
Ketika Liam melihat sebuah sosok yang familiar di pintu apartemen di lantai pertama, dia sengaja berpura-pura tidak melihatnya, dan langsung berjalan keluar dari pintu.
Tapi sosok itu segera mengejarnya.
"Liam--" Yanti memanggil dengan lembut.
Liam tidak menghentikan langkah karena panggilannya.
Setelah Yanti menyusulnya, dia harus berjalan laju mengejar ke depan dan menghentikannya dengan membentangkan kedua lengannya.
Dia tinggi dan memiliki tubuh yang ideal. Dress ketat yang dipakainya benar-benar mengekspos bentuk tubuhnya yang ideal. Sepatu hak tinggi berwarna putih dan tali tipis yang melilit di pergelangan kakinya yang ramping tampak sederhana dan elegan.
“Liam, ayo kita cari tempat untuk membicarakan masalah diantara kita, oke?” Yanti memohon kepadanya dengan mata berkaca-kaca, suaranya sedikit tercekat, seolah-olah mengalami penderitaan besar dan ingin menceritakan isi hatinya.
“5 tahun yang lalu, kita sudah berakhir, bukan? Jadi, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi diantara kita!” Liam berkata dengan dingin, menghindar darinya dan terus melangkah maju.
Yanti mengerutkan bibir merahnya, berbalik, menangis, dan berteriak: "5 tahun yang lalu, Kakekmu yang memaksaku untuk meninggalkanmu, tetapi aku tetap mencintaimu!"
Tiba-tiba, Liam terkejut, dan langkah kakinya pun terhenti.
Setelah lewat beberapa detik, wajahnya kembali kelihatan tenang.
“Itu tidak penting lagi!" Nada bicara Liam masih dingin, dan setelah beberapa saat, dia menjawab dengan serius, "Kita tidak bisa kembali lagi."
Setelah berbicara, dia pun pergi meninggalkannya.
Yanti ditinggal sendirian di sana dan menangis dengan sedih.
Tidak bisa kembali?
Apakah benar-benar tidak mungkin untuk kembali lagi?
Yanti bertanya pada dirinya sendiri berulang kali, dia jelas tidak berpikir begitu, mengapa dia menyerah pada dirinya sendiri begitu cepat?
__ADS_1
Dia telah merindukannya selama 5 tahun!
Mungkinkah dalam percintaan, setelah putus cinta, hanya dirinya yang merasa menderita?
Yanti berjalan sendirian di jalanan kota seperti mayat hidup, dia mengingat masa lalunya dengan Liam, tanpa sadar, dia datang ke SMA tempat mereka pacaran - SMA Santa Bandung.
Saat itu, Liam adalah murid pindahan dari kota Surabaya. Karena penampilannya yang tampan, nilai yang bagus, dan kepribadian yang lembut, dia sangat populer di kalangan gadis-gadis di sekolah.
Dari saat Liam masuk ke kelas, Yanti langsung jatuh cinta padanya pada pandangan pertama.
Dia yang duluan mengejarnya, dan dia juga yang duluan meninggalkannya.
Kenangan indah tidak akan pernah kembali lagi, Yanti yang berdiri di depan gerbang SMA Santa merasa sedih ketika mengenang masa lalunya.
"Dang—dang—dang—dang—"
Suara lonceng pulang sekolah di siang hari seperti suara seruling yang merdu, membawa perasaan sedih dan gembira secara bersamaan.
Yanti berdiri dengan sedih di gerbang sekolah. Tidak tahu berapa lama waktu berlalu, sampai dia melihat sosok yang dikenalnya berjalan keluar dari gerbang sekolah. Dia tidak bisa menahan diri untuk berteriak: "Sanny."
Tatapan Yanti secara tidak sengaja tertuju ke tas sekolah di punggung Sanny, dan dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengerutkan kening.
“Kakak.” Sanny mengerutkan bibirnya, memegang tali tas sekolah di bahunya dengan erat-erat, dan dengan ragu-ragu berjalan ke arah Yanti.
Sebenarnya, hubungan mereka berdua hanya sebatas panggilan “Kakak dan Adik” saja, mereka berdua sama sekali tidak memiliki kasih sayang layaknya kakak beradik.
