Pria Yang Merenggut Mahkotaku

Pria Yang Merenggut Mahkotaku
Bagaimana Dia Menghadapinya


__ADS_3

Merry bertanya dengan heran: "Eh, kenapa kamu turun dari atas? Oh iya Kakakmu baru saja kembali dari kampung halamannya beberapa hari yang lalu! Terus hari ini dia tiba-tiba kembali lagi ke kampung halamannya tanpa memberitahuku!”


"Aku..." Nirmala berhenti bicara. Sampai sekarang, dia belum secara resmi memperkenalkan Liam kepada Merry. Jika dia tiba-tiba mengatakan bahwa dia sudah menikah dan tinggal di lantai paling atas bersama suaminya, sepertinya tidak terlalu bagus, kan?


"Kakakmu sudah memberitahuku segalanya tentangmu." Merry memandang Nirmala dengan simpati, dan kemudian berkata dengan tidak berdaya, "Aku rasa lebih baik kita tidak tinggal bersama. Karena... kamu dan Nicholas tidak ada hubungan darah lagi. "


Ternyata yang Merry maksud adalah masalah ini.


Nirmala tersenyum dan mengangguk.


Sebelumnya, Merry baik padanya karena dia adalah Adiknya Nicholas.


Sekarang, dia tidak memiliki hubungan saudara dengan Nicholas, jadi tidak cocok untuk tinggal bersama mereka lagi.


Memikirkan hal ini, Nirmala buru-buru mengeluarkan kuncinya, mengembalikan kunci rumah kontrakan yang sebelumnya kepada Merry.


"Barang-barangmu..." Merry lanjut bertanya.


Nirmala tersenyum dan menyela: "Sudah tidak ada barangku di rumah."


"Bagaimana dengan selimut dan sandal?"


"Kamu bisa membantuku membuangnya!"


"Oh!"


"Ding--"


Setelah pintu lift terbuka, Nirmala dan Merry berpisah.


Kedepannya, dirinya tidak bisa lagi memanggil Merry dengan sebutan "Kakak ipar".


Di kota ini, selain Liam, mulai sekarang, Nirmala merasa bahwa dia tidak memiliki orang lain lagi untuk diandalkan.

__ADS_1


Di Gedung Properti Royal Mars, Kantor Manajer Utama.


"Pak, ini teh Anda." Lukas meletakkan cangkir teh keramik berwarna coklat di meja Liam dengan perlahan.


Pada saat ini, Liam dengan hati-hati meninjau dokumen, dia benar-benar mengabaikan cangkir teh yang ada di samping tangannya, tanpa sadar dia membalik halaman dokumen, dan menumpahkan cangkir teh di atas meja.


Ketika Lukas melihat ini, dia dengan cepat mengambil selembar tisu di atas meja, melangkah maju, bergegas untuk menyekanya, lalu berkata dengan nada bersalah, "Aku tidak seharusnya meletakkan teh di sini."


“Tidak apa-apa, aku tidak minum teh dulu. Setelah selesai memeriksa dokumen-dokumen ini, aku harus pergi ke perusahaan pusat.” Liam menutup dokumen dan berdiri.


“Apa Anda akan pergi sekarang?” Lukas yang baru saja membersihkan meja bertanya dengan bingung, “Anda masih punya rapat internal yang akan diadakan dalam setengah jam.”


“Pertemuan internal ditunda sampai sore hari!” Liam berkata dengan nada tidak peduli, apa yang dia pikirkan saat ini adalah masalah Kakaknya.


Kakaknya akan pergi ke perusahaan pusat untuk inspeksi hari ini, apakah dia harus pergi untuk berjumpa dengan Kakaknya juga?


Liam bangkit dan meninggalkan kantor manajer utama.


Ketika dia keluar dari lift pribadinya, dia mendongak dan melihat sosok yang dikenalnya berdiri di dekat pintu depan.


Dia tidak lagi kurus seperti dulu, tetapi dengan bentuk tubuh yang berisi.


Wanita itu memiliki kulit yang putih, mata cerah, senyum yang bersih, rambut tebal dan keriting, dan dengan tas LV di tangannya.


Liam sedikit mengernyit, ketika pikirannya masih melayang, Yanti sudah berjalan ke arahnya dengan sepasang sepatu hak tinggi perak dan dengan senyum di wajahnya: "Liam."


