Pria Yang Merenggut Mahkotaku

Pria Yang Merenggut Mahkotaku
Mencuri Makanan Bersama Istri


__ADS_3

Nirmala merasa meskipun diri sendiri tinggal di pedesaan, dia tidak pernah merasa rendah diri karenanya.


Di lubuk hatinya, neneknya adalah seorang pahlawan hebat. Neneknya tidak hanya pandai memasak, dia juga ahli dalam mengobati penyakit.


“Kalau begitu, selain kamu, nenekmu mewariskan keahlian medisnya kepada siapa lagi?” Oliver mencoba untuk bertanya.


Nirmala langsung menjawab, “Keahlian medis yang diajarkan oleh nenek padaku hanya pengobatan untuk penyakit biasa. Yang diajarkan kepada ibuku adalah tentang teori dan resep obat, makanya ibuku membuka toko obat. Lalu bibiku yang paling kecil tidak tertarik pada medis, jadi nenek tidak mengajarkan apa pun padanya. Selain itu, karena dia menikah dengan keluarga orang kaya, jadi tidak membutuhkan keahlian medis. Kalau mau dikatakan orang yang benar-benar mendapatkan warisan dari nenekku, tidak lain adalah bibi keduaku. Bibi keduaku adalah orang yang paling berkemampuan di antara ketiga kakak beradik lainnya. Dia tidak hanya berhasil masuk fakultas kedokteran, dia juga berhasil menjadi dokter militer. Meskipun aku jarang bertemu dengan bibi keduaku, aku dengar nenekku bilang dia selalu membawa bibi keduaku untuk mengobati pasien, jadi keahlian medis bibi keduaku pasti lebih hebat daripada nenekku.”


“Apakah bibi keduamu bisa ilmu santet?” Oliver mengernyit.


Nirmala mengangguk, lalu melanjutkan, “Orang-orang di desa memanggil nenekku dengan panggilan dukun, bibi keduaku belajar medis dari nenekku, jadi wajar saja kalau dia juga mengerti ilmu santet.”


“Kalau begitu, apakah kamu juga mengerti?” Oliver bertanya sambil memikirkan sesuatu.


Nirmala menggelengkan kepala, lalu dia teringat pada kejadian di mana Oliver terkena racun, dia pun terkejut.


Sudah jelas, Oliver terkena racun dari salah satu jenis santet di desa mereka.


Terdapat catatan di buku catatan harian medis neneknya, makanya dia sedikit mengerti.

__ADS_1


Saat ini Nirmala memakan kue bolu sambil menatap Oliver dengan curiga.


Hatinya berpikir jangan-jangan Oliver mencurigai bahwa dia yang meracuninya.


Selain itu, perkataan Oliver dan Liam di telepon semalam terdengar kalau mereka saling bersikeras.


Jika terjadi sesuatu pada Oliver, maka pewaris keluarga Pamungkas akan jatuh ke tangan Liam.


 Jadi, Oliver sangat memiliki kemungkinan mewaspadai Liam termasuk dirinya juga. Tapi dirinya tidak mungkin melakukan hal sekejam itu.


“Kak, nenekku hanya mengajariku cara menyelamatkan orang, tidak untuk mencelakai orang! Jadi ... ” Nirmala berhenti menjelaskan karena merasa penjelasan yang dilakukannya hanya akan menambah kecurigaan di hati Oliver.


“Aku tidak memiliki maksud itu ....” Oliver tersenyum.


Oliver menatap Nirmala dengan penuh makna tersirat, dia merasa Nirmala selalu begitu imut di hatinya.


“Jangan makan terlalu banyak, ada makanan yang lebih enak siang nanti.” Oliver tersenyum lalu tanpa sadar mengangkat tangannya dan mengelus hidung Nirmala.


Nirmala terkejut, matanya terbelalak dan segera menghindar.

__ADS_1


Oliver mengembalikan tangannya, senyuman di wajahnya juga ikut menghilang.


“Tuan Muda Besar, Nyonya Muda Besar, kenapa kalian berdua berada di sini?” Seruan suara di luar pintu memecahkan keadaan canggung di antara keduanya.


Nirmala melihat seorang pria yang memakai pakaian koki berwarna putih berjalan kemari, dia buru-buru mengembalikan piring kue ke tangan Oliver.


Jadi, ketika koki itu berjalan masuk, dia hanya melihat Oliver yang mencuri makan kue bolu yang akan dipersiapkan untuk makan siang nanti.


Nirmala tersenyum begitu melihat sang koki. Kelihatannya sang koki telah salah mengenal dan menganggapnya sebagai Safira.


Oliver meletakkan piring dengan tenang, dan tertawa penuh pengertian, “Paman Indra, kue bolu ini sangat enak.”


“Kamu ini, sejak kecil sudah terbiasa mencuri makanan di dapurku, sekarang sudah dewasa masih saja tidak malu-malunya mencuri makanan dengan membawa istrimu! Pintu dapurku dikunci dengan gembok, apakah kamu merusak gemboknya?” Indra menyindir dengan ramah.


Nirmala terkejut lalu menatap Oliver dengan curiga.


Oliver tentu saja tahu bahwa Indra salah mengenal orang, tapi dia malah sengaja menjawab, “Iya, aku membawa istri untuk merasakan masa-masa indah di dapur Paman Indra di saat kecilku.”


“Sudah, sudah! Kalian berdua main saja ke tempat lain. Aku harus siap-siap membuat makan siang.” Indra mengusir sambil tertawa.

__ADS_1


Oliver memberi hormat pada pria paruh baya itu, lalu menggandeng tangan Nirmala dan meninggalkan dapur.


“Kak, kenapa kamu mencuri makanan di dapur waktu kecil?” Nirmala bertanya dengan tidak percaya.


__ADS_2