Pria Yang Merenggut Mahkotaku

Pria Yang Merenggut Mahkotaku
Nafas Hangatnya


__ADS_3

Liam tersenyum penuh pengertian dan berjalan ke arah Nirmala.


"Liam, aku sangat merindukanmu... benar-benar merindukanmu..." Mengingat hari-hari buruk di saat Liam tidak ada di sisinya, hidungnya terasa masam, air mata langsung memenuhi matanya.


Hanya dalam pelukannya dia bisa merasakan kedamaian dan kehangatan.


Liam memeluk Nirmala dengan penuh kasih dan samar-samar merasakan tubuhnya sedikit gemetar. Liam pun menatap dan mengangkat tangan memegang pipi Nirmala dengan lembut.


“Kok menangis? Siapa membully kamu?” Liam bertanya dengan lembut.


Nirmala menggelengkan kepala, menatap mata Liam, dan tersenyum: "Tidak ada yang membullyku, aku hanya merindukanmu!"


“Aku juga merindukanmu.” Liam menatap mata Nirmala dan menjawab dengan tulus, lalu menundukkan kepala mencium kening Nirmala, dan menghibur, “Apakah kamu lapar? Aku akan membawamu makan makanan terbaik di sini!"


“Um, um!” Nirmala mengangguk senang.


Tangan besar Liam yang hangat memegang tangan kecilnya yang ramping, membantu membawa koper, dan berjalan menuju mobil.


Di mata Nirmala, Liam masih tampan dan menawan seperti biasanya.


Jika bisa hidup bersamanya seumur hidup, sampai rambutku memutih...


Nirmala berpikir dalam hati, tanpa sadar memegang lengan Liam, dan menyandarkan kepala di bahunya.

__ADS_1


Sudut mulut Liam sedikit terangkat, melirik Nirmala dan  mengangkat tangan memeluk pinggangnya, kemudian terus berjalan ke depan.


Setelah makan, Nirmala pun tertidur begitu masuk ke mobil.


Liam duduk di samping dan langsung membawa mobil ke hotel.


Awalnya, dia dan Yanti tinggal di satu kamar. Tapi, karena Nirmala datang, dia meminta Yanti pindah ke hotel lain.


Yanti sengaja tidak pindah hotel dan hanya pindah ke kamar sebelah. Ketika Liam dan Nirmala sampai di kamar hotel, mereka langsung bertemu Yanti di kamar sebelah.


Ketiganya bertemu satu sama lain di koridor.


Liam tidak ingin memperkenalkan Yanti kepada Nirmala, tapi Nirmala tiba-tiba meraih tangan Liam.


Dia ingat wanita ini pernah ke rumah mengambil dokumen Liam.


Liam melirik Yanti dan sedikit mengernyit, tapi Yanti malah mengulurkan tangannya dan memegang tangan Nirmala.


“Hai, aku Yanti, sekretarisnya Pak Liam.” Yanti memperkenalkan dirinya dengan sopan.


Nirmala mengangkat tangan dan menjabat tangan Yanti, tersenyum dan bertanya, "Hai, aku Nirmala."


“Ya, salam kenal Nyonya Liam” Yanti mengangguk, tapi muncul sedikit kelicikan di matanya.

__ADS_1


Nirmala merasa aneh karena tidak terbiasa dengan panggilan itu dan tersenyum, "Kamu bisa memanggilku Nirmala, nama Nyonya Liam terdengar aneh."


“Kok aneh, kamu kan istriku, kurasa tidak ada yang aneh dengan memanggilmu ‘Nyonya Liam’.” Liam kemudian memeluk Nirmala dan mengeluarkan kartu kamar dari saku celananya untuk membuka pintu.


Yanti merasa hatinya sakit begitu melihat ini, lalu berkata dengan cemburu: "Nyonya Liam, selama kamu tidak ada di sisi Pak Liam, dia..."


Liam memelototi Yanti.


Mata Nirmala terus tertuju pada Yanti, dan dia tidak menyadari kelainan pada Liam.


Melihat tatapan Liam, Yanti berkata dengan senyum penuh pengertian, "Pak Liam sering bercerita pada karyawannya kalau dia rindu masakan Nyonya."


“Setelah kembali, aku akan memasak untukmu setiap hari!” Nirmala berkata dengan gembira, lalu memandang Liam dan memeluknya dengan erat.


Liam mengangguk dan tersenyum dengan paksa.


Yanti lanjut berkata, "Pak Liam juga membeli banyak hadiah untuk Nyonya, jadi nanti jangan terlalu kaget ya!"


“Hadiah apa?” Nirmala memandang Yanti, lalu menatap Liam.


Liam tidak lagi menatap Yanti, dia menatap Nirmala dan menjawab dengan lembut, "Ayo masuk kamar, kamu akan tahu nanti."


“Baiklah kalau begitu, Nona Yanti, selamat malam ya.” Nirmala melambai pada Yanti.

__ADS_1


Yanti membalas dengan hormat, melambaikan tangan dengan senyum penuh makna tersirat.


__ADS_2