Liam menyalakan pancuran air dan kemudian mandi.


Ketika keluar dari kamar mandi, dia melihat Yanti mengenakan kemeja putihnya, berbaring malas dan menggoda di sofa.


Bajunya yang kebesaran menutupi tubuh Yanti hingga ke bagian pahanya, membuat tubuhnya terlihat ramping dan seksi.


“Buka bajumu!” Liam mengambil handuk bersih, meletakkannya di atas kepala, dan terus menyeka rambutnya yang basah.


Nada bicaranya tidak terlalu keras, tetapi tetap membuat hati Yanti sedikit terkejut.


"Tidak." Yanti mengangkat alisnya, bangkit dari kursi dan berjalan menuju Liam, "Tidak, aku tidak ingin melepasnya sendiri, aku ingin kamu melepasnya untukku... "


Selesai berbicara, Yanti menempelkan tubuhnya ke Liam, mencium leher Liam, lalu menggigit daun telinganya.


Liam melemparkan handuk di tangannya, langsung mengangkat Yanti, dan melemparnya ke ranjang besar.


"Srrrt-"


Kain kemeja robek, jatuh ke karpet di samping ranjang.


Setelah bermesraan, Yanti berbaring di lengan Liam, membelai otot dadanya yang kuat.


Kali ini, Liam baru menyadari siapa wanita yang benar-benar dia inginkan.


Jika tidak membayangkan Yanti sebagai Nirmala, dia sama sekali tidak ingin bermesraan dengan Yanti.


Begitu memikirkan Nirmala, Liam mendorong Yanti dari pelukannya, dan berkata dengan marah, "Kedepannya, jangan pakai bajuku lagi!"


“Kamu marah?” Yanti kembali memeluk Liam, mengerucutkan bibir, lalu mencium pipi Liam, “Iya... iya, jangan marah dong, oke?”


Liam berhenti berbicara, bangkit dari ranjang, berjalan ke lemari, dan mengambil sebotol anggur merah.


Kemudian, dia duduk di kursi goyang di depan teras, dan menyalakan sebatang rokok.


Sebenarnya, dia jarang minum dan merokok.


Hanya saja karena dikhianati oleh teman baik dan terlilit hutang, tekanan di hatinya perlu dilampiaskan.


Oleh karena itu, setiap kali lembur mengerjakan gambar desain, dia akan merokok. Dan, dia harus minum dengan bos-bos besar untuk menjalin hubungan kerja dengan mereka.


Embusan angin malam bertiup pelan, dia sepertinya mendengar nyanyian Nirmala.


Nirmala sekarang tinggal bersama Oliver. Menurut cerita Nirmala, saat ini Safira juga tinggal bersamanya.

__ADS_1


Kalau begitu, Nirmala seharusnya tidak bernyanyi di "Klub Cinta" lagi, kan?


Liam tiba-tiba tersenyum pahit.


Hanya karena terlilit hutang, Nirmala menjual diri deminya, dan semua yang dia lakukan saat ini, bukankah sama dengan Nirmala?


Angin dingin yang menerpa wajahnya bagaikan sebuah tamparan, membuat pipinya terasa perih.


Di dalam ruangan, Yanti merasa sedih ketika menatap Liam yang sedang melankolis.


Dia telah "melayani" Liam setiap malam, tapi Liam tidak pernah mencintai dan memperlakukannya dengan lembut.


Yanti duduk di ranjang dan mulai berpikir yang bukan-bukan, dia bertanya-tanya selama ini apakah juga Nirmala yang "melayani" Liam.


Atau mungkin, Liam yang "melayani" Nirmala.


Pikirannya kacau, dan hatinya merasa cemburu.


Selesai merokok, Liam pergi ke kamar mandi untuk mandi kedua kali.


Setelah mandi, dia berdiri di depan cermin lagi, dan merasa diri sendiri terasa asing.


Penampilan luar yang bagus tapi memiliki hati yang kotor. Perlahan, dia menyeringai di depan cermin.


