
“Iya, kalau begitu tidur bersama saja.” Liam memandangi wajah Nirmala yang memerah dan tersenyum lembut itu.
Tiba-tiba, ketika Nirmala mengangkat kepalanya dan menatap mata Liam, detak jantungnya bertambah cepat karena gembira.
Mereka tidur di kamar terpisah selama menikah.
Pada saat ini, Nirmala tiba-tiba memiliki penantian di hatinya.
Dia menantikan untuk tidur di dalam pelukan hangatnya dengan hati tenang.
Setelah pindah rumah, Liam membersihkan rumah sebentar, lalu melirik waktu di jam tangannya, kemudian menyerahkan sisa pekerjaan rumah kepada Nirmala. Dia harus pergi ke perusahaan untuk bekerja terlebih dahulu.
Walaupun hanya beberapa langkah untuk sampai di pintu, Nirmala masih tetap mengantar Liam keluar pintu dengan senyuman manis seperti sebelumnya.
Dalam perjalanan ke perusahaan, ada sebuah rumah pegadaian berkualitas baik yang telah dibuka selama sepuluh tahun.
Berdiri di pintu pegadaian, Liam berjalan mondar-mandir dengan ragu, baru kemudian berjalan masuk.
Sambil melepas arloji di pergelangan tangannya, dia mengeluarkan sebuah kotak hadiah berbentuk persegi panjang dari tas kerjanya dan meletakkannya di atas meja.
Bos yang duduk di depan konter mengambil dua barang yang ia serahkan, memeriksanya dengan teliti, dan kemudian berkata, "60 juta untuk jam tangan dan 30 juta untuk pena."
“Apakah hanya segitu harganya?” Liam mengerutkan kening dengan sedih.
"Jam tangan dan penamu memang merek berkelas, 30% harga gadai yang aku berikan kepadamu sudah sangat tinggi. Jika kamu pergi ke pegadaian lain, 20% pun tidak akan kamu dapatkan, paling hanya mendapatkakn 10%!" Bos pegadaian berkata dengan acuh tak acuh
Liam mengerutkan alisnya.
Mulai bulan depan, hutang pinjaman harus mulai dibayar. Gaji bulanannya hanya dapat digunakan untuk membayar sedikit hutang pinjaman dan sisanya masih harus diberikan kepada Nirmala untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Demi Nirmala, Liam akhirnya menggadaikan arloji dan penanya.
Arloji itu diberikan oleh temannya yang melarikan diri itu setelah ia mendapatkan uang pertama dari hasil usahanya. Adapun pena, itu adalah hadiah ulang tahun yang diberikan Yanti padanya enam tahun lalu.
__ADS_1
Yanti adalah anak sulung perempuan di keluarganya, dia mengatakan kepadanya bahwa uang yang dia pakai untuk membeli hadiah itu adalah uang angpao yang ia simpan sejak kecil.
Dia merasa bahwa Liam layak menerima pemberiannya karena dirinya mencintainya.
Setelah memikirkannya sekarang, Liam merasa bahwa dia benar-benar tidak berguna dan merasa malu, karena harus mengandalkan hadiah ulang tahun dari cinta pertamanya untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Tepat setelah dia meninggalkan rumah pegadaian, Yanti berjalan keluar dari tikungan yang tidak jauh dari sana, memperhatikan kepergiannya dengan penasaran.
Apa yang Liam lakukan di pegadaian?
Setelah melihat Liam berjalan pergi, Yanti berbalik dan memasuki pegadaian tadi dan bertanya tentang Liam.
Pada awalnya, bos itu menyembunyikan dan menolak untuk mengatakan sepatah kata pun tentang Liam. Ketika Yanti mengeluarkan kartu banknya untuk membeli kembali barang-barang yang baru saja digadaikan Liam, bos itu baru tertawa senang untuk menyanjung Yanti.
“Kupikir pria itu… dia sepertinya kekurangan uang!” Bos itu berbisik sambil menggesek kartu bank Yanti.
Yanti memegang arloji dan penanya, dan menurunkan matanya dengan sedih.
Dia tidak tertarik dengan asal usul jam tangan ini, tetapi pena inilah yang ia pedulikan.
Tidak!
Tidak mungkin!
Liam pasti masih mencintainya, dia pasti sedang mengalami kesulitan dan harus menggadaikan hadiah ulang tahunnya.
