Pria Yang Merenggut Mahkotaku

Pria Yang Merenggut Mahkotaku
Ingin Menciumnya


__ADS_3

Liam sedikit terkejut, tersenyum dan menolak: "Tidak, aku ada urusan malam ini."


“Dia sudah kembali, kan?” Yanti bertanya dengan sedih.


Liam mengatup bibirnya dan mengangguk.


Sejak Liam mengatakan padanya bahwa dia sudah menikah, Liam tidak lagi menyembunyikan segala hal tentang Nirmala.


Sebaliknya, dia menyembunyikan segalanya kepada Nirmala, diam-diam menjalin asrama dengan Yanti.


Yanti memandang Liam, ingin bertanya kapan dia akan menceraikan Nirmala, tetapi tidak jadi.


Dia memperingatkan diri bahwa pada saat kritis ini, dia harus tenang dan tidak ingin Liam memiliki beban.


Apalagi, selama periode ini, Liam memperlakukannya layaknya kekasih, melakukan segala yang dilakukan oleh seorang pacar.


“Baiklah, kita janjian lagi lain saja.” Yanti tersenyum dengan paksa, berbalik dan pergi.


Liam tidak berpikir banyak, dan kembali ke kantornya.


Yanti dan Oliver berpapasan dengan Yanti di dekat pintu lift, tapi Oliver selangkah lebih cepat, dan masuk ke lift sebelah.


Dia hanya melihat punggung Yanti, tapi Yanti tidak melihat Oliver.


Setelah Oliver keluar dari lift, dia memikirkan wanita yang baru saja keluar dari lift di lantai pertama.


Sebenarnya, ketika Oliver bertemu Ketua Direktur Panjaitan di hotel saat itu, dia merasa putrinya terlihat familiar, setelah sekian lama dia baru menyadari bahwa wanita itu adalah pacar Liam lima tahun yang lalu.


Yanti kembali mencari Liam?


Oliver mengerutkan kening, dia merasa dirinya memikirkan terlalu banyak hal akhir-akhir ini.


Alasan mengapa dia begitu peduli apakah Yanti datang mencari Liam, hanya karena dia mengkhawatirkan Nirmala.


Saat itu, Liam sangat mencintai Yanti...


Sekarang, meskipun Liam telah menikahi Nirmala, tapi apakah Liam benar-benar telah melupakan Yanti?


Apakah Nirmala tahu hal tentang Yanti?


Apakah Liam benar-benar sudah putus dengan Yanti?


“Tuan Muda Besar, Direktur Andreas mengundang Anda untuk makan malam di Hotel Rose nanti.” Kata-kata Bambang menarik kembali pikirannya.


Hanya urusan Nirmala yang bisa membuat hatinya kacau.


Nirmala, kamu harus hidup bahagia...


"Oke." Oliver kembali sadar, dan menjawab dengan pelan.


Ketika seseorang memikirkan orang lain di dalam hatinya, sosok orang itu akan selalu muncul di hadapannya secara tidak sengaja.


Oliver duduk di belakang kursi pengemudi dan diam-diam melihat ke luar jendela.


Secara tidak sengaja, dia melihat sosok seseorang di pinggir jalan yang membuatnya tidak tenang.


Itu Nirmala...


Saat menuju Hotel Rose, mereka pasti akan melewati Apartemen Royal Mars.

__ADS_1


Nirmala bergegas pulang dengan membawa dua kantong besar bahan makanan yang baru saja dibeli dari supermarket.


“Berhenti!” Oliver tiba-tiba memerintahkan.


Sopir segera menghentikan mobilnya.


Oliver tidak peduli apa pun, dan segera turun dari mobil.


"Achoo--" Nirmala tiba-tiba bersin.


Tidak tahu siapa yang membicarakannya di belakang?!


Nirmala menggosok hidungnya, dan saat ingin lanjut berjalan, tangannya tiba-tiba merasa ringan. Ternyata ada seseorang mengambil barang-barang bawaan dari tangannya.


"Kak Oliver?!"


Nirmala mengangkat kepalanya dengan kaget, menatap Oliver yang muncul di sebelahnya selama beberapa detik.


Bagi Oliver, dua kantong besar itu sangat ringan, tetapi Nirmala merasa sedikit berat.


Melihat ini, dapat diketahui kulkas di rumahnya pasti sudah kosong, jika tidak, Nirmala tidak akan membeli begitu banyak makanan.


“Aku akan mengantarmu pulang.” Oliver berkata dengan nada dingin, berbalik dan berjalan ke depan.


Nirmala kembali sadar, buru-buru mengejarnya, dan berkata dengan ekspresi malu: "Kak, aku bisa membawa sendiri!"


“Tanganmu sudah merah, istirahatlah!” Nada bicara Oliver masih sangat dingin.