Yanti kemudian mengangkat tangannya dan meraih tangan Liam dan menggoyangnya bagaikan kekasih.


Dia merasa telapak tangan Liam tetap hangat seperti dulu, dan membuatnya tidak ingin melepaskannya.


Sejak ada wanita seperti Nadia yang selalu ada di samping Liam, wanita lain di perusahaan pun tidak berani mendekatinya.


Saat itu, Nirmala disalahpahami oleh Nadia. Dia pun terus mencari cara untuk mencelakai Nirmala secara diam-diam.

__ADS_1


Sekarang, tiba-tiba ada wanita lain yang tidak takut mati, staf wanita yang lewat di aula tidak bisa untuk tidak melirik Yanti dengan tatapan penasaran.


Yanti merasa tidak nyaman dengan tatapan dari para wanita yang lewat, tetapi karena ingin memamerkan diri, dia pun tersenyum tipis dan mulai berkata dengan manja dengan sepasang mata hitam berkilau, "Yang, kenapa kamu tidak datang menjemputku? Aku..."


Liam mengerutkan kening, kemudian melepaskan tangannya dari tangan Yanti, dan menyela dengan nada dingin: "Nona Yanti, tolong jaga sikapmu!"


Yanti tiba-tiba tercengang. Dia menatap wajah Liam yang dingin untuk waktu yang lama sambil berpikir bahwa dia yang bersalah padanya terlebih dahulu, jadi dia pun mengalah dan berkata dengan suara dan tatapan sedih: "Tuan Liam, apa kamu punya waktu untuk makan siang denganku siang ini? Ada yang ingin aku katakan padamu!"


“Aku tidak punya waktu.” Liam langsung menolaknya, lalu menghindar darinya dan berjalan keluar pintu gerbang.


Yanti mengikuti dengan enggan dan kembali meraih tangannya, hatinya penuh rasa bersalah, dia seolah ingin menangis, suaranya menjadi serak, dan merendahkan dirinya: "Liam...aku mohon."


Liam masih tidak mau memperdulikan apa yang dikatakan Yanti, matanya yang hitam sedikit menyipit, dan tatapan matanya sedikit membeku ketika dia melihatnya memegang tangannya dengan erat.


Dia tidak menolak lagi, Yanti mengangkat alisnya dengan gembira: "Liam, aku benar-benar ingin memberitahumu sesuatu, aku sebenarnya..."


“Aku tidak tertarik.” Liam kembali bereaksi dalam sekejap, dan menyela tanpa menunggu Yanti menyelesaikan kata-katanya.


Setelah melirik tangan Yanti yang memegangnya, dia menggerakkan bibirnya dan kemudian melepaskan tangannya dengan paksa.


Tenaga yang digunakan Liam agak kuat, saat dia melepaskan tangannya dengan paksa, dia secara tidak sengaja mendorongnya.


Yanti yang mengenakan sepatu hak tinggi kehilangan keseimbangannya dan terhuyung-huyung jatuh ke belakang karena hempasan tangan Liam.


Mungkin karena merasa simpati, Liam dengan cepat mengulurkan tangannya dan merangkul bahunya agar dia tidak terjatuh.


Yanti sangat gembira, dia mengambil kesempatan untuk bersandar ke lengan Liam, mengangkat kepalanya dan menatap mata Liam yang sedikit bingung itu dengan tatapan sedih.


Setelah selang waktu lima tahun, dia menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya.


Tidak hanya menjadi manajer utama perusahaan Royal Mars, tetapi juga menjadi seorang arsitek domestik yang terkenal.


Yanti samar-samar ingat ketika masih SMA, wajah tampan Liam selalu membuat banyak gadis di sekolah terpesona, dan dia yang sekarang ini lebih tampan dan mempesona dari dulunya. Hanya satu tatapan saja sudah cukup untuk membuatnya kembali jatuh cinta padanya.

__ADS_1


"Liam, aku mohon...tolong dengarkan aku, oke? Saat itu, aku meninggalkanmu karena punya kesulitan yang tidak bisa aku katakan. Apa kamu tidak ingin tahu kebenaran mengapa aku meninggalkanmu?" Melihat Liam masih belum bereaksi, Yanti buru-buru menyelesaikan apa yang ingin dia katakan.


__ADS_2