Liam seakan-akan melihat jiwa yang jahat, kotor, serakah perlahan-lahan membusuk dan menelannya.


Nirmala, aku sudah memaafkanmu, kamu juga bisa memaafkanku, kan?


"Ahciu--" Nirmala bersin, segera mengambil tisu dan pergi ke toilet.


Oliver menundukkan kepada dan makan sendirian dengan tenang. Tetapi tangannya bergerak secara refleks, mengambil remote control dan menaikkan suhu AC.


Selesai makan, Oliver bertanya mengapa Nirmala bekerja lembur malam ini.


Nirmala membereskan piring dan sendok di tangan, dan tersenyum: "Aku ingin segera menyelesaikan pekerjaan, dan pergi mencari Liam."


Oliver bertanya dengan dingin, "Apakah ini maksud Liam?"


“Tidak, dia tidak tahu. Hanya saja… aku ingin pergi menemaninya!” Nirmala tersenyum, matanya berkilauan.


Oliver tanpa sadar merasa tidak senang dan tidak mengajukan pertanyaan lagi.


Selesai beres-beres, Nirmala turun dari tangga spiral, berjalan ke Oliver yang sedang duduk di meja.


Oliver sedang menonton video pembelajaran tentang manajemen keuangan, melihat Nirmala datang, dia menekan tombol pause pada video.


"Lemari paling ujung di lantai atas penuh dengan pakaian baru yang belum pernah aku pakai. Kamu bisa memilih satu dan memakainya terlebih dahulu. Dan di sebelah mesin cuci adalah mesin pengering. Malam ini kamu tidur di lantai atas saja, aku tidur di sofa lantai bawah. Apakah masih ada pertanyaan lain?" Tidak menunggu Nirmala menyelesaikan kata-katanya, Oliver mengatur semuanya dengan jelas.


Nirmala terdiam, dan setelah beberapa saat, dia menjawab dengan lemah: "Kalau begitu aku naik dulu."


Oliver mengklik video dan melanjutkan belajarnya, dia terlihat tenang, tetapi sebenarnya jantungnya berdetak kencang.


Nirmala menemukan bahwa dia selalu merasa sangat tidak nyaman di depan Oliver, dan Oliver... sepertinya tidak pernah menanggapinya dengan serius.


Setelah menarik napas dalam-dalam, Nirmala memperingatkan diri sendiri untuk tidak berpikiran bukan-bukan.


Orang yang dicintai Oliver adalah Safira. Hari ini dia bersikap lembut padanya, hanya karena dia adalah istrinya Liam.


Setelah itu, Nirmala mengambil baju Oliver, dan pergi mandi dan mencuci pakaiannya.


Selesai belajar, Oliver mematikan komputer, dan kemudian pergi mandi, ketika keluar dari kamar mandi, melihat selimut Nirmala jatuh di samping tempat tidur, dia berjalan untuk mengambilnya.


Pada saat ini, Nirmala, yang sedang tidur mungkin karena selimutnya jatuh, dia merasa dingin, kemudian mengangkat kakinya untuk meringkuk.


Kemeja longgar yang dipakainya terangkat, dan tampak pahanya yang lembut dan putih.


Oliver menelan ludah tanpa sadar. Setelah tertegun sejenak, dia segera memakaikan selimut untuknya.


Cahaya rembulan di luar jendela menyinari wajah Nirmala, kulitnya putih bagaikan salju, berkilauan seperti batu giok, dan dengan lengkungan mulut kecilnya yang begitu indah.


Oliver mengulurkan tangan untuk membelai poni hitam Nirmala hingga melewati telinganya, lalu mencium ujung rambutnya dengan penuh kasih.


Ini jelas Nirmala-nya...


Ini jelas wanitanya...


Setiap kali, ingin sekali dia memeluknya, setiap kali ingin sekali dia menciumnya, tapi dia hanya bisa menahan apa yang ada di pikirannya.