Nirmala menatap tangannya tanpa sadar, dan menemukan bahwa jari-jarinya memang kemerahan.


Dia...


Safira menikahi seorang pria yang perhatian!!


Eh, tunggu, apa yang dia pikirkan?


"Kak, tunggu aku!"


Langkah Oliver sangat besar, Nirmala terpaksa mempercepat langkahnya dan berteriak.


Setelah tiba di pintu, Nirmala mengambil kembali barang-barangnya, tersenyum dan berkata kepada Oliver: "Kak, mari kita makan malam bersama!"


“Tidak, aku masih ada urusan.” Oliver berkata dengan dingin, berbalik dan pergi tanpa keengganan.


Nirmala segera melambaikan tangan: "Kakak, sampai jumpa!"


Namun, Oliver tidak membalasnya dan langsung pergi.


Nirmala tiba-tiba merasa sedikit canggung.


Apakah memang seperti yang dikatakan Oliver, dia menjaganya hanya karena dia mirip dengan Safira?


Yah, seharusnya memang begitu, Oliver hanya memperlakukannya sebagai adik.


Ketika memikirkan hal ini, Nirmala tersenyum, merasa senang karena ada seorang kakak yang menjaganya.


Sama seperti ketika di masa kecil, Nicholas selalu memanjakannya.


Setelah Nirmala memasak nasi, dia dikejutkan oleh suara buka pintu saat sedang memetik sayur.

__ADS_1


Mengira itu pencuri, dia mengambil sapu di dapur dan berjalan pelan-pelan ke pintu dapur.


Sebuah sosok gelap berjalan masuk ke pintu dapur, baru saja mengangkat sapu, Nirmala segera menyembunyikan sapu di belakang punggungnya begitu melihat jelas wajah orang itu.


"Kamu, kamu sudah pulang..." Nirmala tersenyum canggung, pipinya langsung memerah, dan membuatnya sedikit lucu.


“Kamu ingin membunuh suamimu, ya?” Liam bercanda.


Nirmala buru-buru menggelengkan kepala dan melambai tangannya: "Tidak, tidak!"


“Maaf, ini semua salahku, aku jarang pulang, membuatmu mengira pencuri masuk ke rumah!” Liam tiba-tiba membelai kepala Nirmala.


Nirmala menggelengkan kepala: "Aku mengerti, kamu sangat sibuk."


Melihat Nirmala yang pengertian, Liam merasa bersalah padanya.


Gadis yang begitu baik, mengapa dirinya begitu kejam?


Pada saat ini, di mata Nirmala, Liam adalah mataharinya.


Jika suatu hari, tanpa "matahari", dunianya akan benar-benar menjadi gelap.


“Ayo, masak bersama!” Liam mengalihkan topik pembicaraan.


Nirmala mengangguk dengan gembira.


Ini adalah makan malam yang paling bahagia baginya.


Setelah makan malam, Nirmala membersihkan ruang makan dan dapur, lalu pergi mandi.


Karena ingin menonton serial drama pada jam 8 di TV, dia keluar dari kamar mandi dan duduk di sofa dengan rambut panjangnya yang masih basah.


Dia terbiasa menonton TV di rumah seorang diri, jadi dia menyetel suara TV dengan sangat keras, dan lupa untuk menyetelnya kembali.


Selama dia tidak di rumah, Liam mungkin tidak pernah menonton TV!


Mendengar suara TV yang sangat mengganggu, Liam tidak bisa fokus membaca buku, dan berjalan keluar dari ruang kerja.


Ketika Liam datang ke ruang tamu, dan melihat Nirmala hanya mengenakan jubah mandi dan rambutnya masih basah, dia berbalik ke ke kamar untuk mengambil pengering rambut.


Nirmala sedang fokus menonton TV, dan dia tidak menyangka Liam tiba-tiba muncul di depannya, sehingga membuatnya terkejut.


Dia bereaksi secara refleks, mengambil remote TV dan mengecilkan volume.


Liam tersenyum dengan pengertian, lalu berjongkok, menekan steker, dan memasang pengering rambut.


"Aku bantu mengeringkan rambutmu." Liam berkata dengan lembut.


Nirmala tidak menyangka, dan mengangguk keheranan.


Setelah menyalakan pengering rambut, Liam berdiri di samping Nirmala, meniup rambutnya dengan lembut.


Rambut panjangnya sangat halus, basah dan melekat di lehernya yang seputih salju.


Leher Nirmala benar-benar sangat cantik, dan tidak membosankan meskipun lama menatapnya.


Ketika rambutnya hampir kering, Liam mematikan pengering rambut dan memegangi bahunya.


Perlahan-lahan, dia tidak bisa menahan diri dan menundukkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2