Di mata Yanti, Sanny tidak lebih hanyalah seorang anak haram yang dilahirkan oleh wanita simpanan Ayahnya!
Jika tidak, saat Sanny diculik oleh para penjahat, Ayahnya tidak akan memilih untuk melapor polisi tanpa rugi uang dan merusak hubungan keluarganya.
“Apa penculikan saat itu meninggalkan trauma padamu?” Yanti hanya bertanya dengan dingin.
Sanny tentu saja dapat mendengar bahwa "Kakaknya" ini sama sekali tidak peduli padanya, dan dia pun menjawab dengan santai: "Seharusnya tidak!"
__ADS_1
Bahkan keluarganya pun tidak memperdulikan orang berbudi yang mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkannya itu. Meskipun orang yang menyelamatkannya itu memiliki identitas yang khusus, tapi mereka setidaknya juga harus mencari atasannya untuk berterima kasih secara langsung!
Tetapi, anggota keluarganya tidak melakukan apa-apa.
Bahkan, mereka sebenarnya berharap dia mati di tangan para penjahat!
Ya, keluarganya memperlakukannya dengan sikap "acuh tak acuh".
Sebenarnya, dia bisa lahir ke dunia ini karena Ibunya menggunakan janin di perutnya sebagai alat tawaran untuk memaksa Ayahnya menceraikan istri sahnya.
Sayang sekali angan-angan ibunya salah, Istri sahnya sudah memiliki seorang putra dan seorang putri, dan keluarga Istrinya memiliki latar belakang yang kuat. Bagaimana mungkin dia bisa peduli dengan janin di perut Ibunya?
Karena itu, yang dilakukannya sia-sia saja...
Untungnya, Ayahnya yang playboy dan brengsek itu masih memiliki sedikit hati nurani. Setidaknya, setelah Ibunya melahirkannya, Ayahnya masih menamainya, memasukkan namanya ke kartu keluarga, dan menghidupi mereka.
Yanti kembali mengarahkan pandangannya pada tas sekolah di punggung Sanny, dan bertanya dengan serius: "Tas sekolahmu setidaknya bernilai 60 juta dan juga edisi terbatas internasional. Dari mana kamu mendapatkan begitu banyak uang untuk membeli tas semahal ini?"
Sanny tanpa sadar melirik tas sekolah di punggungnya, dan tersenyum menghina: "Oh, Kakak benar-benar orang yang telah tinggal lama di luar negeri ya, mengerti sekali tentang tas ini.”
"Hah?" Yanti mencibir, "Kamu mengikuti jejak ibumu?"
Yanti mengatakan isi hatinya, tiba-tiba hati Sanny terasa sakit, alisnya yang indah bergerak sedikit dan mengerucutkan bibirnya.
Meski begitu, Sanny tetap mengangkat kepalanya dan membalas cibirannya dengan percaya diri: "Kakak merendahkanku ya! Tas sekolahku ini adalah hadiah dari pria yang sedang mengejarku. Apa Kakak merasa iri padaku?"
“Diberikan oleh pria yang mengejarmu atau tidak hanya kamu sendiri yang tahu, kamu tidak perlu repot-repot membantahku. Sanny, Aku hanya ingin memperingatkanmu. Nasib menjadi wanita simpanan pasti akan berakhir tragis! Terutama tipe seperti kamu, gadis yang akan masuk perguruan tinggi! Jangan merusak dirimu sendiri dan menyia-nyiakan masa mudamu!" Yanti berkata dengan suara angkuh dan merendahkan.
Sanny tidak ingin membuang waktu untuk berdebat dengannya, dia memberinya tatapan meremehkan, berbalik dan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Sanny berbalik dengan cepat, kuncir kuda panjangnya seperti cambuk, menampar wajah Yanti dengan keras.
Yanti memegang pipinya dengan kesakitan, lalu maju selangkah untuk mengejarnya, tetapi tidak jadi dan malah menghentikan langkahnya.
__ADS_1
Kenapa dia harus ikut campur dengan urusannya?
Untuk apa dia ikut campur urusan anak dari wanita yang hampir menyebabkan orang tuanya bercerai, dan yang tidak tahu malu meminta biaya hidup setiap bulan ke rumahnya itu? Dia dijadikan wanita simpanan atau ditipu oleh pria lain, itu semua tidak ada hubungan dengannya.