Cinta seperti ini adalah cinta yang paling menyakitkan.


Gelang rambut di pergelangan tangannya masih ada, tetapi dia bukan lagi wanitanya.


Oliver berbalik dan pergi dengan hati sakit, setelah turun ke lantai bawah, dia berbaring di sofa dan tidak bisa tidur.


Nirmala berkata bahwa dia ingin pergi mencari Liam.


Liam sedang dalam perjalanan bisnis, dan ada Nirmala yang menemani...


Kedepannya, setiap malam Nirmala akan tidur di pelukan Liam.

__ADS_1


Semakin memikirkannya, Oliver semakin merasa cemburu pada Liam.


Tapi apa lagi yang bisa dia miliki selain kecemburuan?


Dia tidak bisa berbuat apa-apa...


Sepanjang malam, Oliver tidak bisa tidur.


Di lantai atas, Nirmala tidur sangat nyenyak.


Keesokan harinya.


Setelah bangun, Nirmala mencuci muka dan menyikat gigi, mengenakan pakaian yang dia cuci dan keringkan tadi malam, dan mulai membuat sarapan untuk mereka berdua.


Selesai membuat sarapan, dia turun dengan pelan, dan menemukan bahwa Oliver masih tidur, jadi dia kembali ke atas, dan makan sarapan sendiri, kemudian meninggalkan pesan untuk Oliver, lalu pergi ke kantornya.


Tadi malam, dia yang pulang terakhir, dan pagi ini, dia yang pertama tiba di kantor.


Nirmala bergegas mengerjakan gambar desainnya dengan penuh semangat, memperkirakan bahwa dia dapat menyerahkan gambar desain sore ini.


Setelah Oliver bangun dari tidur nyenyaknya, waktu sudah menunjukkan pukul 10.00.


Bambang telah lama masuk kerja, tetapi tidak membangunkannya. Ketika Oliver bangun, Bambang segera melaporkan jadwal hari ini dengan tabletnya.


Oliver mengangguk, bangkit dari sofa dan naik ke atas. Setelah mandi, dia keluar dari kamar mandi dan melihat kemeja yang kusut di tempat tidur. Dia ingat bahwa itu kemeja yang dikenakan Nirmala tadi malam. Dia berjalan untuk mengambilnya, kemudian langsung mengenakan di tubuhnya.


Tiba-tiba, dia teringat kata-kata Nirmala tadi malam.


Dia bilang dia akan pergi mencari Liam...


Memikirkan hal ini, Oliver mengerutkan kening dengan tidak senang, mengangkat telepon, dan menelepon Kepala Departemen Desain lagi.


Nirmala sibuk seharian dan akhirnya menyerahkan rancangan desain kepada Kepala Departemen Desain pas sebelum pulang kerja.


Ketika dia ingin meminta cuti seminggu, Kepala Departemen Desain mengeluarkan dokumen lain, dan menyerahkan kepadanya, lalu menyuruh Nirmala untuk menyelesaikan dekorasi tersebut.


“Aku mungkin tidak punya waktu untuk mengerjakannya, karena aku ingin mengambil cuti.” Nirmala menatap dokumen yang diserahkan Kepala Departemen Desain, tapi tidak mengambilnya.


Kepala Departemen Desain mengangkat matanya dan melirik Nirmala, dan melemparkan dokumen ke atas meja, kemudian berkata dengan wajah serius: "Perusahaan memiliki aturan sendiri, selain cuti nikah dan melahirkan, jika tidak ada hal penting, tidak diperbolehkan meminta cuti. Saat ini perusahaan sedang sibuk, beraninya kamu meminta cuti?!"


"Aku..." Nirmala baru saja ingin menjelaskan.


Kepala Departemen Desain menegur: "Jangan kira kamu adik Bos, kamu sudah boleh bertindak seenaknya. Sekarang kamu bekerja di Grup Pamungkas, jadi kamu harus serius dan bertanggung jawab atas pekerjaanmu!"