Setelah menggesek kartu, bos itu menyerahkan kartu dan nota pembelian dengan kedua tangan kepada Yanti, dan berkata dengan sopan: "Selamat datang untuk berkunjung kembali di lain waktu!"
Setelah Yanti menerima kartu banknya, dia menelepon Kakaknya, Yanto.
Segera setelah telepon terhubung, Yanti tidak sabar untuk berkata kepada Yanto, "Kak, bisakah kamu membantuku untuk mencari tahu, apakah Liam mengalami kesulitan dalam keuangan baru-baru ini?"
"Adikku tercinta! Kenapa kamu masih memikirkan Liam sekarang! Kamu harus meletakkan perhatianmu pada Oliver! Liam itu sama sekali tidak berguna? Dia hanya anak haram dari keluarga Pamungkas, dia bahkan tidak memiliki hak untuk memperoleh warisan dari Grup Pamungkas sepeser pun." Yanto terus mengoceh tentang Liam.
__ADS_1
Sebenarnya, yang paling penting adalah dia tidak optimis tentang masa depan Liam dan tidak ingin adiknya menyia-nyiakan masa mudanya untuk pria yang tidak berguna itu.
Tentu saja, Yanti memahami pikiran kakaknya. Sejak berita Oliver masuk ke dunia bisnis tersebar di lingkaran sosial putri-putri dari keluarga terkemuka, mereka semua mulai menjadikan Oliver sebagai sasaran mereka.
Siapa yang tidak ingin menjadi nyonya besar dari keluarga Pamungkas, dan mendapatkan kekayaan dari Grup Pamungkas bersama Oliver di masa depan?
Mengesampingkan latar belakang keluarga Oliver, dengan wajahnya yang begitu tampan, sudah cukup untuk membuat wanita-wanita itu tergila-gila padanya. Bahkah Liam pun tidak dapat dibandingkan dengannya.
Namun, meskipun begitu, Yanti masih belum bisa melepaskan Liam.
Mengapa demikian?
Jelas dia sekarang bukan lagi gadis yang berpikiran polos seperti dulunya.
Jelas dia juga ingin menaklukkan Oliver dan menjadi nyonya besar dari keluarga Pamungkas...
Tapi mengapa dia tetap tidak rela melepaskan Liam?
Dia tidak bisa menerima bahwa Liam telah melupakannya...
Tidak bisa menerima bahwa dia tidak lagi peduli padanya...
Yanti mengambil napas dalam-dalam dan berteriak pada Yanto dengan marah, "Kakak, jika kamu masih ingin aku menarik perhatian Oliver, dan membiarkan kedua keluarga menjalin hubungan lewat pernikahan, kamu sebaiknya mencari tahu tentang apa yang terjadi pada Liam untukku."
"Baiklah, aku akan mencari tahu untukmu! Oh, ya. Apakah Sanny telah dijadikan wanita simpanan oleh seorang pria baru-baru ini? Seorang temanku memberitahuku bahwa dia telah melihatnya di dalam sebuah mobil mewah seharga puluhan miliar, tapi mobil mewah itu memakai plat luar daerah, dan aku tidak dapat menemukan informasi pemilik sebenarnya." Yanto tidak bisa tidak bergosip dengan Yanti tentang adik tirinya.
Sejak saat Sanny diculik dan berhasil menyelamatkan diri, hubungannya dengan orang-orang di keluarga mereka menjadi lebih kaku. Memang benar Ayahnya tidak mengambil uang untuk menebus nyawanya saat itu karena Ibunya tidak mengizinkannya, jadi Sanny pasti sangat membenci Ibunya.
"Aku tidak tahu. Setelah aku kembali dari luar negeri, aku pernah berjumpa dengannya sekali, temperamennya masih sangat buruk seperti dulu. Singkatnya, kita kedepannya tidak usah ikut campur dengan urusannya lagi. Karena dia tidak akan pernah mengingat kebaikan kita padanya." kata Yanti dengan dingin.
Kalau begitu, sampai di sini dulu ya, aku akan mengirimkan informasi tentang Liam setelah aku memeriksanya.” Yanto menutup teleponnya setelah selesai berbicara.
Segera setelah Yanti tiba di perusahaan, Liam mengambil banyak dokumen dan memintanya untuk pergi ke perusahaan pusat Grup Pamungkas untuk memberikannya kepada Kakaknya untuk ditandatangani, dan kemudian membawanya kembali.
__ADS_1
Kebetulan dia memberinya kesempatan untuk mendekati Oliver.