“Aku mengerti.” Nirmala mengambil dokumen di atas meja, menanggapi dengan lemah, lalu berbalik dan meninggalkan kantor.


Jesika melihat Nirmala keluar dari kantor dengan ekspresi kesal, dan segera membawa Nirmala ke pantry, menuangkan teh, dan menghibur: "Apakah Kepala Departemen Desain tidak menyetujui kamu mengambil cuti? Jangan simpan di hati, kamu bisa langsung mencari Kakakmu!"


“Itu seperti... tidak bagus.” Nirmala berkata sambil mengedipkan mata.


Jesika menyeringai: "Tidak apa-apa, dia kan Kakakmu!. Lebih baik meminta cuti dengan Kakakmu daripada mencari Kepala Departemen Desain."


Nirmala menatap Jesika, hanya tersenyum ringan, dan menjawab tanpa sadar, "Ya, aku akan mencobanya!"


Sore ini, Nirmala pulang kerja tepat waktu.


Setelah Nirmala meninggalkan kantor, ketika dia berjalan keluar dari gerbang gedung, mobil Oliver sudah menunggunya di depan.


Ketika sopir melihat Nirmala keluar, dia segera turun dan membuka pintu belakang untuk Nirmala.


Nirmala masuk dan melirik Oliver, dan pada saat yang sama mengingat apa yang dikatakan Jesika barusan.


Oliver adalah Direktur Grup Pamungkas, dan merupakan Bos dari atasannya.


Oleh karena itu, kata-kata Oliver adalah perintah yang tidak boleh dilanggar!


Namun, saat berhadapan dengan Oliver, Nirmala tidak tahu harus bagaimana membuka mulut.


 Setelah pintu tertutup, mobil perlahan melaju, dan suasana di dalam mobil sunyi seperti biasanya.


Nirmala terdiam beberapa saat, mengerutkan bibirnya, melirik Oliver, melihat Oliver bersandar di jendela mobil dan menutup mata. Nirmala takut mengganggunya, jadi terpaksa berdiam diri dan tidak berani berkata.


Sepanjang perjalanan pulang, Nirmala tidak menemukan kesempatan untuk berbicara.


Setelah makan malam di rumah, Oliver keluar bersama Wilson,  Nirmala tidak memiliki kesempatan untuk berbicara lagi, membuatnya depresi setengah mati.


Pada saat ini, Oliver dan Wilson tidak ada di rumah, dan Safira mulai mencari masalah lagi.


Baru saja Nirmala selesai membantu Bibi Lias membereskan rumah, ketika ingin naik ke atas untuk mandi dan tidur, dia dihentikan oleh Safira di pintu kamar.


Tanpa alasan atau firasat apa pun, Safira mengangkat tangannya dan menampar Nirmala. Karena tamparannya yang kuat, mulutnya sedikit berdarah.


Nirmala memegang pipinya dengan kesakitan dan menatap Safira dengan marah.


Safira mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, melipat tangan di depan dada, dan memarahi dengan nada dingin: "Tadi malam, kamu sengaja menggoda Oliver, dan tidur bersama di luar, kan!?"


“Safira, pikiranmu benar-benar kotor!” Nirmala membalas dengan marah.


Safira dengan marah meraih kerah Nirmala dan menarik ke arahnya, dengan tatapan membunuh, dia berteriak dengan keras: "Pikiranku kotor? Heh! Nirmala, kamu wanita ******, berani berbuat tapi tidak berani mengaku?! Sudah menikah dengan Liam, tapi masih menggoda Oliverku, hah! Barusan aku mencium aroma tubuhmu di baju Oliver. Kamu masih mengenakan pakaian ini semalam, masih berani bilang kalian tidak tidur bersama?! Oliver mencintaiku, jadi setiap kali melihatku, dia suka bermesraan denganku. Dan, kamu sengaja mengandalkan wajahmu yang sama denganku untuk menggodanya, kan?"

__ADS_1


__ADS_2